Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Pinangan Praja Bekti


__ADS_3

Bila telah tiba masa yang telah tuhan tentukan, bukan tidak mungkin semua berjalan tanpa rintangan.


Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan untuk Hanum, dan juga Kara.


Di kediaman sederhana milik Liana, Duduk seorang wanita paruh baya dengan perasaan cemas.


Hatinya bergemuruh hebat saat putrinya mengatakan bahwa yang akan datang melamar, adalah Orang tak biasa bermarga Praja Bekti.


Pikiran Liana sama sekali tak bisa tenang.


Berbagai kemungkinan dan tanya bertebaran menghiasi kepala Liana.


Mungkinkah praja Bekti adalah mantan majikannya terdahulu?


Entahlah......


Liana tak berani mengambil spekulasi.


Keluarga Praja Bekti, telah tiba di kecamatan pulau laut sigam, Kabupaten kota baru, di Kalimantan Selatan.


Jauh nian dengan ibukota.


Sebuah daerah yang tak seramai ibukota, namun cukup nyaman bila meneliti daerah sekitar.


Kara.....


Masih bisa bersikap santai tatkala kakinya menginjak sebuah pelataran rumah yang cukup minimalis.


Reksa, Santika, Ratna, dan saudara saudari Kara juga ikut serta.


Hanya Ariana yang tak ikut serta karna tengah mengandung anak pertamanya.


Senyum Hanum mengembang.


Ia menyambut keluarga Praja Bekti dengan sukacita.


"Bu, Keluarga mas Kara telah sampai".


Hanum berkata pelan menghampiri ibunya.


Langkah mereka berdua tergesa.


Sesaat Liana terhenti saat melihat sosok wanita anggun masa lalunya.


Sosok yang demikian ia jadikan panutan.


Sosok yang telah membantunya mendapatkan kesempatan merasakan kembali rengkuhan Darrel.


Sosok yang ia lupakan saat dengan kejam, keluarga Darrel menghabisi Darrel di depan matanya demi harta.


Liana seakan tak percaya.


Tubuhnya menegang hingga seperti terasa ringan.


Pandangannya mengabur, ia seperti tak memiliki kekuatan untuk tetap berada dalam kesadaran. Perlahan-lahan, tubuhnya terasa ringan dan kegelapan total dengan pasti merenggutnya tanpa ampun.


Liana meluruh ke lantai karna telah kehilangan kesadarannya.


"Liana......"


Jelita memekik tertahan.


Ia merasakan simpati yang teramat besar saat melihat kondisi Liana, terlebih lagi tempat tinggalnya yang demikian sempit.


"Mama..... mengenal ibu nya Hanum?"


Kara bertanya tak mengerti.


Semua orang juga tak mengerti tentang siapa Liana.


"Nyonya...?".


Hanum juga tak kalah terkejut dengan kara.


"Kita bawa ke dalam dulu".


Radhi meminta Arlan dan kara untuk mengangkat tubuh renta Liana.


Dari dalam, callista...... kakak Hanum demikian terkejut saat mendapati ibunya tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ya tuhan, ibu. Apa yang terjadi pada ibu, num?".


Callista meraih kotak obat yang tersimpan di buffet kecil di ruang tamu. Memberikan ibunya minyak angin untuk memancing kesadarannya.


"Tak tau, kak. Ibu tak sadar saat.....".


Hanum tak melanjutkan kalimatnya. ekor mata Hanum melirik Jelita dengan ketidak mengertilah.


"Liana...


ibu kalian adalah wanita yang ku kenal di masa lalu." Jelita menjelaskan perlahan. Hingga Liana berangsur mendapatkan kesadarannya meski tak sepenuhnya.


"Nyo....nyonya besar, tu...tu...tuan besar....?"


Liana menunduk lirih. Ia tak menyangka, keluarga yang akan menjadi besannya ini adalah majikannya di masa lalu.


Majikan yang telah membantunya tanpa menuntut apapun.


Majikan yang telah membantu Liana selamat dari cengkraman keluarga Darrel.


"Ya, ini kami. Tenangkan dulu dirimu, Liana. Semua orang yang ada disini merasa kebingungan dengan hal ini".


Radhi berkata tegas penuh wibawa.


Kharismanya sebagai pemimpin tak di ragukan lagi.


Mata kara tentu tak lepas dari Liana dan Ibunya, Jelita. Begitu juga callista yang tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


"Bisa jelaskan apa sebenarnya yang terjadi?".


Kara tak bisa menahan lagi keterkejutannya.


Ia merasa paling bodoh karna tak tau apa-apa.


"Nyo...nya....".


"Ssst.... biar aku yang menjelaskan.".


Jelita menenangkan Liana.


