
"Apa masih sakit?"
Kara Mengusap pelan dahi istrinya yang mengkilat karna cucuran keringat. Setelahnya, tangannya terulur menarik selimut untuk menutupi dada istrinya.
Malam ini, sejuknya malam tak membuat keduanya kedinginan.
Usai aktifitas malam yang baru saja usai, Kara tengah mendekap erat istrinya penuh cinta, memberikan kehangatan yang seketika menjalar ke seluruh inti hati.
"Sedikit".
Hanum menjawab dengan suara lirih. Nafasnya masih bergerak naik turun tak beraturan.
Senyum tersungging indah di bibir manisnya.
"Maaf, lain kali aku akan lebih hati-hati dan melakukannya dengan pelan-pelan."
Ungkap Kara tulus. Ada sesal yang tersirat di mata indahnya.
"Sudahlah, mas. Aku tak mengapa. Nanti juga hilang sakitnya.
Oh ya, ngomong-ngomong.......
Apa papa benar-benar tidur di kamar tamu?".
"Ya tentu saja".
Kara menjawab dengan antusias.
Dirinya teringat momen setelah makan malam, Jelita masih bersikap angkuh dan dingin terhadap Radhi.
Sayangnya, Radhi cukup pandai untuk menyembunyikan emosinya agar tak mudah terpancing.
"Kasihan, papa. Tapi.....
Bukankah papa memiliki alasan kuat atas tindakannya?".
"Sudah, jangan di pikirkan lagi dan biarkan saja.
Mari kita nikmati momen kebersamaan yang kita rindukan.
Kau tau, hm?
Berapa ratus jam aku menghabiskan waktu dengan keadaan yang demikian menggila karenamu?"
"Maaf," Senyum Hanum menyejukkan. Ada rasa bersalah, namun juga alasan kuat di baliknya.
"Ngomong-ngomong..... Bagaimana kabar orang-orang yang menjebak mas?"
Hening, Kara tak segera menjawab pertanyaan sang istri.
"Aku akan membawamu mengunjungi mereka bila kau mau".
Wajah Kara menggelap.
"Mengunjungi?
Apa mas menahan mereka?".
"Sayang, dengar......"
Kara mendekap dan membawa istrinya ke dalam rengkuhan hangatnya, rengkuhan yang selama ini Hanum rindukan setiap malam.
"Terkadang ketidak Tahuan itu bisa melindungimu. Jadi berhentilah bertanya tentang itu, oke?"
Hanum hanya mengangguk paham. Ia tak mau memancing emosi suaminya.
"Baiklah.... Aku lelah, mas. Mari istirahat".
Ajak Hanum dengan wajah sayu.
"Hmmmm tidurlah".
Kecupan manis mendarat di kening Hanum dengan rengkuh hangat yang Hanum rasakan mengaliri jiwanya yang terasa teduh.
__ADS_1
******
Siang demikian terik menaungi langit kota ibukota.
Aridha.....
Gadis itu melangkahkan kakinya dengan pasti. Kerinduannya pada seorang pria yang mengisi hatinya beberapa waktu terakhir, membuat Ridha tak sabar untuk segera sampai ke tempat pria itu.
Pakaian kerja melekat sempurna membaluti tubuhnya yang tinggi semampai, menampakkan lekuk tubuhnya yang sempurna dan mengundang decak kagum kaum Adam.
Senyum manis terbit di bibirnya yang berlekuk menggoda, ketika netra matanya menangkap siluet seorang pria yang mengenakan pakaian bengkel, tengah membaringkan sebagian tubuhnya di bawah mobil mewah.
Daniel yang melihat kedatangan Ridha tersenyum tipis.
Di sampingnya, Hana tengah terperangah dengan kedatangan Ridha kemudian ia terlonjak kegirangan.
"Tante Ridha....."
Hana berlari kencang dan berhambur ke pelukan Ridha. Rantang yang Ridha bawa di turunkan oleh Ridha sendiri.
Senyum hangat tercetak jelas di bibirnya.
"Tante mencari om Alex, ya? Ayo ke sana dulu biar Hana yang panggilkan."
Tanpa di beri kesempatan menjawab oleh Hana, Ridha di tinggal Hana yang mengganggu konsentrasi Alex. Anak itu sudah paham bahwa selama ini, Ridha memanglah dekat dengan Alex. Tak di pungkiri, kini antara Alex dan Ridha memang lebih hangat di banding awal-awal mereka kenal.
"Om Alex, ayo bangun.... ada tamu tercantik untukmu".
Alex mematung. Gerakan tangannya tetiba berhenti seketika.
Maka ia beranjak bangun dan matanya menatap intens sosok wanita yang tak asing di matanya.
Setelan kerja yang Ridha kenakan hari ini nampak berbeda. Di padu dengan kacamata yang bertengger manja di atas kepala Ridha, menambah kesan modis yang melekat dalam diri gadis itu.
Senyum samar terlihat dari Alex. Penat akibat aktifitas seharian yang Alex lakoni, seperti menguap entah kemana. Berganti dengan rasa sejuk dan nyaman seketika merasuk hatinya.
Dengan langkah lebar, Alex menghampiri Ridha yang tersenyum manis ke arahnya.
