
Sebuah pilihan, antara harus membiarkan, atau meninggalkan sang istri yang terpaksa dirawat jalan oleh dokter kejiwaan, Dion memilih untuk merawat jalan istrinya agar segera bisa sembuh seperti semula.
Seperti yang sudah-sudah, membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhan Inora. Dion tak tahu lagi harus bagaimana caranya menjaga mental istrinya yang lemah. Niat hati Dion ingin istrinya terbebas dari masa lalu yang menyakitkan, namun yang ada justru saya ini Inora telah kembali pada masa-masa dimana saat pertama kali ia mengandung hingga melahirkan Marcel, dalam kondisi depresi.
Miris sekali, bukan?
Ditatapnya Inora yang terlelap karena pengaruh suntikan dokter.
"Ayah, Bagaimana ceritanya ibu bisa tiba-tiba begini? Sebelumnya ibu sehat dan normal, baik-baik saja dan tidak depresi. Pasti ada hal yang membuat ibu begini." Yasmin yang cukup cerdas, terpaksa harus mencecar ayahnya agar bicara yang sejujurnya. Yasmin tahu, jika ayahnya tak bisa berbohong.
"Tidak apa-apa. Sekarang pulanglah, ikut suamimu. Ini sudah larut malam dan ibu juga sudah membaik. Sudah ada kakakmu, Marcel yang akan menemani ayah menunggu ibumu. Besok kau bisa kembali kemari." Perintah Dion lembut. Namun sayang, Yasmin tetaplah Yasmin yang keras kepala.
"Mana bisa begitu, ayah? Aku putri ibu. Tidak mau aku jika ibu sakit, dan aku meninggalkannya." Mata putri Dion itu berkaca-kaca.
"Yasmin, dengar. Ibumu tak apa-apa. Lagi pula juga kau sudah menjadi seorang istri sekarang. Kewajiban istri adalah melayani suami dan tak meninggalkannya. Ibu, adalah tanggung jawab ayah. Kau mengerti? Pulanglah, ayah tak akan melarang mu untuk datang lagi haru esok. Ayah harap kau mengerti, sayang." Dion bersikeras untuk menasihati putrinya.
"Ayah benar, adikku. Besok, sepulang sekolah, kau bisa datang kemari. Atau, kau mau kakak menjemputmu?" Kali ini Marcel menimpali.
"Aku bisa membujuk Aksa." Yasmin tetap tak mau menyerah.
"Jangan keras kepala, Yasmin. Ayah tak pernah marah padamu." Kalimat Dion, membuat nyali Yasmin menciut. Putri Inora itu lantas pamit dan segera pulang.
Ada banyak tanya yang Yasmin simpan dalam otaknya atas semua yang menimpa ibunya.
Baru saja Yasmin dan Aksa pergi dan segera kembali ke rumahnya, suara mobil kembali menderu. Marcel keluar, dan melihat siapa yang datang.
Dia adalah Aridha, datang seorang diri tanpa Alex. Hal ini membuat Marcel bertanya-tanya tentang Aridha yang sama sekali belum mengenal sosok Aridha.
"Ayah, ada seorang tamu perempuan. Dia datang seorang diri. Lihatlah. Mau di terima atau tidak?" Tanya Marcel pada Dion dengan suara lirih. Marcel takut jika suaranya di dengar oleh ibunya.
"Biar ayah lihat." Dion keluar, dB terkejut mendapati Aridha yang berada dibalik pintu, sambil mengetuk pintu. Yang membuat Dion kian terkejut, Aridha datang seorang diri.
__ADS_1
"Malam, nyonya Ridha. Anda, datang seorang diri?" Tanya Dion dengan raut wajah kebingungan. Bahkan Aridha masih menggunakan gaun yang sama seperti saat makan malam tadi.
"Maaf jika, malam-malam larut begini aku datang bertamu, tuan Dion. Hanya saja, aku rasa aku tak akan bisa tenang bila tak memastikan langsung kondisi nyonya Nora dan harus menunggu esok." Aridha menunduk dalam, membuat Dion dilanda rasa was-was karena sikap Aridha yang begini.
Bukankah biasanya keluarga Praja Bekti itu pantang menundukkan muka pada orang lain?
"Baiklah, silahkan masuk, nyonya. Aksa dan Yasmin baru saja pergi untuk kembali pulang ke kediaman tuan Radhi. Mari silahkan duduk." Ungkap Dion. "Oh ya, dimana tuan Alex?"
Aridha duduk diatas sofa berkualitas biasa milik Dion, tanpa merasa jijik seperti orang kaya lainnya.
"Alex sudah pulang dan aku menyuruhnya untuk istirahat. Langsung saja, aku kemari karena aku ingin mengetahui awal mulanya kesakitan nyonya Inora. Berhubung anda adalah orang yang menemani dan membersamai nyonya Nora hingga beberapa tahun, saya pikir saya perlu mencari tahu sendiri lewat anda apa yang terjadi sebelum kisah cintaku dan Alex terjalin."
Dion bingung. Lelaki itu berpikir kerasa karena di rumah ini ada Marcel. Bagaimana jika Marcel telah mengetahui semuanya? Dion tak ingin suatu saat ketika Inora sudah pulih dan kesadarannya kembali penuh, Inora justru menyalahkan Dion.
Bingung, antara harus bercerita, atau tidak.
"Apa yang membuat anda ragu, tuan Dion?" Tanya Aridha yang menangkap gurat keraguan pada Dion.
