Hunter System

Hunter System
Bab 227 - Tanpa Perlawanan


__ADS_3

Alvin menayapukan tatapannya pada semua dewa yang masih tinggal di gua itu dengan sorot mata tajam penuh ancaman.


Anehnya, para dewa yang harusnya tidak gentar pada makhluk ciptaan kasta terendah, sebagian besar malah berusaha menghindari tatapan Alvin sebisa mungkin.


Ada ketakutan tak terlukis di hati mereka saat harus bertemu pandang dengannya.


"Perasaan ngeri apa ini?" pikir para dewa.


.........


"Untuk Anda semua ketahui. Jika si brengsek ini menjanjikan sesuatu yang berlebihan, artinya Anda semua sudah masuk dalam akal bulusnya,"


"Anda-anda tahu kan kenapa dia sampai terasing seperti ini?" Alvin menjeda kalimatnya, menatap mereka lagi sebelum melanjutkan, "Karena dia mencoba untuk memerangi keluarga dewa Arnix."


Semua dewa menyimak apa yang baru saja Alvin ucapkan dengan serius. Mereka sebenarnya tahu alasan tersebut, namun mereka baru memikirkannya dengan matang sekarang.


Harusnya mereka sadar sejak awal. Berani melawan keluarga dewa legendaris itu merupakan hal yang sangat-sangat bodoh.


Para dewa itu akhirnya memikirkan kesalahan yang sudah mereka lakukan dan menimbang tentang janji yang dewa Roa berikan pada mereka sepertinya adalah sesuatu yang kurang masuk di akal.


Dewa Roa menjanjikan pada mereka; jika mereka nantinya bisa menyingkirkan keluarga dewa Arnix, maka mereka akan bisa menduduki dunia para dewa.


"Ingat. Kita mungkin tidak bisa menghadapi Ann Arnix. Tapi tidak dengan Serafim penguasa dunia pengasingan. Mereka akan saling berhadapan. Apa kalian lupa?" ucap dewa Roa setelah melihat perubahan pada ekspresi wajah semua dewa setelah mendengar apa yang baru saja Alvin katakan.


Ditinggalkan oleh dewa-dewa lemah memang tidak akan membuat dewa Roa kesulitan. Namun, jika Alvin berhasil memengaruhi sisa-sisa dewa yang masih berdiri bersamanya ini, dia pasti akan celaka.


Ia bisa melihat perubahan ekspresi lagi dari para dewa sekutunya.


Namun, apa yang Alvin katakan selanjutnya berhasil membuat semua dewa pada akhirnya benar-benar kehilangan nyali.


"Untuk kalian ketahui juga, dewi Ann saat ini telah diangkat menjadi dewan pengawas agung."


Semua dewa bertatapan. Mereka baru mendengar informasi itu dari Alvin karena tidak ada dari mereka yang pernah pergi meninggalkan celah dimensi untuk mengetahui informasi terbaru dari dunia para dewa.


"Apa yang dia katakan benar, Roa?"


Beberapa dewa menatap dewa Roa.


Dewa Roa yang terakhir kali masih berkeliling di alam semesta dan beberapa dimensi untuk mengumpulkan sekutu tentu tahu hal itu. Tapi dia sengaja menyembunyikannya.


"Dia berbohong!" seru dewa Roa.

__ADS_1


Ingin sekali ia menyerang Alvin yang sejak tadi berusaha memengaruhi pikiran sekutunya. Namun gadis berekspresi dingin yang berdiri dengan sikap waspada di sampingnya membuatnya merasa ngeri.


Ia tidak bisa melihat kecepatan gadis itu saat tadi membelah tubuh salah satu dewa.


Dewa Roa tahu, gadis itu bukanlah makhluk ciptaan sembarangan, mungkin saja ia jauh lebih kuat darinya.


Baru saja dewa Roa melirik dan menatap Mina, Mina akhirnya maju mendekat beberapa langkah.


"Kalian pikir Serafim penguasa dunia pengasingan ingin berhadapan dengan dewi Ann? Jika dia sangat ingin bertarung melawan dewi Ann, untuk apa dia mengirim kami ke sini?" Mina menambahkan keraguan yang lebih banyak pada pikiran para dewa yang berdiri di belakang dewa Roa.


Mina melanjutkan sembari menuding dewa Roa, "Kami akan menghabisi pengacau ini di sini. Kalian tidak seharusnya kehilangan nyawa dan berakhir di alam ketiadaan seperti para dewa dan malaikat yang sudah bekerjasama dengan pengkhianat ini,"


"Kami tahu, kalian semua tidak memiliki masalah apa pun baik pada dewan pengawas agung, Serafim dan Absolut. Jadi, jika kalian meninggalkannya di sini, kami yakin kalian akan terus hidup sampai hari penghakiman tiba."


