
Saat Mina memenggal leher pria bertubuh tinggi kekar, Duncan dan rekan-rekannya kebetulan masih belum terlalu jauh dari tempat itu.
Melihat bagaimana mudahnya lawan menghabisi pemimpin mereka, semua orang mempercepat langkah kaki mereka dan berlari menuju pasukan elf dan high orc berada, untuk mendapatkan perlindungan.
Tapi, hanya dalam beberapa langkah kemudian, Alvin dan Mina tiba-tiba muncul di hadapan semua hunter itu dan mencegat mereka.
.........
"Siapa yang mengizinkan kalian pergi?" ucap Mina.
Semua hunter saling bertatapan, saling bertanya-tanya dalam hati apakah di antara mereka ada yang pernah melihat gadis remaja itu pada kehidupan mereka sebelumnya, di Bumi.
Setelah semua orang saling menggelengkan kepala, tatapan mereka akhirnya jatuh pada Alvin. Orang yang mereka anggap paling berbahaya di antara kedua penghadang.
'Cuma dia saja yang harus diwaspadai. Lagian bocah ini hanya memancarkan energi sihir yang sangat kecil.'
.........
Shiva akhirnya memutuskan maju beberapa langkah.
Ia sudah mengenal Alvin sejak memasuki usia remaja.
Walaupun saat ini tubuhnya gemetar setelah mengingat bagaimana orang yang dikhianatinya itu membunuhnya dengan sangat dingin, setidaknya ia akan berusaha untuk bisa mendapat pengampunan darinya untuk kali ini.
Selain itu, ia berpikir, sebagai orang yang sudah tewas dan dikirim ke planet ini, Alvin pasti sudah tahu jika mereka akan berakhir di neraka jika berakhir di tempat ini.
'Dia tidak mungkin tega padaku, kan? Setidaknya aku harus meminta pengampunan untuk diriku dulu.'
"Alvin..."
Pluk...
Shiva belum sempat melancarkan bujuk rayunya saat tiba-tiba kehilangan suara dan mendengar suara debuman keras dan sedikit rasa sakit di pipinya yang baru saja membentur tanah.
'Lagi...?'
Sebelum pandangannya menggelap dan digantikan pemandangan kobaran api yang panas membara, Shiva melihat Alvin menatapnya dingin sembari menggelengkan kepala.
.........
"Kau! Di mana ayahmu?" tanya Mina sambil menunjuk George Maxwell yang hanya dalam beberapa detik kemudian sudah gemetar ketakutan setelah melihat kepala Shiva terjatuh ke tanah.
George dan rekan-rekannya yang kini ketakutan, melihat Shiva tewas tanpa mereka tahu apa penyebabnya.
Mereka tidak merasakan adanya aura serangan sihir dari Alvin dan Mina.
Mereka hanya melihat kepala Shiva yang tiba-tiba bergeser dari tempatnya dan jatuh ke tanah.
Srat...!
Belum habis rasa syom mereka, seorang hunter peringkat SS sudah kehilangan kepalanya juga.
"Aku akan membuntungi leher kalian satu per satu jika kalian tidak segera memberitahuku keberadaan Chris Maxwell," ancam Mina lagi.
"A-ap..."
Srattt...!
Satu hunter peringkat SS kehilangan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu! Aku tidak pernah bertemu ayahku," sahut George dengan suara bergetar.
Mina mendongak, menatap Alvin.
"Benteng desa sudah jauh. Tidak ada saksi yang akan melihatmu menghabisi mereka. Yakin tidak ingin menghabisi mereka untuk kedua kalinya?"
Alvin mengernyitkan kening lalu menyapukan pandangannya pada ribuan petarung yang berdiri beberapa puluh meter di sekitar mereka dan sedang menatap ke arah mereka.
"Apa mereka semua buta?"
Mina mengikuti arah tatapan Alvin.
"Mereka bukan di pihak kita. Mereka tidak akan pernah menceritakan kejadian ini pada siapa pun."
Alvin akhirnya menggeleng, "Tidak. Kau bisa melanjut..."
Sraaaaaaaattttttt...
"...kan..."
Alvin menebak, tidak ada satupun dari ribuan petarung di seberang mereka berdua yang bisa melihat kecepatan Mina berlari menghampiri semua mantan hunter Bumi itu sebelum menebas lehernya.
Jika dia tidak memiliki kecepatan yang berada setingkat di atas Mina, ia juga pasti tidak bisa mengikuti gerakannya juga.
