Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Menemui Yasmin


__ADS_3

Pagi ini, Yasmin melongokkan kepalanya keana kemari untuk mencari keberadaan Aksa. Gadis belia itu khawatir dengan kondisi Aksa yang katanya baru bebas dari tawanan musuh keluarganya. Semalam, Yasmin dihubungi langsung secara pribadi oleh Aksa, katanya akan telah tiba di rumah besar paginya, dan hari ini aksa menuju ke sekolah.


Yasmin sendiri tidak sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini, hingga membuatnya dengan senang hati menunggu kedatangan Aksa yang sering kali membuatnya jengkel setengah mati. Andai kesadaran Yasmin kembali, gadis itu mana mau mencari Aksa, si lelaki kejam di matanya. Sebuah kekhawatiran dan rasa ingin tahu yang begitu besar lah yang membuat Yasmin ingin segera menemui Aksa sepagi ini.


"Kau mencari diriku, sweetheart?" Aksa tiba-tiba muncul dari koridor belakang, membuat Yasmin berjingkat kaget dan nyaris berteriak, seperti seseorang yang sedang ketahuan menguntit.


"Kau... bisa tidak, jika tidak mengagetkan orang lain?" sewot Yasmin sambil mendelik tajam pada Azka.


"Aku tidak bisa. Itu sudah menjadi kodrat dan pembawaanku. Ayo, ikut aku dan temani aku sarapan. Aku akan mentraktirmu di kantin, aku rasa masih cukup waktu bila hanya untuk sarapan." Aksa melirik sekilas jam tangan mahal berharga ratusan juta, yang bertengger manis di pergelangan tangan kiri Aksa.


"Aku sudah sarapan dan aku tidak mau menemanimu." ungkap Yasmin acuh, "Hanya sarapan, kenapa harus ditemani? Memangnya bayi?"


"Jadi kau melanggar kesepakatan? Aku memintamu untuk menjadi kekasih bayaran, agar melindungiku dadi gadis-gadis yang memujaku di sekitar sekolah ini."


"Hei hei hei.... kau ini laki-laki, kau memiliki kekuatan dan otot-otot mu kuat. Kenapa harus meminta bantuan wanita?"


"Diam atau aku akan mencium bibirmu yang cerewet itu. Kau tau, aku bukan lelaki yang suka bermain-main dengan ucapku." Yasmin gentar ketika mendengar kalimat Aksa. Memang benar, Aksa memang selalu berkuasa di manapun ia berada.


Tak ada kalimat apapun lagi yang bisa Yasmin katakan untuk membantah. Yasmin sadar, ia tak mungkin bisa menentang yang mulia paduka raja muda Praja Bekti.


"Kau harus ingat, setibanya kita di dalam.kantin, aku harap kau masih bisa melindungi aku dari gadis-gadis gatal yang menginginkanku. Kau adalah gadis tergalak sepanjang hidupku yang aku temui. Itulah sebabnya aku lebih memilihmu untuk aku jadikan kekasihku."

__ADS_1


Yasmin masih saja setia untuk diam tak menjawab kalimat Aksa. Sehingga ketika mereka tiba di dalam kantin, seperti biasa, Aksa selalu menjadi pusat perhatian para gadis-gadis teman sekolahnya.


"Yasmin, bisakah kau menyingkir dan jangan menghalangi pemandangan indah pagi ini. Kau benar-benar payah dan tidak bisa mengerti." Seloroh seorang gadis yang memiliki rambut sebahu dan berkulit putih bak pualam. Sayangnya, kasar kecantikannya dengan Yasmin masih tetap menang Yasmin tentunya.


"Kau mau mati, ya? Kau mau memandang kekasihku?" Semua mata gadis-gadis disana tercengang atas pengakuan Yasmin. Sebelumnya, mereka memang mendengar kabar desas-desus tentang kedekatan Yasmin dengan Aksa, namun mereka tak percaya karena Aksa adalah langit bagi Yasmin yang terikat di bumi. Aksa terlalu jauh dan tak mungkin sejajar dengan Yasmin.


"Hei. Kau bercanda, ya? Apa buktinya kalau tuan muda Aksa itu kekasihmu?" Yasmin membelalakkan mata, mana mungkin ada seseorang yang bertanya tentang kebenaran itu, sedang status kekasih yang Yasmin sandang, itu hanya status kekasih bohongan.


