
"Bagaimana kabarmu sekarang, Nora?" Suara lirih Alex, menyapa indera rungu Inora.
Wanita itu kini dipertemukan dengan Alex untuk pertama kalinya, pasca pertemuan mereka beberapa bulan lalu, yang menyebabkan penyakit mental Inora kambuh.
"Baik." Jawab Inora dengan lirih pula. Wanita itu tampak tak fokus pada Alex, melainkan lebih memilih untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kau sudah tampak lebih sehat." Imbuh Alex lagi.
"Ya." Inora menjawab dengan singkat. Inora sebenarnya enggan untuk menemui Alex karena permintaan Alex sendiri. Namun desakan dari Dion, nyatanya mampu membuat Inora mau tak mau, menemui Alex dan memenuhi permintaan pria masa lalu Inora itu.
"Aku minta maaf. Maaf karena membuatmu berada dalam masa sulit bertahun lalu." Ungkap Alex kemudian. Tentu Inora segera tertarik untuk menatap Alex. Cinta yang hingga kini masih menggebu untuk Alex, telah mampu Inora kendalikan dan ditekan.
"Jangan ungkit masa lalu, Alex. Biarkan saja semua begini dan berjalan sesuai takdir dan jalurnya masing-masing. Jangan lagi mengingatkan aku dengan masa lalu dan sakit hati." Tukas Inora kemudian.
"Tapi aku masih berada dalam rasa bersalah yang berlebihan, Inora. Jika berkenan, boleh aku bertanya?"
"Katakan saja. Bukankah saat ini memang adalah momen kebebasan dirimu untuk bertanya banyak hal padaku? Tanyakan saja apa yang mau kau tanyakan." Ungkap Inora.
"Kau, berjanjilah untuk tidak marah padaku." Pinta Alex. Mendengar penuturan Alex, tentu saja Inora
"Hmmm." Inora hanya mengangguk dan berdehem.
"Nora, mengapa dulu kau tak jujur padaku mengenai kehamilan dirimu? Mengenai kehadiran Marcel saat itu?" Tanya Alex kemudian.
Inora sadar, pertanyaan ini tentulah akan keluar juga dari mulut Alex. Tidak tanggung-tanggung, lelaki itu bertanya tepat sasaran dan langsung pada intinya.
__ADS_1
"Untuk apa? Untuk apa aku mengatakan tentang keberadaan Marcel, jika pada akhirnya kau tetap tak bisa aku miliki? Jika pada akhirnya kau tak mencintaiku, dan lebih mencintai wanita lain? Jika akhirnya aku hanya akan sama-sama menemui luka?"
Bungkam. Yang bis Alex lakukan hanyalah bungkam dan diam seribu bahasa tanpa bisa menjawab. Pertanyaan Inora, tentunya membuat Alex seolah mati otak, tak bisa berpikir cepat.
"Kau sudah jatuh cinta pada nyonya Aridha kala itu, Alex. Apakah jika aku mengatakan kebenaran akan keberadaan Marcel kala itu, kau akan bertanggung jawab untuk itu? Jika tanggung jawab mungkin kau bisa melakukannya, hanya saja, aku tak ingin menikah dengan lelaki yang tak mencintaiku sama sekali. Sampai sini kuharap kau paham. Aku adalah wanita pemuja cinta, Alex. Bersama Dion, dia mengubah seluruh hidupku yang berantakan tanpa bentuk. Saya itu aku berpikir realistis, aku lebih baik dicintai daripada mencintai, namun batinku mati perlahan."
Inora tersenyum getir, sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Bak makan siang romantis, Alex menjamu Inora di sebuah kafe hotel miliknya. Tentunya itu ia lakukan, atas desakan Ridha, istrinya.
"Tapi andai kau mengatakan kebenarannya, aku mungkin akan menikahimu dan tidak menyakiti Ridha lebih jauh. Kau tahu, dia juga tersakiti saat mendengar kabar, bahwa ada wanita lain yang melahirkan putraku. Terlebih lagi, wanita itu kau, wanita masa laluku."
"Kesakitan istrimu bukanlah hal bisa membuatnya mati, Alex. Kau tak tahu, neraka apa yang saat itu aku jalani selepas kepergian mu. Bahkan, aku menunggumu saat kau mendonorkan matamu untuk tuan putri Praja Bekti."
Keterkejutan tak bisa Alex sembunyikan. Ia tak menyangka, Inora bahkan tahu tentang hal itu.
"Kau, kau tahu semuanya?"
Hening kembali datang, membiarkan Inora memejamkan mata meresapi banyak rasa yang bertahta dalam hatinya. Wanita itu tenggelam dalam pemikirannya sendiri, tak mengizinkan seorang pun tahu akan nasib masa lalunya bersama Marcel.
