
Alvin dan Mina berhenti untuk pemeriksaan saat mereka tiba di gerbang desa.
Di mata Alvin, tampak sangat jelas jika semua petugas itu menatap Mina dengan kekaguman, juga bersikap hormat padanya.
'Yah, mereka pasti bersikap begitu setelah melihat tumpukan boks ransum di depan rumahnya.'
Setelah para penjaga berbincang dengan penuh sikap hormat selama beberapa saat, Mina akhirnya mengeluarkan plat quest dari dalam tas kulitnya.
Para petugas terkaget-kaget melihat 6 plat quest yang Mina berikan pada mereka.
Petugas-petugas itu kenudian bertanya-tanya dengan berekspresi khawatir. Sepertinya quest yang Mina ambil terlalu berat dalam perhitungan mereka.
Ada perdebatan kecil di antara Mina dan para petugas, perdebatan yang terlihat jelas karena mereka mengkhawatirkan Mina.
Tampak menyerah dalam perdebatan mereka, para petugas kemudian menatap Alvin dan bertanya padanya dengan bahasa yang tidak Alvin mengerti, tapi Mina dengan cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Setelahnya, semua petugas memandang dan bersikap hormat pada Alvin.
'Apa yang dia katakan pada mereka?'
.........
Para petugas akhirnya mengizinkan Alvin dan Mina pergi meninggalkan desa untuk menjalani quest yang Mina ambil.
"Kau juga mengatakan pada mereka kalau aku saudaramu? Mereka bersikap sangat baik setelah kau menjawab pertanyaan mereka."
"Tidak. Aku mengatakan kalau kau suamiku."
"Apa?! Kau f**k!"
Mina tertawa.
"Bagaimana jika mereka nanti mencurigai kita?"
"Hnnn?"
"Maksudku... Kau mengerti, kan?"
"Aku cuma bercanda. Aku mengatakan pada mereka kalau kau bisu."
"..."
......................
Tidak ada hewan tunggangan seperti kuda, keledai ataupun unta di planet pengasingan para makhluk yang telah tewas di dunia asal mereka tersebut. Terutama kendaraan modern. Jadi, Alvin dan Mina harus berlari untuk pergi ke area quest berada.
Dalam perjalanan, banyak hal yang Mina ceritakan pada Alvin, terutama mengenai peraturan yang harus mereka ikuti selama tinggal di planet pengasingan.
Alvin juga baru tahu jika semua desa dan kota yang berada di planet itu memiliki nama. Begitu pula dengan kastil-kastil di sebuah gunung.
"Jadi nama desa tempat kita tinggal, Korda?"
Mina mengangguk, "Tujuan kita bernama desa Gernalda."
Alvin dan Mina pergi ke desa Gernalda dengan tidak terburu-buru, jadi mereka tiba di sana saat malam hari setelah keduanya berlari hanya dengan kecepatan 200 km/jam.
.........
Setelah tiba di desa tujuan, Alvin dan Mina mencari sebuah pohon tinggi, memanjatnya dan memantau keadaan desa dari sana.
__ADS_1
"Apa quest yang harus kau lakukan di desa ini?"
Mina tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Alvin, "Memusnahkan seluruh warga desa."
Alvin menelan ludah, lalu melihat Bulan yang berwarna kemerahan.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Seperti yang ku katakan tadi, desa ini sarang penyamun. Mereka yang tinggal di sini dulunya adalah para penjahat."
"Aku tahu itu. Cuma..., apa yang kau lakukan sedikit berbeda dengan menghabisi seluruh lawan dalam sebuah pertempuran."
"Jauh lebih baik membantai mereka saat sedang tidur, kan? Mereka tidak akan sadar jika mereka mati."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Mina mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah desa.
"Rain of Death Blades."
.........
Hujan paku sihir muncul dari langit malam, meluncur dengan sangat deras menghancurkan desa.
Jangankan bangunan-bangunan desa, menara desa yang sangat kokoh saja hancur dan runtuh saat paku-paku sihir menghujaninya.
Hujan sihir itu terjadi selama hampir 2 menit dan selama jangka waktu itu, tak satupun makhluk hidup yang luput dari kebinasaan.
Bangunan-bangunan juga hancur dan hampir rata dengan tanah, kecuali sebuah rumah sederhana yang Mina biarkan lolos dari serangannya hingga rumah tersebut masih berdiri kokoh tanpa kerusakan sama sekali.
