
Pagi menyapa ketika Hanum telah siap dengan penampilannya yang rapi.
Suara kicau burung Beterbangan menyapa gendang telinga Hanum. Bahkan, suara ranting dan dedaunan yang bergesekan demikian terdengar jelas ketika Hanum membuka jendela lebar-lebar.
Meski suara yang berasal dari alam itu demikian mengusik indera pendengaran, tak lantas membuat Kara bangkit dan sadar dari mimpinya.
Lelaki berbadan kekar itu tak juga terusik akan hal itu. Dirinya seolah menikmati mimpi indahnya kali ini.
"Ya tuhan, mas. Bangunlah. Kita akan benar-benar terlambat ke bandara bila dalam lima menit kau tak juga bangun".
Hanum nampak gusar, namun memperlakukan kara dengan lembut.
Menghadapi Kara, memang harus meningkatkan stok sabar lebih dulu.
"Katakan pada petugas bandara untuk menunda penerbangan dua jam lagi".
Lirihnya yang membuat Hanum geli sendiri.
"Bangun atau aku tak akan memberimu jatah di ranjang selama di sana".
Ancam Hanum dengan tegas.
Taukah kau apa yang terjadi?
Kara segera bangkit dan berlari ke kamar mandi tanoa menjawab.
Hanum yang mendapati suaminya terbirit-birit segera tertawa dalam hati.
Rupa-rupanya, Hanum telah menemukan sebuah objek untuk ia jadikan ancaman pada Kara.
Anggap saja ini penemuan baru.
Lantas, Hanum segera meminta tolong beberapa pengawal untuk membawakan kopernya yang berukuran besar untuk segera di letakkan dalam mobil.
Pagi makin merambah siang. Sinar terik mentari kian memanas seiring perjalan waktu menuju siang.
Usai sarapan, Kara dan Hanum lantas segera bergegas untuk menuju bandara. Langkah Hanum tetiba terpaku usai turun dari mobil.
Tatapan matanya terpaku pada sosok wanita kawan semasa SMA nya dulu.
Dita......
Wanita itu juga menenteng koper mini di tangan kanannya. Tangan kirinya ia pergunakan untuk menenteng tas branded keluaran terbaru.
Kening Hanum seketika mengerut penuh curiga .
"Mas, lihat. Dita juga membawa koper".
Hanum menunjukkan keberadaan Dita pada Kara. Kara tersenyum simpul menanggapi.
"Sebentar. Aku akan menelepon Seno."
Hingga suara Seno terdengar.
"Seno..... ikutlah denganku ke Jerman. Ambil penerbangan secepat mungkin.
Kau tau? Eubah licik itu rupanya akan menjadi duri dalam perjalanan bisnis dan bulan madu ku kali ini".
Kara berkata dengan suara dingin.
Ia menutup panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban dari Seno yang ada di seberang sana.
Hanum yang melihat dan mendengar suaminya yang bercakap dari telepon, mengulas senyum manis.
"Sudah. Ayo jangan buang waktu lagi. Kita ikuti permainannya".
Kara segera menggenggam jemari istrinya, menarik pelan agar mengikuti langkahnya.
Tak peduli pada pengawal dan sopir yang mengekornya dengan membawakan barang bawaan mereka.
Perjalanan mereka kali ini nampak sangat melelahkan. Meski duduk berdampingan, namun Hanum nampak sekali raut wajah tak nyaman ketika melirik di mana Dita berada.
Meski wajahnya nampak datar-datar saja, namun tak serta Merta membuat Hanum bodoh. Tentu banyak emosi yang wanita itu miliki.
Berada dalam satu pesawat yang sama bersama wanita yang mengejar-ngejar suaminya, siapa yang akan merasa seperti biasa saja?
__ADS_1
Dalam pikiran Hanum kembali berkecamuk.
Dulu.......
Hanum sempat menolak melemparkan dirinya pada ranjang lelaki, meski tak di pungkiri dirinya begitu sangat mencintai Kara saat itu.
Bahkan.......
Hanum meminta untuk di nikahi Kara karna tak ingin merasa berdosa seumur hidup di hadapan tuhan.
Kehormatan yang Hanum jaga hingga sedemikian rupa, bahkan rela mempertaruhkan cintanya.
Hanum rela melakukan itu.
Namun saat melihat usaha Dita yang demikian lurus itu, membuat Hanum menggeleng kan kepalanya karna merasa tak berdaya.
Mengapa harus mengumbar diri dengan terang-terangan layaknya wanita tak laku?
Bila bukan wanita murahan, lantas apa namanya?
Pantaskah bila Hanum nyebutnya sebagai jalang sejati?
Andai wanita itu tak mencoba mengusik kedamaian keluarga kecilnya, Hanum tak akan merasa terganggu.
Sayangnya.......
Dita telah berprilaku di luar batasannya.
Berbagai pikiran mulai berkecamuk dalam otak Hanum. Beruntungnya, Hanum dengan pandai mengemas keresahannya dengan baik.
Tak ia ijinkan sedikitpun Dita tahu akan yang Hanum khawatirkan.
Hanum tak ingin kalah oleh wanita itu.
