
Jalan tak selamanya mulus.
Rencana tak selalu berhasil.
Kekuatan tak selalu menjadikan unggul.
Dan takdir.....
Tak selamanya selalu berpihak pada kita.
Ada kalanya kita jatuh.
Ada kalanya kita di bawah.
Ada kalanya kita di permainkan takdir.
Dan ada kalanya...... Kita tak berdaya.
Malam kian larut ketika Radhi dan Jelita tak juga menemukan putranya kembali.
Di sampingnya, Hanum juga menunggu dengan harap-harap cemas. Firasat buruk yang sedari tadi menaungi, tetiba terasa seperti nyata saat itu.
Penjagaan ketat yang mereka lakukan untuk Hanum, memanglah berhasil hingga selarut ini.
Tetapi di mana Kara?
Mungkinkah kini Kara sedang berada di bawah ancaman musuh?
"Bagaimana, mas? Apa putra kita tak jua di temukan?"
Jelita bertanya dengan tenang pada suamiany yang baru saja tiba dari lorong menuju CCTV.
Hanum juga terlihat lebih sensitif saat ini.
"Tak ada petunjuk apapun. Yang ada hanya ketika Kara masuk ke dalam toilet dan tak ada rekaman ketika dia keluar sama sekali.
Seluruh bilik toilet telah di geledah oleh seluruh pengawal dan hasilnya..... nihil".
Ungkap Radhi pelan.
"Ba-bagaimana mungkin, pa?"
Hanum mulai bergetar bibirnya. Ada rasa cemas yang menggelayuti dirinya seketika.
"Segala sesuatunya memang mungkin saja terjadi, nak. Tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Percayalah, Suamimu adalah pria yang tangguh dan tak mudah terkalahkan."
Hanya itu yang bisa Radhi sampaikan pada Hanum untuk meredam kegundahan menantunya itu.
Sudah hampir tiga jam berlalu, lantas..... Dimana Kara?
Hingga sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponsel Hanum.
Tanpa menunggu lagi, Hanum segera membuka ponselnya.
Matanya terasa memanas dan air mata seketika luruh saat itu juga.
Potret Kara yang sedang terlelap dengan dada telanjang tengah terpampang dari pesan yang tak beridentitas itu.
Hanya selimut yang menutup sebatas pinggang.
Di sampingnya, seorang wanita meringkuk nyaman dengan selimut hanya menutupi sebatas dada. Wajahnya tak terlalu jelas. karna tersembunyi di sebelah bahu Kara.
__ADS_1
Mata Hanum memanas seketika. Air matanya luruh seiring dengan nafasnya yang tercekat. Jelita dan Radhi yang juga melihat ponsel Hanum tak kalah terkejut.
Sejurus kemudian, Hanum jatuh di telan kegelapan seiring kesadarannya yang mulai hilang.
Hanum pingsan. Fakta yang baru saja di terimanya telak membuat Hanum terpukul dengan sangat luar biasa.
Aura sekitar terasa mencekam.
"Mas.... bawa menantu kita pulang. Ayo cepat".
Jelita sedikit panik. ketenangan yang sedari tadi di milikinya, entah pergi kemana.
"Baiklah, perintahkan pengawal untuk menunggu di mobil".
Suara derap langkah yang cepat semakin terdengar. Jelita dan Radhi segera memerintahkan Alma dan Arlan untuk membawa Hanum pulang. Sementara Radhi dan Jelita akan terus mencari keberadaan Kara.
"Bagaimana? Apakah sudah di temukan lokasinya?"
Radhi bertanya dengan nada tenang, setenang danau lepas. Terkadang, Jelita tak habis pikir dengan sikap suaminya yang bisa tenang di saat situasi mulai memanas sekalipun.
"Belum tuan. Kami terus berusaha mencari dan melacak keberadaan nomor yang mengirimkan pesan itu pada nyonya muda Hanum.
Tapi tiba-tiba......
Lokasinya tak bisa di lacak.
Kemungkinan besar ponselnya telah di pasangi perlindungan dan sistem keamanan yang tinggi". Ungkap si pengawal bertubuh tinggi kekar itu.
"Itu artinya, kita tak bisa menganggap remeh musuh kita."
Tandas Jelita.
"Aku akan hubungi Seno".
