Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Janji Marcel


__ADS_3

"Ya Tuhan, aku punya dua ayah." Marcel benar-benar tidak menyangka atas fakta tentang dirinya ini.


Marcel yang meski cerdas, namun pemuda itu masih tetap syok dan tak sepenuhnya mencerna kejadian ini. Ia sulit untuk membuat dirinya percaya bahwa ia memiliki ayah yang selama ini jauh darinya.


"Maafkan aku, maafkan aku, nak." Alex menatap sendu putranya yang bimbang.


Aridha dan Dion sendiri bingung, harus bagaimana ia menyikapi semua ini. Kedua orang itu dibuat bertanya-tanya dengan kehadiran Alex yang sejak kapan datangnya.


"Maaf, biarkan aku masuk kamar dan berusaha memikirkan ini semua." Marcel segera berlalu menuju ke kamarnya tanpa menunggu respon dari Dion dan juga semua orang, kamar yang dulu di tempati oleh Yasmin dan Aksa.


Baik Alex, Dion dan Aridha dibuat bingung seketika. Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu. Mereka bertiga hanyut dalam pemikiran masing-masing.


"Mas, kemari. Mari kita selesaikan malam ini juga. Aku tidak mau jika sampai ada sesuatu yang masih mengganjal di kemudian hari." Ungkap Aridha menginterupsi suaminya. Ada banyak hal yang membuat wanita itu tak nyaman dan tenang.


Aridha berjalan pelan ke arah Alex yang terpaku, menuntun suaminya itu untuk duduk bersama Ridha.


"Maaf, tuan Dion. Aku sudah tahu dengan masalah suamiku dan nyonya Nora di masa lalu untuk sekarang ini. Setelah tau semuanya, aku ingin meminta maaf secara pribadi dengan nyonya Nora setelah nanti nyonya Nora sembuh dari sakitnya. Mulai saat ini, maukah anda bisa lebih dekat dengan keluarga Praja Bekti? Maksudku kedekatan layaknya saudara, bukan sebatas besan."


Pernyataan Aridha, sontak saja berhasil membuat Dion terkejut bukan main. Ia tak menyangka, Aridha akan mengambil keputusan sebesar itu.


"Kami, oh maksudku aku dan suamiku, ingin bisa melakukan pendekatan dengan Marcel secara batin. Biar bagaimana pun, aku ingin menebus dosa masa laluku yang telah merebut Alex dari nyonya Nora. Itu semua pun, aku melakukannya karena aku pikir tak ada wanita yang mengandung darah daging suamiku. Malam ini, aku berbesar hati untuk meminta persaudaraan dengan keluarga tuan Dion."


Alex berjingkat kaget. Ia tak menyangka sama sekali, bahwa istrinya akan memiliki pemikiran demikian. Alex pikir, Aridha akan murka dan akan memarahinya habis-habisan, memukuli Alex, atau mungkin menggorok leher Alex saat di rumah nanti setelah tau semua fakta tentang masa lalu Alex. Sayangnya, Aridha justru melapangkan hatinya dan bersedia menerima Marcel, menganggap Marcel seperti anak sendiri.


"Tap, tapi...." Dion berkata sambil tergagap.

__ADS_1


"Tolong jangan menolak keinginanku, tuan. Aku ingin menebus semua kesalahanku dan dosa-dosaku dan juga Alex."


"Baiklah."


Malam ini, telah tercapai satu kesepakatan untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar besan. Mereka saling menerima, namun tidak dengan Marcel yang saat ini tengah sendiri di kamarnya.


Pemuda itu sangat menyedihkan, merasa dirinya tak diinginkan sehingga harus terlahir di luar nikah. Bagaimana pun juga, Marcel tidak ingin dihadirkan dalam situasi demikian.


Yang ada dalam benak Marcel, mengapa ayahnya membiarkannya? Mengapa meninggalkan dirinya dan sang ibu yang saat itu tengah mengandung. Lalu, sekarang mereka datang dan meminta untuk diakui sebagai keluarga?


Bagaimana pun, Marcel dulu tak di inginkan oleh lelaki yang bernama Alex. Dan sekarang, Marcel pun akan melakukan hal serupa.


"Marcel, Kau belum tidur?" Dion membuka pintu kamar Marcel. Dilihatnya Marcel masih membuka matanya. Tak disangka, Marcel seperti tidak menerima apa yang Aridha katakan tadi. Dion bisa melihat dan merasakan hal itu.


