
Bila sebagian orang lebih memilih berfikir realistis demi kelangsungan masa depan yang cukup logis, tapi tidak denganku!!
Rasa ini, duka ini......
Semua sisi hatiku bak mendung kelabu dengan warna yang demikian pekat.
Selama kehidupan ini aku jalani, tak sekalipun aku merasakan gempita di dalamnya....
Yang ada hanya nestapa, duka, lara, dan meninggalkan goresan yang kian menganga.....
Salahkah bila aku ingin bahagia??
Salahkah bila aku ingin di cinta??
Salahkah bila aku ingin mencecap bahagia sedikit saja??
Semua terasa semu.
Semua terasa menjauh.
Semua terasa bak fatamorgana yang sulit ku gapai.
Aku lelah.......
Aku letih.......
Aku putus asa.......
Jika bertahun-tahun ku lalui dengan banyak duka.....
Lantas, bolehkah andai hari ini aku bersikap egois? Mengambil langkah drastis untuk meraih bahagiaku??
Sekali lagi, aku tak lagi peduli!!!
~Hanindita Mayang Sari.
Dita tengah berjalan ringan menuju pinti kediaman Adi Prama. Meski wajahnya terlihat datar rautnya, Namun matanya memperlihatkan kelelahan dan pendarnya tertutup oleh kabut kekecewaan.
Langkahnya semakin pasti.
Sepulang dari Berlin, Jerman kemarin. Ia terlihat nampak semakin kacau.
Maka, ia memutuskan untuk mengistirahatkan dulu hati dan otaknya untuk sementara waktu.
"Pagi, ma...
Pagi, pa....."
Dita datang dengan wajah yang di buat se-ceria mungkin. Ia tak mau andai tiba-tiba nanti Chandra mengintrogasi dirinya.
"Pagi".
Chandra dan Dewi menjawab bersamaan. Tak jauh dari mereka, Hana berlari dan menyambut kedatangan mamanya yang selama seminggu ini tak pernah mengunjunginya.
"Mama, mengapa lama tak pernah main kemari? Apa mama sudah mulai mencoba melupakan Hana?".
Mata anak itu demikian polos. Ia segera berhambur ke dalam pelukan ibunya.
"Bukan begitu, sayang. Mama hanya sibuk bekerja".
"Oh baiklah. Tidak masalah".
"Ngomong-ngomong, apa harimu menyenangkan?".
"Tentu saja. Oma dan opa mengajariku banyak hal."
__ADS_1
"Oh baguslah. Sekarang bermainlah dulu, mama akan berbincang sedikit dengan Oma dan opa. Nanti mama akan mengajakmu ke pusat perbelanjaan dan membelikanmu Ice cream rasa apapun, kau mau?".
"Oh baiklah, aku masuk ke kamar dulu".
Hingga Hana hilang di ujung tangga, maka Dita segera mendudukkan dirinya di sofa.
"Kau bilang pada Hana kau sibuk bekerja, tapi kau telah mangkir selama delapan hari ini.".
Ungkap Chandra datar. Nadanya mengandung ketidak sukaan terhadap Dita.
"Aku pergi ke Jerman untuk menenangkan pikiranku, pa. Aku juga telah meminta ijin pada pihak perusahaan papa, bukan?"
"Oh benarkah? Bukannya kau pergi ke Jerman untuk menguntit Kara dan istrinya?".
Dita tak dapat lagi menyembunyikan rasa terkejutnya. Bagaimana mungkin Chandra tau tentang hal itu? Sesuatu yang Dita simpan rapat.
Dita diam tak menjawab. Ucapan Chandra telak dan tepat sasaran.
"Kau berani mengusik rumah tangga Kara dan Hanum? Maka kau akan berhadapan langsung denganku.
Dengarkan aku Dita.
Meski Kara seringkali membuatku tersinggung dengan mulut tajamnya itu, tali aku dan Kara adalah dua orang yang memiliki ikatan batin antara paman dan keponakan.
Ikatan yang kami bentuk sejak Kara kecil, itu bahkan lebih kuat dari posisimu di rumah ini, kau mengerti?".
Chandra berkata dengan datar.
Tak menampakkan riak emosi apapun.
Dewi yang ada di samping Chandra, mengusap pelan lengan Chandra, memberi kekuatan, menyalurkan kesabaran agar Chandra tak naik pitam saat itu juga. Bagaimana pun, Dita telah mencoreng nama Chandra dan Dewi semenjak kedatangan Jelita dan Radhi beberapa waktu lalu.
