
...Bagian 7 : Pertarungan Terakhir...
...☆ ☆ ☆...
Di benteng keluarga Maxwell, Alan Maxwell sedang sibuk menginformasikan pada para ketua Asosiasi di 5 kota saat sebuah cahaya merah berkilauan melintasi dan membelah sebagian kecil tembok benteng.
Sementara itu di luar kastil, Sam Maxwell yang sedang melatih para hunter muda di lapangan barak, terpental jauh saat aura sihir dari cahaya kemerahan yang berasal dari gerbang kristal itu melintasi dirinya.
Karena gerbang kristal merah bukanlah gerbang sihir biasa, aura sihirnya saja sudah terlalu sangat mengerikan.
Sam dapat melihat efek radiasi sihir hanya dari banyaknya hunter muda yang tewas karena terkontaminasi energi sihir gerbang merah yang lebih pantas disebut sebagai tembok sihir.
"Apa-apaan ini...?"
Sam menatap ke sekelilingnya dan mendapati hunter-hunter peringkat C juga ikut tewas karena pengaruh sihir gerbang.
Hanya hunter peringkat A saja yang masih bisa sedikit bertahan dari radiasi sihir. Sementara hunter peringkat B juga sudah menggelepar sekarat walau tak langsung mati.
Sam berpaling lagi, menatap gerbang yang ia kira sebuah benteng besar dengan tinggi dan panjang tembok yang tidak bisa ia lihat di mana ujungnya.
"Sam!"
Sam menoleh ke arah datangnya suara dan meliat wajah panik ayahnya yang sedang memimpin beberapa hunter dibelakangnya.
Di antara mereka ada Arthur Maxwell, keluarga Xavier, dan 3 pengawal Cyntia yang selama ini Cyntia tinggalkan untuk menjaga ayahnya.
"Tembok apa ini, ayah?" tanya Sam.
"Ini gerbang Dungeon."
"...Apa?! Tapi..., ini seperti tembok raksasa."
"Tia baru menghubungi ayah lagi dan meminta kita juga untuk mengungsi. Kau dan Brooklyn pergilah ke rumah Marco. Bawa Marco, Vina dan suaminya ke bunker rahasia kita di hutan," ucap Alan dengan suara bergetar.
Alan tidak menunggu jawaban Sam. Ia langsung membawa kakaknya, Arthur, untuk pergi ke garasi agar mereka bisa tiba di bunker sebelum monster-monster keluar dari gerbang.
"Tapi... Bagaimana dengan para pekerja dan penghuni benteng?"
Vernon yang berjalan di belakang rombongan berpaling. Ia menatap Sam dan menggelengkan kepalanya sebelum pergi menyusul Alan dan rombongannya.
Sam menoleh dan menatap hunter-hunter muda yang sebelumnya sedang berlatih bersamanya dan kini sudah tak bernyawa.
"Sial. Semua hunter yang berada di bawah peringkat B saja langsung tewas. Apalagi para pekerja keluarga," gumam Sam meratapi keadaan.
Sam kemudian mendatangi hunter-hunter peringkat B yang sekarat untuk membantu mereka pergi ke truk-truk dan bus milik keluarga Maxwell.
Bersama dengan Brooklyn, keduanya berhasil menyelamatkan puluhan hunter-hunter tersebut dan membawa mereka semua pergi dari benteng keluarga Maxwell.
"Tian Sam, biar kami yang akan membawa mereka. Anda dan Brook pergilah menjemput paman Marco," ucap salah satu bawahan Sam, seorang hunter peringkat A.
__ADS_1
"Baiklah. Tolong bawa mereka semua ke bunker kita dengan selamat."
......................
"Aura sihirnya sangat mengerikan," ucap Alvin pelan.
"Semoga tidak ada warga sipil dan hunter peringkat rendah yang kebetulan berada di jalur gerbang," ucap Cyntia dengan penuh harap, walaupun ia tahu jika wilayah keluarganya berada di sisi kiri yang dilalui gerbang raksasa.
Alvin menoleh ke arah kiri, lalu membuaka peta pertemanan setelah tahu jika gerbang itu melintas ke arah benteng keluarga Maxwell berada.
'Banyak sekali yang tewas.'
["Ada perbedaan kemiringan antara gerbang ini dan gerbang yang muncul di kehidupanku sebelumnya. Dulu gerbangnya tidak melintasi wilayah keluarga Maxwell."]
'Apa keluarga Maxwell hidup sangat lama di zamanmu?'
["Mereka bertahan sangat lama. Wanitamu memimpin keluarga dengan sangat baik."]