"Kau belum tidur?" Tanya Dion lagi sambil membuka pintu lebar-lebar.


"Tidurlah, kau jangan terlalu banyak pikiran."


Marcel diam tak menjawab. Lelaki itu tengah berpikir keras, untuk menimpali kalimat ayahnya yang sensitif baginya.


"Ayah."


"Ya?"


"Jika saja aku berada dalam kandungan ibu, lalu mereka tak menerimaku, apa saat ini aku perlu menerima mereka sebagai orang tuaku? Bukankah mereka tak menginginkan aku kala itu? Bukankah disini justru ayah yang banyak berkorban dan menerima aku dan ibu apa adanya?"

__ADS_1


Tanya Marcel mencecar ayahnya.


Dion menatap putranya, membelai pipi Marcel lembut. Ditatapnya wajah serupa Alex itu. Dulu, bahkan Inora ngotot hendak menggugurkan kandungannya, yakni Marcel.


Beruntung, Dion datang tepat waktu dan membuat Inora gagal mewujudkan niatnya. Tak hanya itu, bahkan Dion bersumpah akan mengurus dan menganggap Marcel seperti layaknya darah daging sendiri.


"Nak, kau bukan tak diinginkan oleh mereka dulu, tapi keberadaan dirimu, sengaja disembunyikan oleh ibu agar ibumu tidak berurusan dengan keluarga Praja Bekti. Kau belum tahu, seberapa berbahayanya keluarga Praja Bekti dulu Dimata ibumu. Ibumu tak ingin kehilangan dirimu. Yang ada dalam benak ibumu, Alex akan merampas dirimu jika tahu bahwa ibumu hamil. Saat itu, bahkan ayahmu juga sudah menjalin kasih dengan istrinya, nyonya Aridha."


Dion diam dan mengamati raut wajah tampan di hadapannya. Marcel pun juga diam dan mengamati apa yang ayahnya katakan.


"Tak ada yang tak menginginkanmu. Kau adalah permata dalam hidup kami, oh tidak, bahkan kau lebih berharga daripada batu permata paling langka di bumi ini. Sayangnya, apa yang ibu pikirkan kala itu, ternyata bertolak belakang dengan sifat keluarga Praja Bekti. Mereka orang yang baik. Nyatanya, mereka ingin dekat dan mengenalmu. Jangan menghakimi mereka, andai mereka tahu kala itu, bahwa kau adalah putra tuan Alex, mereka tak akan membiarkan ibumu terlunta-lunta."


Ungkap Dion lagi.


"Tapi ayah, aku.... aku bingung harus bagaimana. Aku tak bisa menerima orang lain sebagai orang tuaku, sementara ayah adalah terbaik untukku, begitu juga dengan ibu. Ini tak mudah, memiliki dua ayah dan juga dua ibu, bagiku tak adil." ungkap Marcel lirih.


"Bagaimana bisa tidak adil? Tidak adil dari mananya? Marcel, dengarkan ayah. Banyak anak-anak di luaran sana, yang sangat haus akan kasih sayang ayah dan ibu, sayangnya takdir tak berpihak pada mereka, dengan merenggut ayah dan ibu mereka dalam maut. Tapi lihatlah, tuhan menyayangimu, sangat menyayangimu. Kau bahkan memiliki dua ibu, dan dua ayah yang siap untuk mencurahkan kasih sayang untukmu. Bukankah ini benar-benar nikmat Tuhan?"


"Ya, ayah benar." Marcel membenarkan.


"Marcel, jangan egois. Ayah tak ingin kau berada di jalur yang salah, sayang. Ingat satu hal, ayah hanya ingin kau menerima mereka, membuka hati untuk mereka, dan tidak memiliki pikiran buruk mereka. Mereka orang-orang yang baik. Kau hanya belum mengenal mereka. Ayah harap, kau akan mampu menjadi anak kebanggan ayah, sebelum Yasmin. Meski kau bukan anakku secara biologis, bukan darah dagingku, tapi kau tetap di hatiku. Antara kau Dan adikmu, Yasmin, kedudukan kalian sama di sini."


Dion menepuk dadanya beberapa kali. Disinilah, Marcel mengakui kelebihan ayahnya, Dion. Marcel berjanji, apa pun yang Dion inginkan, Marcel akan selalu mengupayakannya tanpa ada pertentangan.


**

__ADS_1


__ADS_2