Bila boleh berteriak, Alex ingin sekali meneriakkan kerinduan terhadap Ridha, sayangnya...... Alex tak ingin terlihat seperti kekanakan.
Di samping Ridha, Daniel nampak melangkah pelan menghindari mereka, memberikan ruang agar mereka lebih leluasa dalam berbicara.
Diam-diam, Aridha meneguk salivanya dengan berat, bibir bawahnya tanpa sadar tergigit.
Melihat aksi Ridha ini, memuat Alex merasa.....
Entahlah.
"Hei, kau menggodaku, ya?
Aku bertanya, mengapa tak menjawab".
Aridha tersentak.
"Emh.... aku... oh maaf. Aku.... baru saja tiba".
Beruntung Aridha pandai menyembunyikan emosinya. Wanita itu dengan cepat bisa menguasai dan mengendalikan dirinya lagi.
"Oh, begitu."
Mata Alex memicing ke arah rantang yang berada di meja. Nama Aridha tercetak di bagian luar rantang itu.
Tanpa kata, Ridha paham dengan maksud pandangan Alex.
"Aku membawakan ini untukmu. Usai makan siang, aku segera ke sini dan berniat makan sing di sini....... bersamamu".
"Tapi hari sudah sore, dan kau belum makan siang? Sayangnya,aku sudah makan siang tadi".
Mendengar penuturan Alex ini, Ridha menundukkan wajahnya, kecewa.
"Baiklah, tak masalah, aku terlalu lama tadi".
"Tapi.... kurasa..... boleh juga."
__ADS_1
Aridha terdiam, mencerna kembali apa yang Bru saja Alex ucapkan.
"Ma--maksudnya?".
"Aku bersedia menemanimu makan siang, asal kau mau menyuapiku".
"Hei, kau bukan lagi anak kecil, kau tau?".
Aridha berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona karna malu. Pandangannya ia alihkan ke arah lain.
"Ya, aku tau. Dan aku ingin selalu kau perlakukan seperti anak kecil".
Alex yang menyadari Aridha salah tingkah pun, terkekeh pelan merasa geli sendiri.
"Maksudmu?"
Tanya Ridha tanpa menatap Alex. Tangannya di sibukkan membuka rantang yang tadi ia bawa.
"Siapa kau sebenarnya, Ridha? Aura apa yang kau bawa hingga membuatku tak bisa mempertahankan pembatas yang sengaja ku buat? Mengapa kau mampu membuatku menyerah dan mampu meroket menjelajahi seluruh ruang di hatiku?"
Aridha membeku, netranya seketika menatap netra Alex yang menatapnya lekat. Pandangan VB mata Ridha terkunci seketika karna Alex.
Nafas Ridha tercekat dan tak mampu mengungkapkan isi hatinya.
Benarkah Aridha telah meroket cepat dengan menguasai seluruh ruang di hati Alex?
Aridha merasa seperti mimpi.
"Aap-aapa yang kau katakan, mas.... Alex"
Ada gelenyar asing yang menjalar ke seluruh hati dan jiwa Alex seketika, saat Ridha memanggil Alex dengan sebutan mas.
Alex semakin merasa luluh lantak dan takluk di bawah tatapan Ridha yang dalam, namun menghanyutkan.
"Aku merasa nyaman denganmu. Mantra apa yang kau baca saat kau bersamaku?"
Aridha menggeleng. Jujur saja, Aridha masih tak cukup mengerti apa yang Alex katakan.
"Aku menyukaimu Ridha. Aku nyaman dengan keberadaanmu".
Ungkap Alex lirih tanpa mengalihkan tatapannya dari Ridha.
"Ja-Jadi....."
Mata Aridha memanas menahan haru. Alex yang duduk di kursi segera bangkit dan berjongkok di hadapan Ridha yang duduk.
Ke dua tangan Ridha perlahan di genggam oleh Alex.
"Aku ingin..... kau mendampingiku, Ridha. Di sepanjang sisa hidupku.
Maukah kau...... menerima lelaki brengsek sepertiku? Lelaki dengan reputasi luar biasa buruk di masa lalu perihal wanita?
Maukah kau.....?"
Alex sengaja tak melanjutkan ucapannya.
Dirinya menunggu dan hendak melihat apa reaksi Ridha.
"Aaku...aku bersedia, mas".
Senyum kebahagian terbit di bibir Alex.
"Ingin aku memelukmu dan membawamu dalam rengkuhan ku. Tapi aku cukup tau diri dan tak ingin malu sendiri nanti".
Alex bangkit dan kembali duduk di kursi samping Ridha. Ibu jarinya terulur mengusap air mata haru yang tetiba keluar dari sudut matanya. Ia terkekeh geli karna ia telah bersikap konyol.
Hingga sebuah suara wanita yang cukup familier di telinga Ridha, menggema lantang dari ambang pintu ruang tunggu.
"Ridha, pulang sekarang atau ku seret kau saat ini juga!!"
🍁🌻🌻🌻🍁
Yuk yang suka, jangan sungkan kasih like, komen dan vote ya. setiap dukungan dari kalian itu adalah vitamin untukku rajin up setiap hari, menumbuhkan semangat yang kadang tiba-tiba hilang tanpa alasan.
__ADS_1
Semoga suka, neng Tia sayang kalian semua😄❤️❤️