
"Tante Ridha? Sedang apa?" Aksa mendapati Ridha duduk menyendiri di samping rumah, duduk pada sebuah kursi memanjang sambil menatap tanaman bunga hias yang berjajar rapi di sepanjang jalanan samping rumah.
Kara yang juga tengah tadinya bersama Aksa, menatap adiknya yang sepertinya tengah galau.
Sore ini, harusnya Aridha sibuk di kantor untuk bersiap-siap pulang. Tapi sayangnya, Aksa mendapati Aridha ada di tempat ini.
"Sedang bersantai dan meratapi masa lalu." Sahut Aridha, membuat Aksa terbahak mendengar penuturan tantenya itu.
"Sejak kapan seorang Aridha memiliki hobi dan kebiasaan meratap? Apa semalam Alex berulah?" Aridha menggeleng saat Kara menanyainya.
"Dia baik. Sangat baik. Bahkan sejauh ini, Alex tak pernah absen selalu menanyakan hariku, mengingatkan makan, serta cinta dan kasihnya yang senantiasa tumpah ruah. Tapi entah mengapa, instingku mengatakan jika..... Alex dihantui masa lalu. Entah masa lalu yang mana."
Aridha membuang pandangannya ke arah langit sore. Awan hanya ada sedikit menghiasi langit, membuat pemandangan indah di mata Aridha. Sayangnya, Aridha tengah merasakan perasaan tak nyaman.
"Sejak kapan, Tante?" Tanya Aksa penuh selidik. "Masa lalu yang bagaimana?"
"Entah."
Dalam hidup ini, Aridha selalu percaya bahwa Alex benar-benar berubah. Lelaki itu selalu membawa serta istrinya bila sedang melakukan perjalanan bisnis. Bahkan, Alex selalu menomor duakan anak-anaknya dan lebih mengutamakan Aridha.
Tak hanya itu, Alex selalu pamit dan lapor kemana pun ia pergi. Lelaki itu bahkan tak pernah lagi bersinggungan dengan dunia malam semenjak resmi menikahi Aridha. Tapi entah dari mana datangnya insting Aridha yang tajam itu.
"Kau hanya sedang terbawa perasaan, Ridha. Aku tahu, besanku, ibunya Yasmin adalah orang masa lalu suamimu." Aridha hanya mengangguk menanggapi.
__ADS_1
"Hanya saja, aku rasa kehidupan Alex dan nyonya Inora sudah berubah. Antara mereka, tak ada hubungan apa pun lagi. Jadi buang saja pemikiran bodohmu itu jauh-jauh. Jangan membuat malu dengan cemburu buta."
Aridha menendang kasar kaki Kara hingga mendesis kesakitan. Maklum saja, Kara tak memiliki persiapan.
"Aku tak cemburu! Aku bahkan sudah sangat yakin bahwa hati suamiku sudah sepenuhnya menjadi milikku. Jadi tak mungkin Alex menyakitiku."
"Kau sudah tua, Ridha. Papa dan mama sudah mengasah instingmu sejak kau remaja. Jadi cari tahu saja apa yang membuat Alex dan nyonya Inora berkaitan."
Aridha diam di tempat. Aksa yang demikian manja hingga kini pada Ridha, merebahkan tubuhnya dengan menjadikan sebelah paha Ridha sebagai bantal. Refleks saja Ridha mengusap puncak kepala keponakan tersayangnya itu dengan lembut.
"Apa yang harus aku cari tahu? Yasmin murni anak biologis tuan Dion. Jadi aku rasa..., tak ada sesuatu yang berkaitan dengan Alex. Tapi tetap saja, sudut hati terdalamku mengatakan ada yang tak beres."
Baru saja Kara hendak menimpali, Yasmin muncul bersama Hanum sedang membawa nampan berisi beberapa cangkir teh dan satu stoples kue kering. Aksa setiap sepulang kerja begini, memang terbiasa mengemil kue dan mengonsumsi teh.
Diam-diam, Aridha memperhatikan postur wajah Yasmin yang dominan mirip dengan Dion. Jadi tak mungkin bila Alex itu ayah Yasmin. Tapi apa? Apa yang membuat Alex dan Inora memiliki ketertarikan seperti firasat Aridha?
"Yasmin, sayang. Duduklah disini." Ridha menepuk bahu sebelahnya. Bahkan Ridha dengan kasar mendorong kepala Aksa hingga Aksa mendengus sebal.
"Ya Tuhan, Tante!" Geram Aksa. Yasmin hanya mencibir ke arah Aksa yang manja.
Diperhatikannya Yasmin yang tengah duduk. Aridha hanya sekedar ingin mengorek sedikit informasi mengenai keluarga Yasmin.
"Sayang, kau.... benar anak tunggal? Oh maksudku begini, kau tak memiliki saudara lain lagi?" Yasmin menggelengkan kepalanya dengan tegas. Gadis itu benar-benar tidak pernah memiliki saudara. Bahkan ibunya juga tak pernah mengenalkannya pada orang lain.
__ADS_1
"Tak ada, tante. Bahkan, Yasmin selalu sendiri, tak ada anak lagi antara ibu dan ayah." Yakin hanya tidak tahu saja dan tak pernah melihat, bahwa ada nama lain dalam kartu keluarga mereka.
"Oh, ya sudah jika begitu. Maaf, Tante hanya sekadar ingin tahu saja, tidak lebih." Aridha tersenyum hangat. Hatinya sedikit lega.
"Kenapa masih tanya, bahkan kemarin malam nyonya Inora dan tuan Dion sudah mengatakan hanya memiliki satu anak." Hanum mengerutkan kening.
"Hanya sekedar memastikan, kak. Oh ya, kapan kira-kira Nara akan libur? Aku merindukannya, dan aku berharap ia bisa membersamai Hesti." Ridha mengalihkan topik.
Aksa jadi ingat dengan adiknya yang cerewet itu, usianya juga tak jauh-jauh dari Hesti.
"Ma, Setalah ujian akhir nanti, aku dan Yasmin akan ke Aussie untuk mengunjungi adikku. Bagaimana?" Tanya Aksa tiba-tiba.
"Tentu saja boleh."
"Tap.... tapi...... tapi Yasmin..... emmm ...." Yasmin tergagap saat Aksa memutuskan sepihak untuk pergi ke Aussie.
"Kenapa, nak?" Hanum bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Yasmin gak bisa naik pesawat. Mabuk........"
"Ya sudah, nanti kita naik teko ajaib saja." Sahut Aksa asal.
Di tengah pembicaraan hangat, Alex datang dan berjalan beriringan dengan Radhi. Hati Aridha terasa tak nyaman perasaannya.
__ADS_1
**