
Jelita menatap lama putrinya.
Aluna Shara Praja Bekti.
Putri yang ia lahirkan dua puluh tahun yang lalu. Semenjak di lahirkan, Santika dan Reksa serta Ratna, bersikeras untuk merawat dan membesarkan Luna bersama-sama.
Saat itu........
Jelita bersikeras tak ingin menyerah kan putrinya, sekalipun itu pada mertuanya.
Namun, reksa tetaplah reksa yang keras kepala.
Reksa mengiba pada Jelita dengan dalih Ratna dan Santika tak akan mungkin lagi melahirkan bayi.
Sedang Reksa......
Pria itu demikian rindu akan. suara tangis tawa bayi.
Pada akhirnya, Jelita kalah.
Ia mencoba berfikir realistis dan mengesampingkan egonya.
Logikanya, Reksa, Santika dan Ratna..
Mereka adalah kakek dan nenek-nenek dari anak-anaknya.
Tidak lah mungkin mereka menelantarkan cucu-cucu mereka.
Kini, Jelita termenung lama, memandangi wajah Luna yang kian menawan.
"Luna tak ingin tinggal di kota bersama mama dan juga papa?
Di sana.....
Luna tak akan sendiri.
Ada saudara-saudari Luna yang akan selalu menjaga Luna dengan sepenuh hati".
Luna tersenyum kecil.
Gadis itu terbilang anak Jelita yang paling lemah lembut dan memiliki kesantunan yang tinggi.
Mungkin......
Karna ada Santika dan Ratna yang telah mendidiknya demikian lembut, hingga anak ini tak berbeda jauh dengan para Oma mereka.
Berbeda dengan Arlan, Ariana, Kara dan Aridha yang bersikap biasa saja. Bahkan terbilang bar-bar dalam kondisi tertentu.
Mungkin karna mereka besar dan berada dalam pengasuhan Jelita, lebih cenderung bersikap netral, bahkan tak terkendali saat ketenangan mereka terusik.
"Jangan paksa Luna, ma. Luna nyaman tinggal di sini.
Oma Ratna, Oma Santika dan Opa Reksa......
mereka telah sepuh.
Luna tak akan membiarkan mereka sendiri".
"Tidak sendiri, Luna.
Ada empat pelayan, dua tukang kebun, dan lima penjaga yang ada di sini.
Oma-oma dan opa pasti akan mengerti nanti".
"Tidak, ma.
Luna lebih nyaman tinggal di sini.
Bukankah sesekali...... Luna mengunjungi mama dan terkadang mama papa juga mengunjungi Luna seperti saat ini?".
Aluna dan Aridha......
Adalah dua gadis cerminan Jelita.
Keras kepala, keangkuhan, kalimat pedas, serta ambisi yang besar, menurun pada mereka, bahkan Kara juga demikian.
Yang membedakan diantara merek bertiga adalah.....
Kara yang hedonis dan kasar, namun memiliki kepedulian tinggi, Memiliki pembawaan memerintah..... Bak kaisar yang bertahta dan berkuasa.
Aridha yang barbar dan ceplas ceplos, namun berjiwa sosial tinggi.
__ADS_1
Aluna yang lemah lembut, pembawaan diri yang tenang, kesantunan tinggi, namun mampu melumpuhkan lawan hanya dengan kata.....
Mereka bertiga bak Jelita dan Radhi yang menyatu.
"Baiklah....."
Jelita mengangguk lemah. Merasa kalah kali ini.
"Mama akan kembali ke kota setelah ini.
Kamu, Kara.....
Hari ini ia tiba".
Dan senyum cerah terbit dari bibir mungil Aluna.
"Katakan pada Kakak Kara untuk mengunjungi kami segera. Aku tak bisa mengunjunginya, karna kesehatan opa sedang menurun.
Sampaikan pada kakak untuk membawa serta kak Ridha.".
"Tentu. Jaga dirimu baik-baik".
Sesungguhnya, Jelita telah mengajak mereka semua untuk tinggal di kediamannya.
Namun Reksa dan Santika serta Ratna......
menolak habis-habisan ide Jelita.
"Baiklah, ma Hati-hati di jalan. Katakan pada Papa, Aluna merindukan papa. Luna menunggu papa mengunjungi Luna di akhir pekan nanti".
*******
Kara........
Berjalan anggun bak predator yang siap menelan mangsanya bulat-bulat, ketika mobil yang di kendarai ya berhenti tepat di depan sebuah perusahaan ternama yang di pimpin papanya, Praja Bekti.
Langkah-langkahnya tegap tanpa suara.
Tatapan matanya tajam setajam elang, Bak samurai yang siap menghunus lawan.
