
"Aku merindukanmu, mas...."
~part sebelumnya~
Tiga kata dalam satu kalimat, nyatanya mampu memporak porandakan hati Kara yang terluka dan berlumuran darah. Kehangatan yang terkoyak akibat kehilangan istri, nyatanya mampu membuat hati Kara se-beku kulkas seribu pintu.
Tangan Kara perlahan terulur ke wajah istrinya.
Matanya tak berkedip sama sekali, menyiratkan kerinduan yang mendalam.
Wajahnya memucat seiring air mata yang terus mengalir menganak sungai.
Lidah nya terasa kelu dengan bibirnya yang bergetar.
Ingin Kara berteriak, ingin Kara melonjak, sayangnya.....
Ia sama sekali tak memiliki kekuatan.
Dimana ketangguhan yang selama ini ia miliki dan ia agung-agungkan?
Nyatanya.......
Semua sirna.
"Hhhaaaannuuuuuuuummmm".
Sekuat tenaga Kara menggerakkan bibirnya untuk bicara.
Keraguan tetiba menyelinap di hati Kara.
Bila memang yang dihadapannya ini adalah Hanum, maka ia akan memeluk istrinya itu dengan erat.
Namun.....
Bila sosok yang di hadapannya ini bukan Hanum, Kara takut akan terhempas kembali oleh kenyataan.
Jemari Kara berhenti tepat di depan wajah Hanum yang kini juga berlinang air mata.
"Sentuh aku, mas.....
Mas juga rindu padaku, bukan?"
Ucap Hanum dengan tangan masih merentang di hadapan Kara.
Melihat Kara yang membeku, Hanum segera bangkit dan berdiri di sis ranjang.
"Lihat.....
Lihat ini, mas".
Tangan Hanum meraba perut yang sedikit membuncit.
"Usia calon anak kita sudah hampir lima bulan.
Mas tak ingin menyentuhnya".
Suasana mendadak tegang oleh air mata.
Sekuat tenaga kara bangkit. Tubuhnya seperti berat.
Bak rol film yang di perlambat, Adegan Kara menghampiri istrinya.
Cukup sudah......
Kara tak mau bila harus di tinggal istrinya lagi.
"Aku mencintaimu, sweetheart....
Ku mohon maafkan lah suamimu yang bodoh ini. Ku mohon jangan hukum aku dengan kepergianmu.
Aku tak sanggup".
Kara memeluk erat istrinya, membalikkan bejana rindu yang selama ini ia tabung di dalam bejana itu agar tumpah, agar kerinduan yang selama ini menyiksanya lenyap sudah.
Mereka larut, larut dalam buncahan tangis keharuan.
Siang ini, adalah siang terindah yang pernah Kara lewati. Kara tak ingin ada Dita-Dita yang lain di luar sana.
"Kau tak bodoh, mas. Aku tau kau terjebak.
Aku tau dan aku percaya kau tak akan berbuat hal serendah itu.
Tak peduli dulu kau seorang pemain wanita, tapi aku percaya kini kau hanya mencintaiku, hanya aku, aku dan aku. sekarang dan nanti."
Suara Hanum bergetar menahan emosi kerinduan yang hendak membuncah.
Kara kemudian merenggangkan pelukannya, memberi jarak agar tubuh istrinya terlihat jelas.
__ADS_1
Tubuhnya berjongkok kemudian, membelai dan mencium lembut perut Hanum yang mulai menendang-nendang kecil.
Menyaksikan ini, hati suami mana yang tidak menghangat?
"Bila kau tau bahwa suamimu ini terjebak, Mengapa kau justru lari dariku, alih-alih memberiku dukungan mu sebagai istri padaku?".
Hanum tersenyum dan menarik pelan suaminya untuk berdiri, mereka kemudian duduk di tepi ranjang.
"Aku justru ingin berlari ke pelukanmu, menyalurkan ketenangan dan memberimu kekuatan.
Sayangnya.......
Papa menahanku dengan alasan kau perlu membereskan musuh-musuh mu".
Hanum berkata dengan lirih.
Kara membelalakkan mata tak percaya.
Jadi, itulah alasan mengapa selama ini pencarian Kara terhadap Hanum selalu menemui jalan buntu?
Jadi.....
Radhi lah yang dalang di balik konspirasi ini?
Kara mendadak pening.
Harus bagaimana cara Kara membuat papa mengakui bahwa beliau lah orang yang ada di balik hilangnya nyonya muda Hanum?
Pusing.....
Kara kini menjadi pusing, pusing, dan pusing.
*****
"Hanum..... oh ya tuhan, putriku?"
Jelita mematung tak percaya memandang menantunya.
Ada rindu dan air mata yang luruh seketika.