"Baiklah, nyonya. Izinkan aku untuk memanggil Marcel lebih dulu. Aku rasa Marcel harus tahu juga tentang siapa ayah biologisnya." Ungkap Dion yang diangguki oleh Aridha.
"Marcel, ikut ayah. Biarkan ibu istirahat. Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu dan tamu ayah." Ucap Dion tiba-tiba, yang mendapati Marcel tengah memandangi wajah teduh Inora.
"Baik, ayah." Jawab Marcel, sembari bangkit dan menutup pintu.
Saat tiba di ruang tamu rumah Dion yang tak begitu luas ini, Aridha menatap Marcel untuk pertama kalinya. Benar kata Aksa, bahwa Marcel adalah replika Alex. Sayang sekali, Aridha telah membuat pemuda di hadapannya ini harus dijauhkan dari ayahnya. Aridha merasa miris hatinya karena menjadi penyebab Alex tak bisa menyentuh darah dagingnya.
"Marcel, perkenalkan, dia adalah nyonya Aridha, istri tuan Alex paman Aksa, suami adikmu." Kening Marcel berkerut mendengar pernyataan ayahnya.
"Kemarin aku sempat bertemu dengan tuan Alex, katanya juga paman Aksa, saat aku menunggu Aksa yang tengah menjemput bekal makan siang." Tukas Marcel.
Kini berganti, Aridha lah yang mengerutkan keningnya. "Jadi, kau sudah bertemu dengan ayah... oh tidak, maksudku, Alex?" Tanya Ridha untuk memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Ya, tuan Alex yang wajahnya sangat mirip denganku, nyonya." Jawab Marcel.
Di tatapnya mata Marcel oleh Aridha. Mata teduh Marcel, juga penuh dengan kepolosan seta ketulusan, membuat Aridha melihat Alex pada diri Marcel. Mirip seperti tatapan Alex saat ia dan Alex masih menjalin kasih.
"Jangan panggil aku nyonya. Panggil aku mama." Ungkap Aridha, yang membuat Marcel dan juga Dion terkejut bukan main. Apa-apaan ini? Dion bingung. wanita di hadapannya ini sangat sulit ditebak.
"Mama?" Tanya Marcel untuk memastikan. Kini, Aridha mengangguk sambil menatap Marcel.
"Katakan saja, tuan Dion. Ceritakan semuanya." Desak Aridha yang sudah tak sabar untuk mendengar kisah Alex dan Inora sebelum dirinya hadir dalam hidup Alex.
Dion menghembuskan nafasnya panjang sebelum memulai ceritanya.
"Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, aku menemukan Nora muda tengah menangis penuh keputus asaan di bawah pohon taman tak jauh dari sini. Inora menyedihkan sekali, dengan penampilannya yang kacau balau. Bahkan, aku sebagai lelaki tak sanggup bila harus membiarkannya sendiri. Saat itulah, aku memutuskan tinggal dan menunggui Inora. Setelah berhasil membujuknya, Inora mengatakan bahwa ia tengah mengandung kala itu. Tentu saja aku terkejut."
Alex dan Aridha mendengar dengan seksama cerita Dion tanpa berniat menyela sedikit pun.
"Aku menolongnya, semata karena perikemanusiaan, tapi siapa sangka, perasaan di hati ini tumbuh dengan sangat mengerikan. Aku jatuh cinta pada wanita yang terluka itu, nyonya Ridha. Maka saat itu aku memutuskan untuk menikahinya saja, namun Nora menolak dengan dalih cintanya masih untuk Alex."
Marcel terkejut bukan main. Pikiran pemuda itu menyimpulkan bahwa ia adalah anak hasil di luar nikah. Jika ayah Dion menemukan Inora saat hamil, dan Inora mencintai Alex, apa jangan-jangan...... Marcel takut dengan persepsinya sendiri.
"Maka, aku setia menungguinya, hingga saat acara reuni itu tiba, hati Inora hancur lebur mendapati anda tengah bermesra ria dengan tuan Alex. Saat itu, aku sudah tahu jika Inora mengandung Alex. Dan kau Marcel," Alex beralih menatap Marcel yang terpaku. "Kau adalah putra seorang Alex Atmadja. Dialah ayah biologis dirimu. Sedang aku, aku adalah ayah yang membesarkanmu."
Marcel tersentak dari lamunannya. Hatinya seolah seperti di remas seketika.
"Jadi, jadi Marcel bukan putra ayah?" Wajah Marcel memucat. Membuat Aridha iba dan segera menghampiri Marcel, memberinya usapan lembut di bahu Marcel agar Marcel bisa lebih tenang dan bisa mengendalikan dirinya.
"Ya. Tapi meski begitu, ini hanyalah sebatas fakta yang memang tak boleh ayah sembunyikan selamanya dari semua orang. Maaf atas ketidak nyamanan ini, nak. Kau, tetap anak ayah. Tapi jangan lupa, kau juga harus menghormati tuan Alex sebagai ayahmu. Ayah juga meminta, bersikaplah biasa saja seolah kau tidak mengetahui fakta ini di depan ibu." Pinta Dion kemudian.
"Ayah......."
"Kau putraku, Marcel." Sebuah suara muncul di ambang pintu dengan nada gemetar. Alex muncul dari arah pintu serata merentangkan tangan. Mata Alex juga memerah dan sembab.
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku punya dua ayah." Marcel benar-benar tidak menyangka atas fakta tentang dirinya ini.
**