Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Hamil lagi


__ADS_3

Alex benar-benar menuntun istrinya dengan hati-hati. Menghadiri acara reuni kali ini, seperti menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Inginnya Alex tidak datang kali ini, tetapi Aridha ngotot untuk datang hanya untuk ingin tau, seperti apa Inora?


Wanita yang menanyakan Alex dalam sebuah pesan grup teman seangkatan Alex dulu.


Bukannya apa. Dua malam lalu ketika Aridha memucat dan muntah-muntah, Jelita membawa Ridha untuk memeriksakan diri.


Dan hasilnya.....positif tentu saja.


Emosi Aridha tidak stabil untuk saat-saat ini, di usia kehamilan yang memasuki sebelas minggu.


Alex khawatir Aridha akan melakukan hal-hal yang merugikan Inora, nanti. Mengingat a


sikap dan tindakan Aridha yang seringkali tak terduga, seperti Radhi dan Jelita,sang mertua.


Astaga, Alex seperti seseorang yang paranoid akan banyak hal.


Berjalan perlahan, Alex memeluk istrinya dengan menggunakan tangan kirinya. Langkah mereka anggun dan Alex menunjukkan keposesifannya kali ini.


Semua mata tertuju pada mereka ketika mereka memasuki sebuah ballroom hotel.


Bukan hanya kecantikan Aridha pesona tersendiri dari seorang wanita yang dibawa Alex, melainkan mata kiri Alex yang tertutup seperti bajak laut.


Banyak tanya menggaung di benak semua orang.


Apa yang terjadi dengan Alex?


Kemana mata kirinya?


Mengapa Alex jadi aneh?


Meski senyum Alex masih se-menawan dulu.


Tapi menggunakan penutup mata, membuat semua kawan-kawan Alex, di Landa penasaran.


"Hai Alex, selamat datang di pesta kecil kita kali ini.


Oh, ya.... Di sampingmu.....?"


Seorang yang sangat aktif dan pemyelenggara acara tersebut,


"Nyonya Alex Atmadja. Dia istriku. Perkenalkan....."


Aridha hanya menunduk dalam dengan senyum menawan. Kehamilannya, semakin membuat aura kecantikan Aridha nampak lebih menguar.


"Aku Dion, nyonya"


Semua mata masih memperhatikan interaksi mereka. Mereka masih penasaran, tentang identitas wanita yang memiliki aura tidak biasa di samping Alex.


"Aku Aridha Putri. Panggil saja Ridha".


"Sepertinya saya tidak asing dengan nama anda".


"Aku putri ke empat milik keluarga Praja Bekti".


Semua terhenyak. Mendapati bahwa Alex memiliki istri dari kalangan berdarah biru, membuat bermacam-macam spekulasi bermunculan dari kepala semua orang.


Dulu, bukankah perusahaan Atmadja telah di akuisisi keluarga Praja Bekti dan di serahkan kepada pewaris sah, Calista? Dan mengapa Alex justru menikahi putri dari keluarga Praja Bekti?

__ADS_1


Aneh. Ini sungguh aneh.


"Oh baiklah, nyonya Ridha. Selamat bergabung dan selamat menikmati acara ini".


Dion segera di Landa kecemasan. Dirinya tau, tidaklah mudah berurusan dengan keluarga Praja Bekti dengan martabat dan kharisma yang luar biasa tinggi.


Alex dan Aridha berjalan dengan masih saling beriringan. Langkah mereka anggun. Di meja paling ujung, seorang wanita bernama Inora, sedang menikmati denyut hatinya yang sakit berdebum keras.


Jadi, Itulah alasannya kau menghilang dan memutus semua komunikasi kita, Alex. Kau memiliki wanita lain di hatimu? Lalu, apa artinya bertahun-tahun kebersamaan kita? Apa karna aku miskin?


Bisik Inora dalam hati.


Ia lantas bangun dari lamunan nya, ketika Dion sudah duduk di samping Nora. Dion tau apa yang Nora pikirkan.


"Sudah, aku tau perasaanmu. Menangis lah dan bersedih lah. Tapi jangan berlarut-larut, ya."


