Hunter System

Hunter System
Bab 127 - Pembantaian


__ADS_3

Alvin mengabaikan kelima hunter yang sedang menatap ke langit-langit dimana Norman dan Duncan berada.


Ia membawa Vina menyingkir ke dekat dinding kastil untuk mengamankannya.


"Kau tidak terluka?" tanya Alvin sembari merobek sebelah lengan jaketnya.


Vina menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Tapi mereka...," Vina menoleh menatap Jack, Thomas dan Raymond, yang sudah berdiri dengan normal tanpa terlihat cidera sama sekali. Memar-memar di wajah mereka juga sudah menghilang sepenuhnya. "Hah? Kenapa mereka..."


"Mereka sudah tidak apa-apa," ucap Alvin pelan. Ia sudah memulihkan tubuh ketiga hunter itu.


Alvin bisa melakukannya karena ketiganya memiliki energi Mana di tubuh mereka yang bisa merespon healing skill nya. Hal serupa tidak akan bisa ia lakukan pada Vina seandainya kakaknya itu terluka. Vina tidak memiliki energi Mana yang bisa merespon healing skill.


Untuk itu ia sedikit bersyukur dan berpikir untuk memberikan kematian mudah pada Duncan dan Norman.


"Pakai ini," ucap Alvin sembari menyerahkan kain robekan dari lengan jaketnya.


"Untuk apa ini?"


"Tutup matamu dengan itu."


"Hah?"


"Apa yang akan terjadi tidak layak untuk kau lihat. Tunggu saja sebentar," ucap Alvin sembari menatap pada Jack, memberinya kode untuk menjaga Vina yang terlihat jelas masih gemetar ketakutan, walaupun ia berusaha menyembunyikannya serapat mungkin.


Vina mengangguk pelan.


Alvin hendak berbalik, namun Vina menarik tangannya.


"Ya?"


"Apa kau bisa mengalahkan mereka?"


"Tentu."


Vina mendongak, menatap pada Norman Lewis dengan tatapan marah.


"Tua bangka itu mau memerkosaku tadi."


Alvin mengikuti arah tatapan Vina lalu mendengus pelan, berusaha menahan amarahnya.


'Padahal tadinya aku mau berbicara pada mereka sebentar sebelum membunuh mereka dengan cepat.'


"Pakai saja penutup mata itu."


"Ya. Tapi..., tolong tendang belalainya untukku."


"...Aku mengerti."


Setelah selesai berbicara pada kakaknya, Alvin akhirnya pergi menghampiri enam hunter peringkat SS yang berdiri dengan tegang dan menatapnya dengan penuh selidik.

__ADS_1


Mereka awalnya tidak menganggap Alvin sebagai hunter berbahaya karena mereka merasakan energi sihir yang terpancar dari tubuh Alvin hanya sebatas hunter peringkat A.


Rimi telah menyamarkan energi sihirnya sejauh itu untuk menipu mereka. Rimi tahu, orang-orang itu akan menganggapnya remeh saat tahu Alvin lebih lemah dibandingkan mereka.


Alvin menatap keenam hunter itu lekat-lekat, mengingat wajah keenamnya yang selalu menghiasi beranda situs Asosiasi Dunia. Ia mengenali mereka semua yang adalah 6 dari 12 hunter ternama dunia.


"Ternyata energi Mana gabungan dari 6 hunter peringkat SS ini bahkan tidak mencapai setengah dari kapasitas energi Mana Tia yang cuma berada satu tingkat di atas mereka," pikir Alvin setelah memastikan kekuatan keenam hunter tersebut.


["Di dunia ini ada banyak hunter kuat yang menyembunyikan identitas mereka. Asosiasi Dunia bahkan punya banyak. Mereka ini cuma hunter yang digunakan untuk iklan."]


'Pembohongan publik?'


["Sejenis."]


'Ngomong-ngomong, sebenarnya peringkat apa aku ini? Kenapa di statusku masih peringkat A tapi aku merasa jauh lebih kuat dari orang-orang ini?'


["Urus saja mereka."]


'...'


......................


"Apa perjanjian yang kalian ikat dengan keluarga Lewis sampai kalian mau datang ke kota ini?" tanya Alvin pada salah satu hunter yang baru saja maju selangkah demi selangkah, meninggalkan kelima rekannya.


Dia adalah hunter tipe Assassin yang terkenal paling sadis di dunia dan sudah membantu banyak negara untuk menaklukan Dungeon peringkat S bersama 11 hunter peringkat SS lainnya.


Assassin itu terkekeh. Ia tadi memang terkejut dengan kemampuan Alvin, namun ia sudah bisa kembali pada pikiran warasnya dan menganggap Alvin hanyalah hunter baru tanpa nama yang tentu masih memiliki sedikit pengalaman bertarung, juga sedikit pengalaman dalam situasi bahaya.


Ia sudah sering berada dalam situasi bahaya itu dan berkali-kali berhasil keluar darinya. Jadi, walaupun tadi ia sempat merasakan sedang berada dalam situasi bahaya saat melihat kemunculan manusia yang datang bersama ratusan monster di luar sana, ia kini sudah berhasil menenangkan diri.


