
"Kalau begitu, ayo kita pulang dulu. Ada banyak hal yang harus ku kerjakan," ajak Jack setelah melihat bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mereka pergi.
"Apa saya boleh berbicara sebentar pada Anda, tuan Rufino?" pinta Ivory, sebelum Alvin berdiri dari duduknya.
"Tentu. Apa itu?"
Ivory diam sebentar. Ia sebenarnya agak sungkan untuk membicarakannya, jadi ia berusaha menyusun kalimat yang sangat tepat sebelum berbicara.
"Mengenai apa yang sudah kakak saya lakukan..."
Alvin langsung menghela nafas panjang saat mendengar kalimat pembuka itu, hingga membuat Ivory dengan spontan menghentikan apa yang ingin diucapkannya.
"Itu tidak ada hubungannya dengan Anda, nona Cruz."
"Y-ya? Maksud saya..."
"Urusan saya dengannya dan urusan Anda dengan saya adalah hal yang berbeda," potong Alvin. Ia sudah tahu jika Ivory merasa tidak enak hati padanya sejak masih dalam perjalanan ke gerbang Dungeon di pabrik.
Saat itu, Alvin bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Ivory ingin meminta maaf atas apa yang kakaknya lakukan dan Alvin tidak menyukai hal itu.
Ia memang tahu maksud baik Ivory, tapi Ivory tidak memiliki kesalahan dan tanggung jawab apa pun untuk menggantikan kakaknya meminta maaf, kecuali kakaknya itu mati dan tidak bisa melakukannya sendiri.
"Biarkan dia meminta maaf sendiri jika dia menganggap itu perlu. Dan saya minta agar Anda tidak memaksanya untuk melakukan hal itu."
Ivory terdiam. Ia agak ragu jika ayah dan kakaknya akan datang untuk meminta maaf secara langsung walaupun mereka sudah tidak mempermasalahkan lagi mengenai gerbang yang ingin Alvin buka. Itupun setelah mereka tahu bahwa Alvin lah yang telah menolong mereka untuk menutup gerbang di kedua wilayah keluarga Cruz berada.
"Lagian, saya sudah menendangnya dengan cukup keras," ucap Alvin seraya tersenyum sinis. Tapi ia segera merasa bersalah saat menyadari bahwa yang ia remukkan tulangnya itu adalah saudara kandung Ivory, "M-maafkan saya..."
......................
"Kenapa kau membawaku ke apartemen nona Cruz?" tanya Alvin saat ia dan Jack sudah dalam perjalanan menuju ke bungalow sewaannya.
"Vina yang memintaku untuk membawamu ketempat lain dulu saat aku menghubunginya untuk meminta izin memasuki bungalow kalian. Saat itu nona Cruz kebetulan mendengarnya dan menyarankan untuk membawamu ke apartemennya yang kebetulan berada tidak jauh dari pabrik itu."
"Apa dia tahu kalau aku pingsan?"
"Y-ya... Maaf, aku harus memberitahukan keadaan yang sebenarnya."
"Tidak masalah..."
Alvin mengernyitkan kedua alisnya, merasa heran dengan reaksi Vina yang sangat tidak lazim saat tahu ia pingsan setelah keluar dari Dungeon.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan gerbang di halaman kediaman Cruz? Kau ingin menutupnya atau menjadikannya gudang penyimpanan juga?" tanya Jack.
"Kalian belum menutupnya?"
"Belum. Tuan Cruz mengatakan bahwa kau bisa menggunakannya sebagai gudang penyimpanan jika ingin. Begitu juga dengan Dungeon yang berada didekat gudang-kantormu."
"Jadi dia sudah berubah pikiran?"
"Yah... Dia akhirnya menyadari bahwa tidak ada satupun hunter peringkat S yang tertarik membantu walaupun dia sudah menawarkan bayaran yang tinggi."
"Apa? Kenapa bisa seperti itu?"
Jack tertawa.