Mina mengambil plat quest dari dalam tasnya dan Alvin melihat lempengan yang awalnya berwarna hitam itu kini telah berubah ke warna silver.
"Ayo ke sana," ajak Mina.
Dengan satu hentakan kaki, keduanya melompat langsung menuju ke dekat menara runtuh di pusat desa.
Mina membongkar menara itu dengan return gate skill, mempermudahnya menyingkirkan puing-puing dari reruntuhan menara untuk mencari sebuah buku daftar nama warga desa.
"Tidak ada."
"Kau mencari paman Chris?"
"Ya. Tapi, ada makhluk Bumi bernama Lawrence di sini."
"Lawrence? Bisa saja dia dari negara lain, kan?"
"Tidak. Dia orang yang membuat masalah denganmu. Aku bisa melihat wajah seseorang muncul di atas buku ini tiap aku membaca namanya."
"Jadi dia lebih jahat dibandingkan Shiva dan keluarga Lewis? Desa ini untuk makhluk yang lebih jahat, kan?"
Mina diam beberapa saat, tampak sedang membaca sesuatu yang tidak bisa Alvin lihat, di hadapannya. Tak lama kemudian gadis berparas imut itu mengangguk.
"Dia juga memiliki pekerjaan sebagai penculik wanita dan anak-anak untuk diperdagangkan."
"Pantas saja... Tunggu..., jika kau bisa melakukan hal ini, berarti warga desa Korda juga bisa mencari informasiku, kan?"
"Jangan khawatir, mereka tidak akan mengingatmu, kecuali para manusia dari Kota C itu."
"...Apa kau sudah melakukan sesuatu pada elf di menara?"
Mina tertawa.
"Tidak. Kau mungkin sudah kembali ke Bumi sebelum semua quest selesai.
__ADS_1
"Hah? Ka-kau sudah menemukan caranya?"
"Lebih tepatnya, aku memiliki rencana. Caranya aku belum tahu."
"Begitu... Tapi..., kita akan kembali bersama, kan?"
"Ayo menyingkir."
"Jangan mengalihkan pembicaraan lagi."
"Tidak. Menyingkir dulu."
Tak lama berselang, tepat di tempat Alvin dan Mina tadi berdiri, tumpukan boks ransum mulai bermunculan.
Melihat tumpukan boks yang sangat banyak itu, Alvin merasa jika mereka akan repot jika harus membawanya.
"...Kenapa mereka tidak mengirimnya ke rumah saja?"
"Karena ini quest, maka hadiah akan dikirim ke tempat quest. Kita juga perlu makanan, kan?"
"Ya. Tapi..., bagaimana kita membawa ini? Sayang sekali inventory Rimi tidak aktif."
Mina mengambil 4 boks dari tumpukan boks yang hampir setinggi bangunan dua lantai itu.
Ia menyerahkan 3 boks pada Alvin sementara ia sendiri membuka salah satu boks dan mengeluarkan satu stel pakaian dari dalamnya.
"Ada pakaian juga?"
"Sandang, pangan dan papan. Semua hadiah akan mengarah ke sana karena memang itulah yang paling makhluk hidup butuhkan, kan?"
"Begitu..."
"Apa kau ada mengambil quest dengan hadiah bahan bangunan?"
"Dari menyelesaikan quest ini, rumahku di desa secara otomatis akan direnovasi."
"Ya?"
"Sayang kau mungkin tidak akan melihatnya."
"Apa maksudmu?"
"Tidak apa-apa."
Mina mengangkat plat quest yang kemudian memancarkan cahaya keperakan. Tak lama kemudian, plat quest tersebut menyerap semua hadiah di hadapannya.
"Sejenis inventory sihir?"
"Kau benar. Inventory akan aktif untuk menyimpan hadiah saat questnya selesai."
"Begitu... Pantas saja kau tidak terlihat khawatir dengan hadiah-hadiahnya. Ku kira kau akan meninggalkan semua hadiah itu di sini."
"Aku tidak mungkin meninggalkannya. Aku hanya ingin bekerja 1 kali dalam setahun. Aku akan menimbun makanan."
"...Hei... Ingat, kita akan kembali bersama."
"Kita akan tidur di sini malam ini," ucap Mina.
Ia kemudian berbalik dan pergi menuju satu-satunya rumah yang tadi tidak dihancurkannya.
__ADS_1
Alvin menghela napas panjang sembari menatap punggung Mina yang selalu mengabaikan ucapannya saat ia membahas tentang kembali ke Bumi bersama-sama.
......................