Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Dari hati ke hati


__ADS_3

"Ya. Dian adalah wanita bayaran yang di sewa Wira Atmadja untuk mengincar kekuasaan Adi Prama dan praja Bekti.


Wira hanya tak tau saja, dengan siapa ia berhadapan.


Aku bahkan bisa jauh lebih picik darinya".


~Part sebelumnya~


"Ya tuhan, oh ya Tuhan........


Kesialan apa yang sedang menimpa keluarga ku dan kerabat ku".


Jelita panik hingga seperti orang linglung.


Sinar mata yang terbiasa datar tanpa adanya kilatan berbagai emosi, kini nampa jelas terbaca, seperti lembar demi lembar buku yang terbuka.


"Sayang, tenangkan dirimu. Jangan panik.


Semua akan baik-baik saja.


Chandra dan Dewi, adikmu, tak akan mudah untuk di hancurkan selagi aku masih bernafas.


Percayalah, Aku akan mengatasi mereka dengan rapi".


Radhi menenangkan.


Pria paruh baya itu beranjak, melangkahkan kaki untuk menghampiri sang istri.


"Papa benar, ma.


Sudahlah. Aku telah dewasa, Percayalah padaku aku bisa membantu papa untuk mengatasinya".


"Baiklah, Kara. Kau adalah putra kebanggaan mama.


Mama yakin kau bisa melindungi keluargamu".


Jelita menimpali.


"Ya sudah


Aku harus segera mengistirahatkan tubuhku.


Pa, Aku merubah beberapa rencana. Aku sarankan untuk menyerang mereka tepat sehari setelah pernikahan kak Arlan.


Tetap lah untuk menahan pengacara keluarga Wira Atmadja.


Kita akan mengawasi secara diam-diam tingkah si tua Bangka menjijikkan itu saat pesta kak Arlan berlangsung".


"Baiklah, papa rasa itu tepat".


***********


Alma tengah menjalani proses ritual perawatan diri menjelang acara pernikahannya.


Di kediaman Adi Prama, Alma di tahan dan di rawat sedemikian rupa, di perlakukan layaknya bak putri raja.


Diam-diam, Alma merasa bahagia dan menikmati semua fasilitas yang ia jalani.


Entah bagaimana tentang Arlan, Alma bahkan tak lagi bertemu semenjak siang tadi ketika Arlan memintanya untuk menjadi istrinya.


Sialan si Kara.


Semua kesialan ini, berasal dari keputusan sepihak Kara.


Gara-gara usulannya untuk menjadikan Alma sebagai pengantin pengganti untuk Arlan, membuat Alma kini terjebak di kediaman Adi Prama.


"Alma...".


Sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Alma seketika.


Sosok wanita paruh baya yang cukup anggun meski pakaiannya tak begitu mewah, muncul dari ambang pintu.


Di susul seorang wanita yang jelas Alma kenali, Dita.


"Terima kasih, sayang.


Mulai sekarang, panggil aku dan suamiku dengan panggilan mama dan papa.


Kau akan menjadi bagian dari keluarga kami sebentar lagi.


Oh ya, Ayah dan ibumu akan segera sampai esok hari.


Aku mendapat kabar, mereka terkejut dengan pernikahan mu yang mendadak ini".


Dewi tersenyum kecil.


Mengingat reaksi orang tua Alma saat Mereka bercakap lewat panggilan ponsel tadi sore.

__ADS_1


Orang tua Alma bahkan memberondong Dewi dengan banyak pertanyaan.


Bahkan, Sempat ibunya Alma bertanya, mungkinkah Alma hamil lebih dulu, karna menikah secara dadakan seperti ini.


Sebagi seorang ibu, Dewi tentu mengerti akan situasi ini.


"Aku.... aku pasti akan diumpat nanti oleh ayah dan ibuku, nyo... oh... mama".


Alma menunduk malu.


"Tidak akan. Bila ada yang menyalahkanmu, maka aku akan berdiri di barisan paling depan untuk menentangnya.


Dengar. Arlan saat ini juga tengah menjalani beberapa perawatan sepertimu.


Ku harap, pernikahan kalian akan berhasil di masa depan.


Perlakukanlah putraku layaknya suami.


Aku percaya, suatu saat kalian akan saling mencintai, itu pasti".


Alma terharu. Sangat terharu


"Tapi.... mungkinkah tuan muda Arlan juga akan memperlakukanku layaknya istri?".


Alma tertunduk.


Wajah bahagianya tadi ketika mengingat akan menjadi bagian dari keluarga Adi Prama, Kini berubah mendung.


