Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Tiga puluh menit


__ADS_3

Bulan bergantung manja di langit malam ini. Purnama yang belum sepenuhnya sempurna itu, seperti tengah memperolok seorang pria pemilik senyum menawan itu.


Meski raut wajahnya nampak datar, tetapi yakinilah...... Ada banyak riak emosi yang hendak meledak dalam dirinya.


Sesal selalu datang di saat yang tak tepat.


Itulah bunyi pepatah yang saat ini tengah mengolok-olok diri sang pria.


Dirinya seolah kini tengah terjebak dalam kubangan rasa berdosa dan bersalah yang tak berkesudahan.


Niat hati ingin memberikan yang terbaik, nyatanya dirinya terlampau menjunjung tinggi egonya, hingga harus mengorbankan perasaan sang adik yang demikian dalam terhadap pria pujaannya, Alex.


Kara......


Pria itu tengah menunggui adiknya yang belum juga sadar dari masa kritisnya.


Di tatapnya dengan lekat wajah yang hampir memiliki kesamaan dengannya.


Pedih ia rasakan ketika ia mengingat kejadian empat hari yang lalu.


Ketika orang suruhannya mengirimkan foto Ridha dan Alex tengah berduaan di pantai, ia segera menghubungi sang mama untuk mengurusnya. Dirinya tak akan tau bila akan berakhir tragis dengan kecelakaan yang menimpa saudarinya.


Andai sebelumnya Kara tak bertindak gegabah, mungkin Ridha masih bisa terbangun di tengah-tengah mereka saat ini.


Namun sesal kini tak lagi berarti ketika putri keluarga Praja Bekti yang kuat dan tangguh itu, terkulai tak berdaya.


Apa artinya kekuatan bila hanya berakhir dengan menyakiti perasaan orang yang berharga di mata kita?


Apa artinya ketangguhan bila sang pemilik ketangguhan itu kini terkulai lemah tanpa semangat hidup?


Apa artinya kecantikan yang di agung-agungkan bila kini sang pemiliknya merasakan kehancuran dalam hatinya?


Apa artinya kecerdasan yang dulu di banggakan bila kini sang pemiliknya mendadak bodoh karna cintanya yang tak ter-restui?


Semua kelebihan-kelebihan itu tak lagi berarti, karna yang terjadi kini hanyalah, jejak-jejak sesal yang tak akan mungkin mampu memutar balik waktu dan mengembalikan keadaan seperti semula.


Kara mendesah panjang. Jemarinya menggenggam erat jemari adiknya.


"Hei, cantik..... Kau wanita terkuat dalam keluarga Praja Bekti setelah mama.


Segeralah sadar bila kau ingin melihat wajah tampan kekasihmu.


Aku berjanji.....


Bila kau bangun.....


Aku sendirilah yang akan mengantarmu pada Alex Atmadja".


Sudut mata Azkara tetiba meneteskan air mata. teringat akan ucapan kata-kata Ridha tempo hari yang ia abaikan begitu saja.


"Persetan dengan omong kosongmu itu!!


Kau juga tak lebih baik dari Alex yang suka mempermainkan wanita. Tapi kini, bukankah kau telah berubah? Demi istrimu Hanum?

__ADS_1


Apa Alex tak boleh melakukan hal serupa?


Aku kecewa, benar-benar kecewa.


Aku harus memulai hubungan romansaku bersama pria terkasihku, tapi kau justru mengirim orang untuk berusaha mengganggu Alex. Kau pikir aku tak tau?


Lakukan sesukamu dan aku akan melakukan apapun sesukaku.


Percayalah, bos Kara yang terhormat,


Bila kau terus menahanku dan menyakiti Alex, Sesuatu yang kau pikir aku tak mampu melakukannya, aku akan lakukan.


Tak peduli bila harus pergi dari sini.


Aku mencintai Alex secara membabi buta, bila kau ingin tau hal itu".


Kalimat panjang Ridha mengiang-ngiang di telinga Kara bak lebah yang berkerumun di sarangnya.


