
Setelah menyelamatkan hunter-hunter Asosiasi yang terdesak dan hampir mati, Alvin pergi ke lokasi lain yang di dalam peta pertemanannya terdapat banyak titik merah dan hijau buram. Itu adalah lokasi dimana lich dan hunter-hunter dari guild Superkraft, yang terlambat melarikan diri, berada.
Sesampainya disana, ia melihat Mark Friedl yang sangat terkenal itu sudah hampir tidak bisa berdiri saat hunter berperingkat S tersebut dipermainkan oleh belasan lich.
Pria tampan berusia awal 30an yang digilai banyak wanita di Kota S itu, kini layaknya sebuah bola yang dipermainkan oleh lich-lich tersebut.
‘Padahal dulu aku agak iri dengannya. Tampan, kuat dan kaya.’
["Jika kau tidak cepat membantunya, dia akan mati. Tapi itu terserah padamu. Aku juga tidak peduli."]
Alvin, yang sudah menonaktifkan ghost skill karena Mina sepertinya menyimpan sebuah rahasia yang masih belum diungkapkannya, melompat turun dari atas laba-laba.
Suara nyaring dari sepatu besinya saat bertemu aspal, mengagetkan lich-lich yang sama sekali tidak menyadari Alvin dan pasukannya datang karena mereka sama sekali tidak memancarkan energi Mana.
Gerombolan lich, juga semua member guild Supercraft yang masih hidup, terdiam bersamaan saat melihat sepasukan robot yang sangat nyentrik itu.
Saat semua lich masih terdiam menatapnya, Alvin menghabisi mereka semua dengan sihir api, lalu membunuh mereka lagi dengan thunder bolt setelah mereka bangkit dari kematian.
"Ayo ke lokasi terakhir," ucap Alvin pelan, mengirimkan pesan itu pada pasukan serangga.
Ia kemudian pergi dari tempat itu tanpa memerdulikan hunter-hunter dari guild Superkraft yang terpana melihat kehadirannya, juga pasukan serangganya.
"S-siapa mereka?" tanya Mark, pada Aneryn, wanita yang biasanya memiliki banyak informasi penting dan berwawasan luas.
"Super hero."
"Apa?! Lalu kita ini apa?"
"..."
......................
Kedua kakinya sudah hampir tidak bisa dirasakannya lagi. Bergerak tanpa henti selama 1 jam penuh dengan sudah menguras habis seluruh energi Mana, membuat keadaan Cyntia kini benar-benar memprihatinkan.
Ia juga sudah memiliki banyak luka di tubuhnya dan kini hanya bisa bertarung dengan berdiri diam di tempatnya saja, tidak seperti sebelumnya yang sangat gesit dan selalu bergerak lincah kesana-kemari.
Saat sudah hampir roboh kehabisan stamina dan energi Mana, Cyntia tiba-tiba merasakan energi sihir pemulihan berasal dari arah belakangnya.
“Maaf datang terlambat,” ucap Alvin pelan.
Cyntia langsung menoleh dan menatap kaget pada robot itu.
“A-alvin? Bagaimana kau bisa..."
__ADS_1
"Anda sepertinya terlalu fokus dan tidak melihat kedatangan saya."
Cyntia tertunduk lesu. Dia bukan tidak fokus. Dia sudah tidak bisa fokus lagi walaupun ingin.
"Suaramu..."
‘Rimi, bisakah suara ku jangan kau ubah?’
[“Aku tahu kau mau pamer. Tapi jangan lakukan sekarang. Lagian dia juga sudah tahu kalau ini kau. Tidak apa-apa dia tahu, tapi tidak dengan orang-orang yang berada didalam sana.”]
‘…Baiklah...'
“Istirahat saja, nona Tia,” ucap Alvin pelan, sambil terus memulihkan kondisi Cyntia.
"Tapi mere...ka..."
Cyntia tercengang saat melihat ribuan lich kini sedang menjadi bulan-bulanan ratusan robot serangga yang sedang menahan lich untuk tidak mendekat pada Cyntia dan puluhan warga sipil yang sedang berjongkok ketakutan di belakang mereka.
"Mereka ini...," Cyntia menatap kostum Alvin lalu menatap kembali pasukan serangga yang sedang menghadang gerombolan lich, "Apa mereka itu pasukan summon mu?"
"Hah?"
