Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Bayangan masa lalu


__ADS_3

"Siapa yang berkata bahwa aku tak menyukaimu? Dengar Hanum, Kau akan menikah denganku dan akan segera menjadi istriku.


Camkan itu baik-baik dan aku tak suka penolakan!!".


~Part sebelumnya~


"Tapi aku berhak memutuskan bagaimana jalan hidupku, tuan muda.


Kau tak berhak mengaturku semaumu, meski aku menaruh rasaku untukmu."


Jawab Hanum cepat dengan suara tenang.


Kara terkesiap mendengar jawaban Hanum.


"Kau berani menolak lamaran dari seorang komisaris seperti papaku?


Huh, Kau pikir siapa dirimu?".


Kara mulai tersulut emosinya.


Terbukti dari nada suaranya yang dingin.


Seketika Hanum meremang di buatnya.


Berbeda dengan Jelita dan Radhi yang menikmati pemandangan di depannya ini.


Kara tentu saja mendapat lawan yang seimbang karna Hanum juga adalah sosok yang demikian keras kepala.


"Jangan pernah menolakku, Hanum.


Jangan pernah menggores egoku hingga melukai harga diriku.


Jadilah gadis manis yang manis dan penurut bila kau ingin selamat.".


Beruntung Hanum segera dapat menguasai keadaan dengan bersikap biasa saja.


Kara semakin di buat penasaran terhadap sosok Hanum ini.


Ia seperti Pria yang keranjingan cinta karna cintanya tak kunjung mendapatkan penerimaan.


"Akan aku diskusikan dulu dengan ibuku.Biar bagaimanapun, saat ini aku masih menjadi milik ibuku, tuan.


Maaf bila aku harus berpikir dulu sebelum benar-benar menerima ataupun menolak.


Segala sesuatunya, bukankah perlu pertimbangan, bukan?".


Ungkap Hanum bijak.


Bukan hanya Kara yang di buat penasaran, bahkan...... Radhi dan istrinya pun demikian.


Wanita seperti apa yang ada di hadapan mereka ini?


Mengapa tindak tanduknya tak dapat di raba.


Hanum Kinara.......


Bukan gadis biasa.


Dia gadis istimewa yang Radhi yakini bisa menjadi pendamping hidup Kara dan bisa mengimbangi sifat arogan yang di miliki Kara.


Pada akhirnya, Kara tak bisa berbuat apa-apa.


Ia harus mengalah tanpa negosiasi lagi.


Geram?


Jangan tanyakan lagi, Bagi pria berkarakter hedonis seperti kara, Kara merasa terinjak harga dirinya.


Selama ini........


Selama ini tak pernah ada sekalipun wanita yang menolaknya, apalagi berpikir-pikir dulu.


Namun, Yang di ungkapkan Hanum adalah sebuah kebenaran.


Segala sesuatunya perlu di pertimbangkan.


"Baiklah, Hanum. Aku tak akan memaksamu.


Segala keputusan berada di tanganmu.


Aku menunggu kabar baik darimu, nanti.

__ADS_1


Dua Minggu.


Ku beri waktu kau dua Minggu untuk berfikir.


Selama waktu dua Minggu itu, Ku harap kalian saling berkomunikasi dan saling mengenal.


Ku harap, Kalian bisa berhubungan baik".


Radhi bersuara dengan nada pelan, namun penuh wibawa.


Tak di ragukan lagi, Radhi memang sosok yang pantas untuk menjadi panutan.


"Terima kasih atas kebijaksanaan anda, tuan.


Aku berjanji akan memanfaatkan waktu dua Minggu ini dengan baik".


Hanum menjawab dengan menyertakan senyum lembutnya.


"Kara, Ku harap sering-seringlah bertemu dan saling dekat dengan Hanum.


Buang sifat egois dan keras kepalamu itu.


Jangan bertindak di luar batas dan jadilah pria yang patut ku banggakan".


Jelita berganti menatap putranya.


Sejenak Hanum terpesona akan sosok Jelita.


**********


Di tempat yang berbeda, Dita menyibukkan dirinya dengan bertumpuk-tumpuk berkas di mejanya.


Ia tak bisa membiarkan pikirannya lepas dari pikiran tentang berbagai berkas-berkas yang berserakan.


Chandra terkadang stres sendiri menyaksikan anak angkatnya itu se terpuruk ini.


Hingga perusahannya yang bergerak di bidang perhotelan berkembang semakin signifikan.


Semua berkat Kerja kerasnya dan Dita selama sebulan ini.