Ucap Dion tiba-tiba.


Pria ini, memiliki cinta yang tulus dari dulu, namun selalu di tolak oleh Nora.


"Terima kasih."


"Baiklah."


"Dion, masihkah kau mengharapkan ku?"


Dion membeku sesaat, sebelum akhirnya, dia mengangguk pelan.


"Ya".


"Ayo kita menikah".


Malam ini, Radhi tengah berada di kamarnya.


Pria paruh baya itu tengah menimang-nimang cucunya.


Ditatapnya lekat bayi mungil yang berusia hampir lima bulan itu. Wajahnya demikian menawan. Tak ada bedanya dengan garis wajah Radhi.


Radhi takjub sebenarnya, lada cucu lelakinya itu.


Mata anak itu....


Matanya mirip dengan Radhi. Begitu juga warna kulitnya yang bersinar seperti porselen. Tatapannya sangat tajam. Bahkan mata Kara, ayahnya.... tak setajam Aksa.


Senyum terbit di bibir Radhi.


"Sayang, apa yang membuatmu nyaris gila hingga senyum-senyum sendiri?"


Jelita muncul dari dalam pintu kamar mandi. Tubuhnya yang bersih dan terawat, sangat mustahil orang yang tak mengenalnya, percaya bahwa jelita telah memiliki cucu.


Hanya berbalut handuk, jelita lantas mengintip cucunya.


"Jangan menggodaku. Di sini ada Aksa."


"Memangnya kenapa?"


"Eeeegggghhhhhh.... sayang.... masuklah ke kamar ganti. Ganti pakaianmu".

__ADS_1


Titah Radhi lirih. Sesungguhnya, ia tak tahan bila melihat istrinya hanya berbalutkan handuk saja.


Jelita lantas geleng-geleng kepala dan memasuki walk in closet. Radhi, pria itu meski usianya tak lagi muda, tapi benar-benar masih terjaga staminanya dalam hal ****.


Pintu kamar terketuk dari luar.


Radhi pun segera membukakan pintu dan melihat Hanum berdiri di sana dengan senyum tipis.


"Pa, aku ingin mengambil Aksa".


"Masuklah."


Radhi lantas membukakan pintu untuk menantunya.


Hingga Hanum telah keluar, pintu segera terkunci dari dari dalam. Tanpa kata, Radhi memasuki walk in closet dan menyeret istrinya yang belum usai mengenakan pakaian.


Mereka berdua, kembali hanyut dalam kenikmatan duniawi.


Di luar, Kara tengah menatap serius layar laptop di pangkuannya di ruang keluarga. Banyaknya tabel-tabel angka, membuatnya tak memperhatikan kedatangan istrinya yang menggendong putranya, Aksa.


"Mas, belum selesai".


"Sebentar lagi". Jawab ya tanpa menatap sang istri.


Hingga sebuah panggilan masuk, menghentikan fokus kara.


"Ya...."


"....."


"Baiklah. Lakukan dengan baik".


"...."


"Hm".


Panggilan tertutup. Kemudian Kara mematikan laptopnya. Pandangannya kemudian beralih pada Aksa. Bayi tampan nan montok itu, nampak mengecap-ngecap jempol tangannya.


Kara gemas sendiri di buatnya.


"Aksa..... Aksa rindu papa tidak?"


Senyum Kara melembut. Wajah bayinya, demikian mampu membuat wajah Kara melembut.


"Mas. Boleh aku tunjukkan sesuatu?"


Suara Hanum tiba-tiba.


"Apa itu?".


Hanum lantas mengeluarkan sebuah benda pipih panjang, dengan dua garis merah di tengah-tengah nya. Ni Ir bawahnya, ia gigit pelan sebagai pengusir gugup yang tiba-tiba melandanya.


Mata Kara seketika membelalak. Ya Tuhan, bahkan Aksa masih berusia hampir lima bulan, dan Hanum sudah mengandung lagi?


Apa kah Kara se-tangguh itu diatas ranjang?


Sesaat kemudian, Senyum lebar terbit di bibir Kara.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2