
"Sebenarnya..., apa yang terjadi?" tanya Cyntia, setelah mereka duduk diam cukup lama di dalam mobil. Ia melihat Alvin tampak kurang bersemangat padahal baru saja menaklukkan sebuah Dungeon peringkat S.
Jika hunter lain yang melakukan itu, mereka sudah pasti akan bersemangat bahkan kebanyakan di antara mereka langsung merasa hebat dan akhirnya memiliki sikap congkak di sepanjang sisa hidupnya, seperti 12 hunter peringkat SS yang sangat dihormati di dunia itu.
Alvin menoleh pada Cyntia dan memaksakan sebuah senyuman.
"Tidak apa-apa..."
"Tapi..., kau terlihat sangat muram sejak aku datang ke lokasimu tadi."
"Aku... cuma sedikit lelah."
Cyntia mengernyitkan kedua alisnya. Apa yang Alvin katakan terlihat jelas sangat tidak benar. Ia tidak melihat adanya kelelahan dari wajah pria itu selain tampang frustasi.
"Begitu...," gumam Cyntia. Ia kemudian tersenyum lalu kembali berbicara. "Apa kita langsung kembali ke Kota S?"
"Oh... Aku hampir lupa. Bisakah kita pergi ke tempat tinggalku dulu?"
"Tentu. Masukkan saja lokasinya pada sistem navigasi. Aku tidak tahu jalan kota ini," ucap Cyntia.
Ia kemudian tersenyum saat melihat Alvin baru menyadari jika mereka sejak tadi hanya berputar-putar di dekat area gerbang yang baru saja mereka tutup.
"Maaf..."
"Tidak masalah... Oh... Kalau boleh tahu, siapa gadis kecil yang berbicara padaku itu?"
'Mati aku...'
......................
"Kalian tidak melihat Alvin keluar dari gerbang, kan?" tanya Vina dengan khawatir saat melihat gerbang itu tertutup tanpa melihat ada seorangpun hunter yang keluar dari gerbang terlebih dahulu.
"Jangan khawatir. Ini bukan pertama kalinya," ucap Jack yang kemudian tersenyum padanya.
Jack ada bersama Vina karena ia telah dimintai tolong oleh Alvin untuk membawa Vina dan dua orang kepercayaannya, Raymond dan Thomas, mengungsi dari Kota T sementara ia akan pergi ke Dungeon.
Mereka saat ini sedang berada di sebuah vila di Kota S yang Thomas sewa untuk tempat pengungsian selama Kota T dalam situasi bahaya dari ancaman Dungeon Break.
"Jack benar, kau tidak perlu khawatir, bos! Ketua tim penyuplai kami memiliki banyak keahlian," seru Raymond yang baru kembali dari mini bar, membawa seember botol whiski dan beberapa cawan untuk merayakan keberhasilan Alvin mengatasi Dungeon itu.
"Kalian tidak sedang menghiburku, kan?" tanya Vina, sembari menatap tiga pria yang berada di sekitarnya itu bergantian.
"Percayalah pada adikmu, nona CEO," sahut Thomas sembari menyambut nampan cawan yang Raymond serahkan padanya.
Vina masih meragukan ucapan mereka pada awalnya. Tapi, saat ia mendapat pesan dari Alvin, wajahnya akhirnya kembali berseri.
"Apa itu pesan dari Alvin?" tanya Jack.
__ADS_1
Vina mengangguk cepat. "Ya. Mereka sekarang sudah berada di bungalow."
"Bagus. Tapi, bagaimana dengan produknya?" tanya Thomas, merasa sedikit khawatir karena ia telah banyak menerima pesan permintaan set armor dari banyak guild besar di Kota T, juga kota-kota lain di sekitarnya. Ia bahkan sudah menerima permintaan sampel dari luar negri.
"Jangan khawatirkan itu," sahut Vina. Ia kemudian menoleh pada Raymond. "Kau dan anak buahmu sepertinya harus bekerja ekstra keras mulai besok," ucap Vina, sembari menunjukkan foto yang Alvin kirimkan padanya.
Raymond terdiam beberapa saat setelah melihat tumpukan set armor yang tersusun rapi di seluruh ruang tengah bungalow.
Tapi, sebenarnya, bukan tumpukan set armor itu yang membuatnya terdiam. Wanita cantik berkostum ketat yang tidak sengaja terfoto itulah yang membuatnya terdiam.
"Apa dia pegawai baru kita?" tanya Raymond.
Vina menatap foto itu lalu tertawa.
"Bagaimana mungkin kita bisa menggajinya? Kau tahu keluarga Maxwell, kan?"
Raymond mengangguk.
"Dia pewaris utama keluarga Maxwell."
"A-apa?!"