Lengan dan punggung nya, demikian kokoh.
Hal semacam ini, sering kali Kara alami.
Ketampanan serta kemapanan masa depan yang menjanjikan, membuat wanita manapun bersedia bertekuk lutut di kakinya.
Seorang sekertaris, telah di persiapkan Radhi untuk membantu dan menyiapkan apapun perihal pekerjaan Kara nanti.
Dengan di sambut oleh Alma, sang sekertaris, Kara sekilas menatap tajam wanita yang berdiri kikuk di hadapannya.
Menatap intens seperti tengah menelanjangi Alma, menilai sekiranya pantas atau tidaknya Alma menjadi sekertaris nya.
"Selamat pagi, tuan muda".
Alma berusaha bersikap biasa saja di hadapan Kara. Meski tak di pungkiri, Alma demikian gugup karena bosnya kali ini, adalah pria tampan dengan pesona mematikan tanpa cela.
"Hmmm".
Sumpah serapah dalam hati Alma terucap.
Bagaiman Kara bisa bersikap demikian acuh?
Sepertinya, Hari-hari Alma akan sangat membosankan.
'Beruntunglah kau memiliki paras yang tampan, tuan muda. Bila tidak, ku pastikan dalam tiga hari ke depan......
Aku akan meracunmu menggunakan sianida'
Racau Alma dalam hati.
Alma hanya benci di perlakukan demikian dingin oleh Kara.
"Ruangan meeteng ada di sebelah sana, tuan.
Papa anda memerintahkan saya untuk membawa anda setelah anda sampai".
Senyum manis nampak Alma sunggingkan.
Ia tak mau mendapat masalah hanya karna ia tak bersikap ramah.
"Bagus".
__ADS_1
Tiba-tiba kara yang berjalan di depan Alma, berhenti dan membalikkan badan menatap Alma yang berjalan di belakangnya.
"Aku tak mau kau bersikap formal seperti ini.
Panggilan tuan muda bagiku menggelikan telingaku.
Mengerti?"
"Lalu...?"
"Karna kau bawahanku, panggil aku boss".
Ucap Kara datar.
"Baik, tuan".
Dan Kara seketika melanjutkan langkahnya.
Hingga Kara keluar dari lift, Ia tanpa sengaja bersenggolan dengan seorang wanita cantik yang banyak di gilai para Pria di kantor itu, salah satu staf wanita dari divisi keuangan.
Pandangan siwanita jatuh pada Alma yang berjalan di dekat Kara. Seketika si wanita dapat menyimpulkan bahwa pria di hadapannya ini, putra pemilik perusahaan ini.
"Ma....maaf tuan muda, maaf aku tak sengaja..... Aku....."
Dan si wanita menghentikan kalimatnya saat menyadari bahwa si pria adalah Kara.
"Kau lagi?
Apa kau menguntit ku?"
Ucap Kara tenang sambil meneliti penampilan si wanita dari ujung kakiku, hingga ujung kepala.
"Mas, Kara?"
"Mengapa selalu menabrakku?".
"Oh itu, anu.... anu tuan....."
Kegugupan seketika melanda Si gadis.
"Oh ya, ponsel anda kemarin terjatuh di bandara, dan anda berlalu begitu saja tanpa mempedulikan teriakan saya.
Bila anda akan ingin mengambil ponsel anda, Akan saya ambil di rumah".
"Tidak perlu. Sekarang jam kerja. Biar nanti sepulang kerja aku akan mengambilnya, kerumahmu"
Dan euforia itu di rasakan oleh Hanum.
Ya, wanita itu adalah Hanum.
"Baiklah".
"Oh tunggu, siapa namamu?".
"Tuan melupakan nama saya?".
Senyum manis itu ter-ulas di bibir seksi milik Hanum.
"Hanum Kinara. panggil saja Hanum".
"Baiklah, tunggu aku nanti sore di loby bawah.
Mengerti?".
"Baik, tuan".
Hingga kara tiba di ruang meeting para petinggi perusahaan, Semua menatap penuh takjub ke arah Kara. Dan Radhi yang memang telah berada di sana, memperkenalkan putra kebanggaannya.
"Baiklah, perkenalkan semua.
Pria muda ini adalah putraku.
Azkara Putra Praja Bekti, Dia lah yang akan akan aku nobatkan, sebagai pewaris tahta di perusahaan ini.
Ku harap, kalian semua akan menerima putraku dengan baik".
Suara Radhi demikian lembut, namun tegas penuh wibawa.
Tak jarang, wanita-wanita muda di sana terkadang kepincut akan pesona Radhi, meski ia telah memasuki usia yang tak lagi muda.
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1