Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Konsultasi Suami Istri


__ADS_3

"Jadi bagaimana hasilnya, dok?".


Hanum bertanya dengan tidak sabar pada dokter SpOG di hadapannya ini.


Malam ini, Kara sengaja membawa Hanum untuk berkonsultasi tentang rencananya untuk berprogram agar segera memiliki buah hati.


Wajah Hanum mendadak tegang.


Tiap detiknya terasa lamban bagi Hanum.


Wanita itu sudah tak sabar untuk segera mendengar hasil pemeriksaan dirinya dan suaminya perihal kondisi kesehatannya.


Berbeda dengan Kara yang nampak terlihat tenang. Sinar matanya datar-datar saja tanpa menunjukkan menunjukkan emosi apapun.


"Sejauh ini, hasil pemeriksaan baik-baik saja.


Diantara kalian, baik tuan maupun nyonya.....


Kondisi kalian baik-baik saja, bahkan sangat sehat. Hanya perlu sedikit usaha lebih keras mungkin, dan tetap saja...... semua yang menentukan adalah yang kuasa.


Jadi, perbanyaklah doa agar segera kalian di beri kepercayaan untuk memiliki buah hati."


"Apakah ada hal yang perlu saya lakukan untuk menyuburkan rahim? Atau mungkin ada pantangan yang harus saya hindari, dok?"


Hanum bertanya, mencoba menggali informasi seputar usahanya.


"Tidak. Hanya perlu banyak istirahat. Batasi pekerjaan berat dan hindari stress. Perbanyak konsumsi sayuran segar dan daging segar.


Jangan terlalu banyak pikiran dan rajin-rajinlah berolah raga ringan".


"Terima kasih, dok"


Hanum tersenyum lebar. Itu artinya, tak ada kendala apapun bagi mereka untuk segera memiliki penerus.


Berbeda dengan Kara yang mengulas senyum tipis.


Dalam hati, mungkin dokter benar...... mereka hanya perlu bekerja lebih ekstra lagi agar segera tumbuh benihnya di rahim istrinya, Hanum.


"Berikut akan saya siapkan resep vitamin dan penyubur rahim."


Hingga dokter memberi sebuah resep dan menyerahkan pada Hanum, mereka pun beranjak pergi meninggalkan dokter dan segera menebus obat dan menyelesaikan biaya administrasi.


"Terima kasih".


Sepanjang perjalanan, Hanum tak sekalipun melunturkan senyumannya.


Dirinya seolah bahagia dengan pernyataan dokter. Rasa percaya diri yang tadinya menurun, kini kembali bangkit.


Sebagai seorang wanita, Hanum tentu belum merasa sempurna bila belum dapat melahirkan garis keturunan suaminya.


"Kau dengar apa yang dokter katakan tadi, Hanum?".


Suara Kara tiba-tiba memecah kebisuan diantara mereka.


Hanum mengalihkan pandangannya pada Kara.


"Ya. Semoga di segerakan ya, mas. Aku sudah tak sabar untuk mendengar jeritan bayi".


Hanum menjawab dengan riang.


"Itu artinya, kita harus bekerja lebih keras lagi dalam proses pembuatannya. Kau tau, aku tak akan membiarkan mu tidur nyenyak setiap malam sebelum kau bisa mengandung anakku".


Mendengar kalimat suaminya, wajah Hanum merona. Ia sangat malu sendiri mendengar suaminya berkata dengan jelas.


"Tapi aku tak boleh kelelahan, mas. Kau dengar nasehat dokter tadi, bukan?".

__ADS_1


"Kau akan lebih menurut pada dokter, dari pada suamimu sendiri? Begitukah?".


Kara berkata seraya memfokuskan pandangannya ke arah jalanan di depannya, tanpa menatap Hanum.


"Baiklah..... Apapun maumu, mas".


"Baiklah, kita pulang. Aku ingin segera makan malam untuk mengisi daya tenaga, agar bisa maksimal saat menghabiskan malam panjang bersamamu".


Hanum diam tak menjawab.


Namun Kara, tentu pria itu tau bahwa istrinya tengah memendam rasa malu.


Terdengar Kara tergelak penuh kemenangan.


*******


Seorang pria tengah berbaring tak berdaya di brankarnya. Selang infus masih setia menjadi alat penopang kesehatannya saat ini.


Luka lebam di wajahnya perlahan sedikit menunjukkan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


Daniel.......


Pria itu akhir-akhir ini susah untuk tidur di waktu yang semestinya. Pikirannya kacau balau. Dirinya tak sabar untuk seger pulih dan menyelesaikan urusannya dengan Dita.