Tak ada Jelita yang angkuh, sombong dan arogan.
Langkah Jelita dengan cepat menghampiri menantunya, memeluknya erat dan menumpahkan tangis rindu.
Saat itu, Aridha juga datang.
Gadis itu berhambur segera untuk memeluk mama dan kakak iparnya.
"Kak Hanum..... aku merindukanmu, jadi.... mengapa kakak pergi begitu saja tanpa memberi tahu pada kami?"
Celoteh gadis itu.
"Mama.... Ridha.....
Aku pergi hanya dua bulan lebih, bukan dua tahun".
Hanum terkekeh, menyadari betapa keluarga suaminya ini demikian sangat menyayanginya.
Rasa syukur Hanum gaungkan dalam hati.
"Berapa usia kandungannya, num?".
Tangan Jelita tiba-tiba mengusap pelan perut menantu nya dengan penuh sayang.
Kemudian ia menuntun Hanum untuk duduk ke sofa, berdampingan Jelita sendiri.
Kara hanya diam dan mengabaikan.
"Menuju lima bulan, ma.
Kata dokter, calon cucu mama sehat, sangat sehat....."
Ada lega luar biasa yang smetua orang tunjukkan mengenai hal ini.
"Ridha, hubungi saudara-saudari mu yang lain bahwa kak Hanum telah kembali."
Tatapan Jelita beralih pada Aridha.
"Hmmmm, baiklah, ma"
Arifah hanya menurut tanpa membantah sedikitpun.
Kara dan Radhi?
Mereka berdua memilih mengamati keadaan dari tempatnya.
Kara......
__ADS_1
Ada jarak dan perang dingin yang akan ia tumpahkan pada sang papa.
Sedang Radhi?
Pria itu diam saja dan senyum penuh kehangatan.
"Aku hanya pergi sebentar, ma. Jangan khawatir. Hanum selalu baik-baik saja."
Sela Hanum cepat.
"Kak Arlan dan kak Ariana mungkin masih sibuk. Tidak perlu memaksa, Ridha".
Tatapan Hanum beralih pada Ridha kemudian.
"Tidak. Kau bukan hanya pergi-pergi biasa.
Kau tau, suamimu ini sangat kacau dan lebih pantas di sebut orang gila di banding tuan muda.
Andai aku dan adiknya tak terlibat langsung dalam mengurusnya, aku tak yakin suamimu ini akan masih hidup hingga kini.
Tanyakan padanya, Dia suka pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat".
Jelita mengadukan apa yang belakangan terjadi pada putranya.
"Oh, benarkah?
Tetapi aku berjanji di masa depan, mas Kara tak akan mengalami hal serupa".
Jawab Hanum kemudian dengan lembut.
"Harus.
Dengar, sekarang, jawab pertanyaan mama dengan jujur.
Kemana kau pergi selama ini, hingga mama dan suamimu selalu menemukan jalan buntu di tengah jalan saat mencarimu mati-matian".
Belum sempat Hanum menjawab, Kara telah menyelanya dengan cepat, melontarkan tatapan menantang ke arah papanya dan berbicara dengan nada sinis.
"Papa lah dalangnya, otak di balik konspirasi ini.
Dengan tega papa membuatku gila hingga nyaris mati karna aku harus berpisah dengan istri dan calon anak kami"
Semua orang terkesiap, Radhi hanya mendengus pelan.
"Tetapi papa melakukannya dengan banyak alasan".
Jawab Radhi dengan hati-hati.
Belum sempat dirinya melanjutkan, Jelita segera memotong pembicaraan.
Wanita itu lantas berdiri dan berkacak pinggang menuju ke hadapan suaminya.
Firasat Radhi mulai tak nyaman.
"Jadi, kau tega membuat putra dan istrimu menggila dengan pencarian terhadap menantu Praja Bekti?
Aku tak habis pikir dengan jalan pikiranmu, mas.
Sepertinya, aku perlu menghukum mu agar kau jera."
"Sayang,dengarkan aku dul...."
"Tidak. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar tidur untukmu di kamar tamu.
Dua bulan lebih Hanum kau sembunyikan, maka.... Jangan harap kau akan mendapat jatah rutin malam hari dariku selama lebih dari dua bulan".
"Tapi----".
"Aku tak menerima negosiasi.
Nikmati hukumanmu kali ini!!".
Jelita berlalu pergi ke lantai atas di kamar utama.
Hening.....
Hingga kemudian terdengar suara Kara yang tertawa puas penuh kemenangan.
"Skor kita 1:1 papa. Artinya..... sama".
ππ»π»π»π
Hayyo.....
Siapa di sini yang habis nangis, ketawaππ
Neng Tia geli sendiri pas ngetiknya......π
__ADS_1