Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kau milikku


__ADS_3

Kepala Yasmin terasa pening dan seperti tertusuk-tusuk jarum. Gadis itu seperti baru saja tertidur, namun Aksa dengan tega membangunkannya dan membuatnya terlonjak. Sentuhan demi sentuhan, membuat Yasmin merasakan gelenyar panas menjalar ke sekujur tubuhnya.


"Aksa? Apa yang kau lakukan?"


"Ssssssttt... diamlah. Nikmati dan ikuti saja secara naluri."


"Jangan begini, Aksa. hentikan. Aku tidak mengizinkan."


"Tapi aku memaksa."


"Aku tetap tidak mau."


"Dan aku pun tidak peduli."


Suara Aksa kian lebih dan terdengar seperti serak-serak basah. Jangkungnya yang perlahan naik turun akibat menelan salivanya yang terasa sulit masuk tenggorokan, membuat Yasmin terpesona.


Inilah sosok Aksa yang sebenarnya. Lelaki yang selalu terkenal cuek dan cenderung tak peduli pada banyak hal di lingkungan sekolah. Kenyataannya, dia adalah lelaki tampan dengan bermiliar-miliar pesona yang mungkin tak akan habis terkikis zaman.

__ADS_1


"Aku akan berteriak jika kau memaksa aku untuk melakukannya."


Kalimat Yasmin berhasil membuat Aksa tersadar. Antara geli bercampur senang, Aksa tertawa renyah dan kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping, setelah sebelumnya menindih tubuh Yasmin.


"Berteriaklah, sweet heart. Aku bahkan suka jika kau berteriak lantang hingga membangunkan seisi rumah. Kau tau, mereka akan berpikir jika permainan kita sangat dahsyat."


Tidak tinggal diam, Aksa lantas mengecup bibir Yasmin. Tangan Yasmin yang terulur mendorong tubuh Aksa, namun bibir ranum Yasmin seolah menerima dengan baik perlakuan bibir Aksa. Antara marah dan juga nikmat, kini bersatu hingga membuat logika Yasmin perlahan menghilang.


"Aksa, aku mohon." Sekuat apa pun Yasmin mengiba, namun Aksa tetaplah Aksa yang menempatkan egonya paling penting. Lelaki itu lantas membungkam bibir Yasmin sejenak sebelum kemudian mengucapkan kalimat sensual pada Yasmin.


"Tak apa, aku akan lakukan pelan-pelan. Jangan khawatir. Gigit saja aku jika kau merasa sakit dan tak nyaman."


"Aku tak akan menghamilimu."


Antara ingin marah, kesal, bercampur geli, kini Yasmin rasakan.


Bagaimana mungkin seseorang yang akan melakukan hubungan badan, bicara dan mengungkapkan seolah-olah tidak mungkin bisa menghamili wanita? Yang benar saja?

__ADS_1


"Aksa, kau tau? Aku... aku ingin membenturkan kepalamu ke tembok." ungkap Yasmin kemudian, yang mendapat tatapan sayu Aksa. Aksa terjebak dalam permainannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa Yasmin mendamba sentuhannya, namun berakhir dengan Aksa sendiri yang tubuhnya menuntut lebih bersama Yasmin.


"Lakukan setelah ini, istriku." Aksa tak lagi memberikan kesempatan Yasmin untuk bicara. Pemuda itu lantas membungkam Yasmin dengan bibirnya yang padat berisi layaknya Radhi muda.


Yasmin terhanyut. Yasmin kalah. Yasmin terus larut dalam pusaran gairah Aksa yang memabukkannya. Gadis itu seolah lupa dengan tujuan utamanya tadi. Inginnya mengejek Aksa yang menginginkan dirinya, namun berakhir Yasmin terhanyut dalam permainan Aksa.


Cukup lama mereka bercumbu, hingga kemudian Yasmin mendorong sekuat tenaga Aksa. Tapi Aksa tetaplah Aksa yang tubuhnya demikian bugar. Lelaki itu lantas membuka perlahan dress tidur yang Yasmin kenakan. Menyingkap pelan layaknya rol film yang diperlambat.


Satu ******* tak tau malu, meluncur dengan sempurna dari bibir Yasmin, membuat Aksa kian terbakar api gairahnya.


"Aksa kumohon......" Dapat dirasakan Aksa, bahwa bagian tersensitif Yasmin sudah Basah oleh cairan. Aksa merasa menang, bahwa ia melihat Yasmin tak berdaya di bawahnya.


Aksa tak habis pikir, rupanya Yasmin memiliki respon yang bagus atas sentuhannya.


"Aksa, aku... Tidak, hentikan."


"Kau istriku, Yasmin. Malam ini kau milikku."

__ADS_1


Dan malam ini.........


**


__ADS_2