Inilah yang Alma takutkan.


Bagaimana bila seandainya, Arlan tak akan pernah mencintai Alma layaknya suami terhadap istri?


Mungkinkah keberhasilan akan di capai oleh pasangan yang menjalin rumah tangga?


"Nak, dengarkan mama........


Arlan adalah putra kebanggaan kami.


Dalam keluarga Adi Prama, Jelas Arlan adalah putra tunggal. Meski keberadaannya tetap tak selalu disini, mengingat dia juga putra kakakku, Jelita.


Dan kau tau apa artinya?


Arlan tak akan mungkin mengecewakan keluarga besarnya.


Percayalah......."


"Aku akan mencoba, ma".


Secercah senyum manis terbit dari bibir Alma.


Ada rasa haru yang menyeruak di hati Alma.


Mungkinkah ini mimpi?


Alma berasal dari keluarga sederhana.


Menjadi bagian dari keluarga berdarah biru seperti Adi Prama, adalah sebuah keberuntungan tersendiri.


"Kak Alma,".


Dita yang sedari tadi hanya diam, mulai angkat suara.


"Ya". Alma tersenyum kaku menatap Dita.


Dulu, wanita inilah yang selalu diumpat dan di maki Kara, bosnya.


Tapi kini, wanita ini akan segera menjadi adik iparnya. Alma tak tau kesalahan apa yang Dita buat di masa lalu, Alma berusaha untuk tak peduli.


"Semoga rumah tangga kalian awet.


Aku berdoa yang terbaik untuk mu dan kak Arlan".


Senyum tulus itu, tersungging nyata di wajah Dita.


Ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh sudut hati mereka.


"Terima kasih".


"Alma, dengar........ jadilah istri yang sesungguhnya untuk Arlan. Cobalah untuk membuka hati.


Mama tak akan memaksakan dalam waktu dekat.


Tapi, Kalian tak boleh menunda untuk segera memiliki momongan, Mengerti?".


Alma membeku.


"Ya. Tapi aku tak akan menuntut mu segera.

__ADS_1


Ini hanya...


Aku mengatakan isi hatiku yang sesungguhnya".


"Kami akan mendiskusikannya nanti, ma.


Ku mohon, jangan membuat Alma tertekan saat menjelang hari pernikahan.


Ku mohon beri dia waktu".


Arlan tetiba muncul di ambang pintu.


Membuat Alma mendadak terpana dengan ucapan Arlan, calon suaminya ini.


"Kau peduli padanya, kak?".


Dita tersenyum.


Begitu juga dengan Dewi.


"Ya. Tinggal kan kami berdua.


Aku ingin bicara dari hati ke hati dengannya".


Pinta Arlan.


Dewi dan Dita pun mengangguk dan berlalu pergi tanpa suara.


Hening beberapa saat. Pintu kamar di tutup rapat oleh Arlan.


"Alma".


"Ii iya".


"Jangan gugup. Biasa saja.


Ada beberapa hal yang perlu ku ungkapkan padamu".


"Apa itu, mas?".


Alma mulai bisa mengendalikan dirinya.


"Bantu aku menyembuhkan luka hatiku, Alma.


Aku tak mungkin menentang keluargaku demi mempertahankan Dian.


Aku harap, Aku bisa secepatnya mengikhlaskan hal ini. Aku berjanji padamu.....


Aku akan berusaha belajar mencintaimu.


Ku harap kau juga demikian padaku".


Alma menunduk. Air matanya merebak penuh haru.


"Apakah, saat ini..... Kau memiliki pria yang tengah menjalani hubungan dekat denganmu?".


Tanya Arlan hati-hati.


Bila memang demikian kenyataannya, Arlan akan berbicara halus secara jantan dengan pria itu.


Bagaimana pun, Arlan tak bisa merebut milik orang lain. Hal itu tak pernah diajarkan dalam keluarga Jelita, maupun Chandra.


"Ti tidak".


Alma menggelengkan kepalanya.


Arlan menatap lekat Alma penuh curiga.


Suaranya bergetar, suaranya pun terdengar sedikit serak.


"Alma, kau menangis?"


Jari telunjuk Arlan perlahan mengangkat dagu Alma agar menatapnya.


Dan benar saja, sudut mata Alma tergenang air mata.


"Mengapa menangis".


"Aaku.... aku terharu karna....


kau bersedia menerimaku yang....yang gadis biasa ini.".


Jemari Arlan perlahan menguap air mata Alma.


Alma mendadak terasa seperti tersengat aliran listrik berkekuatan tinggi seketika itu juga.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2