
"Aku juga merindukanmu, bos kara".
~part sebelumnya~
Kebahagiaan mengaliri tiap sudut hati Kara yang membentuk kisi-kisi penuh warna.
Namun kara tetaplah kara yang selalu saja setia dengan egonya yang tinggi.
Kara enggan mengakui......
Kara enggan merendahkan nilainya......
Kara enggan terkesan mengejar wanita......
Kara enggan menampakkan kerinduan yang sebenarnya...... ia rasakan saat empat hari tanpa bayangan Hanum.
"Ada apa kau meneleponku, Hanum?"
Nada dingin Kara mulai terdengar oleh Hanum.
Di seberang sana, Hanum nampak malu-malu.
Di sampingnya, sang ibu memperhatikan putrinya nampak seperti anak SMA yang baru jatuh cinta.
"Aku..... emmm ini, ibuku ingin bicara padamu, mas.".
Hening beberapa detik, hingga Kara menolak permintaan Hanum.
"Jam berapa sekarang, Hanum?
Tidakkah kau tau bahwa aku ini bos dan sibuk saat pagi-pagi seperti ini?".
Alma melotot.
Bagaimana mungkin bos nya ini menolak bicara pada calon mertua?
Batin Alma semakin liar mengumpat.
"Oh, maaf bos. Baiklah......
Ku rasa malam nanti aku menunggu kau menghubungiku lebih dulu.
Berikan nomor ponselmu nanti. Pintalah nomorku pada Alma bila perlu".
"Hmmm."
Panggilan terputus.
Kara menghembuskan nafas kasar.
"Mengapa menolak keinginan calon mertua, bos?".
Tingkah Alma kembali menyebalkan kali ini.
"Aku....".
"Aku kenapa, bos?
"Aku gugup Alma. Aku tak tau harus.... eemmm maksudku, aku tak mengerti dengan apa yang harus aku cakapkan dengan ibu nya Hanum".
Alma menyeringai.
"Ibunya Hanum, bukankah calon mertua, bos?".
"Entah. Aku tak menganggapnya begitu."
Kara kemudian mengalihkan fokusnya pada kertas-kertas yang berserakan di mejanya.
"Keluarlah, Alma. Kau membuyarkan konsentrasi ku".
"Baiklah, bos".
Sedang jauh di seberang sana, Hanum tersenyum-senyum sendiri. Pipinya merona, senyumnya demikian lepas mengingat Kara tiba-tiba mengucap rindu yang entah dalam atau tidak.
Bukankah dulu Azkara sangat lah tak menyukai kehadirannya?
Hanum merasakan kebahagiaan nya membuncah seketika.
'Bila ini mimpi.....
Maka biarlah aku tetap merebah dan jangan kembalikan kesadaran ku tuhan.
Mendengar Suaranya yang menggetarkan nurani, mengucap kerinduan, membuatku tak ingin waktu terus bangkit dan berlalu begitu saja.
Semoga dia jodohku.
Semoga'
Dan seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya, merasakan perbedaan yang terjadi pada putrinya.
"Kau sungguh mencintainya, num?".
__ADS_1
Sang ibu bertanya dengan tangan kanannya terulur mengusap pelan puncak kepal putrinya.
Tanpa sadar, waktu terus bergulir.
Tanpa sadar, putrinya ini telah dewasa.
Tanpa sadar, putrinya ini akan pergi meninggalkannya dan mengikuti suaminya.
"Sangat Bu. Sangat dan sangat.
Tak ada pria yang mampu menggetarkan hatiku seperti saat aku menatap mata tajamnya.
Matanya demikian tajam, dan aku masih ingat......
Dia..... emmm entahlah.
Hanum bingung harus bagaimana."
"Putri ibu sudah besar rupanya".
Dan senyum manis itu tersungging di bibir Hanum.
"Bu, Aku merindukan kak callista.
Apa kakak akan pulang nanti bila tuan komisaris datang untuk melamar ku pada ibu?".
Kabut tiba-tiba menebak pada mata indah Hanum.
"Jangan khawatir.
Kakakmu pasti akan meluangkan waktunya.
Dia sangat menyayangimu".
"Aku akan segera menikah, Bu. Dan akan memiliki suami yang baik".
Wajah sang ibu menggelap tiba-tiba. Tangannya meraih putrinya untuk ia dekap dengan hangat.
Ah, andai suaminya masih hidup, tentu kebahagiaan ini akan terasa sangat sempurna.
Masa lalu dan kenangan tentang suaminya tetiba berkelebat dalam bayangannya.
Dulu......
Suaminya telah tiada saat Hanum masih bayi.