"Bagaimana kau bisa menerima pinangan Dion saat itu?" Tanya Alex.
"Dia meyakinkan aku, bahwa ia bisa membahagiakan aku, menganggap dan menerima Marcel sebagai anaknya sendiri, juga bersedia memberikan nama belakangnya untuk Marcel. Dion Dinata, Marcel Dinata. Aku pikir saya itu, keadaan akan semakin memburuk bila aku tak menikah dengan Dion. Apa jadinya jika Marcel terlahir tanpa ayah? Ditambah lagi, aku benar-benar gila dan lupa pada diriku sendiri saat itu."
Inora terkekeh pelan kemudian. Wanita itu benar-benar ingat, bagaimana teguhnya pendirian Dion dalam meyakinkan dirinya, bahwa Dion serius ingin menerima apa pun kondisi Inora.
"Terima kasih banyak, Nora. Terima kasih banyak kau sudah melahirkan Marcel, putraku." Ungkap Dion kemudian. Lelaki itu benar-benar bersyukur, Tuhan masih mempertemukan dirinya dengan putranya, terlepas dari sebesar apa pun kesalahannya pada Nora dan Marcel.
__ADS_1
"Aku melahirkan Marcel bukan bukan karena dirimu, Alex. Ketahuilah, saat aku tahu aku tak akan mungkin bisa menggapai dirimu, memiliki dirimu, saya itu aku pikir duniaku hancur. Aku tak akan bisa mendapatkan dirimu karena kau tak pernah mencintai aku. Naasnya, justru akulah yang mencintaimu setengah mampus. keberadaan Marcel membuatku bertekad, tak apa aku tak memilikimu, Marcel adalah bagian dari dirimu dan hidupmu, dan itu sudah cukup untukku." Jawab Inora.
"Lalu, kau tak ingin menuntut sesuatu dariku?" Tanya Alex kemudian.
"Apa? apa yang perlu aku tuntut darimu? Sudah aku bilang, biarkan begini saja. Ini juga sudah lebih baik bagiku. Terima kasih, kau sudah bersedia memberikan pekerjaan untuk anak itu. Semoga saja ia bersedia lebih dekat denganmu."
"Kau tak ingin meminta apa pun lagi dariku?" Tanya Alex kemudian.
"Kau ingin aku meminta apa? Uang? Aku tak butuh uang, Alex. Aku hanya butuh ketenangan di masa tuaku, mengurus cucuku, dan juga mengurus rumah dan suamiku dengan baik." Tandas Inora kemudian. Wanita itu benar-benar bahagia dengan hidupnya saat ini. Jadi, tak ada apa pun lagi yang ia inginkan, sebab dirinya sudah dikelilingi oleh orang baik.
"Bukan, aku tak menawarkan uang padamu. Bahkan suamimu sudah memiliki satu persen saham di perusahaan Adi Prama. Satu persen saham disana, tentunya hasilnya cukup besar kalau hanya untuk biaya hidup. Hanya saja, aku ingin kau meminta sesuatu padaku."
Kalimat Alex, tak urung membuat Inora menatap lekat lelaki itu. Ada rasa yang berhejilak dalam hati Inora.
"Kau ingin aku meminta apa darimu? Hidupku sudah cukup dan aku sudah punya segalanya, jadi aku tak ingin meminta apa pun lagi darimu. Cukup sudah masa lalu, aku harap juga ini adalah pembicara kita yang terakhir." Tegas Inora kemudian.
"Kau tak meminta apa pun dariku, baiklah, maka aku akan memberikan sesuatu untuk Marcel, putraku."
"Sudahlah, Alex. Jangan banyak menawarkan sesuatu yang bisa kami gapai sendiri. Pikirkan saja perasaan nyonya Aridha, aku tak ingin menuntut apa pun darimu. Yang aku ingin, aku hanya ingin kau menjaga hubungan baik dengan putramu sendiri. Ketahuilah, Jika Marcel membenci seseorang, maka akan sangat sulit menaklukkannya kembali." Ungkap Inora.
"Tapi Marcel harus mendapatkannya dariku, Nora. Biar bagaimana pun, dua putraku."
"Terserah padamu saja jika begitu. Yang penting, aku tak menuntut dan menginginkan apa pun darimu."
Obrolan keduanya, tentu tak luput dari pendengaran Aridha. Jangankan Inora, bahkan Alex saja tidak mengetahui bahwa istrinya itu tengah menyamar menjadi orang lain di meja tak jauh dari tempatnya dan Inora duduk.
__ADS_1
**