
Anna bisa melihat rasa penasaran di mata Cyntia pada Miyuki.
"Dia akan menjelaskannya padamu nanti," ucap Anna pada Cyntia.
"Ya?"
Anna berpaling, menatap Miyuki yang berdiri di sampingngnya sembari membuka portal menuju laboratorium bawah tanah rahasia milik gadis berparas manis tersebut. "Miyu, semua sisa kristal sihir kita, bisakah kau berikan padanya?"
Miyuki mengangguk pelan. "Tentu," sahutnya, lalu berpaling pada Cyntia. "Ikutlah denganku."
Cyntia nampak ragu menerima ajakan Miyuki yang ia tahu ingin mengajaknya pergi ke dalam gerbang buatan Anna.
"Dia akan menceritakan semuanya padamu sambil membantumu untuk mendapatkan kenaikan kapasitas energi Mana," ucap Anna lagi pada Cyntia, berusaha untuk menghilangkan rasa khawatir wanita itu.
"Jika kau ingin membantu pria ini menyelamatkan dunia, ikutlah denganku," tambah Miyuki.
Alvin tersenyum tipis pada Cyntia yang menatapnya dengan sedikit rasa khawatir yang terpancar jelas dari kedua matanya.
"Tidak apa-apa. Ikutlah dengannya," ucap Alvin.
"Baiklah..."
Miyuki mempersilahkan Cyntia untuk masuk terlebih dahulu ke dalam gerbang sementara ia berpaling lagi pada Alvin.
"Kau menang," ucap Miyuki, sembari tersenyum tulus sebagai ucapan selamat pada Alvin. "Jangan lupakan pelajaran yang sudah kuberikan padamu."
Diakui seperti itu, tentu saja membuat Alvin terkejut. Ia tidak menyangka jika Mina versi remaja ini memiliki hati yang jauh lebih baik dibandingkan Mina yang berada di dalam tubuhnya.
"Terimakasih untuk bantuanmu. Aku tentu tidak akan melupakannya."
Miyuki mengangguk pelan, lalu pergi menyusul Cyntia masuk ke dalam gerbang buatan Anna.
Setelah Cyntia dan Miyuki pergi, Anna menggunakan kesempatan itu untuk mengajak Alvin berpindah tempat. Ia memiliki hal penting yang dewi Ann minta untuk diberitahukan pada pria itu.
...****************...
"Kau tidak membutuhkan bantuan untuk menghabisi mereka, kan?" tanya Alvin setelah selesai mengagumi bagaimana dirinya bisa berpindah tempat secara instan saat Anna membawanya berteleportasi ke depan gerbang merah besar yang berada di kota Tianjin.
Di tempat itu, ia melihat ada ratusan pasukan orc dan elf, yang ia tahu sebagai pasukan yang Anna miliki, sedang bertempur melawan jutaan monster berkulit merah darah yang berasal dari gerbang sihir yang memiliki panjang berkilo-kilometer dengan tinggi yang melebihi sebuah gedung dengan 100 lantai.
Alvin mengagumi pasukan elf yang masing-masingnya memiliki kekuatan setara dengan Cyntia, bahkan ada beberapa elf yang memiliki kekuatan berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan Cyntia.
Tapi, Alvin bukan hanya mengagumi kekuatan mereka saja. Ia juga mengagumi wujud elf yang sangat anggun saat untuk pertama kali melihat elf secara langsung.
Elf memang sangat jarang muncul di sebuah Dungeon. Hanya dark elf lah yang biasanya ada di sana. Tapi, Alvin juga belum pernah bertemu dengan dark elf sekalipun.
.........
"Mereka bisa mengatasinya," sahut Anna.
Alvin mengangguk pelan. Ia juga bisa merasakan perbedaan kekuatan yang sangat jauh antara pasukan elf dan orc yang hanya berjumlah ratusan itu dengan pasukan monster merah yang berjumlah jutaan.
"Mereka sangat kuat. Tapi, bagaimana caranya kau bisa menjadikan pasukan elf dan orc itu sebagai bawahanmu?" tanya Alvin.
"Mereka bukan bawahanku. Mereka teman-temanku."
"...Baiklah."
Anna tertawa.
__ADS_1
"Masih lebih masuk akal berteman dengan mereka dibandingkan berteman dengan pasukan serangga, kan?" ucap Anna dan berhasil membuat Alvin terkejut lagi.
"Kau tahu itu?!"
"Tentu saja."
'Seingatku, aku tidak pernah memanggil pasukan serangga selama dia ada.'
["Entahlah. Baik manusia ini ataupun wanita pirang-platinum itu membuatku bingung."]
"Sebaiknya kita bertiga berbicara secara langsung saja," ucap Anna, memotong pembicaraan Alvin dan Mina yang bisa didengarnya.
Alvin mengernyitkan kedua alisnya, tidak mengerti dengan apa yang Anna maksud.
"Ayo kita pergi."
"Pergi kemana lagi?"
"Rin... Maksudku... Rimi, tolong buka inventory," ucap Anna.
Sebuah portal sihir yang seharusnya cuma bisa diakses dan dlihat oleh Alvin tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. Tanpa permisi, Anna masuk ke dalam portal itu terlebih dahulu.
