
Alvin menatap Cyntia yang sedang duduk di sofa sambil menikmati musik yang ia putar melalui ponsel dan dihubungkannya ke speaker lama milik ibunya.
[“Selera musiknya tidak sesuai wajahnya.”]
‘A-aku sependapat.’
"Kau sudah keluar?"
"Ya."
'Bagaimana dia tidak tahu aku keluar dari kamar? Bukankah Rimi tidak menyamarkan energi Mana ku? Aku juga tidak mengaktifkan ghost skill.'
["Dia sedang rileks. Dia sangat senang karena ada bersamamu selama tiga hari ini."]
'...'
Cyntia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya, meminta agar Alvin duduk bersamanya, tapi Alvin memilih untuk duduk diseberangnya.
Saat Alvin sudah duduk, ia pun mengurangi volume musiknya.
“Vina menyuruhku memakainya,” ucap Cyntia dengan ragu.
"Ya?"
"Maksudku speakernya."
“Oh, itu memang tidak masalah. Kau tidak perlu merasa sungkan. Aku tahu kau tidak bisa jauh dari mendengarkan musik sejak kecil.”
“Y-ya...," Cyntia tersenyum simpul. Senang karena Alvin mengingat kebiasaannya.
“Tapi... Apa sekarang kau menyukai jenis musik ini?”
Cyntia mengangguk. Ia tampak semangat. Wajahnya juga terlihat sangat cerah saat mendapat pertanyaan itu.
"Aku selalu mendengarkan musik ini saat sedang berlatih. Musiknya sangat membantu untuk tetap menjaga semangat.”
“Begitu...," Alvin menanggapi sambil mengangguk pelan.
“Apa kau punya jenis musik kesukaan?”
“Ya. Aku memilikinya di ponsel ku.”
“Begitu...”
["Pembicaraan yang kaku. Butuh bantuan?"]
'Ya.'
[“Tanyakan apa nama grup musiknya. Wajahnya mengharapkan kau menanyakan hal itu.”]
“Apakah ini lagu sebuah grup band?”
Seperti yang Mina tebak, wajah ceria Cyntia yang barusan menyurut, langsung kembali seperti beberapa saat sebelumnya.
“Ya... Mereka grup musik kesukaanku. Mereka grup musik zaman dulu tapi lagu-lagunya masih tetap enak di dengar sampai sekarang. Mereka hanya memainkan instrumental tanpa vokal tapi tetap sangat keren. Kau bisa melihat video konser lama grup ini di MeTube kalau kau mau. Kau mungkin akan suka,” ucap Cyntia dengan penuh semangat, juga dengan cara berbicara yang mirip seorang rapper.
'Bagaimana dia bisa berbicara sepanjang itu hanya dengan satu tarikan nafas?'
["Dia hunter."]
'...'
“Apa nama grupnya?” tanya Alvin.
“Kau mau mencoba mendengarnya juga?”
“Tentu.”
Cyntia langsung menegakkan tubuhnya, lalu menjulurkan tangannya, “Boleh ku pinjam ponselmu? Aku akan membelinya untukmu.”
Alvin langsung menyerahkan ponsel yang kebetulan sedang dipegangnya.
Sambil membuka situs penjualan lagu, Cyntia berbicara, “Nama grup bandnya Animals As Leaders, lagu yang sedang kita dengar ini berjudul Physical Education. Ini sangat mengasyikkan jika kau mendengarkannya sambil berlatih seni bela diri,"
__ADS_1
“Kalau kau ingin mendengarkan lagu yang bisa membuatmu merasa rileks...," Cyntia mengambil ponselnya, lalu mengganti ke lagu lain, "Nah, kau bisa mendengarkan The Brain Dance ini."
“Y-ya...”
‘Bagaimana cara dia bisa berbicara begitu panjang dengan sangat cepat?'
["Dia cerdas. Orang cerdas biasanya berbicara dengan sangat cepat. Selain itu..., dia terlalu antusias karena sedang bersamamu."]
'Tsk... Kenapa dia bisa senang...'
Alvin ingat skor kesukaan Cyntia padanya.
[“Skornya sekarang bukan enam lagi. Coba kau lihat poin kesukaannya.”]
‘Apakah menurun?!'
Alvin membuka skill itu dan ternganga lebar saat melihat skor 7 di atas kepala Cyntia.
‘Apa skill nya rusak? Bukankah yang tertinggi hanya sampai 5? Bukannya kemarin juga masih 6?’
[“Setahuku belum pernah ada skor kesukaan yang melebihi 5. Kalau membenci seseorang sampai 0, kau masih bisa menemukannya.”]
‘Lalu apa artinya ini?’
[“Skor 6 adalah seorang maniak. Skor 7 ini bisa diartikan sebagai seseorang yang menyukai orang lain dengan level psikopat.”]
Glup...
‘A-apa maksudmu?