Alvin agak kaget mendengar pertanyaannya karena hal seperti itu tidak pernah ada. Setinggi apa pun level seorang hunter tipe Mage, tidak ada yang bisa melakukan summon makhluk apa pun dari dunia lain seperti dalam cerita-cerita komik atau novel.
"Ya," sahut Alvin akhirnya.
Cyntia mengangguk pelan, menatap lich yang dengan mudahnya dibantai oleh satu serangga yang mirip belalang sembah sementara nyamuk-nyamuk membuat mereka lemah dengan menghisap energi Mana, juga membingungkan pasukan lich dengan dengungan sayapnya yang mengandung energi sihir dan membuat para lich tidak fokus menyerang.
Untungnya, Alvin tidak memanggil laba-laba raksasa karena mereka tidak muat di ruang bawah tanah itu. Jika tidak, Cyntia pasti akan lebih heran lagi.
Sejauh ini, serangga-serangga Alvin telah mengalami peningkatan kekuatan yang cukup pesat.
Dalam perjalanannya menuju ke tempat ini saja, Alvin sudah mengalami kenaikan level berkali-kali hingga ia kini berada pada level 100.
Saat Alvin naik level, status dasarnya juga naik. Karena itulah, pasukan serangga yang sudah menyalin status dasar Alvin itu bertambah kuat. Belum lagi mereka telah menyalin 25% status dari Hunter Equipment. Kekuatan serangga itu kini sudah melebihi hunter peringkat S.
"Jadi summon monster itu ternyata ada...," gumam Cyntia yang tiba-tiba merasa kekurangan pengetahuan. Ia menoleh pada Alvin lagi dan tersenyum padanya.
'Padahal aku pulang untuk melindunginya... Siapa sangka dia sehebat ini.'
Setelah memulihkan seluruh energi Mana Cyntia, Alvin melepaskan pundak Cyntia dan berjalan menuju pertempuran itu.
__ADS_1
Ia kemudian menyimpan kembali semua serangganya dan mengganti job ke Assassin. Ia masuk ke antara ribuan lich yang baru saja bangkit kembali dan masuk terus sampai tiba di depan kedua necromancer dari pasukan itu lalu memenggal kepala mereka.
Alvin mendengar Rimi mengucapkan kata level up itu sampai delapan kali sebelum menyudahinya.
'Level 108.'
["Kau bisa mengambil quest level 101 sebentar lagi saat kau berada di level 110."]
'Ya.'
Setelah kedua necromancer itu mati, semua pasukan lich berjatuhan. Mayat mereka menumpuk di ruang bawah tanah dan pemandangan itu sangat mengerikan dan menjijikan untuk dilihat oleh para warga hingga banyak dari mereka yang membuang muka dari pemandangan tumpukan mayat berbau busuk tersebut.
Alvin pun menyeret ribuan mayat dan memindahkannya ke dalam inventory hingga ruang bawah tanah menjadi bersih kembali.
"A-apa yang terjadi? Kemana mereka?" Tanya Cyntia setelah melihat semua mayat lich menghilang dengan sendirinya setelah diseret Alvin dengan jaring.
"Saya menyimpan mereka."
"Kau bisa menyimpan mereka?"
"Ya. Sama seperti summon, mereka juga bisa disimpan," ucap Alvin.
"Begitu..."
"Kalau begitu, saya pergi dulu, nona Tia. Saya akan menghancurkan semua pilar sihir Dungeon," ucap Alvin. Ia kemudian berbalik hendak pergi meninggalkan ruang bawah tanah itu.
"Tunggu," Cyntia menarik pergelangan tangan Alvin tepat saat ia baru hendak melangkah pergi.
"Ya?"
"K-kau tidak memeriksa Vina dan paman Marco dulu?"
"Ku rasa mereka baik-baik saja. Ada Anda dan seluruh keluarga Maxwell di sini."
Cyntia mengalihkan tatapannya saat kedua mata robot Alvin menatapnya.
"Y-ya... Hati-hati, ok?"
"Ya. Terima kasih..."
__ADS_1
Alvin kemudian pergi dari tempat itu dengan menggunakan ghost mode. Ia pergi ke 3 gerbang Dungeon yang masih belum tertutup untuk menambang semua kristal disana bersama pasukan serangga. Setelah itu barulah ia menghancurkan pilar sihir nya.
...****************...