"Liana adalah mantan pelayan dirumah mama, kara. Saat callista masih berusia tiga tahun, Darrel, ayah callista yang juga merupakan ayah Hanum, membantu mama merebut kembali kak Arlan dan kak Ariana kala itu.


Namun, setelah pernikahan Liana dan Darrel,


Darrel sama sekali tak dapat di hubungi".


Jelita menjelaskan panjang lebar di depan semua orang.


matanya menatap kosong ke depan.


Seakan menerawang jauh tentang kejadian masa lalu.


Begitulah kehidupan.


Saat kita adalah makhluk yang bernurani, kita akan mencari seseorang yang telah memberikan kita bantuan.


Sayangnya......


Darrel dan Liana menghilang saat itu.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Liana?".


Radhi bertanya di depan semua orang.


"Jangan ada yang kau sembunyikan lagi".


"Aku menikah dengan Darrel selama dua tahun setelah kita berpisah, tuan.


Saat tahun kedua itu, Aku telah melahirkan Hanum. Saat Hanum berusia dua setengah bulan, callista menginjak usia Lima tahun kala itu........


Keluarga Darrel datang. Ibu tirinya dengan kejam memaksa kan Darrel menanda tangani surat pengalihan harta warisan karna ayah Darrel telah membagikan warisannya beberapa bulan sebelum ayah Darrel meninggal.


Dan dengan kejamnya, anak buah ibu tiri Darrel melenyapkan seluruh pengawal kami yang berjaga.


Bahkan Darrel pun tewas karna siksaannya.....


Di depan mata kepalaku sendiri dan callista.


Aku di usir menjauh kala itu, dan......

__ADS_1


Di sinilah aku terlempar, tuan.


Beruntung mereka membiarkan aku dan kedua putriku tetap hidup".


Kepedihan itu.....


Jelas nyata. Liana mendeklarasikan kepedihannya yang dia alami, dengan isakan paling pilu menyayat hati.


"Bu... jadi.... ayah..... di, di bunuh?".


Bibir Hanum bergetar. Tubuhnya meluruh di kursi. Ada luka tak kasat mata yang tetiba dialami hati Hanum yang meronta penuh duka.


"Mengapa baru sekarang mama bercerita? Andai tuan komisaris tak datang, apa ibu akan tetap diam dan membiarkan ku dalam ketidak Tahuan?".


"Maafkanlah ibu, Hanum...".


Liana meraih tubuh putrinya ke dalam rengkuhannya.


"Maafkan ibu, ibu hanya tak mau kau terluka.


Ibu menyayangimu dan kakakmu.


Ayahmu telah tiada.


Ibu tak mau kehilanganmu juga.


Ibu takut bila nanti kau mengetahui, kau akan memiliki dendam dan membalas mereka.


Mereka itu.....


Tidaklah mudah untuk di hadapi".


Hening sesaat.....


Kara sungguh penasaran akan latar belakang keluarga ayah Liana yang bernama Darrel itu.


"Pa, katakan.......


Siapa sebenarnya keluarga ayah Hanum yang kejam itu?".


"Kau ingat saat kita membatalkan kerjasama dengan Wira Grup karna poin dari mereka bisa merugikan perusahaan kita?


Pemiliknya, adalah tuan Wira......


Dialah anak dari ibu tiri darrel., tepatnya saudara tiri Darrel.


Sayangnya, ibu tiri Darrel telah tewas saat kecelakaan beruntun di Bali dalam acaranya yang berlibur itu.


Jadi kini.....


Tinggallah tuan Wira yang menguasai harta yang sebenarnya, adalah harta milik Darrel, suami Liana".


Semua orang tercengang mendengar pernyataan Radhi.


Jelita sempat mematung.


"Wira? Wira calon besan Chandra yang Dewi ceritakan kemarin?".


Jelita bertanya dengan mimik wajahnya yang serius.


"Ya. Dialah saudara tiri Darrel."


Sebuah rencana licik mulai tersusun dalam benak Kara seketika.


"Bukankah ini menarik?"


Celetuk kara kemudian. Pandangan matanya beralih pada Hanum yang masih ada di sisi ibunya.


"Hanum, menikahlah denganku dan aku akan merebut kembali hak keluargamu. Aku berjanji padamu.


Akan aku balaskan duka yang mereka torehkan dalam keluargamu, Hanum.


Hanya menikah denganku saja aku bisa seutuhnya menghancurkan mereka hingga ku pastikan, mereka akan berlutut di kakimu".


Semua tercengang mendengar penuturan Kara.


🍁🌻🌻🌻🍁


Hayyo..... siapa di sini yang terkejut dengan part ini??

__ADS_1


Ngakuuuuu☝️☝️☝️☝️


__ADS_2