[“Dia mungkin akan memotong belalaimu jika kau berselingkuh.”]
‘Hah?! Tapi kami bukan...’
[“Intinya, jangan berdekatan dengan wanita lain saat dia ada di dekatmu.”]
‘...'
Alvin mengingat kembali tatapan mengerikan Cyntia pada dirinya dan Ivory saat mereka berada di aula pesta. Sekarang ia baru mengerti arti tatapan itu.
“Alvin?”
“Kau sedang melamun?” tanya Cyntia dengan pipi merona.
Saat ia mengajak Alvin berbicara, ia kebetulan memergoki Alvin sedang menatapnya dengan wajah takjub dan mulut yang menganga.
Ia menjadi salah tingkah saat mengira Alvin mungkin sedang memerhatikan wajahnya.
"T-tidak... Aku... Lagi mendengarkan lagu."
Alvin tidak tahu mengapa, tapi senyuman Cyntia sedikit memudar saat ia baru saja menjawab pertanyaannya.
Cyntia mengganti lagu lagi.
“Ini salah satu grup musik yang kusuka juga. Dream Theater. Lagu ini judulnya In The Presence Of Enemies part 1. Aku terkadang memutar lagu ini di dalam kepalaku saat sedang bertarung di Dungeon. Aku juga memutarnya di dalam benakku beberapa hari yang lalu saat sedang dikeroyok lich itu. Lagu ini bisa meningkatkan semangat.”
“Y-ya.”
‘Mina. Apakah aku sebaiknya melarikan diri saja dari Kota S? Bagaimana dia membunuh monster sebanyak itu sambil membayangkan lagu kesukaannya? Bukankah itu benar-benar seperti seorang psikopat?'
[“Kau benar. Dia sepertinya jauh lebih berbahaya dari Norman Lewis.”]
“Alvin?”
“Ya?!”
“Apa lagu kesukaanmu?”
“Oh itu... kau bisa melihatnya di playlist ku.”
“Apa boleh?”
“Tentu.”
__ADS_1
Cyntia tersenyum. Masih dengan wajah bersemangat, ia melihat daftar lagu kesukaan Alvin di ponsel pria itu. Namun dia langsung mengerutkan keningnya saat tidak pernah mengingat atau mendengar nama-nama grup musik dalam playlist tersebut.
“Oh... aku belum pernah mendengar nama mereka.”
“Yah, itu grup lama. Kau tahu kan, sekarang sudah hampir tidak ada grup musik lagi dan sangat jarang ada lagu baru yang bagus. Jadi aku juga cuma membeli lagu-lagu lama."
Cyntia mengangguk. Ia menatap nama-nama grup itu agak lama dan menghafalkannya.
'Akan kubeli semuanya nanti.'
“...”
“Aku akan mengingatnya. Aku akan membeli lagu mereka saat berada di rumah nanti," ucap Cyntia.
“Ya.”
Cyntia akhirnya pamit.
“Kalau begitu aku pulang sekarang. Mereka sudah menjemputku. Kita akan bertemu lagi besok, ok?”
“Besok?”
“Ya.”
[“Terima ajakannya.”]
“Tentu.”
Setelah Cyntia pergi Mina menatap playlist di ponsel Alvin dan tercengang saat melihat nama SNSD, Wonder Girls, 2NE1, Red Velvet, Twice, Blackpink dan Fifty Fifty di layar ponsel itu.
[“Itu grup yang kau suka?!”]
Alvin menganggukkan kepalanya.
“Kata ayahku, ibuku dulu sering menarikan lagu mereka. Saat aku mencari lagunya, aku jadi menyukainya juga dan sering melihat tarian mereka di MeTube. Mereka terlihat sangat enerjik."
[“Astaga. Kau laki-laki, kan?”]
“Tentu.”
[“Kenapa kau menyukai girl group?”]
“Karena aku laki-laki.”
[“Kau mengerikan!”]
“Lelaki sejati suka melihat wanita. Bukannya menonton laki-laki juga.”
[“Kau mesum! Ayo berharap dia tidak melihat mereka di MeTube."]
"Apa salahnya?"
[“...”]
Glup...
"M-mereka sudah nenek-nenek sekarang. Ku rasa dia tidak akan marah..."
"..." ["..."]
......................
Saat sudah berada di dalam mobil, Cyntia langsung membuka MeTube dan mencari grup-grup yang disukai Alvin.
Setelah memeriksa beberapa grup itu, wajah cerianya pun berubah menjadi menyeramkan.
“Apa Anda sekarang menyukai musik K-pop, nona Tia?” tanya Sarah yang duduk disampingnya saat melihat apa yang sedang Cyntia tonton.
Namun, saat sarah melihat wajah cemberut Cyntia, ia berdehem lalu dengan cepat memalingkan wajahnya dan tidak membahas hal itu lagi.
'Kenapa hawa di mobil ini jadi panas sekali?'
__ADS_1
...****************...