
Setelah melalui pertimbangan matang, Alvin akhirnya ikut kembali ke Kota S, sementara Vina memilih untuk tetap tinggal di Kota T.
Vina sudah sangat menyukai kehidupan barunya. Ia sangat menyukai berbisnis karena itu adalah impiannya sejak dulu yang baru saja terlaksana.
Karena itu, Alvin akhirnya menitipkan Vina pada Raymond, Jack dan Thomas, sementara ia sendiri pergi ke Kota S untuk menyelesaikan urusannya agar tidak ada lagi yang mengejar dirinya dan keluarganya.
Ia harus menyelesaikan masalah antara dia dan keluarga Lewis. Ia yakin bahwa kekuatannya sudah sangat cukup untuk membereskan keluarga Lewis.
Selain itu, Alvin juga tidak mau lagi mengurangi jatah raid hunter-hunter Kota T karena ia sudah mengambil terlalu banyak bakal gerbang mereka. Dia berpikir, akan lebih baik untuk menghabiskan Dungeon di Kota S saja. Karena dengan demikian, dia akan 'membantu' mengurangi pendapatan Asosiasi dan guild-guild sombong di Kota S.
.........
Jarak menuju perbatasan antara Kota T dan Kota S tidak begitu jauh. Mereka sudah tiba di perbatasan hanya setelah berkendara selama 2 jam perjalanan saja dari komplek bungalow Alvin.
Saat mereka berhenti di perbatasan antar kota untuk melakukan pemeriksaan, petugas yang memeriksa itu menatap Alvin cukup lama sebelum ia akhirnya bertanya.
"Apa Anda Alvin Rufino?"
Robert hendak menyahuti pertanyaan itu, namun Alvin terlebih dahulu menjawabnya.
"Ya."
Mendengar itu, kedua mata petugas itu melebar. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbalik melaporkan temuan itu pada beberapa rekannya.
Robert langsung tersenyum pahit saat tahu mereka pasti akan masuk dalam sebuah masalah karena Alvin langsung mengaku.
"Seharusnya kau jangan mengatakan bahwa ini dirimu," tegur Marco pelan, dengan wajah khawatir.
"Tidak masalah. Kami membawa Alvin untuk melindunginya, paman Marco," ucap Robert, berusaha menenangkan pria paruh baya itu.
Setelah mereka mendapatkan izin memasuki Kota S, Robert langsung menancap gas, mengemudikan SUV itu secepat mungkin agar bisa tiba diwilayah keluarga Maxwell, sebelum orang-orang keluarga Lewis mencegat mereka.
Sementara itu Erfhina yang duduk di sebelah kursi kemudi juga langsung menghubungi hunter-hunter dari guild Maximus untuk bersiap jika mereka mengalami penyergapan.
Untungnya, tidak ada hal apa pun yang terjadi di sisa perjalanan mereka menuju kediaman keluarga Maxwell.
......................
Sudah lama sejak Alvin akan memasuki kembali wilayah kediaman keluarga Maxwell, salah satu keluarga terkaya di Kota S, yang juga memiliki hubungan bisnis baik dengan keluarga Cruz.
Terlalu berlebihan memang. Tapi, wilayah kediaman keluarga Maxwell yang memiliki luas 900 hektar itu, dikelilingi oleh tembok besar disepanjang batas wilayahnya. Itu adalah sebuah benteng yang memiliki panjang 3,2 kilometer di tiap sisinya.
Jika banyak orang kaya raya di Kota S membangun mansion mewah, keluarga Maxwell tinggal di dalam kastil yang mirip seperti kastil-kastil pada eropa zaman abad pertengahan.
Jika orang-orang kaya di Kota S memiliki kolam renang luas di mansionnya, keluarga Maxwell memiliki 2 danau buatan dan sungai alami yang membentang di pinggiran benteng kastil.
Selain keluarga Maxwell, masih ada satu keluarga kaya yang memiliki wilayah kekuasaan yang hampir serupa dengan benteng dan kastil yang juga hampir sama besarnya. Mereka adalah keluarga Lewis.
__ADS_1
Kedua keluarga memang membangun kastil dan benteng pertahanan untuk saling melindungi diri dari keluarga lainnya yang memang menjadi musuh bebuyutan di Kota S.
Peperangan besar bahkan pernah terjadi diantara dua keluarga 11 tahun silam. Saat Dungeon Break besar terjadi dan menghancurkan negara mereka, kedua keluarga justru berperang diantara mereka. Mereka tidak memerdulikan Dungeon Break itu.
......................
"Bisa tolong berhenti disini?" pinta Alvin, saat mobil yang mereka kendarai hampir memasuki benteng keluarga Maxwell.
Walaupun ia tidak tahu apa yang Alvin inginkan, namun Robert tetap mengurangi kecepatan mobil dan berangsur-angsur menghentikannya.
"Ada apa?" tanya Robert, saat ia sudah menepikan SUV yang ia kemudikan.
"Saya ingin melihat-lihat rumah kami dulu," sahut Alvin.
"Alvin, itu berbahaya. Kau tahu kan kalau mereka tadi sudah mengenalimu?" ucap Erfhina, yang langsung memalingkan tubuhnya untuk berbicara saling bertatapan dengan Alvin yang duduk di kursi deretan kedua.
