
Ya Tuhan, Yasmin terkejut.
Kalimat Radhi gang begitu tegas dan tandas, membuat Yasmin semakin merasakan pening di kepalanya. Mata dan pelipis Yasmin terasa berdenyut nyeri ketika ia merasakan syok yang paling hebat.
Ingin rasanya Yasmin keluar, namun kaki Yasmin seolah protes dan berteriak tak ingin melangkah kemanapun. Dengan langkah tertatih akibat terlalu memaksa, Yasmin menurunkan kakinya dengan niat berjalan, tapi Yasmin mengurungkannya ketika kepalanya kian pening.
Maka, tak ada pilihan lain selain merebahkan tubuhnya lagi. Yasmin serasa ingin mengutuk Aksa yang memaksa memakan bekal sekolahnya. Asam lambungnya tentu sudah kumat akibat terlambat makan. Sialan. Awas saja nanti jika Yasmin menemuinya.
Sayup-sayup, Yasmin mendengar suara Aksa yang lantang dan tegas tengah mengucapkan ikrar suci pernikahan, setelah ayah Yasmin, Dion mengucapkan ikrar penyerahan Yasmin terhadap Aksa.
Mata Yasmin terbuka sempurna dengan nafasnya yang tercekat seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Begitu lantang suara Aksa, hingga Yasmin bisa mendengarnya dengan jelas.
Belum sadar Yasmin dari rasa keterkejutannya, pintu kamar yasmin terbuka dari luar, menampakkan sosok Inora yang berjalan mendekat ke arahnya. Wajah cantik Inora sangat meneduhkan dengan tatapan matanya yang sendu.
"Ada apa, Bu? Aku seperti sedang mendengar suara Aksa dan keluarganya?" Yasmin memastikan. gadis itu berharap kali ini dirinya salah dengar tadi. Tapi sayangnya, agaknya si Dewi fortuna tidak sedang berpihak padanya.
"Ya. Aksa memang datang untukmu, nak. Sekarang, Aksa adalah suamimu dan tanggung jawab ayah atas dirimu, sekarang sudah berpindah pada Aksa."
Yasmin pingsan.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Yasmin. Kau kenapa, sayang. Astaga..... Mas Dion..... kemari. Putri kita pingsan." Inora terdengar panik dan ia berteriak begitu saja dari arah kamar. Tentu hal ini berhasil membuat Dion berlari menuju kamar Yasmin.
Beruntung posisi Yasmin masih berada di atas ranjang, hingga membuat tubuh Yasmin aman. Meski begitu, tetap saja Inora khawatir dibuatnya.
"Mengapa pingsan?" Dion bertanya panik sembari menatap istrinya. Maklum, Yasmin adalah satu-satunya putri Dion dan Inora. "Apa yang terjadi? Kenapa Yasmin pingsan lagi? Lihat, wajahnya pucat." Tambah Dion sambil menepuk-nepuk pipi putrinya.
Dari arah pintu kamar, Radhi dan Jelita serta Aksa muncul. Diantara mereka, Aksa lah yang paling cuek. Justru Radhi dan Jelita lah yang tampak paling khawatir dibuatnya. Terlebih, mengira mengira bahwa yasmin sedang hamil anaknya Aksa.
"Apa Kita bawa ke rumah sakit saja?" Radhi mencoba untuk memberi solusi. Namun yang terjadi adalah, jadi telunjuk Yasmin bergerak, membuat Inora mendekatkan aroma minyak kayu putih ke arah hidung Yasmin.
Suasana kamar tampak di dominasi oleh malam yang hening. Hanya suara gerakan jarum jam dan juga suara lenguhan lirih Yasmin. Beruntung, Yasmin tidak pingsan terlalu lama seperti kemarin.
Ingatan Yasmin kembali pada pendengarannya ketika sebelum Yasmin pingsan. Dan ketika ingatan Yasmin kembali dengan Sempurna, Yasmin mengedarkan pandangannya ke semua orang yang ada di sana.
Aksa Gavin Praja Bekti.
Wajah Aksa nyaris tak bisa Yasmin kenali. Bagaimana tidak? Mungkin Aksa telah dihajar habis-habisan oleh seseorang.
"Ap... ada, ada apa ini?" Yasmin tergagap. Panik, Yasmin merasa ini adalah kabar paling buruk sepanjang hidupnya.
__ADS_1
"Kau pingsan, istirahatlah. Apa perlu ke rumah sakit?" Radhi buru-buru bersuara. Tapi sayangnya, Yasmin menggeleng. "Aksa akan bermalam disini malam ini menjagamu, nak. Jangan risau. Semua masalah teratasi."
Yasmin berusaha bangkit, mencerna kalimat tuan besar Praja Bekti yang terdengar seperti sebuah candaan. Yasmin pun rasanya ingin membantah, tapi tak mungkin mengingat Radhi bukanlah orang sembarangan.
"Kenapa Aksa harus tidur disini?" Tanya Yasmin sambil menatap tajam ibunya.
"Aksa adalah suamimu sekarang, nak. Jangan cemas. Bayimu akan aman selagi Aksa tak jauh darimu." Jelita menyampaikan.
Yasmin masih tak mengerti kemana arah pembicaraan para orang tua yang terasa ngawur ini.
"Apa maksudnya ini? Suami? Bayi? Jelaskan ada apa, Bu? Kenapa Aksa harus menginap disini?"
"Kau hamil anak Aksa. sudah sepatutnya Aksa menikahimu dan bertanggung jawab. sekarang, jadi jangan lagi kepikiran karna mulai sekarang kau sudah terlindungi oleh Aksa."
"Jad... jadi, jadi ini bukan mimpi?" Yasmin dikira hamil, padahal Yasmin tidak hamil dan sama sekali tidak pernah melakukan hal tak lazim bersama Aksa.
"Ya. Aku suamimu sekarang." Dan yasmin merasa dirinya benar-benar ketiban sial.
**
__ADS_1