Sesuatu yang tak mungkin Ridha lakukan, pada akhirnya kini Ridha lakukan juga.


Ya.....


Dulu, Kara bahkan tak lebih baik dari Alex. Tapi bukankah semua berubah seiring cinta yang tumbuh perlahan dalam hati?


mungkinkah Alex berada dalam fase yang demikian?


"Maafkan aku, adikku sayang..... Maafkan aku.


Aku berjanji akan perbaiki semuanya. Aku berjanji.


Tunjukkan padaku bahwa kau benar-benar licik seperti papa, Tunjukkanlah padaku bahwa kau kuat seperti mama.


Kau putri kesayangan keluarga Praja Bekti.


Tak pantas kau merasa iri pada adik kita, Luna.


Dia tak sekuat dirimu".


Kara menggenggam erat tangan Aridha.


Ia semakin terpuruk dalam sesal tanpa Unjung.


Jemari Ridha tetiba bergerak perlahan, membuat Kara mematung tak percaya. Sejurus kemudian, dirinya bangkit dan keluar memanggil dokter.


*****


Di ruangan lain, Alex tengah bersiap untuk pergi dari ruangan berbau obat-obatan ini.


Dari dulu, Alex tak pernah suka dengan aroma ruangan rumah sakit.


Dirinya kini seolah lega luar biasa ketika mendengar kabar dari dokter yang menanganinya, bahwa sang kekasih kini telah baik-baik saja dan melewati masa kritisnya.


Ke depannya, Alex berharap semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Alex bahkan tak peduli meski kini, dirinya hanya memiliki satu mata.


'Satu mata bahkan cukup untuk melihat indahnya dunia, bukan?


Senyum Ridha adalah keindahan yang mutlak bagiku, tawanya adalah kebahagiaanku.


Aku tak mau ia hancur namun aku menjadi pihak yang bodoh dan tak bisa melakukan apapun untuknya. Demi tuhan, aku sangat mencintainya'


Selalu itu yang ia ucapkan saat Sundari dan Daniel menentang keinginannya sebelum mendonorkan satu matanya untuk putri Praja Bekti itu. Tekad yang kuat itu, tak seorangpun yang mampu menghentikannya.


"Kau siap, Lex?


Kita keluar tak akan melewati ruangan tempat nona Ridha dirawat, melainkan lewat pintu belakang rumah sakit".


Suara Daniel datang dari ambang pintu.


Daniel tersenyum. Mata kirinya masih dalam balutan perban. Namun, mata kanannya menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa.


"Aku siap kak. Apa ibu ada di rumah?"


"Ya, ibu menunggu kita. Aku sudah menginterupsinya untuk tak ikut menjemput".


Alex hanya mengangguk.


"Bagaimana dengan tiket yang ku pinta?"


"Akan aku persiapkan untukmu.


Tapi, lima hari ke depan barulah kau bisa berangkat mengingat luka operasi di matamu masih perlu perawatan sedikit lagi.


Cepatlah, aku tak punya banyak waktu.


Dita sudah menungguku".


Ada binar bahagia yang Daniel tunjukkan. Mengingat dirinya sellau di tunggu-tunggu kehadirannya oleh Dita, membuatnya nyaris tak ingin pergi kemana pun.


"Ayo".


Ajak Daniel. Sayangnya, dari arah pintu.....


Radhi datang dengan senyum hangatnya.


Tak ada wajah datar. Tak ada kekejaman yang biasanya berpendar di matanya.


Yang ada hanyalah kebahagiaan dan senyum lembut yang bahkan tak pernah Daniel dan Alex lihat sebelumnya.


"Mau kemana Alex?


Tunggulah hingga tiga puluh menit lagi bila kau ingin pergi.


Dalam tiga puluh menit ke depan, barulah kau bisa memutuskan kau akan tetap pergi, atau akan tinggal di sini".


Daniel dan Alex melongo tak percaya dengan apa yang Radhi ucapkan.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2