Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Senja ke dua di Berlin


__ADS_3

Ini adalah senja ke dua Hanum dan Kara berada di Jerman. Tepatnya di kota berlin. Gerbang Brandenburg adalah tujuan Kara membawa Hanum.


Usai rapat siang tadi bersama kliennya, Kara segera kembali ke kamar hotel tempatnya menginap.


Dua hari disini, tak sedikitpun ada gerak-gerik mencurigakan dari Dita.


Seno benar-benar memperketat penjagaan terhadap nyonya muda nya.


Tak ia biarkan sedikitpun ada celah bagi siapapun yang berniat mengusik ketenangan Kara.


Dan di sinilah Seno menjadi saksi betapa kara bertingkah layaknya anak kecil saat bersama Hanum. Sifat yang nyaris tak pernah kara perlihatkan pada siapapun.


Hingga kara berniat menghabiskan waktu senja di sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Berlin. Mereka tetap memperketat penjagaan.


Beberapa pengawal yang Seno siapkan nampak berjaga dengan berbagai jenis penyamaran.


Sebuah kerumunan membuat fokus Hanum dan Kara mengernyitkan kening.


Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati Dita tergeletak dengan kaki cedera.


Bukannya bersimpati, Kara justru menarik lengan istrinya menjauh.


"Mas,mengapa harus menghindarinya?


Bukankah dia butuh pertolongan. Bagaimana pun, dia anak om Chandra".


Hanum bertanya tak mengerti.


"Biarkan. Dia memang anak om Chandra ketika dia berada di kediaman Adi Prama. Tapi bukan lagi ketika dia berada di sini.


Dengar, num.....Dia tak pantas di kasihani.


Kau tau?


Dia pasti merencanakan sesuatu di balik tingkahnya itu."


"Mengapa mas bisa menyimpulkan demikian?".


Kara melihat seluruh pengawalnya yang jaraknya tak jauh darinya. Kara sekilas merasa puas dengan pengawalan yang yang cukup ketat ini. Setidaknya, ia aman bersama istrinya.


"Dengar..... Bayangkan saja apa alasannya di balik kedatangannya kemari?


Bukankah untuk menguntit kita? Mencari celah untuk bisa mengacaukan acara bulan madu kita? Atau mungkin ada rencana lain yang ia susun tanpa sepengetahuan kita?


Jadilah wanita yang sedikit cerdas, num Jangan terlalu kaku dan jangan terlalu lugu.


Kau bisa di Gilas dengan mudah oleh lawan mu bila kau tak cukup kuat membaca dan menguasai keadaan".


Kara memberi penjelasan pada istrinya dengan sabar.


Tak jauh darinya, Seno tertawa dalam hati.


Bos Kara berakhir jinak hanya di tangan seorang wanita?

__ADS_1


Ini akan menjadi trending topik dalam keluarga Praja Bekti sepulangnya dari Jerman.


"Oh begitu ya?


Tapi, bagaimana bila dia benar-benar mengalami cedera parah?".


"Akan ada banyak orang dan petugas kesehatan yang akan menolongnya.


Sudah, lebih baik kita pergi saja".


Hanum tak berani membantah lagi. Baginya, ia tak mau bila nanti mematik api kemarahan suaminya.


Sedang di sisi lain, Dita mengumpat dalam hati.


Batinnya meradang menyaksikan ketidak pedulian pria yang amat di sayanginya itu.


Sungguh, ingin rasanya Dita berteriak lantang pada Kara andai saat ini ia tak berada di negara asing.


Maka, ia segera mengakhiri drama nya yang gagal total. Menimbulkan banyak tanya di wajah para warga negara asing itu.


Hingga seorang pengawal utusan Radhi yang bertugas khusus mengawasi keberadaan Dita, memberikan laporannya pada Radhi dan Jelita.


Di kediaman Praja Bekti, Jelita tertawa puas dengan ketegasan putra nya.


Sungguh.......


Tak ada hari yang lebih menggembirakan selain melihat wanita seperti Dita terlihat kalah oleh keadaan.


Sekali lagi, entah bagaimana caranya Kara menang dengan sendirinya.


Sungguh malang nasib Dita kali ini.


*****


"Aku mohon ijinkanlah aku bertemu dengan putriku, nyonya Chandra.


Biar bagaimana pun, aku adalah ayah biologisnya. Tolong pahami perasaanku yang tak berdaya sebagai orang tua.


Sadar atau tidaknya anda, tapi kami memiliki ikatan batin yang kuat.....


Aku mohon nyonya........"


Daniel bersimpuh di kaki Dewi dan Chandra.


Memohon keluasan hati mereka untuk mengijinkannya untuk bertemu Hana.


Sungguh, tak ada yang lebih menyakitkan bagi Chandra dan Dewi saat melihat seorang ayah rela menanggalkan harga dirinya demi bisa menemui putrinya.


Dewi mendesah lelah, merasa tak juga tega melihat Daniel benar-benar menjatuhkan harga dirinya.


"Bangunlah, Daniel.


Bila hanya sekedar bertemu, tak mengapa.

__ADS_1


Kita sama-sama pria. Aku juga merasakan apa yang kau rasakan".


Daniel mendongak. Menatap Chandra dengan lama.


Ada kehangatan yang tersirat.


"Be...be benarkah, tuan?".


"Ya. Bangunlah. Biar istriku yang mengantarmu. Aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan".


Chandra berlalu pergi.


Sebagai orang yang menyaksikan penderitaan Dita, Tentu Chandra masih merasa enggan untuk memaafkan Daniel.


Tapi di sisi pandang yang berbeda, Chandra tak bisa memisahkan ayah dan anak.


Hingga Daniel tiba di ruang keluarga, ruangan yang penuh dengan banyak boneka anak perempuan.


Hati Daniel tersentuh menatap putrinya yang cantik dengan menggunakan bandana berenda kuning.


"Hana...."


Tenggorokan Daniel tercekat.


"Papa......."


Hana berhambur ke dalam pelukan Daniel. Anak itu tertawa renyah dalam rengkuhan ayahnya.


Sesaat, Daniel memejamkan matanya, merasakan emosi yang mampu menggetarkannya dengan Sanga dahsyat.


"Emmm nyonya, sebenarnya ada yang perlu aku bicarakan pada anda dan tuan Chandra. Tapi sepertinya waktu sedang tidak tepat."


Daniel berkata lirih, masih dengan menggendong Hana.


"Ada apa, nak?".


Hati Dewi melembut ketika menyaksikan interaksi alamiah Hana dengan Daniel.


Di saat yang bersamaan, Chandra muncul dari pintu ruang kerjanya.


"Mas, duduklah dulu sebentar".


Maka, Chandra tak bisa lagi mengelak kali ini.


"Ada apa?". Chandra berkata dengan datar.


"Katakan Daniel? Apa yang hendak kau utarakan?".


Daniel menghela nafas panjang sebelum menyampaikan maksud nya.


"Aku datang kemari, selain meminta maaf, tapi juga untuk menyampaikan sebuah keinginan untuk..........."


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


Yang penasaran ayo angkat tangan☝️☝️


__ADS_2