
Hari telah berganti, akhir pekan telah tiba.
Suasana di kediaman Praja Bekti demikian ramai oleh lalu lalang para pelayan yang sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam.
Langkah-langkah para pelayan di dapur demikian gaduh, di iringi suara dentingan peralatan dapur.
Aluna......
Gadis itu dengan cekatan memasak sebuah menu yang di minta Jelita di masak oleh Luna sendiri.
Entah apa alasannya, Luna tak tau.
Cumi asam manis pedas.
Sebuah menu yang jarang di masak oleh pelayan di rumah Praja Bekti.
Namun, entah siapa yang menjadi tamu kali ini. Luna tak cukup tau.
Bahkan, Jelita meminta Luna sendiri yang memasaknya.
Maka, jiwa keibuan Luna dalam hal memasak keluar seketika. Bukan hanya cantik dan lemah lembut, bahkan Luna sangat pandai dalam hal dapur, seperti Jelita. Berbeda dengan Aridha dan Ariana.
Makan malam hampir tiba ketika semua menu telah tertata rapi di meja makan. Maka, Luna tak ingin terlambat malam ini, dirinya segera beranjak ke kamar untuk membersihkan diri.
Hingga waktu nya tiba, semua telah berkumpul di meja makan.
Arlan dan Alma telah datang, begitu juga si Ariana beserta sang suami. Bahkan, Kara dan istrinya juga telah duduk berdampingan.
Hanya Aridha yang mengenaskan tanpa pasangan.
Aridha merasa masih sangat bahagia atas status lajangnya.
Alangkah terkejutnya Luna ketika mendapati sosok pria tinggi menjulang bertubuh tegap itu, melangkah mantap ke arah meja makan.
Begitu juga si pria, Dia adalah Seno.
Pria yang demikian mampu membuat mimpi-mimpi Aluna terasa indah. Sayangnya, Aluna bukanlah wanita murahan yang akan dengan mudah menyodorkan dirinya pada pria begitu saja.
Pria yang dengan dahsyat meluluh lantakkan hati dan jiwa seorang putri bungsu Praja Bekti.
"Selamat malam tuan, nyonya".
Seno menunduk dalam sebagai tanda penghormatan.
Meski sejujurnya, dirinya merasa canggung saat netra matanya menangkap keberadaan sosok wanita yang telah mampu menaungi seluruh ruang di hatinya.
"Malam, Seno. Terima kasih telah memenuhi undangan makan malam di keluarga kami.
Duduklah........".
Dengan kaku, Seno segera menduduki satu-satunya kursi kosong......
Tepat di samping Luna.
Ya tuhan, mereka duduk berdampingan, bukankah hal ini membuat keduanya semakin kaku dan di Landa kebingungan?
"Jangan sungkan, Seno. Rilex kan pikiranmu. Jangan kaku. Suamiku tak akan menerkam mu tanpa alasan. Ini hanya makan malam, oke?".
Jelita memecah kecanggungan diantara keluarganya dan Seno.
"Ba baik, nyonya". Seno mengulas senyum hangat. Suara beratnya mampu membuat Luna bergetar.
Kara dan Radhi saling pandang. Mereka seolah terkikik geli dalam hati. begitu juga dengan Jelita yang matanya tak lepas mengawasi gerak gerik putrinya.
__ADS_1
Dari sini, baik Kara, Jelita dan Radhi telah mampu menyimpulkan, bahwa ikatan emosi antara Aluna dan Seno demikian kuat.
Seperti riak-riak air di sungai pedalaman.
Pandangan mereka saling menyejukkan.
Memancarkan cinta tanpa kata. Bahkan orang buta dan tuli pun bisa menilai dengan mudah, bagaimana perasaan yang Luna dan Seno miliki, hanya dengan berdampingan saja.
Aura mereka demikian kuat mendominasi.
"Seno".
Suara bariton Kara mengejutkan Seno.
"Ya".
"Aku tak tau mengapa ada makanan kesukaanmu, disini. Kurasa kau pasti akan suka".
Kara menunjuk sebuah menu yang cukup menggiurkan bagi Seno. Sayangnya, makanan yang Kara tunjukkan, cukup jauh untuk Seno jangkau.
"Luna, ambilkan untuk mas Seno. Ku rasa..... ia tak bisa menjangkaunya".
Suara Aridha demikian datar, tak ada emosi apapun yang Ridha tunjukkan.