"Wow... Ini jenis baru lagi?!" seru Thomas dengan mata berbinar, setelah Vina meminjamkan ponselnya untuk menunjukkan foto set armor baru padanya. Ia bahkan tidak terlalu tertarik dengan kecantikan wanita di foto. "Aku penasaran. Siapa sebenarnya penempa itu? Dia bisa membuat desain yang bagus juga dengan kualitas yang tak kalah bagus..."
"Diam dulu!" ucap Jack tiba-tiba, memotong kalimat Thomas. Ia merasakan adanya energi sihir besar yang datang mendekat dari arah gerbang depan vila.
Baru saja Jack berdiri untuk memeriksa siapa pemilik energi sihir itu, pintu utama vila sudah hancur saat seseorang menendangnya.
"Sial! Ray, bawa Vina pergi!" seru Jack saat melihat siapa yang baru saja muncul di ambang pintu.
Walaupun mereka tidak tinggal di Kota yang sama, namun Jack tahu siapa pria berpakaian rapi dengan cerutu di mulutnya yang langsung menatap ke arah Vina begitu ia masuk ke dalam vila.
"Apa dia itu Vina Rufino?" tanya Duncan, dengan menyeringai lebar, menunjukkan gigi-giginya yang kuning.
......................
"Nah, mereka pasti senang setelah ku kirimkan fotonya, kan? Mereka bahkan tidak menanyakan kabarku," oceh Alvin sambil mengerutkan dahi. Ia kemudian melemparkan ponselnya di meja saat tidak menerima pesan balasan lagi dari Vina.
"Apa dia akan langsung kembali? Aku tidak sempat berbicara banyak padanya karena situasi saat itu tidak mendukung. Dia juga langsung kembali ke Kota T setelah mengantarkan kita ke rumahmu saat itu."
"Aku tidak tahu. Dia belum membalas pesan lagi," sahut Alvin sambil kembali mengeluarkan set armor yang menumpuk di jendela inventory, lalu menyerahkannya pada Cyntia yang membantunya menyusun semua barang itu dengan sangat rapi.
Cyntia mengangguk, kemudian menatap set armor yang baru Alvin serahkan padanya.
"Jadi, hantu penasaran gadis kecil itu yang bisa membuatmu menyimpan semua barang ini?" tanya Cyntia lagi.
Saat Cyntia bertanya padanya tadi, entah kenapa ide untuk mengatakan bahwa suara Mina itu adalah suara dari arwah penasaran yang selama ini mengikutinya, melintas begitu saja di benaknya. Untungnya, Cyntia langsung percaya.
__ADS_1
"Ya. Dia adalah roh hunter zaman dulu yang mati penasaran."
Cyntia mengangguk dengan wajah polos. "Apakah dia dulunya hunter dari Jepang?" tanyanya lagi.
"Ya? Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Lihat...," ucap Cyntia, sembari mengangkat baju zirah ke depan tubuhnya. "Desainnya mirip baju zirah seorang samurai zaman dulu, kan? Dia juga memiliki nama yang mirip dengan nama wanita Jepang. Mina."
Alvin mengangguk pelan. Entah itu benar atau tidak, yang pasti masalahnya sudah terpecahkan dan Cyntia terlihat sangat percaya padanya.
"Mungkin... Aku sebenarnya tidak pernah menanyakan dari mana asalnya."
"Kau seharusnya menanyakannya. Bukankah itu sedikit tidak sopan? Padahal dia sudah membantumu membuatkan semua ini, juga kostum yang kita pakai."
"..."
'Apa Sistem punya negara asal juga?'
["Aku sedang tidak mood berbicara denganmu,"] sahut Mina dengan nada ketus. Ia agak kesal setelah Alvin menyebut dirinya arwah yang bergentayangan.
'...'
"Alvin?"
"Ya?"
"Ngomong-ngomong..., apa aku boleh menumpang mandi di sini?"
"Ya?"
"..."
"Oh, tentu... Tentu saja. Ayo, ku antarkan ke...," Alvin menatap pintu kamar tamu yang biasa digunakan Raymond atau Thomas saat mereka menginap di bungalownya. "Ayo ikuti aku," ucap Alvin sembari berjalan terlebih dahulu menuju tangga yang akan membawa mereka ke lantai dua.
"Ini kamar Vina," ucap Alvin sambil membukakan pintu kamar itu.
"Tidak apa-apa kalau aku menggunakan kamar mandinya? Aku cukup berterima kasih jika kau mau meminjamkan kamar mandi tamu saja."
"Tidak masalah," sahut Alvin cepat. Ia lebih senang Cyntia menggunakan kamar kakaknya dibandingkan harus memakai kamar yang pernah Raymond dan Thomas tempati. "Lagian, kita akan menginap hari ini. Kecuali kau ingin segera kembali."
"Tidak. Ayo menginap."
"..."
"A-aku mandi dulu...," ucap Cyntia pelan, lalu masuk dengan terburu-buru ke kamar Vina sembari membawa koper yang berisi pakaiannya.
...****************...
__ADS_1