Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Sosok itu?


__ADS_3

Malam ini, suasana kediaman Praja Bekti sangat hangat dengan banyak anggota keluarga yang datang. Bukan hanya keluarga inti Radhi saja, melainkan mereka mengundang keluarga Chandra dan Dewi, juga ada keluarga Inora dan Dion.


Ruangan makan yang pindah sementara di paviliun sebelah, tempat para pelayan dan pengawal beristirahat, juga ada ruangan besar semacam aula yang dimanfaatkan untuk acara jamuan makan bersama malam ini.


Di taman depan paviliun hingga di halaman depan rumah utama, di dekorasi dengan indah dan juga menyenangkan. Jelita dan Hanum yang sudah membereskan semuanya.


Aluna dan Hesti sibuk merias Yasmin malam ini. Bahkan Aluna sampai menyuruh Kara untuk mengungsi di ruang tamu bersama keluarga Adi Prama.


"Ya Tuhan, Yasmin. Malam ini kau benar-benar bak princess. Aksa memang benar-benar pandai mencari istri. Kau layaknya jelmaan bidadari." Luna yang malam ini merias wajah Yasmin, berdecak penuh takjub. tak lupa, putri Aridha yang juga kebetulan suka dengan dunia rias merias, ikut serta. Si Hesti yang centil dan juga pemberani.


"Selera kak Aksa sejak dulu memang tidak diragukan lagi, Tante. Aku saja suka padanya andai ia tak suka jahil pada saudari-saudarinya. Sayangnya, aku berpikir bahwa, kak Aksa sedikit abnormal bila bicara," Hesti lantas berbisik ke arah Luna yang duduk tepat di hadapan Yasmin.


"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. kak Aksa tak jauh berbeda dengan dad Kara." Aluna tertawa renyah dengan gaya anggunnya yang khas sekali dengan mendiang Santika. "Hesti bicara benar kan, Tante?" tanya si Hesti lagi sambil mencari pembelaan atas dirinya.

__ADS_1


"Ya, Hesti benar dan tak pernah salah. Hanya saja, lebih hati-hati jika bicara, jangan sampai ucapan Hesti sekarang di dengar oleh dad Kara, bisa-bisa kepala Hesti akan dipenggalnya nanti."


Yasmin ikut tertawa pelan menimpali. Ia yang selama ini sebagai anak tunggal yang tak memiliki saudara sama sekali di rumahnya dulu, kini merasa hatinya terasa kian berwarna. Hadirnya saudara-saudara Kara, cukup membuat Yasmin merasa bahagia. Hanya pada Kara Yasmin sering merasa jengkel.


"Ya begitulah. Tapi aku yakin, mom Hanum akan membelaku habis-habisan. Ada Oma dan juga mama yang akan balik memenggal kepala dad jika ia berani memenggal Hesti."


Di saat yang bersamaan, Hanum datang mengetuk pintu. Keluarga Yasmin sudah berada di perjalanan, yamsin harus sudah siap menyambut keluarganya sebentar lagi.


"Terima kasih, ma."


"Ayah dan ibumu sudah berada di perjalanan, ayo turun dan Aksa sudah menunggumu di ruang tamu. Jangan terlalu lama. Ayo." Hanum berjalan pelan dan diikuti oleh Yasmin maupun Hesti dan Aluna. Mereka juga terlibat perbincangan ringan saat menuju ruang tamu.


Alangkah terkejutnya Yasmin saat ia mendapati wanita yang beberapa hari lalu ia dan Aksa temui, sosok yang membuat Yasmin mendadak cemburu tanpa sebab. Wanita itu duduk dengan anggun, diapit oleh Seorang pria setengah baya seusia Kara, dan juga seorang wanita yang duduk di sebelahnya dengan kursi roda.

__ADS_1


Dia adalah Dita dan juga Daniel. Tapi yang Yasmin pikirkan saat ini adalah, Hana sedang datang sengaja untuk kembali menarik perhatian Aksa. Padahal kenyataannya, tidak seperti itu.


"Yasmin, cucu menantuku ini sangat cantik sekali. Perkenalkan, ini Yasmin, gadis yang beberapa hari lalu menikah dengan Aksa." Jelita memperkenalkan Yasmin pada keluarga besarnya. Chandra dan Dewi saling pandang, merasa luar biasa bahagia atas kabar ini. Begitu juga dengan Dita, Hana dan juga Daniel.


Hingga di saat yang bersamaan, suara mobil yang menjemput Dion dan Inora datang, maka saat itu pula, Netra mata Yasmin berserobok dengan sebuah netra yang menatapnya tajam penuh intimidasi.


Sosok itu.......?


**


Siapa ya kira-kira?


Bab berikutnya akan muncul konflik baru yang diwarnai dengan tangisan.

__ADS_1


__ADS_2