Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Matilah aku


__ADS_3

Keluarga Atmadja tengah berkumpul bersama di ruang keluarga yang hanya berukuran 3X3,5 meter. Satu jam yang lalu, Wira Atmadja baru tiba dari Singapore.


Beberapa bulan terakhir, Wira tengah mendapat kepercayaan dari salah satu rekan bisnisnya yang ada di Singapore, untuk mengatasi pailit yang di alami salah satu perusahaan rekan bisnis Wira.


Beruntung, sejauh ini..... Perusahaan tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Laporan keuangan mulai stabil.


Kini, beberapa bulan Wira jauh dari keluarga, fakta mencengangkan sampai di telinganya.


Yang lebih mencengangkan lagi, mata Alex sebelah kiri mengalami kecacatan.


Sungguh, jauh dari keluarga beberapa waktu, berhasil membuat Wira banyak ketinggalan banyak fakta tentang keluarganya.


Daniel yang mengabarkan akan segera menikah dengan Dita, serta Alex yang kehilangan satu matanya.


Pening.....


Itulah yang Wira rasakan saat ini.


Bagaimana mungkin ia ketinggalan banyak informasi seperti ini.


"Jadi jelaskan, nak... Daniel?


Bagaimana bisa Dita menjadi lumpuh seperti ini? Dan kau Alex? Kau kemana kan sebelah matamu itu? Apa kau jual untuk membuka usaha bengkel?


Bukankah papa sudah bilang bahwa bersabarlah dan tunggulah sampai papa pulang?!?".


"Mas.... Sabarlah dulu.


Ayo.... minumlah dulu teh nya, agar kau bisa sedikit tenang dan menerima penjelasan anak-anak dengan baik".


Tubuhnya mendadak lemas.


Tak pernah ia membayangkan hari-hari dimana dengan kekacauan luar biasa yang ia lewatkan seperti saat ini.


Bahkan fakta-fakta mengerikan ini jauh lebih menyakitkan di banding Wira harus kehilangan perusahaan dan aset-aset nya dulu.


Jemari Wira bergetar, meraih cangkir dan menyesapnya perlahan. Wajahnya nampak pucat, pengaruh syok yang baru saja menimpanya.


"Setelah kehancuran keluarga kita, Dita berusaha menghancurkan rumah tangga kara demi obsesinya yang Dita sebut cinta".


Daniel mengawali penjelasannya. Dita yang ada di samping Daniel menunduk dalam. Merasa malu karna harus mengulik masa lalu yang sangat memalukan.


"Hingga Hanum..... sepupuku dan Alex.... Putri dari bibi Liana menghilang.... Alex menghancurkan Dita hingga demikian kejam, mengakibatkan kelumpuhan pada Dita.


Tiga bulan berlalu, Hanum datang dan meminta Kara melepas Dita, maka.... Saat itulah aku datang untuk menjemput wanita yang aku cintai ini."


Dengan erat, Daniel menggenggam Dita yang duduk di kursi roda, di samping kursi yang saat ini di tempati oleh Daniel.


Syok.... Wira kembali syok.


Wajahnya memucat seketika.


Membayangkan Dita berada dalam siksaan Kara selama itu, membuat perut Wira seperti di serang rasa mual.


"Lantas, dimana cucuku, Gihana?".


"Dia sedang bersekolah. Tunggulah sebentar lagi, pa. Aku akan menjemputnya."

__ADS_1


"Dan Alex.... Apa yang menimpamu, nak?". Suara Wira bergetar. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Masih berkaitan seputar keluarga Praja Bekti."


Sundari terkekeh ringan.


"Tuan Radhi meminta Alex untuk segera membawamu datang padanya".


Wira memelototkan matanya.


"Apa Alex membuat masalah?"


Tatapan matanya beralih pada Alex.


"Tidak, pa.... Aku.... dan putri dari keluarga Praja Bekti, kami menjalani sebuah hubungan yang lebih Dari sekedar kawan.....


Semula......"


Mengalirkan cerita tentang kisah Alex dan Ridha selama beberapa bulan ini.


Hingga Wira menghembuskan nafas penuh kelegaan.


Maka, saat itulah Wira mengutarakan maksud kepulangannya ke tanah air.


"Aku.... ingin menemui Liana, callista dan Hanum untuk memohon maaf Kembali secara pribadi atas kesalahanku dan mendiang mama di masa lalu. Aku ingin memperbaiki semuanya.


Sungguh.....


