Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Belalang goreng


__ADS_3

Hari nampak cerah pagi ini.


Awan sesekali bergelayut manja di bawah sinar mentari hingga menutupi sebagian kecil sinarnya pada bumi.


Desah angin pagi juga nampak menyegarkan, serta jangan lupakan embun yang juga turut serta menyejukkan suasana pagi.


Kara tengah bersiap untuk pergi bersama istrinya, mengunjungi Dita sesuai permintaan sang istri.


Kini..... Hanum telah kembali, dan Dita juga belum Kara lepaskan.


Entahlah, mengingat masa-masa dua bulan yang lalu membuat Kara masih di selimuti kabut kebencian pada Dita.


"Sayang, Sudah?".


"Ya. Ayo berangkat sekarang".


Mobil yang mereka tumpangi pun melaju, Kara merasa tak yakin istrinya akan baik-baik saja setelah tau keadaan Dita nantinya.


Tetapi, untuk mengalihkan tujuan juga tidak mungkin.


Kara menatap istrinya yang dengan riang di sampingnya. Sesekali jemarinya mengusap lembut perutnya yang telah nampak sedikit membuncit .


Kara bahagia, pada akhirnya......


Kini dirinya benar-benar telah membuat istrinya mengandung.


"Mas, Nanti sepulangnya dari mengunjungi Dita, aku ingin memakan sesuatu......."


Hanum ragu ingin melanjutkan kalimatnya, membuat Kara menaikkan alisnya, bertanya tanpa kata.


"Belalang goreng. Maukah mas mencarikannya untukku?"


"APA?"


Kara merasa aneh dengan permintaan istrinya itu.


Oh tidak!!


Mungkinkah istrinya ini tengah ngidam?


Atau mungkin ini petaka untuknya.


Oh Tuhan, mengapa harus belakang?


Sopir yang mengemudi di bangku depan ingin tertawa terbahak saat itu juga bila mengingat bagaimana ekspresi wajah Kara saat itu.


Bukan tak tau, Sang sopir yang telah berusia sekitar lima puluhan itu tau tentang Kara yang anti pada belalang.


Dirinya telah mengabdi pada keluarga Praja Bekti semenjak masih muda.


Pasalnya, Kara adalah pria yang teramat sangat takut pada belalang.

__ADS_1


Dulu, semenjak kecil, ia memiliki semacam trauma untuk bersentuhan dengan belalang.


Jemarinya pernah mendapat serangan dari kedua kaki belalang.


Sakit.....


Entahlah, sakit itu seperti masih terasa hingga kini. Rasanya, Kara tak sanggup meski hanya sekedar membayangkan.


"Ya, belalang".


Ujar Hanum ringan. Wanita itu tak tau saja bahwa suaminya takut pada belalang. Andai ia tau, Kara pasti akan di ledek habis-habisan seharian. Membayangkan pun, kini Kara bergidig ngeri.


"Ap...apa tak ada makanan lain dan lebih normal?"


Tanya Kara mengiba pada istrinya.


"Normal? Bagiku belalang goreng itu normal, mas. Di beberapa negara seperti China juga menjual aneka ragam jenis makanan semacam belalang goreng, sate laba-laba dan juga kalajengking asam ma......"


"Cukup. Jangan di lanjutkan lagi.


Ya sudah. Besok aku akan minta Seno untuk mengosongkan jadwalku beberapa hari ke depan. Kita ke China untuk berburu makanan yang kau sebut tadi, oke?"


Nada suara Kara di buat selembut mungkin. Jemarinya terulur mengusap pelan perut buncit Hanum. Ia tak mau Hanum marah ataupun merajuk padanya, atau dunianya akan terasa kiamat saat itu juga.


"Tidak!!"


Hanum menggeleng tegas.


Ia lebih memilih tantangan menghadapi seluruh pengawal pilihan mamanya dari pada harus menghadapi satu belalang.


"Lalu?".


"Aku ingin makan di sini saja, belalang hasil buruan sendiri. Juga...... kita masak bersama.


Bagaimana bila di bumbu bawang putih dan lada hitam. Ya tuhan, membayangkannya aku seperti lapar".


Mata Hanum berbinar penuh suka cita. Berbeda dengan pendar Kara yang mulai meredup. Ia seperti ingin berteriak saat itu juga.


"Ya sudah, nanti aku akan perintahkan beberapa pengawal mencarinya ke daerah pertanian atau hutan".


Sambung Kara lagi tanpa menatap istrinya.


Pandangannya lurus ke depan dengan tangan merangkul pundak istrinya.


"Jangan libatkan siapapun"


Bibir Hanum mengerucut.


"Aku ingin mas yang mencarinya untukku.


Yang membuatku hamil itu dirimu, mas.

__ADS_1


Bukan pengawal. Dan anak ini anakmu, bukan anak pengawal. Aku mau kau sendiri yang mencarikannya untukmu".


"Oh astaga, sayang...... Mengapa harus mengalami ngidam yang aneh-aneh.


Mengapa kau tidak ingin berlian langka, perhiasan dengan edisi terbatas, barang-barang branded, rumah, mobil, deposito yang banyak atau kredit card tanpa terbatas atau apapun itu.


Ku mohon, jangan meminta sesuatu yang diluar nalar".


Kara memberi pengertian istrinya masih sangat lembut. Sejujurnya, dirinya seperti ingin berteriak melampiaskan kekesalannya pada permintaan sang istri. Namun, ia tau kondisi Hanum sangat sensitif perasaannya.


Sang sopir yang masih setia pada posisinya ingin tertawa saat itu juga. Namun, yang bisa sopir itu lakukan hanyalah menggigit bibir bawahnya agar tak kelepasan tertawa.


Bukan hanya takut pada Kara, namun sopir itu juga takut pada dosa bila harus bahagia di atas penderitaan majikannya.


"Belalang goreng mengapa harus kau sebut sesuatu di luar nalar?


Dulu, sewaktu di sigam, ibu selalu memasakkannya untukku saat tak bisa membeli laik dan ibu hanya memiliki satu liter beras".


Hanum tersenyum, ingatannya kembali pada masa-masa ia masih kecil bersama callista, kakaknya.


Masa sulit, tapi begitu hangat tanpa banyak konflik.


"Apa sesulit itu hidupmu dulu, sweet heart?".


Kara menatap istrinya lekat-lekat.


"Bila begitu baiklah, aku akan menghubungi ibu agar memasakkannya untukmu".


"Tidak. Aku maunya mas yang berburu belalang untukku".


"Oh ya tuhan, apakah tak ada pilihan lain lagi, sayang?".


"Bersyukurlah karna aku hanya meminta belalang padamu, mas. Bayangkan saja andai aku meminta mas berburu singa, harimau ataupun buaya untuk ku masak.".


"Bahkan aku lebih baik berburu binatang buas itu daripada harus belalang".


Hanum terkesiap. Dirinya mencerna kembali ucapan suaminya.


"Benarkah? Apa itu artinya.....


Mas takut belalang?"


Entah mengapa, ide cemerlang seketika melintas di kepala Hanum.


"Tidak".


"Oh, baguslah. Bagaimana bila mas mencarikanku Seratus ekor belalang dengan tangan kosong. Bila tidak memenuhi target yang ku tetapkan, jangan pulang dan jangan harap mas bisa tidur seranjang denganku.


Jangan khawatir, Aku pasti akan menemani mu nanti saat mencari belalang itu".


Hanum terkikik geli ketika di lihatnya, Kara menegang seketika dengan sorot mata yang sulit di artikan.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2