Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Menuntut penjelasan


__ADS_3

Dalam sebuah kehidupan, kerap kali seseorang akan dengan sengaja melakukan kesalahan. Hanya saja, saat ini seorang Hana ingin mundur dan menyudahi segala perasaan yang terlanjur bersarang dalam hatinya. Hidup wanita itu penuh liku, dan tak pernah menyangka bahwa ia adalah cucu seorang wanita simpanan.


Waktu nyaris memasuki makan malam, namun Hana baru saja datang dan masuk ke terasnya. Dita yang kebetulan berada di teras depan paviliun, menangkap gelagat mencurigakan dari putrinya yang sudah beranjak dewasa itu.


"Hana? Kau kelelahan? Kenapa kau pucat pasi? Kelelahan? Kau sakit, nak?" Tanya Dita sambil menjalankan kursi rodanya sendiri ke arah Hana.


"Aku tak apa-apa, ma. Aku baik-baik saja." Ungkap Hana. "Mungkin, Hana hanya perlu beristirahat saja."


"Tidak. Mama yakin, sepertinya ada yang tak beres dengan dirimu. Kau yakin kau baik-baik saja, sayang? Katakan apa yang terjadi?" tanya Dita. Sebagai seorang ibu yang hanya memiliki satu anak, Wajar saja bila Dita terlalu cemas.


Hana duduk di ruang tamu, membiarkan tatapannya nyalang menatap langit-langit ruangan. Meski paviliun di kediaman Chandra sangat besar dan tak bisa dikatakan sederhana, namun Hana merasa seolah dirinya berbeda dengan anak-anak Chandra yang lain. Baik perlakuan dan juga cara bicara, Hana memang merasa seperti orang lain di mata Chandra. Hanya Dewi yang sering kali bersikap hangat dan lembut padanya.


"Ma, apa benar bahwa Mama terlahir dari rahim seorang wanita simpanan? Jangan sembunyikan apa pun lagi. Hana sudah tahu semuanya. Hana hanya ingin membuktikan, seberapa jujurnya mama pada Hana." Hana menatap mamanya, menggenggam tangan wanita paruh baya itu, dengan perasaan tak menentu.


"Ya. Kau bukan cucu dari mama Dewi, melainkan cucu dari mamaku, Mona yang menjadi simpanan Opa Chandra." Dita terdiam, menjeda kalimatnya untuk menetralisir sakitnya terpaan kenyataan yang menyakitkan.


"Lalu, tentang kecacatan mama?" Tanya Hana lagi. Baru saja Dita hendak menjawab, Daniel muncul di ambang pintu, dan mendapati sendu pada istri dan putrinya yang tersayang itu.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan, Hana?" Daniel yang hanya mendengar kalimat terakhir Hana, merasakan ada aura tak nyaman. Lelaki itu masih belum mengetahui, bahwa Hana telah tau masa lalu kelam keluarganya.


"Aku sudah tahu, Pa. Hanya saja, aku ingin tahu seberapa jujurnya mama padaku. Termasuk tentang penyebab kecacatan mama." Ungkap Hana.


Daniel menatap Dita yang mengangguk padanya, mengisyaratkan bahwa memang mungkin kisah lama.harus dibuka di hadapan putri mereka.


"Apa yang ingin kau dengar? Mama yang akan menceritakannya sendiri." Ungkap Dita.


"Aku sudah tahu tentang asal mula kehadiran mama dan aku. Aku sudah tahu tentang nenekku yang menjadi simpanan Opa, dan sekarang aku ingin tahu tentang kisah cinta mama di masa lalu, sebelum mama mengalami kecacatan seperti ini." Ungkap Hana dengan tekad yang kuat. Ada rasa ingin tahu yang kuat dan membara dalam hatinya.


"Baiklah, mama akan menceritakan detailnya." Ungkap Dita. Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan, untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Mama dan papa telah berpisah lama, dan menaruh dirimu di panti asuhan. Kau masih ingat?" Tanya Dita.


"Ya, aku mengingatnya." Jawab Hana.


"Saat itu, sudah lama mama menjatuhkan hati pada lelaki tampak penuh wibawa, bermulut tajam dan menjadi kebanggaan keluarga Praja Bekti. Sosok rupawan dengan pembawaan yang menawan, membuat mama jatuh terperosok terlalu dalam pada pesonanya. Kau tahu? Bahkan mama telah mengusir Hanum dari hidup Kara. Saat itu, Hanum pergi dalam kondisi telah mengandung Aksa."

__ADS_1


Mata Dita tampak berkaca-kaca, membiarkan hatinya teriris pilu saat mengingat momen-momen dimana ia sangat menikmati kesakitan yang tak berujung. Cintanya pada Kara luntur seketika, saat kara telah menyakitinya lebih kejam dari yang Dita lakukan.


"Dia menyiksa mama, setelah ia tahu bahwa akulah dalang dari hilangnya Hanum. Bahkan, mama sempat menjadi penghuni rumah bordil beberapa waktu. Mungkin Tuhan masih memiliki toleransi padaku, hingga Hanum datang dan menyelamatkan aku dari siksaan Kara. Aku tak mau menjabarkan siksaan fisik macam apa, tapi yang jelas, kakiku ini adalah korban kekejaman Kara. Katanya, risiko dan konsekuensi yang aku harus terima karena ulahku. Aku memang jahat, tapi mungkin inilah hukuman yang pantas aku terima"


"Di saat bersamaan, papamu tahu tentang keberadaan mu. Dia datang ingin bertanggung jawab dan bersedia menerima aku yang cacat ini, apa adanya. Itulah akhir penderitaan mama, dan awal kebahagiaan keluarga kecil kita. Bersyukurlah, Hana, kau masih bisa melihat ayah ibumu yang serba bobrok ini."


"Saat maaf Kara datang untukku, maka saat itulah, aku berpikir dan mulai sadar, bahwa aku tak seharusnya berada dalam kesalahan. keluarga Praja Bekti bukanlah keluarga yang bertoleransi dan mudah memaafkan." Ungkap Dita.


"Sekarang semua sudah jelas. Katakan padaku, kau sudah lega?" Tanya Dita.


Hana hanya menggeleng di tempatnya.


"Tidak, ma. Nyatanya, aku sedang menerima karma masa lalu. Aku . . . aku telah jatuh cinta pada Aksa terlalu dalam, hingga sulit bagiku untuk membuang bayangannya dari hatiku." Jawab Dita kemudian.


Baik Dita dan Daniel, terkejut setengah mati mendengarnya.


"Jangan lakukan itu, Hana. Papa mohon, kau jangan bersinggungan dengan Praja Bekti untuk soal urusan cinta." Ungkap Daniel dengan . . . .

__ADS_1


**


__ADS_2