Marah?
Jelita dan Radhi tak marah sedikitpun pada Chandra. Mereka hanya memberi tahu tentang kelakuan Dita Yang akhir-akhir ini berusaha dan mencoba untuk mengusik Rumah tangga Kara.
Jadi, posisinya saat ini tak lebih kuat dari ikatan yang Chandra dan Kara miliki?
Sungguh ironi.
"Jadi papa tak menyayangiku lagi?"
Suara Dita bergetar. Ada ketidak nyamanan yang tersirat dalam suara nya.
"Iya bila kau tetap akan memuluskan niatmu untuk menghancurkan rumah tangga Kara dan Hanum."
Jawab Chandra tegas.
"Apa yang papamu katakan memang benar, Dita. Cobalah untuk membuka hati. Bahkan Daniel sekarang jauh lebih baik dari pada dirinya yang dulu".
Dewi menimpali dengan suara lembut.
"Pa, sembilan tahun aku hidup dalam penderitaan. Aku mencintai Kara dan aku akan bahagia bila aku bersamanya.
Salahkah aku bila aku mengejar dan berusaha mencapai apa yang menjadi keinginanku?"
"Salah. Jalan dan keputusan final mu ini salah karna kini Kara telah berkeluarga, Dita. Andai Kara tak menikah dengan Hanum, maka aku akan mendukungmu dan mencarikan cara untuk kau bisa bersatu dengannya.
Tapi posisinya saat ini telah berubah.
Kau harus memahami itu.
Dulu, kau telah membuat Kara tertekan hingga mengalami depresi selama beberapa bulan.
Dan kini kau menginginkan Kara jatuh ke dalam pelukanmu.
__ADS_1
Buka matamu lebar-lebar, Dita.
Kau harus menerima kenyataan bila tak ingin hidupmu menderita ke depannya".
Chandra berkata logis.
Andai ia tak menyayangi Dita, ia akan membiarkan saja Dita melakukan apapun semaunya.
Akan tetapi, membiarkan Dita mengusik keluarga Praja Bekti, ini sangatlah tidak baik.
"Dan papa memintaku untuk menyerah? Tidak, pa. Aku tidak bisa.
Kara, Kara bagiku adalah segalanya, pa. Aku tak bisa berhenti di tengah jalan seperti ini".
"Baiklah, bila itu menjadi keputusanmu.
Persiapkan dirimu untuk pernikahan Minggu depan. Aku tak mau tau. Kau harus bersedia".
Mata Dita membesar dengan sempurna.
"Me...men... menikah?".
"Ya. Apa aku perlu mengulangi kalimatku?"
"De..dengan siapa".
"Dengan pria yang tentunya pantas denganmu".
Belum sempat Dita kembali melempar tanya, Dering ponsel Chandra menghentikan niatnya. Membiarkan Chandra berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Ya...."
"......"
"Apa? Baiklah.... Kirimkan alamat rumah sakitnya. Aku dan istriku akan segera kesana".
"......"
"Ya. Segera".
Chandra memutuskan sambungan teleponnya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan baru.
"Ingat kata-kata ku, Dita. Kau harus menikah Minggu depan. Aku tak menerima apa lagi mendengar alasan apapun untuk kau menolak".
Pandangan mata Chandra tetiba beralih pada Dewi.
"Ariana merasakan kontraksi hebat. Sekarang di larikan ke rumah sakit terdekat dari suaminya."
"Oh ya tuhan, Riana. Ayo, mas. Ayo kita berangkat ke sana sekarang".
"Ya, jangan lupa katakan pada pelayan bahwa Hana kita tinggal di rumah. Dan tolong ambilkan ponsel, dompet dan kunci mobil"
di laci nakas".
"Baiklah, aku ke atas dulu"
Hingga Dewi berjalan menjauh menuju anak tangga, Pandangan mata Chandra yang tajam beralih pada Dita.
"Aku tak menerima penolakan, Dita. Sekali lagi ku tegaskan padamu, kau harus menikah Minggu depan".
Lidah Dita terasa kelu. Ia tak mampu menjawab perkataan Chandra. Matanya telah berkaca-kaca.
Dalam hati Dita berteriak.
"Aku tak akan menikah dengan siapapun dan pria manapun kecuali Kara. Aku berjanji pada diriku sendiri".
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