
"Bagaimana Anda tahu? Bukankah Anda mengatakan jika Anda tidak terlalu mengenal mereka?"
Alvin berpaling dan menatap ke gerbang hitam yang berada jauh dari tempat mereka berada saat ia merasakan energi sihir dari 3 makhluk yang baru saja keluar dari sana.
"Kita bicarakan nanti saja. Aku harus mengurus mereka dulu," ucap Alvin.
Lucy langsung mengangguk. Ia tahu mereka kini sedang dalam bahaya dan ia pun mau tak mau harus mengesampingkan rasa penasarannya.
.........
Ketiga makhluk yang baru turun dari gerbang yang berada di langit itu memiliki aura sihir yang sangat mengerikan.
Saat mereka masih berada di udara saja, aura dari energi sihirnya sudah memengaruhi seluruh daratan di dalam Dungeon itu. Daratan yang di penuhi oleh bukit-bukit itu bergetar hebat karenanya.
"Keluar dari Dungeon ini," pinta Alvin pada ketiga remaja itu.
"Tolong berhati-hati, tuan. Kami serahkan pada Anda," ucap Lucy sebelum ia pergi bersama kedua rekannya menuju gerbang.
"Mereka langsung menurut?" Alvin agak terkejut dengan reaksi para remaja itu yang tidak mempertanyakan permintaannya dan juga tidak merasa heran padanya yang sedang menyembunyikan aura dari energi sihirnya.
["Berarti hal seperti ini benar-benar bukan pertama kalinya untuk mereka. Aneh, kenapa makhluk-makhluk ini bermunculan lebih dini?"]
"Jika kau saja tidak tahu, apalagi aku, kan?"
["..."]
"Tapi, mereka juga tidak merasa heran walaupun tidak merasakan energi Mana pada diriku?"
["Justru hal itu yang membuatku lebih penasran."]
"Sepertinya memang ada Sistem yang dikirimkan dari masa depan selain kalian berdua, kan?"
["...Kalau hal itu, aku tidak yakin."]
......................
Ketiga makhluk berwujud manusia itu akhirnya tiba di dekat Alvin dan mendarat di hadapannya.
Mereka memerhatikan Alvin sambil berbicara di antara mereka dengan bahasa yang tidak bisa Alvin mengerti sama sekali.
'Masing-masing dari mereka sekuat wanita pirang yang waktu itu.'
["Mereka memang dari ras yang sama dengan wanita itu. Mereka pencipta Dungeon."]
'Aku tahu. Aku merasakan jenis energi Mana yang sama pada mereka ini.'
Alvin mengernyitkan kedua alisnya, menatap ketiga makhluk yang tampak tidak berminat padanya walaupun mereka sudah berdiri berhadapan.
Ketiganya nampak berdiskusi dengan sangat serius.
'Apa yang mereka bicarakan? Apa kau tidak bisa menerjemahkannya untukku, Rimi?'
__ADS_1
["Pencipta Sistem tidak pernah mendengarkan bahasa yang mereka gunakan. Karena itulah dia tidak memasukkan bahasa mereka dalam bank data Rimi."]
'Jadi..., pencipta Sistem dulunya belajar bahasa lizardman dan orc?'
["Ya."]
'...Itu pasti sangat merepotkan.'
Saat Alvin masih berbicara dengan Mina dan Rimi, dua dari ketiga makhluk berambut pirang itu kembali mengembangkan sayap abu-abu mereka dan terbang melewati Alvin, menuju gerbang.
Sementara itu, satu lainnya kini sudah menatap ke arah Alvin sembari mengarahkan telapak tangan padanya.
"Jangan alihkan tatapanmu dariku."
Alvin beralih menatapnya.
"Kau bisa berbicara dengan menggunakan bahasa manusia juga?"
"Sebelum kau mati, aku ingin tahu. Bagaimana bisa kau menyembunyikan energi Mana mu? Kau tentu bukan manusia biasa, kan? Kau tidak mungkin hidup di dalam Dungeon jika kau cuma manusia biasa."
Alvin tersenyum di balik topengnya.
Dua pasak baja tiba-tiba muncul di masing-masing genggaman tangannya.
Kedua pasak itu adalah wujud pertama dari sepasang belati yang ia dapatkan setelah berhasil menaklukkan quest level 101. Keduanya adalah item terakhir dari Hunter Equipment.
Sama seperti pria berambut pirang itu, Alvin juga menyahuti ucapannya dengan arah pembicaraan yang berada di luar pertanyaan.
Tapi, setelah Alvin menyebut tentang si wanita yang pernah ia temui di Dungeon peringkat S yang berada di Kota T, makhluk itu akhirnya mulai berminat untuk menanggapinya.
