Hunter System

Hunter System
Bab 83 - Kastil Maximus


__ADS_3

Pagi harinya, pagi-pagi sekali, Alvin mengikuti Robert dan Erfhina menuju kediaman keluarga Maxwell di kastil Maximus.


Begitu mereka memasuki benteng, Alvin langsung bernostalgia dengan suasana di dalam benteng yang banyak dipenuhi hutan alami.


Ia juga melihat keadaan dalam benteng yang tidak terlalu banyak berubah sejak 9 tahun lalu, kecuali beberapa tambahan barak hunter pemula di sekitar bagian dalam tembok.


Keluarga Maxwell benar-benar menjaga hutan alami dengan sangat baik dengan hanya sedikit melakukan penebangan untuk lokasi pembangunan barak-barak tersebut.


"Apakah itu barak untuk hunter-hunter pemula?" tanya Alvin pada Xavier bersaudara yang duduk di kursi depan.


"Ya. Sejak 5 tahun lalu, putra atau putri para pekerja di kastil dan putra putri para member guild tinggal di barak baru," sahut Erfhina.


Alvin mengangguk-angguk pelan.


"Sudah lama sekali ya?"


Alvin tersenyum tipis.


"Ya."


"Kapan terakhir kali kau menginjakkan kaki di dalam benteng ini? 8 tahun? 9 tahun?" Robert bertanya.


"Sembilan tahun."


"Kau baru lulus sekolah menengah pertama waktu itu, kan? Fhina merasa sangat kesepian saat itu." Robert tertawa setelah mengucapkan kalimat terakhir dan dia berakhir dengan di tinju Erfhina.


......................


Robert dan Erfhina mengantarkan Alvin ke ruang kerja Arthur Maxwell setelah mereka tiba di dalam kastil utama yang berlokasi di area pusat benteng.


Alvin sendiri nantinya akan tinggal di kastil kanan, tempat para hunter profesional baru guild Maximus tinggal. Kastil itu dihuni khusus oleh hunter pria. Sementara kastil kiri dihuni oleh para wanita yang juga merupakan hunter profesional baru guild Maximus.


Ada 4 kastil yang berukuran sama besarnya di dalam benteng itu. Selain 3 kastil tadi, masih ada 1 kastil yang terletak di belakang kastil utama. Kastil itu dikhususkan untuk para pekerja keluarga Maximus. Baik para pekerja kastil, maupun para pekerja baru yang bekerja di perusahaan-perusahaan Maximus yang berada di luar benteng.


Para penghuni 3 kastil, selain kastil utama, biasanya akan berganti setiap 4 atau 5 tahun sekali.


Orang-orang yang karirnya sudah cukup berhasil, biasanya akan pergi dari kastil. Namun, tetap saja mereka pergi tidak terlalu jauh dari luar benteng. Mereka biasanya akan membeli properti di area luar benteng yang juga merupakan milik Maximus group.


Karena setianya orang-orang itu pada keluarga Maxwell, mereka bahkan enggan untuk pergi jauh dari lingkungan benteng, khawatir jika terjadi perang besar antara keluarga Maxwell dan keluarga Lewis, walaupun Arthur sama sekali tidak mempermasalahkannya.


......................


"Paman Ar...thur," sapa Alvin saat ia baru masuk ke ruang kerja Arthur.


Kalimatnya agak sedikit terputus saat melihat Cyntia juga berada di ruangan itu.


Cyntia langsung pamit pada ayahnya lalu pergi meninggalkan mereka bersama Robert dan Erfhina sesaat setelah Alvin masuk.


Yang membuat Alvin agak canggung adalah saat Cyntia melewatinya tanpa menoleh sama sekali apalagi menyapa, padahal ia baru hendak menyapanya.


'Apa dia membenciku?'


["Kenapa tidak kau lihat saja skornya?"]

__ADS_1


'...'


["Kau khawatir skor nya 1 atau bahkan 0?"] Mina tertawa nyaring setelah mengucapkan itu.


.........


"Sudah lama sekali," ucap Arthur sambil berdiri dari kursi kerjanya.


Pria paruh baya itu menghampiri Alvin lalu memeluknya erat.


Arthur menepuk pundak Alvin berkali-kali. Bukan dengan pelan, namun dengan agak sedikit keras hingga membuat Alvin agak kaget.


"Kau benar-benar membuatku khawatir. Tolong jangan lakukan lagi hal itu pada kami. Aku dan Marco sudah sama-sama tua," ucap Arthur sambil masih menepuk-nepuk pundak Alvin.


"M-maafkan saya, paman."


Arthur kemudian membawa Alvin pergi ke balkon yang berada di depan ruang kerja tersebut.


Ia juga sudah menyediakan makanan ringan dan teh disana untuk mereka.


Pemandangan sungai alami yang melintas di antara kastil utama dan kastil khusus wanita menjadi pemandangan di tempat mereka berada.


Puluhan burung gereja yang terbang melintas, dan beberapa ekor rusa yang sedang minum di tepi sungai, membuat Alvin merasa seakan berada di zaman abad pertengahan. Andai mereka tidak mengenakan pakaian modern, Alvin pasti merasa bahwa ia telah kembali ke masa lalu.