Langkah kakinya sangat ringan. Secara diam-diam ia telah mengaktifkan skill nya untuk memberikan serangan dadakan saat Alvin lengah nanti.


"Apa hubungan kalian dengan keluarga Lewis?" tanya Alvin lagi, mengabaikan pertanyaan Assassin itu.


"Kau berani mengajukan pertanyaan pada hunter kelas dunia sepertiku?"


"Kenapa tidak?"


"Kau mau...haaffff!"


Kedua mata hunter itu melebar ketika merasa ada kekuatan tak terlihat yang sedang mencengkram rahang dan membekap mulutnya.


Ia melotot, menatap Alvin yang sedang menatap dingin padanya.


"Kalau kau tidak mau menjawab, lebih baik kau tidak memiliki mulut, kan?" ucap Alvin, yang kemudian memperkuat cengkraman jarak jauhnya.


Krtaaakkk... Krtaaaakkk...


Cengkraman itu pada akhirnya bukan cuma menghancurkan rahang sang Assassin. Kepala hunter itu bahkan langsung pecah saat Alvin menambahkan lagi kekuatan cengkramannya pada serangan airbender.


Crakkkk...!!!

__ADS_1


Alvin mengernyitkan alisnya, menatap heran pada hunter yang baru saja kehilangan kepalanya itu.


'Kenapa pertahanannya sangat lemah? Padahal aku cuma menyerangnya dengan kekuatan fisik tanpa energi Mana, kan?'


["Kau sudah terlalu kuat untuk mereka. Bahkan Hair Dryer itu sekarang bukanlah tandinganmu."]


'Hair Dryer? Siapa itu?'


["Si topeng hitam."]


'Apa namanya memang seperti itu?'


.........


Kelima hunter lain ternganga saat melihat bagaimana Assassin sadis itu kehilangan nyawa dan tidak tahu bagaimana cara Alvin melakukannya.


Mereka cuma melihat Alvin mengarahkan salah satu tangannya pada hunter itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Mereka juga tidak melihat wujud sihir apa pun keluar dari tangan pria itu.


Tahu jika lawan mereka jauh lebih berbahaya dari dugaan mereka sebelumnya, lima hunter yang tersisa langsung membentuk formasi untuk bertarung bersama.


Dua dari mereka melompat mundur. Mereka adalah hunter dengan job Healer dan Mage.


Satu dari mereka berdiri di tengah-tengah. Dia adalah Tanker yang langsung memperkuat sihir aggro dan taunt untuk memancing Alvin agar menyerang padanya.


Alvin merasa jika Tanker itu sedang mengikatnya dengan aggro dan taunt kuat. Ia pun berjalan menghampirinya, seolah-olah telah terkena sihir itu.


Kedua hunter yang berada di sisi kiri dan kanan Tanker, yang kesemuanya bertipe Warrior, langsung mencabut pedang mereka saat melihat sihir rekannya tampak berhasil. Mereka bersiap untuk menyerang, menunggu saat-saat Alvin hendak menyerang rekan mereka.


Tapi, apa yang mereka saksikan selanjutnya membuat kedua Warrior itu terkejut bukan main hingga mereka melupakan niat untuk menyerang.


Crakkkk...!


Alvin mengarahkan cakarnya pada dada Tanker itu, menembus pertahanan dan melobangi dadanya hingga ia bisa meraih jantung Tanker itu lalu menariknya keluar.


Ia kemudian mengangkat jantung Tanker ke atas kepala sang Tanker, lalu memecahkan jantung tersebut hingga darah yang berasal darinya membasahi wajah hunter yang sudah tewas itu.


"Mo-monster...! Dia ini monster! Pergi menjauh!" teriak salah satu Warrior sembari melompat mundur menjauhi bahaya dihadapannya.


Warrior itu kemudian menggunakan skill terbaiknya, juga bersama dengan seluruh kekuatan dari energi Mana yang dimilikinya, untuk memberikan critical damage pada skill tebasan pedangnya.


Ruangan itu terasa sedikit bergetar saat cahaya kehitaman melesat keluar dari ujung pedang hunter Warrior itu dan pergi dengan cepat menghampiri Alvin.


Namun, sihir itu langsung buyar saat bertemu dengan ratusan shuriken yang baru saja keluar dari salah satu telapak tangan Alvin.


Ratusan shuriken itu menghujam tubuh Warrior dan meledakkan tubuhnya seketika.


Baaaaaaaammmmm!!!


Saat hujan darah yang dihasilkan dari ledakan tubuh hunter itu membanjiri area tempat mereka berada, Alvin sudah berbalik dan menangkap Warrior lain yang tidak sempat melarikan diri, masih diam terpana di tempatnya.


"Benar-benar hunter peringkat SS yang tidak sigap," ucap Alvin pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala, kecewa karena dulu pernah mengidolakan mereka.

__ADS_1


Alvin merampas pedang Warrior itu lalu memenggal lehernya dengan satu tebasan.


.........


__ADS_2