Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Benteng pertahanan


__ADS_3

"Apa maumu sebenarnya, Ridha?


Tidak bisakah kau membaca kekhawatiran mama dan kakakmu?


Mama hanya ingin yang terbaik untukmu.


Mama tak ingin masa depanmu buruk karna pria yang suka mempermainkan wanita.


Jadi katakan di mana letak kesalahan mama karna telah menjauhkanmu dari pria dangkal seperti Alex?"


Jelita marah.


Jelita murka.


Jelita hilang kesabarannya.


Putri yang selama ini ia banggakan prestasi dan kepiawaiannya dalam membawa diri, kini tengah berdiri di jalur yang berseberangan dengan dirinya.


Apa yang bisa Jelita lakukan saat ini?


Aridha adalah cerminan diri Jelita yang keras kepala dan tak mudah goyah dalam pendirian.


Untuk menghadapi Ridha tidak lah mudah. Jiwa mudanya yang kerap kali meronta dan selalu meledak-ledak, seringkali Jelita dan Radhi merasa kewalahan mengatasinya.


Kini, putri nya yang kuat dan tangguh itu menjadi lemah dan tak berdaya di bawa kendali perasaan cintanya pada sosok Alex Atmadja, pria yang tak layak untuk di sandingkan dengan Ridha.


Ya Tuhan.......


Jelita mengeluh dalam hati.


"Alex bukan pria dangkal. Dia pria yang ku cintai, mama......


Ridha mohon, setidaknya beri Alex kesempatan untuk membuktikan bahwa dia kini lebih baik dari dirinya yang dulu. Beri Alex kesempatan untuk membuktikan bahwa dia layak menjadi menantu keluarga Praja Bekti.


Aku mohon ma..... Ridha mohon pada mama".


Aridha bersimpuh di hadapan keluarganya.


Air matanya tumpah ruah, mengalir menganak sungai membanjiri pipinya yang mulus.


Radhi hanya diam saja, menilai seberapa kuat Ridha bertahan dalam keras kepalaan sang mama. Begitu juga dengan kara yang diam saja, pria itu tak habis pikir dengan pola pikir adiknya.


"Terserah kau saja apa mau mu Ridha.


Mama lelah bila harus berdebat denganmu."


Jelita berlalu pergi. Hari ini cukup melelahkan baginya. Emosinya terkuras habis karna masalah ini. Meninggalkan putrinya yang sesegukan akibat sisa-sisa tangisannya.


Ridha bangkit dan berlari menuju kamarnya.


Sayup-sayup ia mendengar suara Kara yang memerintahkan beberapa pengawal untuk memperketat penjagaan.


Entahlah, Ridha tak peduli.


Memasuki kamar, Ridha demikian marah pada mama dan kakaknya saat ini. Dirinya merasa di anak tirikan di dalam rumah ini.


Dulu, Kara juga seorang pemain wanita.Namun kini..... Hanum menerimanya dengan sepenuh hati. Begitu juga Luna....

__ADS_1


Adik Ridha itu selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan jalan yang mulus.


Tak pernah sekali pun Radhi maupun Jelita menentang keinginannya.


Cukup sudah, Ridha muak. Muak dengan semua yang terjadi ini.


Di seberang sana, Alex mendapat notifikasi pesan dari Ridha. Sungguh, hatinya bagai terremas pilu saat melihat Aridha di seret paksa oleh keluarganya.


Ingin membela, namun tak bisa.


Ia tak ingin semakin buruk di hadapan keluarga Praja Bekti. Maka, ia terpaksa membujuk Ridha agar mau pulang.


'Semua butuh waktu, Ridha. Percayalah, keluargamu ingin yang terbaik untukku. Aku perlu bekerja keras untuk meyakinkan hati keluargamu, dan itu butuh waktu.


Bersabarlah, aku akan memperjuangkan mu semampu yang ku bisa.


Sekarang, pulanglah dulu dan jangan memberontak'


Pesan Alex hingga membuat Ridha terpaksa rela di seret pulang sore tadi.


Malam ini, Alex meratapi kisah cintanya yang tak bisa berjalan mulus. Ia juga tengah menyusun strategi untuk meyakinkan keluarga Ridha untuk menerimanya.


Semangatnya kini mendadak membumbung tinggi ketika bayangan wajah Ridha kembali hadir mengisi kepalanya. Ia memejamkan mata sejenak. Menikmati dan meresapi gelombang cinta yang semakin lama semakin pasang di setiap waktunya.


