
Di sebuah sudut ruangan, seorang wanita tengah menyesap jus melon bercampur susu coklat. Wanita cantik itu melempar tatapannya keluar jendela, sembari memikirkan banyak hal.
Gihana, putri daniel dan Dita itu sudah lama sekali menyusun rencana untuk bisa mendekati Aksa. Ia tak akan memikirkan hal sepele seperti usianya yang terpaut beberapa tahun diatas Aksa. Yang penting, Hana hanya ingin dirinya bisa mengikuti apa kata hatinya.
Tinggal di rumah minimalis yang jauh ukurannya dengan kediaman Adi Prama, membuat Hana merasa iri terhadap kedua anak kandung Chandra, Arlan dan Ariana. Mereka memiliki semua fasilitas mewah, namun dirinya merasa seperti anak buangan.
Memang, dirinya adalah putri Dita, yang hanya sebagai anak angkat Dewi. Kini, Hana memiliki obsesi untuk memiliki Aksa, karena Aksa adalah pewaris Praja Bekti selanjutnya setelah Kara.
Terdengar konyol dan gila memang, tapi itulah kenyataannya. Hana terlalu tamak, serakah dan gelap mata hingga ia lupa apa risiko dan konsekuensinya. Hana hanya tidak tahu, hukuman berat apa yang diterima ibunya dulu, saat ibunya terobsesi terhadap Kara.
"Hana, belum tidur? Ini sudah nyaris tengah malam. Tidak baik berdiri seorang diri menghadap jendela saat gelap." Daniel muncul di ambang pintu yang tak tertutup rapat.
"Hana hanya belum ingin tidur, pa. Jadi ya terpaksa Hana berdiri disini." Hana berjalan pelan menghampiri Daniel, setelah ia menutup jendela dan gorden. Tak lupa, wanita muda itu mengulas senyum tipis untuk menutupi apa yang ia rasakan.
"Ada apa? Apa mama sudah tidur?" Tanya Hana lagi.
"Mamamu sudah tidur sejak tadi. Belakangan ia sering mengeluh sakit kepala. Mungkin besok papa akan membawa mamamu ke rumah sakit untuk di periksa." Tukas Daniel kemudian.
"Papa merasa kau sedang dilanda masalah. Ada apa? Apakah ada hal tak nyaman, atau ada yang dirasa?"
__ADS_1
Sejak dulu Daniel sangat memerhatikan putrinya, meski se-pandai apa pun Hana menyembunyikan emosinya.
"Menurut papa, bagaimana?" Tanya Hana sekedar bermain-main.
"Mana papa tahu jika kau tak mengatakannya? Sudahlah, jangan main tebak-tebakan. Katakan saja ada apa? Apa yang membuat putri papa ini terusik?"
"Aku sedang jatuh cinta pada seseorang, pa. " Ungkapan Hana, membuat senyum Daniel merekah sempurna. Ia tak menyangka, putri mungil yang dahulu sangat polis, kini telah tumbuh menjadi gadis yang telah mengenal arti cinta. Usia Hana juga sudah membuat Hana pantas untuk jatuh cinta.
"Benarkah? Apa papa tak salah dengar?" tanya Daniel. Hatinya lebih harap, putrinya akan bagai di masa depan.
"Ya." Hana mengangguk. Gadis itu benar-benar berbinar saat ia mengingat betapa tampan dan kaya nya Aksa. Ya Tuhan, Hana benar-benar telah salah jalan.
"Siapa yang sudah membuat putri papa ini luluh?" tanya Daniel sambil duduk mendekat ke arah putrinya yang telah duduk di sofa bed.
"Seorang laki-laki yang jelas papa tak boleh tahu dulu. Papa boleh tahu, jika nanti semuanya sudah siap." Ungkapan Hana, tak urung membuat kening Daniel mengerut.
"Jangan rahasiakan apa pun dari papa, Hana. Ingat, jika terjadi sesuatu padamu, papa tak akan memaafkan diri papa sendiri." Ungkap Daniel. Sebagai orang tua yang sigap, Daniel tak ingin putrinya menyesal di suatu hari nanti, akibat jatuh cinta pada orang yang salah.
"Papa, dengar Hana dulu. Papa boleh tahu, jika nanti waktunya sudah tepat. Untuk sekarang, aku hanya mempersiapkan semuanya. Jangan khawatir, dia laki-laki yang baik, juga laki-laki yang tak akan menyakiti wanita. Bahkan papa pun mengenalnya. Tapi siapa pun dia, itu biarlah jadi rahasia untuk sementara ini."
__ADS_1
Ungkap Hana sambil tersenyum.
"Jangan bermain-main dengan sesuatu yang bisa saja menyakitimu, Hana. Papa tidak ingin kau menyesal nanti."
"Doakan saja yang terbaik untuk kami, pa."
"Siapa lelaki itu sebenarnya, Hana? Jika papa mengenalnya, siapa dia? Apa dia karyawan di kantor Opa?" Tanya Daniel untuk memastikan.
"Papa, sudah Hana katakan, papa jangan tahu dulu. Biarkan ini jadi rahasia dulu. Yang penting, papa jangan risau dan tunggu saja kabar dari Hana. Hanya saja, mungkin papa akan menganggap Hana gila jika tau siapa lelaki itu." Ungkap Hana.
Dalam sebuah ujaran Hana, Daniel berhasil dibuat penasaran. Memaksa Hana mengatakannya pun, Sudah tak mungkin lagi, mengingat Hana sangat keras kepala.
"Baiklah, papa tak akan memaksa kali ini. Yang terpenting, tetap jaga hati kamu itu agar tak mudah terluka. Papa dan mamamu sudah tua, banyak hal di masa lalu yang membuat mama dan papa jadi semakin paranoid, termasuk pada sesuatu yang disebut cinta." Ungkap Daniel.
Hana hanya diam tak membantah. Ia dengan sengaja ingin belajar tentang masa lalu kedua orang tuanya. Hanya saja, Hana tidak tahu jika ibunya, Dita memiliki masa lalu kelam karena ulahnya sendiri.
"Pa, aku hanya ingin papa mendoakan Hana. Hana hanya ingin papa benar-benar tulus menerima lelaki itu kelak. Siapa pun pilihan Hana, Hana berharap mama dan papa tak akan menentang. Karena jika masalah hati, bukankah hati itu tak bisa dipaksakan?"
Daniel mengangguk. Kini, keduanya hanyut dalam pemikiran masing-masing. Merdeka juga membicarakan topik-topik ringan. Hanya saja, Daniel seperti curiga pada satu orang. Tapi semoga saja kecurigaan itu salah.
__ADS_1
**