Bagaimanapun ia harus berjuang demi bisa mendapatkan maaf dan hati Dita, demi putrinya, Hana.


Azkara.......


Satu-satunya pria yang mungkin bisa menolongnya saat ini.


Entah, bersedia atau tidak, yang penting setelah ini, Daniel harus bisa bicara dulu dengan kara


Dulu......


Sayangnya.........


Keadaan kini seperti tengah memperolok dirinya atas keadaan yang ia miliki.


Miskin........


Itulah definisi keadaan yang dapat menggambarkan dirinya saat ini. Mungkinkah nanti Dita akan menerimanya?


Daniel berjanji.....


Dia akan bekerja keras nanti andai Dita bersedia untuk menjalin rumah tangga bersamanya.


klek


Pintu terbuka perlahan.


Daniel memutar kepalanya pelan.


Matanya terbuka dengan sempurna saat ia mendapati sesosok gadis mungil berjalan pelan masuk ke dalam brankar nya. Lidah Daniel terasa kelu meski hanya sekedar untuk berbicara, tubuhnya menegang dan air mata nya luruh seketika.


"Apakah itu papa, ma?"


Lirihnya dalam tanya. Binar matanya demikian terang bersinar. Ada kebahagiaan yang nampak di mata polosnya.


Bahkan Daniel, tak mampu meski hanya sekedar untuk mengangguk.


Dita terdiam. Dirinya enggan menjawab.


Hanya anggukan kepala saja yang bisa ia lakukan.


"Papa.....". Senyum Hana demikian teduh.

__ADS_1


Membuat Daniel tak mampu berkata. hanya isakan yang mampu ia lontarkan.


Perlahan........


Tangan Hana menggapai pergelangan tangan Daniel yang ter-tancapi jarum infus.


"Di..Dita...".


Daniel terbata. Dita mengangguk paham meski ia tak bisa menjawab Daniel. Jauh dalam lubuk hatinya, Dita tak bisa memaafkan Daniel begitu saja.


Entahlah.........


Hingga kini, hati Dita masih terpaut pada sosok Kara, pria yang telah berstatus sebagai suami orang. Ini aneh. Ini gila. Namun, itulah kenyataan yang Dita rasakan.


Bolehkah Dita merasa egois kali ini?


Selama ini, ia hidup dalam penderitaan selama sembilan tahun lamanya. Sekarang, bolehkah Dita bosan menjadi baik dan berniat menjerat Kara, apapun dan bagaimana pun caranya?


"Ya. Jangan besar kepala, Daniel. Andai Hana tak menangis di hadapanku, Aku mana Sudi mempertemukan kalian".


Dita menjawab dengan nada sarkatis.


Kebencian jelas menyala-nyala penuh dendam di matanya.


"Terima kasih. Terima kasih, Dita....."


Daniel berusaha bangkit dan ingin meraih putrinya ke dalam pelukannya. Pelukan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Tidak usah bangun, pa. Hana...... Biarkan Hana saja yang memeluk papa".


Pelukan anak ini terasa hangat dan erat di tubuh Daniel. Keduanya menangis saling mencurahkan rindu.


"Papa mengapa tak pernah mengunjungi Hana selama ini? Apakah papa dan mama bertengkar dan tak ingin bertemu?", Pertanyaan polos itu, lolos begitu saja dari bibir mungil Hana.


"Pa....papa minta maaf, sayang. Maafkan lah papa".


Daniel mengecuo puncak kepala putrinya, penuh rasa sayang.


"Sudah cukup, Hana. Ayo kita pulang".


Suara Dita berhasil membuat Hana menguraikan diri dari pelukan Daniel.


"Sebentar lagi, ma. Biarkan Hana memandang papa sedikit lama, untuk menyimpannya di sini".


Hana membawa tangan Daniel ke dadanya.


"Bukankah mama bilang, ini terakhir Hana boleh bertemu papa".


Tangisan Hana demikian pilu menyayat hati.


Sayangnya......


Kebencian Dita pada Daniel lebih besar daripada rasa iba nya terhadap putrinya.


Bayangan Daniel yang telah memperlakukan dirinya layaknya binatang, berkelebat menari indah di kepalanya.


Daniel terkesiap.


Kemudian, dengan gerakan spontan, Hana kembali memeluk Daniel dan berbisik lirih di telinga Daniel.


"Papa boleh mengunjungi Hana diam-diam di rumah mama. Nanti biar Hana bicara pada Oma".


Lirihnya sebelum beranjak dan berlalu pergi atas paksaan Dita.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2