Aku merasa hidup lebih damai tanpa permusuhan seperti ini.


Meski miskin, Tapi aku merasa jiwaku tenang".


Ini adalah hari dimana Daniel dan Dita melangsungkan pernikahan sederhana. Tak banyak yang datang. Karna Dita meminta pada Daniel untuk tak melibatkan banyak orang.


Bahkan, keluarga Praja Bekti pun tak ada yang di beri tau.


Tanpa di sangka.... Dewi dan Chandra datang.


Bukan karna apa, menurut Daniel, Chandra dan Dewi adalah orang yang amat berjasa dalam hidup Dita. Merawat, membesarkan, mencurahi kasih sayang yang tulus. Mana mungkin Daniel akan sangat kejam tak memberi kabar mereka meski mereka sangat membenci Dita?


Meski Daniel tak yakin Chandra dan Dewi akan datang atau tidak.


Sayangnya, Chandra dan Dewi datang. Mereka berbesar hati menerima undangan Daniel meski kecanggungan masih jelas mereka rasakan.


Sayangnya.....


Meski tanpa undangan, Keluarga Atmadja di kejutkan oleh kedatangan keluarga besar Praja Bekti.


Bukan tanpa alasan, mengingat Alex adalah calon anggota keluarga Praja Bekti, membuat Radhi tak bisa menutup mata begitu saja.


Berita pernikahan Daniel telah Radhi dapatkan dari orang kepercayaan Radhi.


Kini..... keluarga Praja Bekti datang, membuat Wira tak enak hati akan kesederhanaan pernikahan yang Daniel buat.


"Mas Alex" Senyum Ridha mengembang dengan sempurna. Meski kakinya telah sembuh, namun tangan kanan Ridha masih belum bisa di gerakkan secara sempurna.


Alex menganga sekian nano detik.

__ADS_1


Ia demikian takjub melihat Ridha melangkah dengan anggun saat akan menghampirinya.


"RRI... Ridha...?".


Tanpa kata, Aridha menghampiri Alex. Membuat orang yang ada di sana memfokuskan pandangan pada Alex dan Ridha. Jelita dam Kara tersenyum hangat melihat rona bahagia di wajah Aridha dan Alex.


"Aku mencintaimu".


Bisik Ridha lirih ke telinga Alex.


"Hei.... Katakan itu nanti. Setelah ini prosesi pernikahan Daniel akan di mulai. Jangan membuat kericuhan, Ridha".


Sela Kara kemudian. Alex terkejut.


Aridha hanya terkekeh geli.


Hanum yang berdiri di samping suaminya, tersenyum canggung ke arah Alex.


"Nyonya muda".


Alex menyapa lebih dulu, menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Sedang Hanum hanya mengangguk dan melontarkan senyum hangatnya.


Setelahnya, Aridha menyeret lengan Alex menuju pojok ruangan, Berharap lebih nyaman untuk saling bercakap-cakap.


Setelah mereka duduk berdampingan, Mereka berbincang ringan seputar perkembangan kesehatan Aridha. Beruntung, Aridha cukup banyak mengalami kemajuan.


"Mas, kapan kau akan menikahiku? Memilikiku secara resmi? Aku tak bisa berlama-lama menunggumu".


Aridha mengungkapkan isi hatinya dengan mengerucutkan bibirnya sebal.


"Sabarlah, Sekarang papa sudah berubah lebih baik. Beri aku waktu sedikit lagi untuk mengumpulkan uang agar bisa meminangmu. Semua butuh proses dan aku sedang berjuang keras melewati proses itu. Bukan aku tak ingin. Aku sangat ingin memilikimu secara legal secepatnya. Tapi aku masih belum memiliki cukup uang".


Lirih Alex, membuat Aridha mendekatkan wajahnya pada Alex.


Niat hati ingin berbisik ke telinga Alex. sayangnya, niatnya itu terpaksa harus gagal karna sebuah suara melengking yang membuat semua orang memusatkan pandangannya pada Alex dan Ridha.


"Ya Tuhan astaga......


Om Alex dan Tante Ridha akan berciuman".


Suara Gihana membuat semua orang tercengang.


'Matilah aku'


Gumam Alex ketika Radhi menatapnya dengan sorot mata tajam.


🍁🌻🌻🌻🍁


Neng Tia mau promo nih.


Jangan lupa pantengin novel terbaru neng Tia ya.



__ADS_1



Semoga suka. jangan lupa tetep dukung ya, biar neng Tia makin semangat up nya....


__ADS_2