Hunter System

Hunter System
Bab 195 - Janji Dewa Voxa


__ADS_3

"Jadi..., Reno yang bertanggung jawab dengan kemunculan gerbang itu?"


"Ya," sahut Alvin sembari memerhatikan ekspresi Jack yang tampak terkejut bercampur sedih saat tahu jika kakaknya adalah dalang dari kemunculan gerbang cincin hitam yang menjulang tinggi, membelah sisi Bumi menjadi dua bagian terpisah.


"Kalau begitu... Aku percayakan dia padamu..."


"Kematian Reno adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan gerbang," ucap Alvin lagi, menegaskan tentang apa yang akan dilakukannya pada Reno.


Alvin tentu tidak akan repot-repot memberitahukan apa yang akan dilakukannya pada seseorang andai orang itu bukanlah saudara kandung Jack.


Dia sudah pernah membunuh banyak manusia. Bahkan, nyawa teman masa kecilnya pun tidak ia hargai lagi jika sudah berhubungan dengan para makhluk penyebab kekacauan di Bumi.


.........


Jack tidak langsung menanggapi. Ia memang tidak menyukai sikap angkuh dan semena-mena kakaknya itu. Namun bagaimanapun, Reno tetaplah saudara kandungnya.


"Aku bukan sedang ingin meminta izinmu. Aku cuma ingin memberitahukan padamu sebelum aku membunuhnya," ucap Alvin dengan sorot mata tajam.


Jack akhirnya mengangguk.


"Jika untuk kedamaian dunia..."


"Tidak. Dunia harusnya sudah damai setelah kematian pembuat gerbang merah. Dia cuma menambah masalah saja," ucap Alvin, memotong ucapan Jack yang ia tahu kemana arahnya.


Alvin tidak senang dengan sambungan kalimat Jack yang sudah bisa ditebaknya. Itu akan membuat Reno terdengar seperti seorang pahlawan yang telah mengorbankan diri untuk dunia.


"Maaf..."


Alvin menepuk pundak Jack pelan sebelum akhirnya berpaling, menatap Marco, ayahnya, dan Vina yang berdiri di samping Jack.


Ia mengangguk dan tersenyum hambar pada mereka sebelum berpaling lagi pada Cyntia yang sejak tadi berdiri diam di belakangnya.


"Tolong jaga mereka."


"Kau mau pergi sendiri?"


"Aku pergi bersama Mina dan Rimi."


Butuh waktu beberapa detik sebelum Cyntia menanggapi.


"Jangan pergi terlalu lama seperti sebelumnya, ok?"


Alvin bisa melihat rasa khawatir pada ekspresi dan sorot mata wanita itu. Tapi dia juga tidak bisa menjanjikan apakah dirinya bisa kembali dalam waktu cepat hanya untuk membuat Cyntia tidak mengkhawatirkannya.


Alvin bahkan tidak tahu apakah dia akan bisa kembali dengan selamat atau tidak.

__ADS_1


Ia tidak memberitahu pada Cyntia mengenai misi utama yang akan dilakukannya di planet monster.


Karena itu jugalah dia tidak ingin Cyntia ikut bersamanya.


Sebenarnya, Alvin pergi ke planet monster bukan hanya untuk menjemput para hunter yang telah dipindahkan dewa Zei kesana.


Ada misi lain yang jauh lebih penting dibandingkan menjemput kembali para hunter tersebut, yang mungkin saja bisa merenggut nyawanya.


"Aku kuusahakan untuk kembali secepatnya," sahut Alvin pada akhirnya.


...****************...


Di sebuah galaksi yang berada di dimensi berbeda dari dimensi tempat galaksi Milky Way berada, sebuah bola kristal berwarna abu-abu, melayang-layang di langit gelap yang memiliki pantulan sinar rembulan redup.


Planet yang memiliki Matahari yang hampir padam itu tampak sangat sunyi setelah kehilangan seluruh penghuni yang baru saja pergi meninggalkannya.


Seluruh penghuni planet yang berisikan para makhluk ciptaan yang memiliki sihir dengan spesialisasi untuk bertarung itu telah pergi ke dunia lain melalui sebuah gerbang berbentuk cincin raksasa yang membagi planet tersebut menjadi dua bagian.


Gerbang berbentuk cincin itulah yang kini juga muncul di Bumi. Gerbang yang sama, yang membawa seluruh makhluk ciptaan dari planet yang Alvin sebut sebagai planet monster, menginvasi Bumi dengan kekuatan penuhnya.


......................


Sementara itu, di tempat yang agak jauh dari bola kristal abu-abu berada, sesosok bayangan muncul dari dalam portal sihir yang baru saja terbuka di atas daratan.


Dewa Voxa, sosok yang baru keluar dari portal, menatap planet yang berada di dalam galaksi yang menjadi tanggung jawabnya itu dengan perasaan sedih.


Bagi dewa Voxa, mereka adalah makhluk cantik berhati polos yang hanya mengabdikan hidup untuk mengitari planet demi menumpuk kekuatan tanpa tujuan jahat.


