
Bila kau tak lagi memiliki keinginan untuk menumbuhkan benih cinta, bahkan berambisi untuk melukai raga, hati dan jiwaku.........
Setidaknya aku pernah berjuang untuk mempertahankan bagian dari dirimu.
Cinta yang aku miliki........
Meski tak ku tumbuhkan untukmu,
Setidaknya aku berkeinginan untuk membahagiakan dia yang pernah aku lahirkan.
Kemana......??
Kemana perginya kebahagiaan yang juga aku memiliki hak untuk merengkuhnya??
Bahkan segalanya terasa fatamorgana untukku.
~Hanindita Mayang Sari
Kara.......
Pria bertubuh tegap itu menatap seisi ruangan tempat Dita di rawat.
Ada rasa tak Sudi saat ia menginjakkan kakinya di sini. Sayangnya, ia harus mendengar langsung bagaimana terjadinya tragedi dalam hidup wanita yang pernah menjadi penghuni hatinya sembilan tahun lalu.
Saat memasuki ruangan, Kara menggenggam erat jemari istrinya. Mengulas senyum tipis, meredam isi hatinya yang bergejolak menahan sesuatu yang hendak meledak. Entah apa itu? Yang pasti..... Kara masih merasa tak nyaman saat harus berdekatan dengan seorang Dita.
Mungkinkah cinta itu telah mati?
"Kara, Hanum......"
Dewi yang berjaga di sana menyapa kara dengan hangat. Bukan hanya Dewi, bahkan, Ariana, Arlan dan Alma pun telah tiba di sana.
"Ya, Tante. Aku kemari atas titah papa Radhi dan mama Jelita. Tentu Tante tau maksud kedatangan ku".
"Ya.... tapi....
Mari kita bicara di luar saja.".
Dewi membimbing kara untuk ke luar ruangan.
Bukannya mengusir, tapi Dewi jelas merasakan ketidak nyamanan yang kara rasakan.
"Bagaimana Tante".
Tanpa kata, Dewi mengambil sebuah kertas yang ada di dalam tasnya. Kertas itu berisi sebuah alamat dimana Gihana Mayang Sari tinggal.
"Baiklah Tante, Aku tak bisa lama. Aku harus kesana sekarang".
**********
Kara dan Hanum menatap lekat gadis kecil yang ada di hadapannya ini.
Dalam sekali tatap, kara sudah dapat menyimpulkan, bahwa anak ini berasal dari tetes wirang Daniel.
Kara bukanlah seorang cenayang.
Tapi bila di tilik dari postur dan garis rahang si gadis, tentu siapapun bisa mengerti bahwa anak itu adalah anak Daniel karna memiliki kemiripan wajah dengan Daniel, bukan Alex.
"Aku adalah keponakan om Chandra. Datang kemari untuk menjalani titah beliau agar membawa pulang Gihana ke rumah beliau.
Anda bisa menelepon beliau bila ragu".
Begitulah cara Kara meyakinkan pengurus panti.
Hingga Kara dan istrinya membawa pulang Gihana ke kediaman Chandra.
Ariana yang telah menunggu demikian tersentuh hatinya.
__ADS_1
"Ya tuhan, Kara......
Bagaimana papa bisa tega membiarkan gadis ini hidup jauh dari kita?".
Ariana menyambut Kara dan segera membawa Gihana ke dalam pelukannya.
Hana yang bingung pun hanya menatap bergantian semua orang. Tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ada nama baik keluarga yang harus di pertimbangkan Riana, bila kau lupa itu".
Arlan menjawab datar.
Entah mengapa, Arlan merasa tercubit hatinya.
Dalam sekali pandang, Arlan bisa merasakan bahwa Hana sangat haus akan kasih sayang.
Dari sikapnya yang hanya diam ketika Riana memeluknya penuh kasih.
Kara keluar, memerintah salah satu pengawalnya untuk mengirim foto Hana kepada Daniel dan Alex bersamaan.
"Mari kita lihat..... sekuat apa kalian melawanku, tikus licik".
Kara bergumam lirih.
*********
Di sebuah bangunan tua........
Kara berhasil mengundang Daniel dan Alex dengan iming-iming Hana.
Sayangnya, Daniel tak cukup cerdas membaca situasi.
Daniel.........
