
Dita membeku. Seluruh tulang-tulang nya terasa terlolosi satu per satu. Wajahnya pucat pasi. Dari semua musibah yang mampu Dita toleransi, akan Dita toleransi.
Namun, di buang?
Oh bukankah itu kedengarannya sangat buruk?
Selama ini, Dita hidup dari harta Adi Prama.
Bagaimana Dita akan melancarkan banyak rencana ke depannya bila ia harus hidup tanpa Chandra dan Dewi?
Sungguh.......
Dita memang memanfaatkan keluarga Adi Prama dengan sangat kejam.
Hanya Radhi yang sangat peka dengan jalan pikiran Dita. Pria itu bahkan tau nyaris semuanya tentang otak licik Dita.
Sedang Kara dan Jelita, tak akan memusingkan bagaimana nasib Dita ke depan tanpa nama Adi Prama. Yang mereka berdua pikirkan hanyalah, rancangan untuk membuat perhitungan dengan Dita.
Di dunia ini, terkadang ada banyak hal yang benar-benar luput dari pengawasan kita. Sesuatu hal yang terkadang di anggap remeh temeh oleh kita, justru akan memberikan dampak besar bagi diri kita di masa depan.
Itulah pentingnya kita memiliki pola pikir jangka panjang.
Radhi adalah termasuk dalam karakter yang sangat Jeli menyangkut hal sekecil apapun.
Termasuk tentang tatapan Aridha terhadap Alex.
Sinar itu tak biasa.
Sorot mata itu tak biasa.
Senyum menawan itu bukan senyum biasa.
Ada sepercik cinta yang membuat Radhi segera tanggap tentang apa yang di rasakan putrinya.
Sayangnya, dari semua hal yang putra-putri Radhi alami, Aridha adalah pihak yang paling salah dalam mengambil sikap.
Tidak.....
Radhi tak akan membiarkan hal ini terjadi.
"Sudahlah.......
Aku datang untuk memenuhi undangan makan malam. Tidak lebih".
Radhi berusaha mencairkan suasana.
Suasana yang mencekam tak akan mampu untuk memuluskan rencana yang putranya susun.
Radhi hanya ingin pembalasan yang Kara lakukan berjalan secara alami.
Tanpa tergesa, dan tanpa toleransi.
"Oh baiklah, kak... Mari masuk.
Kak Lita, ayo....
Kara, Ridha....."
Dewi mengangguk kan kepala, sebagai isyarat untuk mengajak dia keponakan yang cantik dan tampan itu untuk mengikutinya.
"Alex, Daniel......
Ikutlah makan malam dengan kami".
Titah Chandra.
"Terima kasih tuan Chandra, sepertinya saya harus segera pulang. Mama telah menunggu kami seorang diri, karna Papa masih pergi untuk mengurus sesuatu hal."
Daniel menolak dengan halus, begitu juga dengan Alex yang tersenyum canggung ke arah Chandra.
"Ya, dan kami permisi dulu".
Tambah Alex kemudian. Berlama-lama di sini, membuat Alex gerah karna harus bertemu dengan wanita yang selalu menghantuinya.
"Sayang, belajarlah yang rajin dan jadilah penurut. Kapan-kapan, papa pasti akan mengunjungi Hana kembali.
Ingat, jangan nakal ya, papa menyayangimu".
Daniel mendekap Hana sesaat sebelum akhirnya berlalu pergi.
__ADS_1
Selepas kepergian Alex dan Daniel.
Dita mencibir kesal dalam hati.
Dulu, Daniel dan Alex seakan bahagia melihat kehancuran yang Dita alami. Namun kini, pria itu dengan sesuka hatinya mengunjungi Hana.
Apa semua pria akan selalu berlaku demikian?
Dita muak melihatnya.
Semua menuju ke meja makan, menikmati makan malam dengan sangat nikmat. Kara dan jelita bukan tak ingin bertindak cepat. Mereka sengaja menikmati makan malam dulu demi mengisi sumber tenaga untuk nanti.
Seusainya, mereka segera menuju ke ruang keluarga. Derap langkah dari luar nampak memenuhi halaman. Para pengawal datang dengan berjaga baik di halaman depan, maupun di halaman belakang.
"Kak, kau membawa pengawalmu?".
Chandra bertanya untuk memastikan firasat buruknya kali ini. Rasa tak nyaman mendadak mengalir dalam hati Chandra.
"Tidak banyak, hanya sebagian kecil."
Sahut Radhi tenang.
"Tapi untuk apa, kak?
Bukankah rumah ini aman?".
Dewi ikut menimpali. Mustahil semua baik-baik saja saat ini. Dengan pengawal yang datang dengan jumlah tak sedikit, pastilah ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Ridha, bawa pergi Hana dari sini. Terserah mau kau bawa kemana!".
Titah Jelita tak ingin di bantah.
Aura ketegangan mulai mendominasi seisi ruangan.
Dita.....
Entah mengapa wanita itu merasa berdebar tak karuan. Semenjak tadi, Melihat wajah datar Kara, Dita merasa semua baik-baik saja, namun tidak untuk kali ini.
Aridha yang mendapat titah dari Jelita, tak mengucap sepatah katapun.
Maka, Aridha segera beranjak untuk menuntun Hana, membawa gadis kecil itu untuk mencari hiburan.