"Mereka tahu bahwa pemerintah dan para pengusaha di Kota T akan mengumpulkan uang dalam jumlah besar apabila terjadi Dungeon Break. Jadi mereka menolak bayaran yang keluarga Cruz tawarkan karena mereka tahu akan mendapat keuntungan yang lebih besar lagi jika terjadi Dungeon Break dan diminta untuk menanganinya."
"Tsk... Apa mereka lebih mementingkan uang dibandingkan nyawa manusia?"
__ADS_1
Jack tersenyum pahit. Ia melirik pada Alvin sebentar sebelum akhirnya menanggapi apa yang Alvin ucapkan, "Dunia sudah berubah, bro. Hunter-hunter kelas atas sudah tidak menganggap Dungeon sebagai ancaman. Mereka menganggapnya sebagai peluang meraup kekayaan."
Alvin mendengus kesal, sementara Jack tersenyum saat melihat ekspresi marah Alvin.
"Kuharap kau tidak akan seperti itu."
Tapi, Alvin tiba-tiba tersenyum sinis.
"Kecuali ada orang yang membuatku kesal seperti keluarga Cruz."
Jack tertawa lagi.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Tidak... Hanya saja..., kau tidak terlihat ingin mengabaikan keselamatan orang lain. Kau tetap datang walaupun tahu Dungeonnya ada di wilayah mereka."
Alvin terdiam.
Apa yang Jack katakan tidak benar.
Dia tidak akan datang jika tahu sejak awal bahwa lokasi gerbang ada di kediaman keluarga Cruz dan tidak akan mengatasi Dungeonnya jika Rimi tidak membuat sebuah subquest dadakan.
"Aku tahu, kau sebenarnya orang baik, bro. Hanya saja mereka tidak tahu itu."
Cough...
"Kau baik-baik saja?"
"A-aku baik-baik saja..."
"Kau yakin? Wajahmu merah..."
["Oh..., lihat dia. Wajahnya merona, Rimi. Penipu kecil ini merasa tersanjung atas hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan."]
'Diamlah!'
......................
"Apa kau tidak ingin turun? Apa masih ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Jack, saat Alvin tidak kunjung turun dari mobil setelah mereka tiba di depan unit bungalownya.
"Tidak... Aku akan turun sekarang. Terima kasih sudah mengantarkanku," ucap Alvin yang kemudian keluar dari mobil Jack.
Alvin tadi terdiam lama setelah melihat mobil yang terparkir di tempat parkir tamu yang berada tak jauh dari unit bungalow sewaannya. Ia sangat mengenal mobil itu.
Alvin juga langsung tahu ada dua hunter di dalam bungalownya setelah ia akhirnya tiba di depan pintu.
Ia diam agak lama di depan pintu unitnya, mendengarkan pembicaraan samar yang terjadi di dalam bungalow itu sebelum akhirnya masuk kedalamnya.
"Pantas Vina tidak langsung datang saat tahu aku pingsan dan malah meminta mereka untuk membawaku ke tempat lain dulu," pikir Alvin yang tahu kakaknya selalu mencemaskannya tapi merasa aneh karena kakaknya tidak langsung datang.
.........
"Kau sudah kembali?" tanya Vina dengan tenang saat melihat Alvin masuk ke ruangan tengah.
Walaupun Vina terlihat tenang, tapi Alvin bisa melihat kekhawatiran pada tatapan matanya.
"Ya...," sahut Alvin pelan.
Ia menatap Vina agak lama dan tersenyum tipis padanya untuk membuat kakaknya merasa tenang, sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya pada ayahnya, juga dua tamu yang datang bersama ayahnya.
__ADS_1
"Apa perjalanan bisnismu berhasil?" tanya Marco Rufino, saat Alvin sudah duduk di sofa di dekat kakaknya.
"Ya ayah...," sahut Alvin pelan, sambil melirik pada Vina.
Keduanya kemudian saling bertatapan dan tersenyum tipis setelahnya.