"Aku sangat merindukan rumah," sahut Alvin, sambil menoleh pada Marco Rufino yang duduk disebelahnya.
Marco menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya pada Robert yang terpaksa mengizinkan permintaan itu.
Secara garis kewenangan di keluarga Maxwell, Marco bisa dibilang memiliki jabatan jauh di atas Robert. Ia adalah asisten pribadi Arthur Maxwell, kepala keluarga Maxwell.
Robert meminta Erfhina untuk menggantikannya menyetir. Ia berniat untuk menemani Alvin karena ia khawatir keluarga Lewis akan menyergapnya seperti saat Asosiasi dulu mengejar-ngejar Vina saat Vina juga singgah di rumah mereka.
"Tidak perlu. Saya akan kembali secepatnya." Ucap Alvin yang kemudian turun dan pergi begitu saja meninggalkan mereka dalam kecemasan.
"Fhin, tolong gantikan aku mengemudi. Aku akan menge..."
"Tapi paman..."
"Tidak apa-apa," ucap Marco lagi, sembari memaksakan sebuah senyuman pada Robert.
......................
["Mereka bisa dijadikan sekutu. Kau beruntung memiliki kenalan seperti mereka,"] ucap Mina, saat Alvin baru saja masuk kedalam sebuah gang yang lumayan ia ingat.
Itu adalah gang yang ia gunakan untuk mempersingkat jalan saat masih tinggal di kediaman keluarga Maxwell waktu bersekolah dulu.
"Aku tahu," sahut Alvin
Dia sudah memeriksa poin kesukaan Robert juga, yang memiliki skor 3 sama seperti ayahnya dan Erfhina. Sedangkan Vina dan Ivory, memiliki skor yang sama, 4. Yang membuat ia kaget, Raymond, Jack dan Thomas juga memiliki skor 4.
["Apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak melihat apa-apa dipikiranmu."]
"Kau lancang."
["Tsk... Aku cuma penasaran."]
__ADS_1
"Aku cuma mau mencari udara segar."
......................
Di tempat lain, sekelompok orang yang baru saja menerima laporan dari petugas Asosiasi dan petugas militer yang menjaga perbatasan langsung bersiap pergi untuk mencegat kendaraan yang ditumpangi keluarga Rufino.
Diantara mereka, ada seorang pria bertubuh kekar dengan rambut klimis ikut dalam rombongan itu. Dia adalah Duncan Lewis.
Pria berusia 32 tahun itu menyeringai lebar sepanjang perjalanan mereka untuk menyergap keluarga Rufino. Tapi, senyum jahatnya menghilang saat pengintai yang membuntuti SUV yang Robert kemudikan, tidak sempat mencegat mereka.
Duncan tentu saja langsung mengamuk dan menghajar orang-orang yang ia anggap sangat tidak kompeten itu.
Namun, kabar baik ia terima lagi saat seorang pengintai mengabarinya jika Alvin telah diturunkan di luar benteng keluarga Maxwell dan pergi seorang diri.
Duncan tertawa dengan mengerikan.
"Rupanya hari ini memang hari kematian anak itu. Ayo kita pergi!"
......................
Setelah jogging sejauh 10 kilometer untuk mencapai lokasi tempat tinggalnya sambil memenuhi sisa quest yang belum sempat ia selesaikan, Alvin akhirnya berhenti di sebuah mini market, membeli minuman untuk menghilangkan rasa hausnya.
Ia memang tidak mengalami kelelahan lagi karena stamina point yang ia miliki. Tapi, tetap saja ia harus mengobati rasa haus dengan minum sebotol air mineral.
["Kau sepertinya sangat merindukan tempat ini."]
"Tidak juga. Tapi, jika aku sudah memiliki uang yang cukup, aku mungkin akan membeli seluruh tanah dan properti di daerah ini."
["Tsk... Kau masih ingin jadi juragan properti?"]
"Tidak. Hanya saja...," Alvin menunjuk pada sebuah gang lalu mengarahkan telunjuknya sampai ke gang lain, "Para anak muda yang tinggal di deretan perumahan itu terlalu sering merundungku sejak aku sekolah sampai berlatih di Akademi. Aku hanya ingin membeli semua properti keluarga mereka dan meruntuhkannya."
["Hmmm... Anakku yang malang. Tapi itu adalah cara membuang uang yang lumayan baik."]
"Aku akan menjadikan tempat itu sebagai kebun binatang," ucap Alvin yang kemudian tertawa.
["Daripada begitu, kenapa kau tidak membeli sebagian lahan saja? Bangun tempat pembuangan sampah akhir Kota S di tempat itu."]
"... K-kau benar..."
["Tentu. Ideku memang selalu terdepan."]
<...>
Saat Alvin masih asik mengobrol seorang diri di depan mini market itu, beberapa pria berwajah sangar datang menghampirinya.
Di antara mereka, ada seorang pria bertubuh tinggi kekar dengan rambut klimis berstelan jas sangat rapi yang sedang menggigit sebilah cerutu di mulutnya.
__ADS_1
"Alvin Rufino... Akhirnya aku menemukanmu, bocah nakal," ucap Duncan, sembari menampilkan giginya yang kuning di antara seringai lebarnya.
......................