Dan callista hanya sebentar merasakan kasih sayang ayah kandungnya.
Dan kini, putrinya ini akan menikah dengan pria konglomerat. Mungkinkah nasib buruk juga akan menimpa putrinya?
Tidak.
Sebagai ibu, dirinya tak boleh berburuk sangka.
Tidak semua orang kaya adalah orang yang jahat, bukan?
sebagai seorang ibu, Ia akan melihat dulu, seperti apa sosok yang telah berhasil menggenggam hati putrinya secara utuh.
Putrinya pasti akan jatuh dalam pelukan pria yang tepat.
Ia yakin itu.
Yah, semoga saja.
"Dengarkan ibu, Hanum.
Menikah dengan orang kaya, tak se-menyenangkan yang terlihat.
Akan ada banyak rintangan terlebih lagi suamimu adalah pria tampan seperti yang fotonya kau tunjukkan pada ibu kemarin.
Akan tetapi ingatlah .........
Kau harus lebih kuat nanti. Mentalnya harus sekuat baja dan fisikmu harus setegar karang.
Ibu tak mau masa lalu ibu menimpamu nanti".
Hanum mendadak murung.
Masa lalu menyakitkan yang seringkali ibunya dan kakaknya ceritakan.
Masa lalu yang tak boleh Hanum korek.
Hingga kini, Hanum tak tau bila rupanya, ayahnya telah mati di tangan keluarganya sendiri hanya karna sengketa harta.
Hanya ibunya dan kakaknya lah yang tau cerita masa lalu yang menyakitkan itu.
"Sebenarnya, bila ayah orang kata, mengapa ibu lebih memilih hidup miskin seperti ini, Bu?
Bukankah mendiang ayah memiliki segalanya?
Begitu yang kakak bilang".
__ADS_1
"Kau tak tau, nak. Ibu hanya tak mau kalian....
Kau dak kakakmu harus berakhir ditangan keluarga ayahmu.
Mereka golongan orang yang tamak dan serakah.
Sudah. Jangan pikirkan apapun lagi.
Setelah menikah nanti, ibu berjanji akan membuka tabir ini padamu".
Hanum terkesiap.
********
"Sayang, Aku merasakan hal yang berbeda terhadap Hanum.
Apa kau tak merasakan hal yang sama?".
Jelita tengah bergelut nyaman di dalam selimut setelah percintaannya siang ini bersama suaminy,
a, Radhi.
Oh ya tuhan, bahkan hari masih siang.
"Instingmu masih setajam dulu rupanya".
Radhi terkekeh.
Ia sengaja menyembunyikan sesuatu pada istrinya untuk sebuah kejutan nantinya.
"Ya. Bukan hanya Hanum adalah gadis biasa dengan pendar mata tak sederhana.
Tapi..... aku melihat sosok orang lain dalam masa lalu kita yang ada pada diri Hanum.
Benar kah kau telah mengorek informasi tentang anak itu?".
Jelita jelas tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi.
Berbagai tanya itu mulai bertebaran di otaknya,
Bak dedaunan di musim gugur yang mengisi seluruh sudut kota.
"Ya. Dan aku telah mengorek informasi itu hingga ke akar-akar nya.
Tadinya, ku fikir kau akan biasa saja dan tak terusik akan hal itu.
Rupanya aku salah. Istriku ini cukup peka, rupanya.".
"Katakan saja yang sesungguhnya. jangan bertele-tele.".
Jelita mengerucutkan bibirnya sebal.
Radhi terlampau gemas bila istrinya bertingkah demikian.
"Baiklah. kau akan menceritakan segalanya.
Tapi, berikan aku surgamu sekali lagi, maka aku akan menjawab dan menunjukkan fakta yang sesungguhnya".
Kening jelita berkerut dalam.
"Sesungguhnya?
Oh tidak. Ceritakan atau aku tak akan memberimu surgaku selama sebulan ke depan".
Kini......
Radhi lah yang berganti mengerucutkan bibirnya.
"Jangankan sebulan......
Seminggu pun aku tak yakin bila aku masih hidup".
"Katakan saja yang sejujurnya dan aku akan memberikan surga untukmu sebanyak yang kau mau".
Ungkap Jelita serius dengan menatap dalam netra mata suaminya.
Menyelami sebuah kesungguhan tanpa dasar.
"Kau yakin kau tak akan terkejut?".
Jelita mengangguk mantap.
"Kaatakan saja. Aku tak suka di bohongi".
"Hanum..... Adalah putri bungsu Darrel.
Kau ingat.....?
Darrel yang menolong kita merebut kembali Arlan dan Ariana dari tangan adikku, Chandra.".
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1