Ia memerhatikan keadaan di dalam ruangan hologram tersebut sebelum pergi ke sebuah kursi dan duduk di atasnya.
Di luar ruang hologram, Alvin masih menatap portal dengan mulut menganga lebar.
'Bukankah aku harus memberinya izin dulu untuk masuk kesana? Bukankah inventory cuma bisa diakses dan dimasuki olehku saja?'
["...Sebagai pembuat Sistem, aku juga malu untuk mengatakan ini. Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa masuk ke sana tanpa izinmu."]
'...'
Alvin akhirnya masuk ke dalam inventory dan menatap Anna yang sedang duduk menunggunya dengan tatapan penuh selidik.
"Karena aku bisa. Kebetulan, aku dan Rin adalah teman dekat."
"Ya?"
Alvin akhirnya menyadari jika ada hal aneh disini. Rimi harusnya tidak akan mau menuruti perintah siapapun selain dirinya dan Mina. Tapi, Rimi yang sejak tadi diam, bahkan langsung membukakan inventory setelah mendapat perintah dari Anna.
"Kau... Apa kau menghipnotis Rimi?"
"Ya."
Glup...
"B-bagaimana kau melakukannya?"
"Karena aku bisa."
"..."
"Duduk dulu. Jangan khawatirkan dia. Dia baik-baik saja," ucap Anna sembari menunjuk salah satu kursi kosong di dekatnya.
Setalah Alvin duduk di sana, Anna kembali berbicara, "Kau juga, Miyu. Aku sampai repot-repot masuk ke sini untuk bisa bertemu langsung denganmu."
"Miyu?" tanya Alvin heran.
Alvin langsung tahu siapa yang Anna maksud saat sosok gadis remaja tiba-tiba saja muncul di dalam ruang hologram itu.
__ADS_1
Dia memiliki rupa yang sama persis dengan Miyuki Nakano, yang baru saja bertarung dengannya.
"Kau... Kau bisa menunjukkan wujud manusiamu?!" umpat Alvin pada Mina yang langsung mendecak dan membuang muka darinya.
"Kenapa kau tidak pernah menunjukkannya padaku?"
"Aku takut kau akan menyukaiku," sahut Mina.
"Apa?! Jangan bermimpi!"
"Tsk... Wajahmu memerah."
Mina berbohong tentang ucapannya yang terakhir. Dia hanya tidak ingin kebohongannya terbuka dengan sangat jelas.
"Aku sama sekali tidak tertarik pada gadis remaja!"
"Lalu untuk apa kau menonton girl group itu?"
"..."
"Kalian berdua sangat akrab," ucap Anna, menengahi keributan yang sepertinya akan terjadi di antara Alvin dan Mina.
"Kami tidak akrab," sahut Alvin dan Mina secara hampir bersamaan.
Anna tertawa beberapa saat sebelum akhirnya menepuk kursi kosong di sebelahnya, meminta Mina untuk duduk di situ.
"Kau pasti bingung dengan apa yang terjadi di zaman ini, kan? Tentang monster-monster yang harusnya belum muncul tapi sudah bermunculan dalam satu tahun belakangan," ucap Anna, beberapa saat setelah Mina duduk di sampingnya.
Mina mengangguk.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Itu karena kita sudah membuat kekacauan hingga membuat mereka muncul lebih cepat."
Mina mengangguk lagi. Ia sudah menduga mengenai hal tersebut.
"Ada hal yang mengganjalku selama ini," ucap Mina. Ia menoleh untuk bertatapan langsung dengan Anna, lalu melanjutkan kalimatnya, "Kau sepertinya memiliki sebuah hubungan dengan wanita berambut pirang-platinum itu, kan?"
"Namanya dewi Ann."
"Baiklah. Aku juga ingin tahu, bukankah kau seharusnya mati saat usiamu 18 tahun? Jika kau yang sekuat ini ternyata masih hidup, kenapa kau tidak datang membantu kami di masa depan? Kenapa kau bersembunyi?"
Nada bicara Mina terdengar sedikit kasar saat menanyakan hal itu.
Dia menyadari jika Anna memiliki kekuatan yang berada di luar nalarnya sebagai satu-satunya hunter kuat yang tersisa di masa depan. Mina berpikir, andai saat itu Anna membantu umat manusia, maka ia tidak perlu repot-repot pergi ke masa lalu seperti yang sudah dilakukannya.
.........
Anna tersenyum pahit sebelum menanggapi pertanyaan tersebut.
"Karena aku memang tidak hidup melebihi usia 18 tahun."
"Huh?! Aku melihatmu bertukar tubuh dengan dewi Ann itu dan aku tahu jika dia telah menghidupkanmu kembali. Kau ingin berbohong padaku?"
Masih dengan senyum pahit di bibirnya, Anna memberikan jawaban, "Aku cuma berhasil melewati usia 18 tahun di kehidupan ini saja. Tidak dengan kehidupan-kehidupan sebelumnya."
"Huh? Apa maksudmu?"
"Kau pasti merasa heran kenapa dirimu yang berada di zaman ini juga Rin, Kevin, Bimo dan Gina sudah saling mengenal, kan?"
__ADS_1
Mina mengangguk.
"Karena dunia tempat kita hidup sekarang bukanlah tempat yang sama dengan yang pernah kau tinggali."