Karena itu jugalah, ribuan petarung lawan ragu untuk menghampiri mereka berdua.
.........
Setelah menghabisi Duncan dan kawan-kawannya, Mina menengadahkan kedua tangannya ke langit.
"Sword Of The Death, part 3... Rain Of Death Blades"
Tidak juga seperti nama mantra sihirnya, blades, energi sihir itu membentuk paku-paku kecil sebelum akhirnya jatuh dari langit persis seperti hujan.
Wush... Wush... Wush...
Bammm... Bammm... Bammm...!!!
Berbeda juga dengan cara Alvin menggunakan sihir yang biasanya ia kontrol untuk bisa mengejar lawan sekaligus menghindari serangan sihirnya mengenai kawan, Mina membiarkan semua paku sihirnya jatuh di seluruh area pertempuran, meledakkan tubuh seluruh pasukan lawan, baik yang sedang dalam pertarungan maupun yang sedang memerhatikan mereka.
Pada dasarnya, Mina seperti tidak peduli apakah sihirnya itu mengenai lawan atau kawan.
Setidaknya seperti itulah yang Alvin lihat pada awalnya.
Tapi, pada kenyataannya, tidak satupun dari pihak kawan yang terkena sihir tersebut.
Sebelum Mina menjatuhkan hujan paku sihir, ia sudah terlebih dahulu melindungi ribuan pasukan kawan yang berada di area serangan dengan sihir pelindungnya.
Clap... Clap... Clap...
"Sudah selayaknya kau menjadi guruku," puji Alvin sambil bertepuk tangan.
"Tidak usah berlebihan."
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau bahkan bisa melindungi semua rekanmu selagi kau menghabisi musuhmu."
"Karena aku akan mendapatkan hukuman jika membunuh sesama warga desaku."
"...Jika peraturan itu tidak ada, apa kau tidak akan melindungi mereka?"
__ADS_1
"Mungkin."
Sigh...
"Ngomong-ngomong, caramu membentuk dagger rain sungguh sangat simpel. Aku akan melakukannya sama sepertimu lain kali."
"Aku cuma sedikit lebih mahir karena sudah puluhan tahun menggunakannya. Selama di sini kau bisa melihat bagaimana caraku..."
"Kita akan kembali bersama-sama."
"..."
"Jangan cuma berpikir untuk memulangkanku sendiri. Kita akan pulang bersama-sama."
Mina menatap Alvin dengan perasaan haru sembari tersenyum kecil. Tapi dia tidak menyahuti ucapan tersebut.
......................
Alvin dan Mina berjalan kembali menuju desa asal mereka.
Sepanjang perjalanan, terlihat semua petarung yang ada di pihak kawan kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.
Mereka saling bertatapan antara satu dan lainnya, mencari-cari siapa yang baru saja menjatuhkan hujan paku sihir dari langit sekaligus melindungi semua petarung dari sihir-sihir tersebut.
Sihir itu tentu sangat menakjubkan. Tidak ada satupun dari pasukan lawan yang selamat, termasuk Norman Lewis yang masih berada di menara sihir, namun tidak satupun pihak dari desa mereka yang tewas karena sihir tersebut.
"Siapa yang melakukannya?"
"Apa kau melihat petarung yang menggunakan sihir itu?"
Mata semua petarung akhirnya tertuju pada para petarung jarak jauh yang berada di atas benteng, mengira salah satu dari merekalah pelakunya.
......................
"Jadi itu maksudmu dengan tidak akan ada yang melihat?"
Mina mengangguk. "Lebih baik tidak ada saksi."
Alvin tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Alvin lagi.
Ia mengira Mina akan membawanya pergi ke desa musuh untuk mencari jawaban tentang jalan pulang dan mencari tahu siapa yang membawa mereka ke planet ini, tapi Mina malah mengajaknya kembali ke desa tempat asal mereka.
"Kau ingat papan pengumunan di menara desa?"
"Ya."
"Itu papan quest. Kita akan mengambil beberapa quest."
"Apa ada quest yang berhubungan dengan hal yang kita cari?"
"Tidak ada. Tapi dengan quest itu kita bisa mendapatkan plat quest yang akan membuat kita bebas memasuki beberapa wilayah dan menyerang desa musuh."
"Jadi dengan itu kita bisa bebas berkeliaran?"
"Ya. Semakin banyak quest yang kita ambil, akan semakin banyak wilayah yang bisa kita masuki. Jika kita tidak memiliki plat quest, kita akan memiliki batasan untuk pergi menjauhi desa."
......................
__ADS_1