Jelita segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi Seno untuk membantu mencari Kara. Sedang Radhi, masih terlihat mengotak atik ponsel nya.
Sesaat setelah Seno datang, Jelita segera menjelaskan kejadian detailnya.
Dan mereka segera bergerak cepat.
Hingga dini hari, keberadaan Kara masih menjadi teka-teki. Jelita mulai gusar karena pencariannya tak juga menemukan hasil.
Seketika, Seno datang dan sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Kara.
"Kami menemukan keberadaan tuan muda Kara di sebuah hotel tak jauh dari sini, nyonya besar. Saya tak berani menghampiri karna saya perlu mengabari nyonya dulu."
Ungkap Seno hati.
Radhi yang mendengarnya segera menggenggam jemari istrinya dan menarik pelan menuju mobil.
"Antar kami kesana, Seno. Aku perlu mengetahui siapa dalang di balik konspirasi ini." Tandas Radhi kemudian.
Jelita diam dan memilih untuk tak berkata-kata. Namun, lingkaran menghitam yang mulai nampak di kedua matanya, semakin mempertajam mata Jelita.
Jelita marah.
Jelita murka.
Jelita lupa diri.
Jelita tak tahan lagi menahan emosi yang mulai menggelegak dalam dirinya.
__ADS_1
Andai Kara tak memiliki istri, Jelita tak akan se murka ini. sayangnya, ini melibatkan hati yang tentu akan sangat terluka.
Jelita menyayangi Hanum seperti ia menyayangi Alma, Ariana, Aridha dan Aluna. Jelita sama sekali tak ingin membeda-bedakan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Baginya, menantu juga putrinya. Putri yang harus ia jaga demi kebahagiaan putranya kelak.
Langkah lebar Radhi dan Jelita demikian berderap menegangkan. Di waktu dini hari yang mulai dingin, bahkan jelita tak merasakan kedinginan meski lengannya bertelanjang.
Bulir keringat yang terasa memanas, membuat pertanda tersendiri bahwa Jelita menahan amarah sekuat tenaga.
"Kendalikan dirimu, sayang. Bila kau ingin marah, marah saja. Tapi tetaplah dengan cara yang anggun. Aku tak mau kau kehilangan kendali dirimu. Mengerti?"
Radhi berbisik lirih di telinga istrinya.
Kekhawatiran jelas menggelayuti Radhi saat ini.
Setibanya di pintu hotel, Radhi melirik jam digital di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 04.15 dini hari.
Menghela nafas sekali lagi, Radhi meyakinkan istrinya untuk masuk.
Pintu terbuka. Di ranjang, hanya ada Kara seorang diri.
Lantas, di mana wanita yang semalam berada di samping Kara seperti di foto itu?
Jelita semakin geram.
Ia semakin murka karna Kara tak sekuat yang ia kira. Jelita murka karna musuhnya telah berhasil membuat Hanum terluka.
"Kara.... Kara....
Bangun Kara. Hei.... ayo bangun....."
Jelita menepuk pipi putranya pelan. Namun, tak ada reaksi apapun dari putranya itu.
"Kara di bawah pengaruh obat tidur".
Tandas Radhi kemudian, membuat Jelita segera menoleh dengan cepat.
"Pengawal, bawa kara ke mobil. Kita akan pulang, segera".
Tegas Radhi kemudian.
Diluar sana. Dita tertawa licik penuh kemenangan.
Dita tak tau saja.....
Dalam hitungan hari, kehancurannya menunggunya di depan mata.
Hingga sebuah obsesi yang akan Kara miliki yang akan mengahancurkan nya, membuat hidupnya jauh dari kata bahagia, di sepanjang sisa hidupnya, mungkin.
Saat ini, Kara tak berdaya di bawah permainan Takdir.
Rumah tangganya di uji dengan hadirnya musuh yang menciptalan perpisahannya dengan istrinya, Hanum.
Hanya Tuhan yang tau, apa yang akan di lakukan Jelita dan Radhi saat ini.
Mereka tak sadar bahwa Hanum terpukul dan kembali mendapati fakta, bahwa Kara telah bermain wanita di belakangnya.
Sebuah notifikasi yang memberi kabar, bahwa seorang wanita tengah hamil benih suaminya. Kabar palsu yang mengerikan.
Membuat Hanum kembali jatuh terpuruk tak berdaya.
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1