Alvin mengangguk pelan sambil sedikit melirik pada Cyntia yang juga sedang memerhatikan arah gerbang.
"Gerbangnya sedikit melintasi wilayah keluarga Maxwell," ucap Alvin.
Cyntia mengangguk pelan, lalu mendongak saat merasakan energi sihir besar yang baru keluar dari gerbang kristal merah.
......................
Monster berwujud ular raksasa bersisik merah yang memiliki empat sayap baru saja menyebrang dari planet mereka ke Bumi.
Tapi, apa yang terjadi di daratan juga terjadi di udara yang terdistorsi oleh energi sihir.
Tekanan akibat kehadiran ratusan ular raksasa tersebut membuat Cyntia yang bisa terbang hanya karena Alvin membantunya melakukan hal itu padanya, terombang ambing kesana kemari.
Tahu jika keadaan di tempat mereka masih kurang menguntungkan, Alvin membawa Cyntia mundur lebih jauh lagi dari gerbang dan mereka akhirnya tiba di tempat yang mengalami guncangan jauh lebih kecil, yang berada dalam jarak 1 kilometer dari gerbang.
"Sepertinya titik aman berada di sekitar 2 sampai 3 kilometer," ucap Alvin.
Cyntia mengangguk pelan lalu mengambil ponselnya lagi untuk memberitahukan informasi tersebut pada Alan Maxwell agar mereka segera pergi meninggalkan Kota S untuk bersembunyi di bunker rahasia keluarga Maxwell.
.........
Merasakan kekuatan lain yang baru saja bermunculan, Alvin membuka peta pertemanan dan melihat titik merah yang sangat banyak baru saja bermunculan dari gerbang, berjejer di sepanjang gerbang raksasa tersebut.
'Banyak sekali.'
["Sebenarnya tidak akan ada lagi tempat aman di Bumi bagi para hunter."]
'Sudah pasti seperti itu. Energi Mana mereka malah membuat mereka bisa ditemukan monster-monster ini, kan?'
["Ya. Justru para warga sipil yang tidak ikut bersembunyi bersama hunter yang lebih diuntungkan."]
Alvin hendak memanggil pasukan serangganya untuk memulai peperangan. Namun, Rimi dengan cepat menghentikannya.
__ADS_1
'Ya?'
Alvin tersenyum tipis.
'Baiklah. Ayo kita lihat kemampuanmu, Rimi.'
Alvin membuka jendela inventory dan mengeluarkan avatar hunter dari sana.
Alvin hendak menyentuh dada avatar, namun segera menarik tangannya lagi.
'Apa tidak bisa di tempat lain?'
["Kau malu? Itu cuma patung."]
Dengan memalingkan wajah, Alvin pun meletakkan tangannya ke dada avatar. Ia mempertahankan tatapannya ke arah lain saat merasa jika Cyntia sedang memerhatikannya dari samping.
Tak lama kemudian, patung itu tiba-tiba bergerak. Gerakannya sangat luwes, seakan patung itu adalah seorang manusia, saat Rimi sudah menggunakannya sebagai wadah dari Sistem Kecerdasan.
Bersamaan dengan berpindahnya Rimi, Alvin merasakan kehilangan sebagian kekuatan dari tubuhnya.
["Semua fungsi yang Rimi kelola kini telah menghilang darimu."]
Alvin mengangguk pelan.
'Tidak masalah selama aku masih memiliki airbender dan ghost skill.'
["Kedua skill itu kebetulan bukan milik Rimi jadi kau masih memilikinya."]
......................
Begitu Rimi sudah berada di dalam avatar, ia langsung membuka portal pasukan serangga dan mengeluarkan semua serangga dari sana.
Yang sedikit mengejutkan, Rimi ternyata memiliki kostum tempurnya sendiri untuk 500 pasukan serangga tersebut.
Kostum robot yang sama dengan yang sering Alvin berikan pada mereka, membuat pasukan serangga itu terlihat seperti robot serangga yang sama kerennya dengan saat Alvin menjadi tuan atas mereka.
'Darimana Rimi mendapatkan energi Mana untuk membuat kostumnya?'
["Dari inti Mana avatar milik Rimi dulu. Juga dari inti Mana, Kevin, Bimo dan Gina yang ku bawa dari masa depan."]
'Pantas saja. Mereka cukup kuat...'
Tak lama kemudian, pasukan monster berkulit merah yang terbang dengan sayap hitam menyerupai sayap kelelawar sudah muncul di hadapan mereka.
__ADS_1