Namun, saat ia hendak bertanya, Alvin tiba-tiba lenyap dari hadapannya.
"A-apa?! Kemana dia pergi?!"
.........
Alvin pergi mengejar dua makhluk berambut pirang lainnya yang sudah berjarak beberapa meter dari gerbang untuk keluar dari Dungeon.
Kedua makhluk itu terkejut saat Alvin tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
Dengan tidak memancarkan aura sihir sama sekali, keduanya tidak bisa merasakan kedatangan Alvin. Hal itu membuat mereka hilang kewaspadaan dan langsung terluka saat masing-masing pasak di tangan Alvin bersarang di dada mereka.
Crakkk... Crakkk...!
Kedua makhluk bersayap itu langsung terbang menjauh setelah Alvin berhasil melukai mereka.
Alvin langsung mengejar untuk menyerang mereka lagi, namun makhluk yang tadi ditinggalkannya datang dan menghalau serangannya.
Crang...!!!
__ADS_1
Daratan bergetar hebat saat kedua pasak di genggaman Alvin dan trisula berbahan tulang di kedua genggaman makhluk itu saling beradu.
Benturan dari dua energi sihir besar itu juga membuat keduanya terseret mundur beberapa meter sebelum mereka saling menyerang lagi.
Gerakan makhluk itu sangat cepat. Bahkan, hunter berperingkat SS pun tidak akan dapat mengikuti kecepatan geraknya.
Mungkin, hanya hunter setingkat Cyntia saja yang bisa mengikuti ke arah mana makhluk itu bergerak. Namun itu juga tidak bisa dilakukan dengan mudah. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa mengikuti kecepatannya.
.........
Serangan tidak hanya datang dari makhluk yang baru saja berbenturan sihir dengan Alvin. Dua makhluk lain yang baru saja berhasil dilukainya juga ikut menyerang dari arah kiri dan kanannya.
Mereka, yang awalnya mengabaikan Alvin, sudah tahu bahwa lawan mereka ini sangat kuat. Karena itulah mereka tidak ingin memberikan peluang padanya untuk bisa bergerak dengan mudah dan memilih untuk mengeroyoknya.
Kecepatan mereka sama persis seperti kecepatan yang rekan mereka miliki. Cyntia saja mungkin akan sangat kesulitan untuk bisa lolos dari tiga serangan yang datang dengan sangat cepat itu.
Tapi, di mata Alvin, kecepatan mereka hanyalah seperti kecepatan serangan seorang hunter peringkat C yang sudah menyerang dengan kecepatan penuh. Ia bisa melihat dengan sangat baik datangnya serangan dari ketiga lawannya itu.
Kedua pasak di masing-masing genggamannya menghilang.
Alvin merentangkan kedua tangannya untuk menangkis serangan yang datang dari arah kiri dan kanannya, sementara serangan yang datang dari depan berhasil dipentalkan dengan salah satu kakinya.
Bannnngggg!!!
Ledakan dari hasil beradunya energi sihir mereka membuat keempatnya terpental mundur.
Kawah besar terbentuk di tanah hasil dari ledakan sihir itu.
Ketiga makhluk berambut pirang yang langsung terbang menjauh saling bertatapan, terkejut dengan kekuatan manusia yang bisa mengimbangi kekuatan mereka sekaligus.
"Siapa dia?" ucap makhluk yang berada di tengah.
Kedua rekannya, yang tentu saja tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu, hanya bisa menatap ke arah kepulan debu yang beterbangan di bawah sana, tempat kawah besar tercipta.
Saat mereka masih terpana dengan kekuatan lawan, Alvin tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan menyerang salah satu makhluk yang berada di sebelah kiri.
Wussssshhh...
Zlaaaarrrr... Zlaaaaarrrr... Zlaaaarrrr...
Makhluk yang berada di tengah, yang sedikit lebih kuat dari kedua rekannya, menyelamatkan makhluk yang hampir saja kehilangan kepalanya di tangan Alvin.
Ia menyambar rekannya itu lalu mengaktifkan sihirnya lagi hingga petir yang mengandung kekuatan sihir besar kembali menyambar-nyambar lagi dari awan kelabu yang sejak tadi menutupi seluruh area Dungeon.
Sambaran petir itu sangat terarah. Kilauan cahaya kilat pergi kemanapun Alvin berada.
"Kalian kembalilah ke gerbang! Biar aku yang menghadapinya," ucap makhluk yang berada disebelah kanan.
"Kami serahkan padamu!" sahut makhluk yang baru saja mengaktifkan sihir petir.
Dua makhluk akhirnya terbang kembali menuju gerbang, sementara satu rekan mereka fokus menatap Alvin yang sedang bergerak kesana kemari menghindari sambaran kilat yang datang bertubi-tubi padanya.
__ADS_1
......................