Hunter System

Hunter System
Bab 160 - Menyelamatkan Kota S Dalam Sekejap


__ADS_3

Pintu gerbang keluarga Maxwell telah berhasil ditembus pasukan lich.


Banyak hunter yang sudah meregang nyawa dan tidak sedikit dari mereka yang terluka parah.


Demikian juga yang terjadi pada Sam dan Lowe, yang menjadi komandan garis depan pertahanan. Mereka sudah sekarat dan kini hanya bisa berdiam di dalam kastil setelah Robert dan Erfhina mengungsikan mereka.


Cyntia, sekali lagi, menjadi pertahanan terakhir yang berjaga di depan pintu kastil, mencegah monster-monster berwujud manusia itu agar tidak masuk ke dalam kastil dan menghabisi semua orang yang berlindung di dalamnya.


Ia sudah sangat kewalahan. Banyak serangan yang juga telah mengenainya. Jika bukan karena kostum yang Alvin berikan padanya, tubuhnya mungkin sudah tak berbentuk akibat sudah puluhan kali menerima serangan lich yang tidak bisa lagi ditangkis atau dihindarinya.


.........


"Nona Tia, awas!" seru Vernon dari belakang Cyntia saat ia melihat lich datang dari arah samping dengan pedang yang mengarah ke leher Cyntia.


Tap... Sratttt...!


Cyntia menangkap pedang itu dengan tangannya lalu menebas leher lich dengan belati yang berada di tangan lain.


Hanya satu belati itulah yang kini tersisa setelah belatinya yang lain hancur. Ia telah berjuang hanya menggunakan satu belati pemberian Alvin itu dalam 1 jam belakangan. Karena itulah dia tidak bisa menggunakan teknik bertarungnya dengan maksimal.


Cyntia menerima serangan lagi dari arah lain dan terpental jauh karenanya.


Karena wanita itu telah beranjak dari gerbang kastil, puluhan lich yang sudah selama 30 menit ini berusaha untuk masuk ke dalam kastil akhirnya berhasil masuk menyerbu.


Vernon yang sudah cidera parah dan duduk di dekat gerbang kastil, menjadi hunter pertama yang mendapat serangan lich.


Crank...


Cyntia yang sebelumnya terpental telah kembali. Ia menangkis serangan lich itu dan membuat belati satu-satunya yang tersisa akhirnya hancur hingga wanita itu akhirnya harus bertarung dengan menggunakan tangan kosong.


Ia melompat kesana kemari, menghajar lich-lich yang sudah berhasil menerobos masuk ke dalam kastil dan ingin menyerang hunter-hunter yang sudah cidera dan beristirahat di sana.


Cyntia terus-terusan bergerak kesana-kemari dan bertarung hanya menggunakan tangan kosong sampai ia terpeleset dan jatuh saat staminanya sudah benar-benar habis.


Pada saat genting itulah seluruh lich yang berada di dalam kastil tiba-tiba kehilangan kepala mereka secara hampir bersamaan.


Kepala lich-lich menghilang hanya dalam selang waktu kurang dari satu detik per lich.


Lich-lich yang telah kehilangan kepala itu kemudian berguguran, terbakar, dan telempar dari dalam kastil tanpa ada yang melihat siapa yang telah melakukan hal itu pada mereka.


.........


Alvin tiba-tiba muncul di sebelah Cyntia. Ia menurunkan Vina dari gendongannya dan menopang tubuh Cyntia sebelum akhirnya menyalurkan healing skill padanya.


"Kau sudah kembali...," gumam Cyntia pelan sebelum akhirnya pingsan akibat kelelahan yang amat sangat.


Alvin tertawa saat melihat wanita itu terbangun kembali setelah ia memulihkan stamina juga energi Mananya hanya dalam waktu 10 detik.


"Apa-apaan healing skill mu ini?"


"Maaf karena membuatmu terbangun lagi."

__ADS_1


"Tidak... Maksudku... healing skillmu sangat luar biasa."


Alvin hanya tersenyum sembari menatap wajah Cyntia yang dipenuhi peluh dan darah.


'Poinnya masih 7.'


Ditatap seperti itu, tentu saja membuat Cyntia salah tingkah. Ia segera memalingkan wajah ke arah Vina dan terkejut saat melihat perut Vina yang membesar.


Tatapannya naik ke wajah Vina dengan mulutnya yang terbuka lebar.


Vina tersenyum simpul sembari menatap Jack yang berdiri di arah belakang Cyntia.


Cyntia mengikuti arah tatapan Vina lalu memaksakan senyumnya pada Jack.


"Jangan tersenyum padanya," ucap Alvin, melihat pada siapa Cyntia tersenyum.


"Ya?"


"Jika dia bukan ayah keponakanku, aku pasti sudah mencincangnya," ucap Alvin sembari menatap Jack dengan marah.


'Bajingan ini... Berani enak-enakan saat aku tersesat dan menderita.'


"Apa dia memerkosa Vina?" Tanya Cyntia dengan suara setengah berbisik. Ia kini menatap Jack lagi dengan tatapan tidak senang.


