
Ini adalah senja ke dua semenjak Alex di datangi Radhi. Tepat saat ini, Alex telah di jemput oleh dua pengawal pribadi Praja Bekti.
Setibanya di kediaman Praja Bekti, Alex ragu.
Alex, Daniel dan sang mama, Sundari..... Kini turun dari mobil, memasuki kediaman Praja Bekti tanpa kata.
Setibanya di dalam, Alex telah di sambut oleh para pelayan dengan ramah. Alex merasa aneh dengan hal ini.
Bukankah Kara dan Jelita tak menyukainya?
Lantas mengapa ia di perlakukan dengan baik oleh para pengawal dan pelayan di sini.
"Mari, tuan Alex....
Keluarga tuan besar Praja Bekti telah menunggu anda di lantai dua ruang keluarga."
Alex hanya tersenyum seraya mengikuti kepala pelayan bertubuh tambun itu. Begitu juga Sundari. Meski merasa was-was, namun decak kagum tengah menghiasi wajahnya ketika menyaksikan betapa megahnya isi kediaman Praja Bekti.
Setibanya di ruang keluarga, Semua keluarga Praja Bekti telah berkumpul. Tak lupa, Chandra dan Dewi juga ada di sana.
Daniel masih merasa harus tau diri, seburuk apapun dirinya dan Dita, namun ia tak ingin membenci Dewi dan Chandra yang telah membesarkan Dita.
Dirinya kemudian menunduk dalam dan menghampiri Chandra.
Beruntung, Chandra menyambut baik Daniel. Begitu juga Dewi.
"Selamat datang di kediaman kami.
Alex, Daniel dan nyonya besar Atmadja.....
Mari silahkan duduk.
Maaf apabila anda merasa kurang nyaman di kediaman kami.
Tetapi jujur, kami ingin menawarkan berbagai hubungan yang lebih baik".
Suara Radhi demikian berwibawa, tegas namun lembut. Wajahnya di penuhi senyum hangat. Pendar mata yang biasanya menyiratkan berbagai intrik dan kelicikan, kini telah di tanggalkan olehnya.
Selamat malam, tuan".
Sapa Alex yang mendapat anggukan dari Radhi.
"Terima kasih tuan besar Radhi, Suatu kehormatan bagi keluarga bobok seperti Atmadja mendapat undangan langsung dari anda. Semoga keluarga Praja Bekti di berkahi kebahagiaan oleh tuhan."
Sundari menjawab dengan gemetar. Sejujurnya, berhadapan dengan Radhi, dirinya cukup gentar juga.
"Oh tidak. Lupakan dan buang seluruh kecanggungan. Di sini, kita adalah keluarga".
"Terima kasih tuan Radhi".
Daniel menimpali. Alex hanya diam saja. Dirinya tak tahu harus berbuat apa saat ini.
Pandangan mata Radhi beralih pada Alma.
"Alma sayang, tolong bawa adikmu, Ridha kemari. Pelan-pelan saja ya, nak. Papa tak ingin Aridha kembali kesakitan."
Kemudian netra matanya beralih pada Luna.
"Luna, bantu kak Alma untuk membawakan infus kak Ridha, hm?"
"Iya pa, Alma ke kamar Ridha dulu".
ucap Alma yang segera di ekori Luna.
Hanya anggukan dan senyum tipis yang Radhi lakukan sebagai tanggapan.
__ADS_1
Hening.....
Tak ada satupun yang berani membuka suara. Saat ini, keberadaan Radhi sungguh sangat mendominasi. Bahkan Radhi dan kara, dua orang yang menentang hubungan Aridha dan Alex tak berkutik. Mereka hanya diam dengan wajah datar.
Senyum angkuh masih saja bertengger kokoh di bibir mereka.
Hingga Alma tiba, semua pandang orang-orang tertuju pada Ridha. Luna yang berjalan di samping Alma, memegangi besi tempat infus yang di pakai Ridha.
"Alma, dekatkan adikmu di kursi dekat Alex".
Titah Radhi tegas.
Tak ada seorang pun yang berani membantah, bila Radhi telah ber-titah.
Kara dan Jelita.....
Sejujur tak enak merasa tak enak hati pada Alex. Rasa bersalah mereka rasakan ketika Ridha baru mengalami kejadian naas itu.
Setelah semua menepati tempat duduknya masing-masing.....
Radhi segera angkat suara.
"Baiklah.... nyonya Atmadja, tujuan ku mengundang anda dan kedua putra anda kemari, adalah untuk mengucapkan mohon maaf atas tragedi ini, tragedi yang melibatkan putra putri kita.
Aku sebagai kepala keluarga Praja Bekti mengucapkan terima kasih tak terhingga pada Alex yang telah suka rela memberikan segalanya untuk putri kami".
