
["Dia sedang mengambil dan mempelajari data teknik bertarung yang pernah dimilikinya."]
'Begitu... Baiklah.'
"Miyu memberikan ini untuk Rin," ucap Anna setelah tahu komunikasi melalui pikiran antara Alvin dan Mina telah berakhir.
"Rin?"
"Ya."
"Aku mengerti," sahut Alvin seraya mengangguk kecil. "Apa aku boleh menyimpannya?"
"Tentu saja."
Alvin membuka inventory lalu memindahkan avatar hunter kedalamnya.
"Semua sudah selesai. Sekarang kita hanya menunggu kedatangan Beelzebub dan..."
Anna memberitahukan beberapa hal penting lagi pada Alvin dan Cyntia tentang apa yang harus mereka lakukan untuk bisa menyelamatkan Bumi dari kehancuran.
Setelah Anna menjelaskan mengenai semua rencana yang telah dewi Ann susun dan percayakan pada mereka untuk dapat melaksanakannya, Anna membuat gerbang untuk Alvin dan Cyntia yang akan langsung menghubungkan mereka pada Kota S.
...****************...
Sekembalinya ke Kota S, Alvin dan Cyntia tidak langsung pulang ke kediaman mereka masing-masing.
Keduanya pergi ke sebuah lokasi yang berada di dekat perbatasan antara Kota S dan Kota T, di mana titik koordinat tempat kemunculan Beelzebub telah Anna beritahukan pada mereka.
Setelah melakukan perjalanan udara selama 2 menit, Alvin dan Cyntia akhirnya tiba di sebuah padang rumput luas yang berada di dekat perkampungan ternak milik sebuah perusahaan asal Kota S.
.........
"Untungnya semua warga masih berada di pengungsian," ucap Alvin sambil memerhatikan padang rumput yang layu akibat terkontaminasi energi sihir imbas dari pertarungannya dengan Miyuki.
"Bukankah kita sebaiknya memberitahukan juga pada paman Alan? Akan lebih baik jika paman Alan bisa menyebarkan informasi itu pada para ketua Asosiasi di 5 kota," Cyntia memberi saran.
"Sebaiknya begitu."
Setelah mendapat persetujuan Alvin, Cyntia menghubungi Alan Maxwell dan memberitahukan semua hal tentang apa yang akan terjadi di Kota S juga tindakan yang harus mereka berdua lakukan untuk mencegahnya.
Alan Maxwell tentu saja kaget setelah mendapat informasi dari Cyntia. Ia sangat ingin membantu namun tahu jika hunter setingkat dirinya hanya akan menjadi beban bagi Alvin dan Cyntia.
Pria paruh baya itu akhirnya menyetujui untuk melakukan apa yang Cyntia minta dan ia pun segera menghubungi para ketua Asosiasi di 5 kota untuk menjaga agar warganya tetap berada di sekitar bunker.
......................
"Kuharap kehidupan akan kembali normal setelah semuanya selesai," ucap Alvin setelah Cyntia duduk di dekatnya di atas sebuah batang pohon besar yang berada di tepi padang rumput.
"Aku juga penasaran dengan kehidupan sebelum adanya gerbang-gerbang Dungeon. Orang-orang pasti tidak akan khawatir dan bisa tidur dengan tenang tanpa perlu mengkhawatirkan lagi gerbang Dungeon yang bisa saja muncul di halaman rumah mereka."
Alvin mengangguk pelan.
"Tapi... Kita mungkin akan menganggur jika gerbang-gerbang sudah menghilang dari Bumi."
Cyntia tertawa.
__ADS_1
"Pekerjaan apa yang ingin kau lakukan jika sudah tidak menjadi hunter lagi?" tanya Cyntia
Alvin diam agak lama, memikirkan apa yang ingin dilakukannya seandainya gerbang Dungeon sudah tidak ada lagi.
Tapi, semakin lama memikirkannya, semakin banyak keinginan yang muncul di dalam benaknya hingga ia harus memilih satu dari banyaknya pilihan yang kini hadir dalam pikirannya.
Alvin sejak awal hanya bercita-cita untuk menjadi lebih kuat untuk bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dan dia sudah mencapai kedua tujuan tersebut.
Selama ini, ia tidak pernah memikirkan jalan hidup apa pun selain menjadi seorang hunter.
"Aku mungkin akan menjadi bos properti," ucap Alvin saat mengingat lahan kosong di pusat kota yang baru ia bersihkan bersama Miyuki. Ia yakin jika bisa membeli lahan tersebut mengingat tabungannya yang sangat besar. "Kau sendiri, pekerjaan apa yang ingin kau lakukan jika sudah tidak menjadi seorang hunter?"