Ah, sepertinya ke tempat tinggal Alex akan lebih menyenangkan.
"Hana, ikutlah denganku. Kita akan pergi ke taman hiburan. Kau bersedia?"
Aridha mendekat dengan langkah anggunnya.
Tangannya terulur seperti tengah menjanjikan ketenangan.
"Baiklah, Tante..... Aku mau".
Hana segera berhambur dari sana, mengikuti langkah Aridha menuju pintu keluar.
Selepas kepergian Aridha, Kara mendekat ke arah Dita, mendekati wanita itu dan duduk tepat di sofa tunggal di samping sofa yang Dita tempati.
Chandra dan Dewi yang tak tau perihal apapun yang terjadi, menjadi ternganga karna tak percaya.
"Sekarang istriku telah pergi entah kemana, nona Dita yang manis....... Tepat seperti keinginanmu.
Sekarang, ayo....... Ayo lakukan sekarang bila kau memang ingin menggodaku.
Lakukan.... lakukan dengan alami agar aku mudah terpikat padamu.
Sejatinya, aku adalah type pria yang suka wanita dengan gaya alami tanpa di buat-buat.
Tunjukkan totalitas kemampuan godamu itu.
Bila perlu, telanjang saja di sini agar aku mudah menerkammu saat ini juga, seperti yang Alex dan Daniel lakukan lebih dari sembilan tahun lalu".
Kara tersenyum dengan angkuhnya. Nada suaranya tenang namun membahayakan.
Kedua tangannya merentang sebagai tanda ia akan sangat menerima Dita dengan senang hati.
Menunjukkan pada dunia tentang kemampuannya dalam mengimbangi permainan yang Dita buat.
"Apa yang terjadi, Kara?"
Chandra merasa bingung dan ia merasa telah menjadi pihak yang tak tau apapun.
__ADS_1
"Tetap tenang dan nikmati saja pertunjukan ini, Chandra. Kau juga Dewi, simak saja hingga kau bisa menyimpulkan betapa Kara telah menderita karna ulah sampah yang telah kalian pungut ini".
Jelita memberi penjelasan yang menggantung.
"Aku...aku tak mengerti apa maksudmu ini, mas".
Mas?
Kara bahkan demikian muak ketika mendengar panggilan Dita terhadap dirinya.
Benar-benar memuakkan.
"Tunjukkan kemampuan godamu itu seperti rencana yang kau susun matang, Dita.
Ayo lakukan.
Jangan membuat usahamu untuk mengenyahkan istriku dari hidupku ini menjadi sia-sia. Hanum telah pergi hingga aku tak bisa menemukan jejaknya.
Manfaatkanlah waktu dan sumber daya yang ada selagi aku masih bersedia untuk kau goda.
Siapa tau aku akan semakin terjerat padamu".
Ucap Kara santai dengan kedua lengannya yang masih merentang ke Arah Dita.
Senyum Kara demikian menawan namun angkuh.
Tatapannya sangat tenang namun tajam.
Siapa sangka, dari sekian banyak pria yang Dita temui, tak ada yang pesonanya bisa menandingi pesona yang Kara miliki.
Dita merasa ngeri dengan kelakuan Kara yang tiba-tiba nampak sangat aneh.
Bulu kuduknya seketika terasa seperti berdiri seluruhnya.
"Aku...aa aku tak Pernah berusaha menyingkirkan istrimu...
ka kau... jangan asal menu....duh".
Suara Dita mencicit penuh ketakutan.
"Kau tak ingin mendekat ke dalam dekapanku?".
Tanya kara sekali lagi.
Dita hanya bisa mematung di tempatnya.
"Baiklah, aku tak akan memaksa. Bila memang kau mengambil keputusan itu, maka aku harus beralih ke permainan selanjutnya."
Kara bangkit dan mendekat ke arah Dita, membungkuk dan mencengkeram erat rahang Dita agar mendongak menatapnya.
Sebuah pisau mini yang tajam terselip di bagian saku kemeja, segera di raih Kara, menyapukannya lembut ke pipi kiri Dita yang nampak mulus.
"Bagaimana bila ku hancurkan saja wajah mulus mu ini, wahai wanita lacur?
Masihkah kau tak akan mengakui kejahatan yang kau lakukan di hadapan dua orang tua yang telah memungutmu dari sampah?
Atau ku congkel saja matamu, dan ku patahkan kakimu agar lumpuh di sepanjang hidupmu?
Oh tidak.....
Itu terlampau mengerikan kurasa.....
Bagaimana bila ku lolosi satu persatu tulang belulangmu, membiarkannya tergeletak di alam bebas hingga habis di makan ngengat?
Atau.......??
Ku biarkan kau tetap sehat?
Mengirimmu ke rumah bordil dan menjualmu dengan harga yang sangat tinggi.
Ku rasa daya jualmu tinggi dan pasti akan laku keras mengingat kau begitu lihai dalam melayani laki-laki.
Pilih saja salah satunya sebagai hukuman yang pantas karna telah menjebak ku".
Dari arah pintu, di saat bersamaan, Holy datang di gelandang beberapa pengawal Jelita, dengan menggendong putranya yang nampak polos tak tau apapun.
Maka.............
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1
Hari ini up satu aja, gimana?
Boleh ya??😂