Tanpa ragu lagi, jemari kiri Aridha meraih dan menggenggam jemari Alex.
Bolehkah Ridha bersikap semaunya sekarang?
Ridha tak ingin Alex pergi.
"Tak mengapa tuan Radhi.....
Sebagai pria, sudah seharusnya Alex memberikan yang terbaik untuk orang yang di cintai nya".
Kara dan Jelita jelas mulai tak nyaman mendengar hal ini, mendengar hal yang sangat sensitif bagi mereka.
"Aku ingin meluruskan apa yang perlu di luruskan di sini. sesuatu yang bengkok, bukankah akan lebih baik di luruskan Alex, Ridha....."
Pandangan mata Radhi, terfokus pada Alex dan putrinya, Aridha. Kemudian beralih menatap sang istri dan putranya.
"Sayang, dan kau kara.....
Di dunia ini, ada yang di sebut dengan kebenaran subyektif dan relatif.
Apa yang orang lain anggap benar, namun terkadang tidak bagi kita. Pola pikir setiap orang berbeda, sesuai pengalaman hidup dan nurani masing-masing individu.
Tak ada di dunia ini orang yang memiliki moral yang sempurna.
Aridha.....
Sekuat dan setangguh apapun dirinya, Setegar apapun dirinya, pada dasarnya dia membutuhkan penopang di masa dewasanya.
Sayangnya..... hatinya telah berlabuh pada Alex".
Radhi mendesah panjang.
Berat sejujurnya, harus menyidang putra dan istrinya. Namun ia harus melakukannya untuk membuat keduanya sadar.
"Menurutku, tidak ada salahnya Ridha mencintai Alex. Kenapa tidak?
Bukankah setiap orang berhak untuk menentukan dan meraih kebahagiaannya sendiri?
Tapi mengapa? Masih ada yang menanggap cinta Aridha dan Alex adalah sebuah kesalahan?".
__ADS_1
Hening.
Baik kara maupun Jelita tak ada yang bersuara.
"Putraku...... dan istriku......
Kalian berhak menilai seseorang. Sesuai dengan apa yang kalian lihat dan kalian dengar.
Masa lalu bisa menjadi ukuran untuk menilai seseorang. Akan tetapi semua itu jangan di jadikan tumpuan utama. Nilailah dengan hati, dengan firasat dan dengan insting."
"Dengan ini dan ini...."
Radhi menunjuk mata dan telinganya.
"Kita bisa melihat dan mendengar apa yang orang lain rumorkan. Kalian bisa menilai kebobrokan jiwa dan rendahnya moral seseorang hanya demi kesempurnaan."
"Tetapi dengan ini....."
Radhi menepuk pelan dadanya.
"Kalian akan tau perasaan dan keinginan sederhana yang terpendam dari seseorang.
Kalian akan bisa melihat apa yang tak bisa orang lain lihat, Kalian bisa mendengar apa yang tidak orang lain dengar, tanpa menampung rumor yang orang lain edarkan di luar sana. Saat kalian melihat dan mendengar dengan hati, kalian tak butuh rumor murahan untuk menilai ketulusan orang lain.
Setelahnya, kalian Pasti bisa menilai ketulusan orang lain.
Begitu saja sudah cukup untuk kalian mengerti".
"Dari awal, aku diam bukan karna aku tak mengerti. Tetapi aku diam karna aku ingin menilai, sejauh mana kalian bisa menghakimi orang lain tanpa perasaan".
Cukup sudah, air mata jelita runtuh seketika.
Kara yang duduk tak jauh darinya segera mengusap lembut punggung sang mama.
"Sebagai pria..... aku meminta maaf atas kesalahanku dan mama, Alex.
Semoga kau bisa memaafkan kami dan kita bisa menjadi saudara.
Hari ini, aku merestui kalian".
Suara Kara berhasil membuat Alex dan Ridha terhenyak. Wajah pucat Ridha, berubah lebih berseri kali ini. Demikian pula dengan Alex.
"Aku..... Aku juga meminta maaf padamu, nak Alex. Aku merestui kalian. Alex dan kau putri mama, Aridha"
Jelita berhambur memeluk putrinya.
Radhi tersenyum penuh kemenangan.
🍁🌻🌻🌻🍁
Ada banyak pelajaran yang bisa di petik dari part ini, yah....
Semoga suka....
Ambil sisi positifnya, buang sisi negatif nya....
Pada dasarnya, ada banyak hikmah dari rentetan kejadian dalam cerita ini.
Yang udah dukung....
Makasih semua.....
Aku bukanlah apa-apa tanpa support kalian.
Maaf yang udah komen ga semua di bales ya..... kalau neng Tia sibuk, neng Tia suka khilaf mengabaikan komen-komen kalian semua.
__ADS_1
Neng Tia sayang kalian ❤️❤️