"Aku ingin jalan-jalan berkeliling dunia," sahut Cyntia cepat. Dia memang sudah memikirkannya sejak lama.
Alvin mengangguk pelan.
"Bagaimana jika kau ikut denganku?" ucap Cyntia lagi.
Alvin tertawa.
"Tentu saja. Bukankah aku sudah berjanji untuk menjadi pengawal pribadimu?"
Cyntia buru-buru memalingkan wajah setelah mendapat jawaban itu.
Alvin juga melakukan hal yang sama saat menyadari kalimatnya tersebut mirip seperti sebuah lamaran secara tidak langsung.
Beberapa detik kemudian, Cyntia akhirnya berpaling lagi dan menatap Alvin yang berekspresi canggung.
"Ku harap kau memegang janjimu," ucap Cyntia yang malah tersipu setelah mengatakannya.
Mereka diam cukup lama dan larut dalam hayalan masing-masing setelahnya.
ucap Rimi tiba-tiba.
'S-selamat datang Rimi.'
["Astaga! Kau mengganggu mereka, Rimi!"]
["Mereka sedang dalam suasana hati yang sangat baik."]
'Tidak... Tidak apa-apa, Rimi.'
["Sayang sekali. Aku kehilangan tontonan menarik."]
'Kau gila.'
["Kaulah yang gila. Bagaimana bisa jantungmu berdebar sekencang itu hanya karena ingin memegang tangan seorang wanita?"]
'Kau...'
["Aku bisa mendengar dengan jelas niat dalam benakmu."]
__ADS_1
'...Bisakah kau pura-pura tidak tahu?'
Mina tertawa.
["Apa kau semalu... itu...?"]
Alvin dan Mina menyudahi pembicaraan saat mereka secara bersamaan merasakan aura sihir yang tiba-tiba saja muncul di tengah padang rumput luas dihadapannya.
Cyntia yang menyadarinya sedikit terlambat juga ikut menatap ke arah yang sama persis di mana tatapan kedua mata Alvin tertuju.
"Apa itu dia?" tanya Cyntia.
"Ayo berharap seperti itu. Lebih cepat menyelesaikan pekerjaan kita akan semakin baik."
......................
Dari tempat asal energi sihir berada, sebuah titik merah muncul disana.
Titik merah tersebut berkembang semakin besar tak lama kemudian, membentuk sebuah gerbang merah yang berkilauan.
Alvin dan Cyntia langsung berlari mendekati gerbang sihir yang muncul menggantikan titik kemerahan dan berniat untuk masuk ke dalam gerbang sebelum monster-monster penghuninya menyeberang ke Bumi mendahului mereka.
Tapi, saat mereka tiba di depan gerbang, keduanya menyadari jika mereka tidak bisa menyeberang masuk karena gerbang itu sudah berwujud kristal padat sejak awal.
Alvin mengangkat tangan hendak mengarahkan tinjunya pada gerbang untuk menghancurkannya, namun ia segera mengurungkan niatnya tersebut saat menyadari jika gerbang itu menancap dengan sangat dalam di tanah.
Alvin berjongkok, memerhatikan pangkal gerbang dengan rasa khawatir.
'Sedalam apa gerbang kristal ini menancap ke Bumi?'
["Sampai ke inti Bumi."]
'Apa Bumi akan ikut terbelah jika aku menghancurkan gerbang ini?'
["Tentu saja. Jangan lakukan itu."]
'Pantas saja Anna juga tidak menghancurkan gerbang yang berada di Tianjin.'
"Alvin!" seru Cyntia tiba-tiba.
Alvin mendongak dan melihat gerbang itu terus berkembang dengan sangat cepat. Ia bahkan sudah hampir tidak bisa melihat ujung dari tinggi gerbang yang dengan cepat naik ke langit biru.
Alvin meraih pergelangan Cyntia dan membawanya mundur menjauh dari depan gerbang.
.........
Karena tidak ada yang bisa mereka lakukan pada gerbang itu selain menunggu monster-monster keluar dari sana, keduanya hanya bisa mengikuti perkembangan gerbang yang semakin lama semakin melebar dan meninggi hingga akhirnya mereka tidak bisa melihat ujung gerbang lagi baik ke atas maupun ke samping.
["Ini gerbang yang pernah kuceritakan dulu."]
'Gerbang berbentuk cincin?'
["Ya. Gerbang raksasa yang membentuk cincin seperti cincin pada planet Saturnus."]
...****************...
__ADS_1