Mereka akan bertambah kuat hanya untuk tumbuh semakin cantik. Mereka akan melakukannya selama ratusan tahun sampai akhirnya mati di usia senja.


Tapi, hanya dengan sedikit sihir yang memengaruhi pikiran, para makhluk ciptaan itu akan berubah menjadi monster beringas yang bisa mencelakai siapa saja, terutama ras yang bukan berasal dari planet mereka.


Hal itulah yang sudah dilakukan dewan pengawas para dewa pada makhluk-makhluk ciptaan dari planet monster yang berada di bawah tanggung jawab dewa Voxa.


.........


"Gara-gara keserakahan tiga dewan pengawas itu...," dewa Voxa menggeram dalam hatinya, menyesali apa yang sudah dewan pengawas Re, lakukan pada para makhluk ciptaan dari salah satu planet dalam galaksinya.


Saat dewa Voxa masih berada dalam lamunan, bola kristal abu-abu yang sebelumnya berada sangat jauh, di sisi lain gerbang cincin, tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


"Kau sudah datang, Voxa?" ucap dewan Re yang masih dalam wujud bola kristal abu-abu.


Begitu bola kristal itu muncul di hadapannya, dewa Voxa yang tidak memiliki kuasa di hadapan dewan Re tiba-tiba jatuh berlutut.


Ia terkena sihir pembelenggu yang memang akan selalu membuat para dewa, yang berada di level yang lebih rendah dibandingkan sosok dewan pengawas, akan jatuh berlutut saat sosok dewan pengawas berada di hadapan mereka.

__ADS_1


"Y-ya..., dewan Re," sahut dewa Voxa. Tubuh dan suaranya bergetar samar setelah kemunculan dewan pengawas itu.


Bukan karena rasa takutnya. Walaupun ia memang sedang ketakutan setelah kemunculan sang dewan pengawas, tapi ia gemetar karena aura sihir pembelenggu mengerikan dari dewan Re, yang sudah memengaruhi seluruh tubuhnya.


"Aku meletakkan para makhluk ciptaan dari pusaran putih di salah satu Bulan. Jagalah mereka. Jika Zei kembali, serahkan mereka padanya. Kau mengerti?"


"Sa-saya mengerti."


Setelah tidak ada jawaban selama beberapa detik, dewa Voxa mendongak. Ia merasa bersyukur karena dewan pengawas itu akhirnya pergi meninggalkannya seorang diri.


Tapi, dewa Voxa baru bisa berdiri setelah beberapa detik lagi telah berlalu.


"Setelah kepergiannya pun, sihir pembelenggu masih tertinggal. Sungguh mengerikan," keluh dewa Voxa dalam hati.


Ia kemudian mengingat kembali bantuan yang dijanjikannya pada dewi Ann.


Dewi Ann sudah mengetahui pengkhianatan beberapa dewan pengawas pada hukum yang Absolut tuliskan dalam kitab dewa agung yang harus dipatuhi seluruh dewan pengawas, dewa dan malaikat.


Dewi Ann juga tahu jika para dewan pengawas pengkhianat itu sedang membangun kekuatan di pusaran coklat.


Sebagai penanggung jawab dari pusaran coklat, walaupun dewa Voxa tidak terlibat secara langsung, dewa Voxa tentu akan terkena imbas penghakiman jika Absolut sampai mengetahui pengkhianatan itu dan mengirim para Serafim dan dewan pengawas agung untuk mengadili.


Tapi, dewi Ann yang kebetulan 'berbenturan' dengan para dewan pengawas pengkhianat itu memberikan tawaran pada dewa Voxa.


Dewi Ann akan membela dewa Voxa di hadapan dewan pengawas agung dan Serafim jika dewa Voxa mau bekerja sama.


Bantuan yang dewi Ann minta juga tidak sulit. Dewa Voxa hanya diminta untuk membukakan sebuah gerbang untuk mengundang makhluk dari pusaran putih ke planet monster, hanya itu.


Apa yang akan terjadi setelah itu, dewa Voxa belum mengetahuinya sama sekali.


Dia hanya bisa percaya pada dewi Ann, demi kelangsungan hidupnya, juga demi menjaga agar pusaran coklat tetap ada.


'Cuma sebuah gerbang kecil, kan?'


Dewa Voxa memejamkan kedua mata. Memantapkan hati untuk membantu dewi Ann.


Jika dewi Ann membelanya, Serafim dan dewan pengawas agung pun pasti tidak akan berani menyentuhnya.


Ia tahu, tingkatan dewa memang lebih rendah dibandingkan Serafim dan dewan pengawas agung. Kecuali satu dewa itu, yang menurut cerita mungkin hanya bisa dibinasakan oleh Absolut.


.........


Dengan salah satu jari telunjuknya, dewa Voxa akhirnya membuka gerbang yang dewi Ann pinta.


"Aku mengundang makhluk dari pusaran putih untuk datang ke pusaran coklat."

__ADS_1


......................


__ADS_2