Mendapat peringatan itu, akal sehat para dewa yang sudah terasing di celah dimensi selama ratusan juta hingga miliaran tahun itu kembali terbuka.


Apa yang Mina katakan memang sangat masuk akal.


Mereka semua bukanlah dewa bermasalah seperti dewa Roa. Mereka mengasingkan diri ke celah dimensi bukan karena melarikan diri dari perbuatan yang menyimpang.


Mereka hanyalah mengasingkan diri karena malu setelah kehilangan galaksi akibat kalah dalam pertempuran antar dewa penguasa galaksi saja.


.........


Sama seperti para dewa sebelumnya, mereka membuat sebuah gerbang dan pergi meninggalkan dewa Roa yang pada akhirnya hanya tersisa seorang diri.


"Pilihan yang bijak," ucap Alvin sembari menatap dewa Roa yang kini berwajah pucat setelah kehilangan semua sekutunya dengan sebuah senyuman sinis yang terukir di bibirnya.


Alvin kemudian mengangkat salah satu tangan yang dilingkari oleh tasbih kristal.


Inilah yang sang Serafim harapkan darinya dan Mina, makanya ia memberikan tasbih itu pada mereka.


Dengan tidak terdeteksinya energi Mana mereka, maka semua dewa tidak akan sembarangan memperhitungkan kekuatan kedua makhluk ciptaan tersebut.


Demikian sebaliknya, saat Alvin dan Mina tahu kekuatan lawan, yang berada jauh di bawah mereka, keduanya akan memiliki sikap yang lebih tenang agar bisa menyingkirkan semua dewa yang tidak terlibat itu dengan berusaha berbicara baik-baik.


Sang Serafim tahu jika Alvin dan Mina memiliki perasaan tidak tega yang sama jika harus menghabisi sosok yang tidak membuat masalah pada mereka, terutama saat mereka tahu jika lawan yang harus mereka hadapi sangatlah lemah.


Tapi tidak dengan dewa Roa. Walaupun dia tergolong sangat lemah bagi keduanya, tapi mereka datang memang untuk menghabisi dewa pembelot yang membuat Alvin dan Mina sampai harus terjerumus ke dunia pengasingan.


.........

__ADS_1


"Makhluk rendahan brengsek! Kalian pikir aku tidak menyiapkan sesuatu untuk menghabisi..."


Wussshhh...


Sraaaattttt...!


Hanya dengan satu gerakan dan satu tebasan, Alvin berhasil membelah tubuh dewa Roa menjadi dua bagian sebelum dewa Roa sempat merapalkan mantra sihirnya.


"Kau terlalu percaya diri."


Tepat setelah dewa Roa binasa, gua tempat mereka berada mulai bergemuruh. Gua yang terbuat dari energi sihir itu mulai runtuh.


"Ayo kembali."


Alvin menyambar setengah tubuh dewa Roa sementara Mina menyambar setengahnya lagi sebelum mereka masuk kembali ke dalam gerbang yang membawa mereka ke gua yang berada di celah dimensi.


......................


Setelah tiba di sisi lain gerbang, Alvin melemparkan tubuh dewa Roa ke tanah, di dekat sosok malaikat bersayap empat yang sedang berkonsentrasi dalam membangun sebuah gunung batu yang mulai menjulang tinggi.


"Kita kembali ke sini?"


Mina juga melemparkan setengah dari tubuh dewa Roa ke tanah dan memerhatikan sekitarnya.


"Berarti dia benar-benar sudah mati," ucap Mina yang kini menatap dua bagian mayat dewa Roa yang tidak menyatu kembali.


"Siapa dia?" tanya malaikat sambil memerhatikan mayat dewa Roa yang berada di dekat kakinya.


"Dia yang menjerumuskan kami ke sini," sahut Alvin.


Sang malaikat mengambil dua potong tubuh dewa Roa lalu menyatukannya. Ia menatap wajah dewa Roa dengan mengernyitkan alis, berusaha mengenalinya.


"Dewa mana dia ini?"


"Anda tidak mengenalnya?"


Malaikat itu menggeleng.


"Bukankah dia dewa kasta tertinggi?"


Sang malaikat menghela napas panjang.

__ADS_1


"Mungkin dia dewa penerus. Aku tidak mengenalnya seperti mengenal seluruh keluarga dewa Arnix."


.........


__ADS_2