"Kalian mau bukti apa?" Yasmin bertanya lantang, namun belum sempat ada gadis lain yang bertanya kembali, Aksa secara spontan mengecup pipi kiri Yasmin.


Jangan tanya bagaimana reaksi tubuh Yasmin saat ini. wanita itu benar-benar terkejut dan sekujur tubuhnya kaku, seolah dialiri tegangan listrik berkekuatan jutaan volt. Ya tuhan, kecupan Aksa benar-benar memberikan efek dahsyat bagi reaksi asing dalam dada Yasmin.


"Aku tak lagi berselera untuk melanjutkan makan, sweetheart, ayo keluar saja dan kita habiskan lagi di kelas dengan berbincang." Aksa berkata sedikit keras, membuat semua gadis-gadis mendengarnya dan benar-benar percaya, bahwa Aksa memang memiliki kekasih bernama Yasmin.


"Kau kenapa memucat, Yasmin? Apa setiap kau selesai marah, kau selalu pucat seperti ini?" Yasmin hanya menggeleng pelan, sebelum ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sial. Dekat dengan Aksa belakangan membuat kesehatan jantung Yasmin menurun.


"Apa aku perlu memberi tahu bibi Inora saja?"


"Berhentilah bicara, Aksa. Lain kali, kau tidak boleh melewati batasanmu, aku tak suka kau menciumku sesuka hatimu, asal kau tau saja."


"Mengapa begitu? Banyak gadis lain yang rela mengantri untuk dekat denganku, kenapa kau justru enggan berkontak fisik denganku?"

__ADS_1


"Karena aku bukan salah satu jenis wanita yang semurah mereka." Yasmin bangkit, membawa tasnya kembali yang tadi diletakkannya di meja Aksa. Namun sejurus kemudian, Yasmin membalikkan badan dan bicara lagi dengan Aksa. "Aku menjadi kekasih bohonganmu, semata karena kau meminta bantuanku untuk melindungi mu dari mereka. Tapi jika kau melewati batasanmu, aku pastikan aku akan berhenti jadi kekasih bohonganmu dan aku tak peduli jika harus dikeluarkan dari sekolah ini."


Yasmin menuju mejanya, membiarkan Aksa menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hari ini Yasmin terlihat sangat aneh, entah mengapa aku merasa tak nyaman dengan penolakan Yasmin. Aksa merasa bahwa Yasmin memandangnya sebagai lelaki yang suka semaunya sendiri.


"Baiklah, aku mint maaf, Yasmin." Beruntung kelas masih sepi dan hanya ada mereka berdua. "Aku janji aku tak akan mengulanginya lagi, tapi berjanjilah untuk tetap menjadi kekasihku."


"Kekasih bohonganmu, dan juga hanya satu bulan, sesuai dengan rentang waktu yang sudah kau inginkan."


"Baiklah, jika itu maumu. Nanti sepulang sekolah, kau harus ikut ke rumahku dan ajari aku untuk menyelesaikan tugas sekolah."


"Hei, aku sibuk dan harus mengerjakan tugasku sendiri. aku hanya kekasih bohonganmu, bukan guru lesmu."


"Biar kita semakin dekat dan aku bisa mengenalmu lebih jauh. Aku rasa, tak ada salahnya kalau kita saling dekat, bukan?" Aksa berlalu pergi, membiarkan Yasmin dilanda banyak pertanyaan seorang diri.


Apa maksud Aksa tadi? Lebih dekat? Yasmin dibuat bingung.


Sedang Aksa, lelaki itu semakin penasaran dan sangat ingin tahu tentang bagaimana Yasmin. Bila pada umumnya banyak gadis yang mengejar Aksa, namun dengan Yasmin, gadis itu seolah sama sekali anti akan sentuhan maupun ciuman Aksa.


Sepertinya, Aksa ingin mendekati Yasmin lebih dulu sebelum memutuskan untuk menjadikan Yasmin sebagai kekasih sungguhan.


Astagah, ada apa dengan otak Aksa saat ini? Aksa tak habis pikir dengan keinginannya yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


**


__ADS_2