Pria itu tak berpikir panjang akan resiko dan konsekuensi yang bisa saja terjadi.
"Selamat datang, tuan Daniel.
Sebagai keponakan seorang Chandra Adi Prama, Tentu aku sudah mengantongi ijin dari om Chandra untuk mempertemukanmu dengan Putri yang........
Kurasa aku tak tau persis, siapa ayah biologis dari gadis yang dilahirkan Dita delapan tahun silam".
Kara tersenyum penuh ejekan.
Matanya demikian datar, tak menampakkan emosi apapun.
Sulit bagi Daniel dan Alex merabanya.
Diam-diam, Daniel mengakui bahwa Azkara Putra Praja Bekti, adalah pria yang memiliki segudang pesona yang tak mudah di tampik begitu saja.
Alex, pria itu sama sekali tak bisa meraba rencana apa yang di sembunyikan Kara.
Yang Alex kira, Kara hanya ingin bermain-main kecil dengan nya dan Daniel.
"Aku tak peduli dengan apa yang akan kau katakan tuan Kara, Yang aku ingin adalah......
Ijinkan aku untuk menemui anak itu".
Ekor mata Daniel mengarah pada Hana yang berada dalam pangkuan Aridha.
Dalam misi membekukan Daniel dan Alex kali ini, Kara sengaja membawa serta Aridha untuk menjadi pelindung Hana.
Membekukan mereka, Kara pikir tak bis Adi sepelekan, mengingat Alex dan Daniel juga memiliki kemampuan beladiri yang cukup mumpuni.
Diantara Alma, Aridha, dan Riana.....
Hanya Aridha yang memiliki kemampuan bertarung yang setara dengan lelaki.
__ADS_1
Tentu Aridha dengan senang hati menerima ajakan kakaknya, Kara.
"Dengan senang hati, tuan Daniel.
Hanya saja, Apa yang akan anda jaminkan bila aku mengijinkan anda memeluk gadis itu?".
"Apapun. Berapapun yang kau minta, sebutkan saja nominalnya".
Kara tertawa layaknya iblis.
Suaranya membahana, menggema di seluruh ruangan.
"Kau pikir aku miskin, ya?
Bahkan harta yang keluargamu miliki, tak ada separuh dari harta dan aset yang di miliki oleh keluarga Praja Bekti.
Bukan aku sombong ataupun sesumbar.
Hanya saja........
Aku ingin lebih dari sekedar uang".
"Apa maksudmu?".
Alex berteriak di hadapan Kara.
Kara tertawa puas karna telah berhasil mempermainkan emosi Alex.
"Oh baiklah baiklah, kurasa aku tak butuh apapun dari kalian.
Silahkan, mari........".
Tangan kanan Kara terulur memberi jalan untuk Daniel dan Alex untuk mengahampiri Hana.
Hana biasa saja.
Tak menunjukkan reaksi takut sedikitpun di hadapan Alex.
Mata Daniel menatap lekat Hana dengan kakao yang terus berayun menghampiri.
Ada kehangatan dan getaran asing yang menjalari seluruh sisi tubuh Daniel.
Seperti magnet.
Daniel tak bisa lepas dan serta Merta mengunci tatapan Hana yang penuh binar.
Ada ikatan yang entah lah......
Daniel tak mampu menjabarkan nya.
Saat posisi mereka berdekatan, Hanya tinggal dua langkah lagi, Bak adegan film yang di perlambat, Tentu Aridha memeluk erat Hana untuk kemudian berputar ke arah belakang dan membawa Hana berlari menjauh.
Dengan sigap, Kara menyerang Alex dan Daniel di saat yang bersamaan.
Melumpuhkan mereka dengan sekejap.
Beruntung, Arman dengan sigap membantu, dan karna Alex dan Daniel berada di titik lengah, mereka berhasil di bekukan......
Saat itu juga.
"Sialan. Apa maumu Azkara".
Daniel meronta dalam cengkraman pengawal. Begitu juga Alex yang tak bisa melawan.
"Menghancurkan keluarga Atmadja dan mengambil hak milik Ayah mertuaku, Mendiang Darrel Jafferson."
Azkara Putra Praja Bekti.....
__ADS_1
Pada akhirnya, menunjukkan pada dunia kekuatan yang sesungguhnya.
🍁🌻🌻🌻🍁