Alvin kemudian menatap Marco dan dua tamunya lagi, bertanya-tanya dalam hatinya bagaimana mereka bisa menemukan keberadaan dia dan kakaknya disini sedangkan mereka selama ini merahasiakan bahwa mereka sedang berada di Kota T.
"Ayah menghubungiku beberapa hari yang lalu. Kau tidak membaca pesanku?" ucap Vina. Ia tahu adiknya pasti sedang memikirkan hal itu.
Alvin menggeleng pelan. Ia hanya membaca pesan terbaru Vina dan membalas pesan itu saja sebelum pergi ke Dungeon di halaman kediaman Cruz.
"Apa yang terjadi?" tanya Alvin. Ia menyadari ada hal tidak menyenangkan yang terjadi hanya dari atmosfer dalam ruangan itu.
"Kalian sebaiknya ikut kami kembali ke Kota S," sahut Robert Xavier, yang datang bersama Marco Rufino dan adiknya Erfhina Xavier.
Robert dan Erfhina memang datang khusus untuk menjemput Alvin dan Vina, untuk mengawal mereka kembali ke Kota S atas perintah Arthur Maxwell, orang yang selama ini melindungi keluarga Rufino dari kejamnya kehidupan di Kota S.
Alvin tidak menanggapinya dan malah menoleh kembali pada Vina.
"Aku sudah mengatakan bahwa kita akan baik-baik saja disini," ucap Vina, seakan mengerti arti tatapan Alvin.
Vina yang tahu Alvin kini sangat kuat, dari cerita-cerita Raymond dan Jack, menyangka Alvin ingin merahasiakan kemampuannya.
Ia juga mengatakan bahwa Alvin sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota untuk menawarkan produk perlengkapan raid milik perusahaan tempat mereka bekerja dan tidak memberitahukan bahwa Alvin sedang melakukan raid untuk membantu Kota T, juga tidak memberi tahu bahwa mereka berdua sekarang kaya raya.
Alvin mengangguk pelan, lalu menatap Robert lagi, "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kami harus kembali?"
"Duncan Lewis sudah kembali. Dia sedang mencarimu," sahut Robert cepat. Ia kemudian menatap Vina, yang ia rasa tidak mengerti ancaman berbahaya dari keluarga Lewis karena sejak tadi Vina menolak untuk kembali saat ia sudah menjelaskannya berulang kali.
Alvin mengangguk-angguk pelan.
Melihat reaksi Alvin yang sepertinya juga meremehkan keadaan berbahaya itu, Robert dan Erfhina saling bertatapan heran.
"Kau tahu dia hunter berbahaya, kan? Lagian dia sekarang sudah berperingkat S," Robert mengingatkan.
Alvin mengangguk lagi.
"Ya. Dia menaikkan peringkat dengan hasil korupsi pajak Asosiasi yang ayahnya lakukan, kan?" sahut Alvin dengan seringai samar di bibirnya.
Robert mendengus pelan.
"Abaikan politik hunter yang terjadi di Kota S. Kau harus mementingkan keselamatanmu dan Vina terlebih dahulu. Kembalilah ke Kota S dan menetaplah dulu di kediaman keluarga Maxwell."
Alvin menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak bisa hidup seperti itu. Lagian, mau sampai kapan kami bersembunyi di balik sayap keluarga Maxwell? Suatu saat, mereka pasti akan menyergap kami saat Anda semua lengah."
"Itu tidak akan lama. Kembalilah dulu karena tuan Maxwell akan mengurus masalah di Kota S dalam waktu dekat."
Alvin tidak menanggapinya. Sebagai gantinya, ia menatap lekat-lekat pada Robert.
"Apa maksud Anda, tuan Xavier?"
"Nona Tia akan kembali dalam dua hari."
Deg...
Alvin tiba-tiba terdiam, menatap Robert dengan hampir tak berkedip.
__ADS_1
...****************...