"Aku harus mendapatkan mu, Ridha....


Bersabarlah sayang.... Aku akan berjuang untuk, untuk kita"


Gumamnya. Ada pedih namun haru yang tersirat di wajahnya.


Tak peduli ada banyak onak duri dan harus berenang di sungai neraka sekalipun, cinta mereka terlampau kuat untuk di tumbangkan siapapun.


Termasuk keluarga kekuatan keluarga Praja Bekti.


*****


Daniel tengah menatap Dita yang nampak kacau di hadapannya. Kemarahan yang selama ini sempat bersemayam dalam hatinya, luruh sudah ketika di lihatnya, Dita mengalami banyak penderitaan.


Ada luka tak kasat mata di hatinya. Luka berdarah yang hanya dia dan Tuhan yang tau.


Demi Tuhan, Daniel tak memiliki kekuasaan untuk membela wanita di hadapannya. Wanita yang meninggalkannya dengan sangat kejam di saat dua hari menjelang pernikahannya.


"Ta..... aku datang".


Bisiknya dengan suara bergetar. Jemarinya ia selipkan di antara jemari Dita yang nampak lemas dan ringkih.


"Da--dan...Daniel....."


Dita membuka matanya perlahan.


"Di- dimana Hana?".


"Di rumah. Dia sedang menjalani les privat malam ini. Aku memindahkannya di sekolah biasa di dekat bengkelku. Aku tak memiliki kemampuan yang cukup untuk menyekolahkannya di sekolah lama".


Dita di rundung rasa bersalah yang semakin menjadi-jadi.


"Aku...aku mohon maafkan aku, Daniel...aku... aku berdosa padamu".

__ADS_1


Daniel dan Dita saling menumpahkan air mata. Ada kerinduan yang enggan mereka akui.


"Daniel datang untuk menjemputmu Dita. Hiduplah dengan baik setelah ini.


Kakimu..... Aku yang akan menanggung biaya pengobatanmu hingga sembuh. Terimalah kenyataan dengan hati yang lapang.


Aku yakin Daniel akan bisa membahagiakanmu".


Kara tersenyum kecil. Meski pada awalnya ia masih membenci Dita, namun pada akhirnya, Hanum mampu memberikan pengertian pada kara, bahwa memaafkan Dita bukan hanya untuk kebaikan Dita, melainkan untuk dirinya sendiri agar terbebas dari belenggu kebencian.


Baik Daniel maupun Dita terkesiap. Daniel tak menyangka dirinya akan di ijinkan membawa Dita.


Tetapi.....


Apakah Dita bersedia?


"Ka...kau melepasku?".


"Ya. Dengan syarat kau harus bisa memperbaiki dirimu setelah ini."


"Terima kasih, terima kasih".


Dita semakin mengencangkan jemarinya yang tertaut pada Daniel.


"Aku...aku cacat, Daniel. Aku... tak sempurna untukmu.


Andai kau sudah tak tertarik padaku, aku tak mengapa bila kau berniat mencari wanita lain untukmu, untuk ibu Hana......


Aku.... mungkin memang nasibku harus hidup sendirian".


Dita tersenyum getir. Membayangkan hidupnya sendiri tanpa keluarga, itu akan sangat sulit seperti nya.


"Kau tak keberatan andai aku mempersuntingmu?".


"Ya. Tapi......"


"Ssssttttt"


Jari telunjuk Daniel di letakkan di depan bibir Dita, memberi isyarat pada wanita itu untuk diam.


"Bila kau bersedia, aku pun akan bersedia menerimamu apapun yang menjadi kekuranganmu.


Jangankan untuk menjadi cacat, bahkan andai kau berubah menjadi sampah sekalipun, aku akan tetap menerimamu.


Karna.... karna aku bukan hanya pria yang telah merusak mu, melainkan aku ..... sangat mencintaimu"


Lirih Daniel saat itu.


Mereka berdua larut dalam kebahagiaan.


Begitu juga dengan Kara yang berdiri berdampingan dengan istrinya, Hanum. Jemari mereka saling bertaut, menyaksikan kebahagiaan Dita dan Daniel saat ini.


Pada akhirnya, Kara lepas dari belenggu obsesinya untuk membalas dendam. Kini, Hatinya telah di liputi banyak kebahagiaan.


Kara berharap, ke depannya, dirinya bisa menjadi pria yang lebih baik.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2