
Di sebuah ruangan dalam asrama, Kini duduklah Inora dan Dion. Sepasang suami istri itu tengah duduk berdampingan, menunggu seseorang yang mungkin dua atau tiga tahun baru mereka sambangi.
Sosok tampan dengan kaos olah raga dan celana training, masuk dan menutup pintu. Dialah, sosok replika dari Alex, dengan rambut, gesture serta pembawaan wajah yang sangat menyerupai Alex. Sekali pandang saja, bisa dipastikan bahwa ia adalah keturunan Alex.
Marcel Dinata......
Bayi yang Inora lahirkan tanpa suami, dan juga tanpa keluarga. Betapa nelangsanya Inora kala itu. Beruntung, Dion dengan tulusnya menerima Inora kala itu.
"Marcel?"
"Ibu....." Lelaki gagah itu memeluk ibunya dengan penuh rasa sayang. Jauh jarak antara tinggal ibunya dengan dirinya, membuat Marcel kesepian. Kedatangan Inora adalah penyemangat untuknya. Selain itu, Marcel juga sangat ingin lepas dan keluar dari asrama ini. Usianya sudah dua puluh tahun, Ia tak sabar untuk pergi ke dunia luar dan mulai bebas.
"Sayang, kau sudah makan? Ya Tuhan, putraku sudah semakin dewasa." Inora meleraikan pelukannya. Di tatapnya lama si Marcel. Aksen wajahnya demikian mirip dengan Alex, masih tidak berubah.
"Sudah, bu. Ayah, apa kabar?"
"Baik, sayang. Kau semakin besar sekarang, bahkan tinggi kita benar-benar sudah sama." Kini, ganti Dion yang memeluk tubuh atletis Marcel.
"Duduklah, ibu, ayah. Aku akan keluar dari sini satu bulan lagi. Apa ayah dan ibu akan menjemputku, nanti?"
Kini, ketiganya duduk di dalam ruang pertemuan anak dan orang tua. Suasana juga cukup nyaman.
__ADS_1
"Nanti pasti ayah akan menjemputmu. Oh ya, ayah kemari hanya ingin memberi tahumu, kau memiliki adik yang berusia delapan belas tahun, Tah harap kau tak akan terkejut nanti."
Lelaki dengan kulit putih bersih itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Adik?"
"Ya, adik. Dia sangat cantik dan ayah harap, kalian bisa akur dan tak pernah berselisih."
Inora hanya diam mengamati. Wanita itu lebih memilih untuk mengusap lembut wajah putranya yang kian hari kian tampan nan dewasa.
"Dia.... siapa namanya?"
Meski tak mampu menerima sepenuhnya, namun Marcel yang selalu nurut pada orang tua, kini hanya bisa mengangguk. Dalam hati Marcel mensugesti dirinya sendiri, bahwa Yasmin adalah wanita baik yang sangat menunggu hadirnya.
"Mengapa ibu dan ayah baru menceritakan saat kamu sudah sama-sama besar?" tanya Marcel lagi.
"Nanti, ibu dan ayah akan menceritakannya jika kau sudah keluar. Satu bulan lagi, dan Itu tak akan lama, kan?" Dion mencoba untuk menenangkan.
"Ya ya ya, baiklah. Sekarang, apa yang ibu bawakan untuk Marcel?"
Marcel melihat buah-buahan segar yang menjadi kesukaannya.
__ADS_1
"Makanlah ini. Kau tahu, ibu sengaja menyembunyikan adikmu dan memisahkan kalian berdua, semata untuk memberi kalian kejutan."
"Bercanda ibu tak lucu. Ibu juga tak pernah memperkenalkan adik padaku."
"Nanti, kau pasti akan mengenalnya."
Dalam hati yang terdalam, kini Inora meminta pada Tuhan agar Marcel tak dipertemukan dengan Alex. mengingat nama dan wajah itu, membuat Inora kembali menelan sakitnya masa lalu.
"Marcel, nanti jika kau pulang ke ibukota bersama ibu dan ayah, bolehkah jika.... ibu meminta sesuatu padamu?" Inora berucap lirih, setelah mereka bercakap sejak tadi.
"Katakan saja, Bu."
"Adikmu sudah menikah, dan sekarang, ibu ingin kau tak boleh terlalu dekat dengan keluarga Praja Bekti, keluarga suami adikmu."
"Ada apa, Bu? Mengapa bisa begitu?" Marcel tak mengerti. Sejujurnya, Marcel adalah lelaki hebat dengan IQ tinggi. Ia paling tidak bisa jika harus diam, sedang ada sesuatu yang perlu ia ketahui.
"Nanti, ayah yang akan menjelaskan. Sekarang, makan lah saja dulu."
Kini Dion menatap tajam Inora seolah berkata. 'Mari kita saling melepas rindu, Tapi jangan pernah ungkit masa lalu. Bukan saat yang tepat mengingat Marcel belum pulang bersama kita.'
**
__ADS_1