.........


Alvin merasa canggung saat Arthur menuangkan teh untuknya. Walaupun ia tahu Arthur adalah orang yang seperti itu, tapi dia tetap merasa tidak nyaman dan tidak terbiasa.


Menurutnya, Arthur terlalu baik sebagai seorang pemimpin. Saat dulu masih tinggal di kastil, ia juga sering melihat Arthur menuangkan minuman bukan hanya untuk para rekan bisnisnya, namun juga melakukannya untuk para pelayan yang lebih tua, yang ia ajak berbincang di pagi dan sore hari.


"Bagaimana kabarmu?"


"Y-ya..., saya baik-baik saja paman."


Arthur menatap Alvin lama sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.


Ditatap seperti itu tentu saja membuat Alvin salah tingkah dan menebak-nebak apa yang berada di dalam pikiran pria paruh baya itu.


'Apa dia akan menanyaiku tentang apa yang terjadi pada Miranda? Atau apakah dia bisa menebak bahwa aku yang membuat Brondy lumpuh?'


["Bisakah kau diam? Jangan menggangguku. Aku sedang membuat senjata-senjata bagus dari tulang-tulang lich."]


'Aku sedang diam. Kau saja yang selalu mendengar pikiranku!'


["..."]


Tapi, apa yang Alvin pikirkan ternyata tidak terucap oleh Arthur. Arthur malah menanyakan hal yang tidak berhubungan dengan dua kejadian itu sama sekali.


"Paman sudah mendengar alasan Vina tidak ikut. Tapi, apa dia sebenarnya baik-baik saja tinggal di Kota T sendiri?"


"Ap... Ah..., ya. Vina memiliki banyak teman di sana."


Arthur mengangguk-angguk pelan.

__ADS_1


"Kau tahu, kan? Paman sudah menganggapmu, juga Vina seperti anak paman sendiri. Jika kalian ada masalah, jangan sungkan untuk meminta bantuan. Jangan melarikan diri seperti itu lagi. Susah bagi kami untuk melindungimu saat kau tidak ada di sekitar kami."


Alvin sedikit terkejut mendengarnya.


'Dia bahkan tidak peduli padahal aku sudah berbuat masalah besar?'


"S-saya mengerti."


Setelah diam agak lama, seperti sedang mempelajari apa yang ada di dalam pikiran Alvin melalui ekspresinya, Arthur akhirnya tersenyum.


"Nak, apa kau ingat janjimu saat kau mau pergi meninggalkan kastil ini dulu?"


"Janji? Oh y-ya... Paman."


Arthur tertawa setelah mendengar jawaban meragukan itu.


Alvin tentu saja mengingat janji itu.


Saat Arthur dan Marco memintanya untuk tetap tinggal di dalam benteng, Alvin dan Vina memutuskan untuk keluar benteng.


Walaupun berat untuk melepas dua remaja itu, namun Arthur akhirnya membelikan mereka rumah sederhana di lingkungan terbaik di luar benteng, walaupun dalam lingkungan itu tidak ada seorangpun dari orang-orang kepercayaan keluarga Maxwell. Itu adalah rumah yang sampai saat ini Alvin dan Vina miliki.


Saat itu Alvin berjanji bahwa ia akan kembali lagi pada keluarga Maxwell untuk melayani pewaris keluarga Maxwell setelah sang pewaris kembali dari Eropa. Entah bentuk pelayanannya itu sebagai seorang hunter atau sebagai pembantu administrasi sang pewaris, seperti yang ayahnya lakukan.


"Apa kau masih ingin memenuhi janji itu? Atau itu hanyalah kata-kata yang keluar dari seorang remaja yang baru bertumbuh?" tanya Arthur, di sela senyumnya.


Alvin langsung memalingkan wajah menatap ke arah sungai, yang entah bagaimana, secara kebetulan ia langsung bertatapan dengan sang pewaris yang sedang ia pikirkan dan sedang mereka bahas saat ini.


Karena kebetulan tatapan mereka langsung saling bertemu, Alvin pun dengan cepat memalingkan wajahnya lagi, menatap Arthur.


"Y-ya... Paman."


'Apa yang dia lakukan disana?'


["Memancing. Kau tidak lihat?"]


'Aku tahu. Tapi..., sejak kapan dia suka memancing? Bukannya dia juga takut berada di sekitar sungai itu karena pernah hampir mati tenggelam?'


["Tsk... Dia sudah dewasa. Dan lagi, bagaimana kau tahu hobi baru seseorang setelah tidak bertemu dengannya selama 18 tahun?"]


'...'


......................


Sementara itu di tepi sungai, tepat di seberang balkon tempat Alvin dan Arthur berada.


"Nona Tia. Anda harus memasang umpannya dulu sebelum melempar kailnya," ucap seorang pelayan.


Ia tadi kaget saat Cyntia tiba-tiba datang menghampirinya dan langsung memohon padanya agar meminjamkan joran itu untuknya.


"Umpan?"


"Ya..."

__ADS_1


"..."


__ADS_2