Alvin mengangguk.


"Perlukah aku yang membunuhnya?"


"..."


.........


Ia kaget melihat lich-lich yang selama seminggu terakhir telah mengepung dan menghancurkan gerbang tembok keluarga Maxwell telah bertebaran di lantai kastil juga memenuhi halaman kastil.


Mereka telah tewas sepenuhnya.


Cyntia menoleh dan menatap Alvin lagi.


'Kapan dia menghabisi mereka?'


Merasakan keheningan, wanita itu baru menyadari jika semua hunter yang berada di sekitar mereka kini sedang menatap Alvin dalam diam. Bahkan, Arthur dan Marco pun bereaksi sama. Terlihat wajah takjub dan keheranan mereka pada Alvin.


Bagaimana tidak. Mereka telah bekerja keras mempertaruhkan nyawa hanya untuk menghalau pasukan lich. Bahkan sudah banyak rekan mereka yang tewas pada serangan awal.


Tapi, semua lich langsung tewas begitu Alvin tiba di kastil bahkan mereka tidak melihat kapan dia menghabisi monster-monster tersebut.


.........


Biasanya, hunter-hunter akan merayakan kemenangan dengan bersorak sorai gembira setelah berhasil memenangkan pertempuran melawan monster Dungeon, terutama saat memenangkan Dungeon Break seperti ini.


Kali ini, mereka hanya bergeming. Rasa heran dan penasaran para hunter, menutupi rasa gembira mereka.

__ADS_1


Melihat Alvin berhasil membasmi seluruh pasukan The Destroyer waktu itu saja sudah membuat mereka takjub, apalagi saat ini ketika ia membasmi puluhan ribu lich dengan sangat mudah.


"Kekuatannya berada di level yang berbeda," pikir Lowe Frostman yang masih berbaring akibat cidera parah yang di deritanya.


Ia semakin takjub pada Alvin saat merasakan healing skill yang pria itu berkian padanya, juga pada seluruh hunter yang terluka secara bersamaan.


......................


Alvin pergi keluar kastil setelah menyembuhkan semua hunter yang terluka.


Pasukan serangga yang bertugas mencari necromancer di Kota S sudah berkumpul di halaman kastil keluarga Maxwell saat Alvin baru saja keluar dari gerbang kastil.


Sebenarnya, merekalah yang telah menghabisi semua lich hanya dengan mencari dan membunuh 30 necromancer yang berdiam di beberapa bangunan tinggi Kota S.


"Mereka bertambah kuat cuma dalam 8 bulan?" pikir Cyntia yang sedang memerhatikan pasukan serangga itu bersama Alvin.


Melihat tatapan Cyntia dan rasa penasaran yang tergambar jelas di wajahnya, Alvin segera mengembalikan pasukan serangga itu ke dalam portal.


Jika Cyntia saja berpikir seperti itu, apalagi hunter-hunter yang masih berada di dalam kastil.


Ia tidak ingin repot menjawab rasa penasaran hunter-hunter itu.


"Kau mau pergi lagi?" tanya Cyntia, melihat Alvin tampak bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu lagi.


"Mereka masih menguasai 3 kota lain."


Cyntia tersenyum pahit. Ia ingin ikut namun tidak bisa melakukannya karena masih memiliki banyak tanggung jawab yang harus dilakukan di kastil.


Alvin berbalik, menatap Vina yang juga sedang menatapnya dengan rasa cemas dalam pelukan Jack.


"Bisakah aku menitipkan Vina padamu?"


Cyntia mengikuti arah tatapan Alvin lalu tersenyum pada Vina saat tatapan mereka saling bertemu.


"Tentu saja. Biarkan mereka tinggal di kastil sementara hunter-hunter membersihkan seluruh mayat monster."


Alvin menggelengkan kepalanya lalu mendongak menatap puluhan belalang yang tampak di kejauhan, membawa Raymond dan 6 anak buahnya.


Alvin telah menugaskan mereka untuk menjemput Raymond dan tim penambangnya yang bersembunyi di bunker perusahaan Rufino agar mereka bisa mengumpulkan tulang-tulang lich di Kota S.


"Mereka akan melakukannya."


"Ya?"


"Aku memerlukan tulang-tulang mereka untuk menambal kerugian," sahut Alvin dan membuat Cyntia semakin bertambah bingung.


Dalam perjalanan menuju Kota S, Vina telah memberitahunya bahwa seluruh stok set armor di gudang telah ia sumbangkan bagi para hunter Kota T untuk membantu mereka memerangi pasukan lich.


"Sebenarnya..., kau kemana saja selama 8 bulan ini?"


"Aku...," Alvin mengusap-usap janggutnya. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak tidak bisa mencukur janggut dan kumisnya, namun ia segera menghentikan apa yang dilakukannya itu saat melihat Cyntia tertawa.

__ADS_1


'Sial. Dia pasti berpikir aku seperti manusia yang baru keluar dari gua.'


...****************...


__ADS_2