
Kara mengutuk kedua orang tuanya yang tidak tau malu. Dalam keadaan tegang seperti ini, bisa-bisa nya kedua orang tuanya ini membicarakan hal yang berbau ranjang.
"Ya Tuhan..... pulanglah, pa. Ku mohon jangan buat kericuhan di sini.
Istriku akan melahirkan dan kalian sempat-sempatnya........"
Tak sanggup melanjutkan kalimatnya, Kara beringsut ketakutan saat Hanum sekali lagi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Tubuhnya menggelinjang hebat saat kontraksinya tak bisa lagi Hanum tahan.
Sosok suami yang ada di sampingnya saat ini semakin memucat, apalagi ketika dokter menyatakan bahwa pembukaannya telah sempurna.
"Mari, nyonya.... ikuti arahan saya.
Tarik nafas dalam-dalam..... tahan dan dorong perlahan".
"Aaaaaarrrrggggh...... huuuh... hah....
arrrgghhhh...."
Saat Hanum mulai mengejan sesuai dengan arahan dokter, Kara seketika membuyarkan konsentrasi Hanum dan dokter.
"Sayang, bagaimana bila tempuh jalur secar saja? Ini.... kurasa ini masih belum terlambat"
"Ti-tidak, mas... Aku kuaaaat...
aaarrrggghhhhh.........."
Kara sungguh tak bisa melihat istrinya demikian tersiksa dalam fase ini.
"Baiklah, nyonya.... Kepalanya sudah terlihat, mohon untuk mengejan lebih kuat lagi."
"Kau bodoh atau apa?
Istriku kesakitan dan kau memaksanya untuk mengejan?
Mengapa tak kau sendiri saja?"
Dokter merengut takut saat Kara mengumpatnya dengan kasar.
"Mas... arrrgghhhh....."
"Iya, nyonya.... sedikit lagi.... tekan lebih kuat lagi, kepalnya sudah kelihatan".
Dengan mengabaikan cacian Kara, sang dokter lebih memilih untuk memberi semangat untuk Hanum.
Oek....oek....oek....
Suara tangisan bayi terdengar demikian melengking mengisi seisi sudut ruangan tersebut. Kara membeku di tempatnya ketika suara bayi yang di lahirkan Hanum itu, mengisi seluruh ruang dalam gendang telinganya.
"Mas... ba-bayi kita....."
Hanum terlihat letih dan terengah-engah. Maka, untuk mendeklarasikan kebahagiaan nya, Kara meremas pelan jemari istrinya.
"Terima kasih, sweet heart..... Aku mencintaimu".
Kening Hanum di kecup lama. Ada rasa hangat yang mengaliri tubuh Hanum seiring denyut syarafnya yang terasa lebih rileks.
__ADS_1
Cinta itu kian kuat.
Cinta itu kian nyata.
Cinta itu kian membesar setiap waktunya.
Bolehkan bila seandainya waktu di hentikan agar Hanum bisa tetap dalam zona ini?
"Selamat, tuan... nyonya.... bayi anda terlahir sempurna. Dia laki-laki".
Sang dokter segera memperlihatkan bayi mereka.
Dengan interupsi dokter, perawat segera membuka dress yang Hanum kenakan, menggantinya dengan kain rumah sakit dan membiarkan bagian dadanya terbuka.
Bayi montok nan sehat itu nampak bergerak-gerak sesuai nalurinya di atas dada Hanum, ketika sang dokter itu meletakkan bayi mereka di sana.
"Setiap bayi yang baru lahir perlu melakukan skin to skin contac bersama ibunya.".
Tanpa menunggu tanya, sang dokter memberinya penjelasan lebih dulu.
Kara menatap takjub pada bayinya yang berusaha mencari ****** susu ibunya seketika.
Ada perasaan haru yang luar biasa sulit di ungkapkan dengan bahasa.
Ada perasaan bahagia yang luar biasa sulit di ungkapkan dengan kalimat.
Ada perasaan cinta yang teramat besar yang kian ia simpan hanya untuk istrinya.
Ada perasaan istimewa yang luar biasa sulit di ungkapkan dengan kata-kata.
Ada perasaan bahagia yang luar biasa sulit untuk di eja dalam suka citanya kali ini.
Cukup menjelaskan pada dunia, bahwa dirinya telah merasakan menjadi seorang ayah.
Di pandanginya bayi mungil yang saat ini tengah mencecap ****** pay***ra Hanum.
"Mas, kau akan memberinya nama siapa?"
Hening sejenak.
Ditatapnya mata bayi yang baru bisa membuka matanya perlahan itu, menampakkan netra tajamnya yang mirip sekali seperti Radhi muda.
Mungkinkah, pembawaan yang ada dalam diri Radhi, berada dalam diri bayi ini?
Menghela nafas dalam-dalam,
Hingga Kara berkata dengan mantap dan suara tegas.
"Aksa Gavin Praja Bekti.
Elang putih yang selalu tenang air muka nya milik keluarga Praja Bekti.
Seperti papa.
Aksa sangat mirip dengan papa Radhi".
*****
__ADS_1
"Hei... biar aku yang menggendong keponakanku".
Entah untuk yang ke berapa kalinya, Callista saling berebut Aksa dengan Kara. Mereka lebih mirip seperti anak kecil yang berebut mainan. Hanum, Liana dan Jelita hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sikap konyol mereka.
"Astaga.... aku yang harus menggendongnya. Aku papanya!"
"Tapi aku bibinya".
"Ya, bibi tua yang tak laku-laku".
Seperti biasa, Kara selalu bertahan dengan mulut pedasnya.
"Jangan harap bisa menggendong Aksa bila kau masih saja menolak pria yang ku kirim untukmu".
"Aku bukan Siti Nurbaya dan aku tak mau di jodohkan".
Callista menatap sengit ke arah adik iparnya itu.
"Aku dan adikmu di jodohkan oleh mama, bila kau lupa itu.
Dan lihat.....
Aku bahagia sekarang".
Callista terhenyak.
Apa yang dikatakan Kara memang benar, selepas dari perjodohan, kebahagiaan perlahan datang dengan sendirinya, seiring intensitas kebersamaan yang semakin meningkat.
"Cinta perlahan hadir, Cinta perlahan melengkapi ruang yang hampa dalam hati kita.
Percayalah, Callista........
Cinta itu indah bila kau berusaha membuka hatimu.
Jangan jadikan masa lalu kelam dalam keluarga sebagai alasan untuk menjadikanmu perawan tua".
Entah mengapa, callista ingin sekali melempari kepala Kara dengan batu, andai Hanum adiknya tak begitu menggilai Kara.
Perawan tua?
Astaga......
Bukankah itu suatu kebenaran.
Beruntung nada bicara Kara kian melembut seketika.
"Baiklah.... pilihkan satu pria setia dan baik-baik dari kalangan bawah. Aku tak mau tau dan Carikan untuk bisa mengencaniku malam ini juga"
Semua orang yang menatap mereka, tak kuasa membelalakkan mata mendengar permintaan Callista kali ini.
ππ»π»π»π
Neng Tia ngetiknya sambil merem melekπ€π
Jangan lupa buat tetep dukung, semua.....
Ini si bos Kara ini, apa di lanjut aja ya bonus part-nya.....???
__ADS_1
Gimana menurut kalian?