Ia harus bisa mempertahankan rumah tangganya dan melindungi suaminya dari godaan jin yang menjelma menjadi wanita itu.
Ya. Hanum bertekad untuk melawan dan menerjang badai apapun yang mencoba untuk menghancurkan rumah tangganya.
*****
Sinar kemerahan perlahan turun di ufuk barat, membiarkan kegelapan mengambil alih bumi.
Tak membiarkan bumi dalam keadaan terang setiap waktunya.
Ada saatnya, masa berganti.
Yang tadi terang, kini berganti gelap.
Yang tadi putih, kini berganti hitam.
Yang tadi indah, kini berganti suram.
Yang tadi cerah, kini berganti legam.
Semua telah memiliki masa dan akan berganti di waktu yang seharusnya.
Begitu juga dengan Aridha.
Putri dari keluarga Praja Bekti ini demikian meledak-ledak emosinya.
Bagaimana tidak?
Mobil yang di kendarai ya tetiba macet saat ia baru pulang dari kantor papanya.
Pekerjaannya baru usai, ia pulang sedikit telat hari ini.
Sialnya, mobil nya ini mogok di saat yang tak tepat. Dan yang lebih menyedihkan lagi, tak ada seorang pun yang terlihat berlalu lalang. Karna ia melalui jalan-jalan sepi sebagai alternatif untuk memperpendek waktu.
Ia tak tau apa yang harus ia lakukan.
"Boleh saya bantu, nona?".
Suara serak-serak basah seorang pria membuat Aridha terkejut seketika.
Mata mereka berdua melotot sempurna seketika.
__ADS_1
"Kka.....kau....?".
Ridha tergagap.
"Ka..kau?".
Begitu juga dengan sang pria yang awalnya tak tau bahwa wanita yang tengah mengalami kesulitan ini adalah putri dari Praja Bekti.
"Apa yang kau lakukan di tempat sepi seperti ini?".
Aridha nampak bersiaga andai Alex Atmadja berbuat tindak asusila terhadapnya.
Bukan tanpa alasan.
Bukankah Alex adalah salah satu pelaku tindak asusila pada Dita sembilan tahun lalu?
"Baru pulang mencari pekerjaan".
Alex menjawab santai, tangan kanannya menunjukkan amplop coklat lebar.
Sepertinya memang benar apa yang ia katakan.
Tapi tidak, Ridha harus tetap waspada.
"Kau butuh bantuan.".
"Tidak andai ponselku tak kehabisan daya".
Jawab Aridha dengan ketus. Alex mengerutkan keningnya nampak bingung.
"Baiklah. Aku akan menolong mu Berikan kuncinya".
Alex tak peduli wajah Aridha yang kebingungan menatapnya. Dulu, Alex adalah pria brengsek dan biadab. Tapi tidak kali ini. Ia belajar dari masa lalu. Tak akan pernah lagi ia melakukan tindakan menyimpang dari norma agama dan masyarakat.
Semenjak kejadian beberapa waktu lalu, membuat Alex sadar dan ingin berubah menjadi lelaki baik.
Meski Alex yakin tak akan mudah, mengingat terlanjur banyak pihak yang membenci bahkan jijik padanya.
Tak apa. Toh keputusan Alex benar.
Maka, Aridha menyerahkan kunci mobilnya dengan ragu.
Ia menatap gerakan-gerakan Alex yang tangkas. Sebentar masuk ke dalam mobil, membuka jok kemudi, kemudian kembali lagi ke bagian depan mobil. Gerakan itu terulang berkali-kali.
Tak sampai setengah jam, mobil telah kembali hidup.
Entahlah.......
Saat tiba di rumah nanti, Aridha akan berjanji untuk memaki pengawal ataupun sopir yang biasanya mengecek seluruh kondisi mobil sebelum berangkat.
Kinerja mereka perlu di pertanyakan kali ini.
"Sudah selesai, nona. Ngomong-ngomong, bolehkah ku sampaikan sesuatu?".
Tidak menjawab, Aridha justru membuka tasnya dan menyerahkan sejumlah uang pada Alex.
Alex yang merasa tak nyaman pun segera mengembalikan uang yang di berikan Aridha.
Tawa renyah terdengar dari bibir Alex.
"Aku tak membutuhkan uangmu ini meski aku saat ini miskin, nona.
Hanya saja, bila boleh aku memberi masukan, jangan menilai orang lain dari permukaan atas dasar apa yang kau dengar dan kau lihat.
Siapapun berhak untuk berubah lebih baik.
Aku mungkin....... reputasiku terhadap wanita buruk di matamu.
Satu hal yang perlu kau ingat......
Aku bukan lagi Alex yang dulu. Aku saat ini lebih menghargai wanita sebagaimana aku menghargai ibuku setelah pelajaran yang keluargamu berikan.
Sampaikan salamku pada kelurgamu, terima kasih telah membuka mata hari keluargaku, membebaskan keluargaku dari kesesatan dan tindakan tidak manusiawi".
Alex berlalu pergi. Meninggalkan Aridha yang terperangah dengan uang yang Alex letakkan di telapak tangannya.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