"Aaaa aaaku?". Aluna tergagap.
"Ya, kau pikir ada berapa Luna yang ikut makan malam di sini?".
Ridha menjawab dengan terkekeh geli.
"Hei, hanya mengambil makanan, kurasa kau tak perlu gugup seperti ini?"
Maka, tak ada pilihan lain selain Luna mengambilkan cumi asam manis pedas untuk Seno.
Mati-matian Seno menahan diri. Ingin rasanya ia memeluk dan mendekap wanita mungil di hadapannya ini, sayangnya..... itu hanya akan memperpendek usianya saja.
"Sayang, aku juga ingin kau ambilkan balado udang." Kara tetiba bersikap manis pada istrinya. Semua mata tertuju pada Kara.
"Huh, menyedihkan sekali. Singa yang dulu buas kini telah menemukan pawangnya".
Ariana yang sedari tadi diam, kini angkat suara. Senyum keibuan nampak jelas di wajahnya.
"Diamlah, kak. Kau juga pernah merasakan Bagaimana menjadi pengantin baru.".
"Tidak semua.....".
Alma yang mulai berani pada Kara, mulai ikut angkat suara.
"Mas Arlan pun tak pernah bersikap kekanakan sepertimu, bos Kara.....
Oh maksudku, mantan bos yang menjadi.....
Adik ipar ku".
Semua tertawa renyah mendengar ocehan Alma.
"Sialan kau".
"Sudah sudah. Ayo lanjutkan makan."
Radhi segera menghentikan candaan anak-anak nya.
Hingga makan malam usai, kini mereka telah berkumpul di taman depan.
__ADS_1
Ada banyak bunga hias yang menawarkan banyak keindahan.
Ada banyak kehangatan untuk suasana malam yang alam tawarkan.
Kara duduk berhadapan dengan Seno di kursi kecil di ujung halaman, dengan penerangan lampu yang sedikit redup.
Tak jauh dari Kara, Hanum, Alma, Aridha dan Ariana berbincang serius tentang fashion style
Sedang di dekat kolam, Aluna dan Jelita duduk berjejer di kursi kayu memanjang.
Radhi dan Arlan, juga tengah duduk bersama di gazebo taman.
"Seno, Besok sore, bisakah andai kau ku mintai tolong?".
Suara Kara terdengar serius kali ini
"Tentu saja".
Kemudian Radhi dan Kara kembali lempar pandang.
"Bisakah mengantar pulang Luna kembali ke desa? Aku dan papa..... ada beberapa hal yang harus ku urus, dan ini bersifat pribadi. Aku tak begitu saja percaya pada sopir keluarga untuk menjaga Luna seorang diri.
Kurasa......
Akan lebih aman bila kau ikut mendampingi".
Raut wajah kara dibuat serius. Padahal, ia ingin mengumpat mamanya saat ini juga.
Jelita lah dalang di balik sandiwara ini.
Sungguh, melawan apalagi membantah Jelita, Kara jelas tak akan memiliki keberanian untuk hal itu.
"Aku? Bu bukankah banyak.... pengawal?".
"Aku hanya ingin kau. karna aku hanya mempercayakan kemampuan beladiri mu untuk melindungi adikku hingga tiba di desa".
Kara tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Oh.... baiklah".
Maka.....
Seno tak memiliki alasan untuk menolak.
"Oh ya, bos. Aku baru saja mendapat informasi, bahwa Dita telah tinggal terpisah dengan anak dan keluarganya.
Saat ini, ia tengah tinggal di sebuah apartemen yang dekat dengan kantor mu".
Kara mendengar pernyataan Seno dengan mengerutkan keningnya.
"Lantas?".
"Entahlah, bos. Karin sore, aku melihat dia tengah mengawasi mu saat di kantor.
Kurasa..... ini tak se-sederhana yang semestinya.
Instingku mengatakan, ada rencana yang ia susun dan..... entah apa itu".
Seno berkata dengan serius.
"Biarkan dia melakukan apapun sesuka hatinya, Seno. Aku tak lagi peduli pada rumput liar seperti Dita.
Istriku jauh lebih cantik dan lebih terhormat dari pada wanita murahan itu".
__ADS_1
Ucapan Kara, membuat Hanum yang mendengarnya...... tersenyum lega.
🍁🌻🌻🌻🍁