Pernah suatu malam, ia mendapati putri asuhnya itu masih berada di kantor menekuri laptopnya, padahal jam telah menunjukkan angka 23.14 malam.


"Jangan terlalu menyiksa dirimu, Dita.


Hari sudah mulai sore. Mari pulang dengan papa".


Chandra tetiba muncul di ambang pintu tanpa mengetuk pintu.


"Pulanglah dulu, pa. Aku akan sedikit lembut kali ini".


"Papa tegaskan sekali lagi padamu, Dita.


Ayo pulang.


Pukul tujuh malam nanti, Papa akan kedatangan tamu.


Ada beberapa rencana yang akan papa atur bersamamu".


Ungkap Chandra.


Sebersit rencana telah di susun matang oleh Chandra dan istrinya.


Mereka tak ingin Dita terlalu lama merasakan siksaan atas perasaannya pada Kara.


Biarlah, sebagai orang tua angkat, Chandra dan Dewi telah menganggap Dita sebagai putrinya sendiri.


Maka, mereka tak bisa melihat keterpurukan Dita lebih dalam lagi.


Dita juga berhak bahagia kan?


"Baiklah, pa. Dita akan berkemas".


Hingga mereka tiba di rumah saat hari telah berganti petang.


Chandra segera memerintahkan Dita untuk membersihkan diri dan berdandan untuk menyambut tamu.


Tamu yang Chandra undang untuk makan malam di rumahnya.


Chandra dan Dewi demikian berseri-seri di wajah.


saat bel berbunyi, Dewi tak mengijinkan pelayan membuka pintu, melainkan ia dan Chandra sendiri yang menyambut.

__ADS_1


"Selamat malam tuan dan nyonya Wira".


Chandra membungkukkan tubuh atasnya sekilas. Begitu juga dengan Dewi.


Senyum tak luput menghiasi bibir mereka.


"Selamat malam tuan dan nyonya Adi Prama."


Dan Chandra serta Merta mempersilahkan mereka masuk.


Di belakang mereka, seorang pria bertubuh tegap dengan senyum ramah mengekor.


Memberi salam terhadap Chandra selayaknya perlakuan tamu terhadap tuan rumah.


"Mari silahkan duduk.


Wah.... rupanya putra anda tampan sekali, tuan Wira".


Puji Chandra seketika saat menatap wajah ramah putra bungsu keluarga Wira.


"Ah, tentu saja tampan. Bukankah aku sebagai ayahnya juga tampan?".


Tuan Wira berkelakar. Ia mengimbangi pujian yang Chandra lontarkan.


"Anda dan istri anda juga sangat baik dan lemah lembut, sudah tentu......


Putri anda juga demikian, bukan begitu?".


"Ya, tentu saja.


Dan mengalirlah obrolan seputar bisnis dan kinerja para karyawan.


Obrolan mereka nampak berwarna tatkala Putra tuan Wira juga ikut mengimbangi topik yang mereka angkat.


Suasana serasa lebih hidup dan menyenangkan.


Hingga Chandra meminta Dewi memanggil Dita untuk segera turun, Dewi pun bergegas memenuhi titah sang suami.


Setibanya Dewi dan Dita ke bawah, Dita mengamati satu persatu wajah yang menjadi tamu Chandra.


Seketika matanya terpaku saat mendapati sosok pria masa lalunya yang ia benci hingga sedemikian rupa.


"Alex.......". Dita refleks menyebut nama Alex tanpa di perkenalkan.


Begitu juga dengan Alex yang tak kalah terkejut.


Jantungnya hampir copot saat tau bahwa gadis yang hendak di jodohkan dengannya adalah seseorang yang pernah melayani nafsu bejadnya di masa lalu.


Gadis?


Oh bukan......


Bahkan Dita sudah bukan lagi seorang gadis, karna Alex pernah menikmati kegadisannya kala itu.


Oh...


Alex yang dulu adalah Alex yang brengsek.


Entah Alex yang sekarang.


"Dita......".


Alex menggumamkan nama Dita lirih.


Jantung Dita mendadak berpacu dengan sangat cepat. Amarahnya hendak meledak sejak ia menatap Alex di rumahnya.


"Kalian saling mengenal?".


Tanya Chandra dengan penasaran.


Begitu juga dengan kedua orang tua Alex yang tak kalah penasaran.


"Apa maksudmu papa mendatangkan Alex ke rumah ini, pa?".


Tanya Dita lirih, suaranya berbisik menyerupai suara desahan angin.


"Alex....... Dia adalah calon suamimu. Pria yang hendak papa jodohkan denganmu".


Nafas Dita seolah berhenti saat itu juga.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2