
"Bila tak kudapat kan Jelita Ayudya, aku pastikan keluarga Praja Bekti akan mengendus tanah kematian mu dan menghias peti kematian mu, dengan karangan bunga tujuh rupa.".
Hanya itu yang John ucapkan, sebelum kemudian ia berbalik pergi. Tanpa John sadari, Alex mengekor di belakangnya dan berusaha mencari celah membuka pintu masuk, untuk Radhi yang sudah siap menjemput Aksa.
Mata Aksa membola dengan sempurna, ketika ia melihat om Alex nya memberinya kode tentang kehadirannya. Aksa tersenyum simpul. Tidak ada lagi ketakutan di hati Aksa. Ia berjanji dalam hati, jika ia bebas nanti, Aksa akan turun langsung ke jalanan dan membagikan banyak makanan dalam kotak untuk para kaum marginal. Itu janjinya pada diri sendiri.
Alex dan Daniel membaur bersama para pengawal milik John yang tak juga sadar akan kehadiran mereka. Beruntung para pengawal John semua memakai kacamata hitam. Jadi Alex tak perlu menutupi kebutaan pada sebelah matanya.
"Mereka semua badan saja yang kekar. Tapi otaknya tolol semua".
Bisik Daniel yang saat ini telah ikut berjaga di depan pintu ruang penyekapan Aksa.
"Sssttttt... jangan keras-keras."
Alex membalas bisikan kakaknya tak kalah lirih.
"Apa kau sudah mendapat arah untuk membuka celah untuk tuan Radhi masuk?"
"Ya. Aku rasa lewat atap".
"Apa aku harus menginterupsi tuan Radhi sekarang?"
"Ya. Tapi katakan pada ayah mertua bahwa jangan terlalu terburu-buru atau rencana kita semula akan hancur. Tepat di belakang Aksa di sekap, sepertinya ada pintu rahasia yang tidak kita ketahui tempat apa itu".
"Baiklah. Aku akan mengirim pesan pada tuan Radhi pelan-pelan. Berjaga lah di sini".
Alex mengangguk paham. Sejujurnya, ia begitu khawatir terhadap keadaan Aksa di dalam. Wajah anak itu sudah pucat. sudah pasti Aksa di hajar lebih dulu secara membabi buta. Beruntung Jelita menempa anak itu dengan banyak pendidikan kekuatan otot.
Di luar, Aridha beberapa kali melepas anak panah yang satu persatu, terarah pada beberapa pengawal John. Wanita itu, meski usianya tak lagi muda, namun stamina nya luar biasa kuat. Ia benar-benar mampu menghindari tembakan-tembakan yang John layangkan.
"Seno, sepertinya sebentar lagi anak panahku akan segera habis. Apa yang harus aku lakukan? Perlukah aku menggunakan pistol?".
Ucap Aridha yang tentu saja, membuat Seno khawatir.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan. Aridha bagaimana pun adalah seorang wanita. Bagi Seno, tak seharusnya wanita terlibat dalam Medan pertempuran seperti ini, bukan? Meski Ridha bisa di katakan hebat dan sangat lihai dalam menghadapi banyak macam serangan, namun tetaplah Seno merasa seharusnya Aridha tak terlibat.
"Aku ada pistol cadangan, kak. Tenang saja.".
"Bagus. Aku suka dengan semua persiapanmu".
**
John berjalan mondar mandir di dalam ruangannya. Apa yang telah terjadi saat ini, rupanya tak berjalan sesuai dengan rencananya.
Awalnya, John pikir Radhi dan Jelita akan datang sendiri kemari. Dan saat itu tiba, ia bisa memperdaya Radhi dan membuatnya tak memiliki pilihan lain selain melepas Jelita untuknya.
Dari sekian banyak wanita malam berusia muda menggairahkan, namun rasa penasaran John sama sekali tak bisa terkalahkan ketika ia menginginkan Jelita, wanita yang tak bisa di katakan muda itu, namun masih memiliki tubuh dan aura layaknya orang yang berusia tiga puluhan. Pesona nya mematikan dan daya tariknya, luar biasa berbahaya.
Sayangnya, semua hal itu tidak seperti rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa hingga rapi.
Justru yang datang saat ini adalah anaknya. Sial. Sungguh sial.
Terpaksa, John merubah arah rencananya. Bagaimana pun caranya, Radhi harus datang kemari dan menyerahkan istri cantiknya itu padanya.
Mari kita lihat, seberapa kuat makhluk bermarga Praja Bekti itu mampu menghadapi ku.
Bisik batin John di iringi tawa licik.
John mengumpulkan semua pengawal yang berjaga di depan ruangannya. Lantas kemudian ia menginterupsi kan beberapa taktik untuk mengahalau serangan dari keluarga Praja Bekti. Tak lupa, ia juga memakai pengaman dada dan perut demi mengantisipasi hal-hal buruk.
Di belakang, Radhi sudah bersiap menunggu dua pengawalnya yang membobol atap dengan cara yang sangat rapi. Matanya tajam menatap sekeliling dan mengamati lingkungan sekitar dengan sangat intens. Meski keriput menyebar di sekitar matanya, namun tak mengurangi kadar ketajamannya.
"Sudah siap?".
Tanya Radhi pelan sambil menatap dua orang yang ada di samping kanan kirinya.
"Sudah tuan. Tuan muda sudah terlihat dan terikat di sebuah kursi tunggal".
__ADS_1
"Bagus. Aku akan naik lebih dulu dan ikuti aku dari belakang." Perintahnya yang sontak saja, membuat dua pengawalnya nya menunduk.
Radhi lantas menyelinap masuk melalui atap yang telah terbobol. Gerakannya sangat hati-hati agar tak menimbulkan bunyi yang bisa membuat pihak musik curiga.
Azka yang melihat opa nya datang, sama sekali memasang tatapan tak ramahnya. Radhi hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Apa kabarmu, jagoan?".
Tanya Radhi dengan tenang, meski jujur saja ia khawatir mendapati cucu kebanggaannya begitu kacau.
"Opa bilang bagaimana kabarku? Setelah tahu aku tak baik-baik saja dan mengalami banyak luka? Kenapa lama sekali?"
Sungut Gibran dengan wajah tak enak di lihat. Meski begitu, Radhi tersenyum simpul dan segera mengambil kawat kecil di saku celananya. Gerakannya gesit dan membuka gembok rantai yang mengikat kaki cucunya.
"Kau tau nama di balik pelaku penyerangan keluarga kita?".
"Tahu. Tentu saja tahu".
"Katakan siapa".
"John. Lelaki jelek bertubuh tambun dan kepala atasnya botak. Keriputnya banyak an kulitnya seperti pria latin, gosong dan menjijikkan."
"Baiklah ...... Opa akan cari tau apa motifnya".
"Tidak perlu".
"Mengapa?"
"Aku tau apa motifnya menyekapku.John ingin opa menyerahkan Oma Lita yang cerewet itu. Katakanlah, dia menyukai Oma".
"Apa?".
Radhi kaget bukan main.
__ADS_1
🍁🍁🍁